Chapter 7

1944 Kata
“Ya ampun! Apa dia benar-benar calon suami Ruby?” “Yang benar saja! Kenapa dia mau dengan Ruby, ya? Orang setampan dia seharusnya mendapat yang lebih cantik, seperti kita.” “Mereka seperti langit dan bumi yang jelas-jelas berbeda.” Beragam komentar muncul bersamaan dengan langkah kaki Ruby dan Galaksi yang kini sudah berada di luar. Sejenak mereka saling menatap. Galaksi tidak bisa menahan pandangannya untuk tidak memperhatikan Ruby dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Yang benar saja! Apa dia sungguh-sungguh akan menikahi wanita ini? “Te-terima kasih karena sudah membantuku,” ucap Ruby, gugup setengah mati. Kenapa mereka harus bertemu di saat seperti ini, sih? “Aku tidak sengaja melihat kamu di sini. Tadinya aku pikir aku salah lihat, tapi ternyata itu benar kamu.” Di bawah terik matahari, Galaksi terlihat sangat berkilau. Keringat di pelipisnya seperti butiran berlian. Dan kulitnya tadi terasa sangat halus di tangan Ruby. Apakah mungkin dia begitu cepat menyukai seorang pria? “Apa mereka tadi teman-teman kamu?” Ruby mengangguk sembari membetulkan letak kacamatanya. “Iya, temanku saat di SMA.” “Apa mereka selalu bersikap seperti itu?” “Iya, sejak dulu.” “Kenapa?” “Karena aku… tidak secantik mereka.” Galaksi menatap Ruby yang sedang menunduk dalam di depannya. “Sudah tahu begitu kenapa masih datang ke sana?” “Aku tidak tahu kalau mereka ada di sana.” Galaksi menarik napas dan mengembuskannya perlahan. “Ayo, pulang. Aku harus istirahat.” “H-hah? Pulang ke mana?” “Aku datang ke sini untuk menemui kamu dan keluarga kamu. Jadi mau pulang ke mana lagi?” Galaksi berjalan menuju sebuah mobil yang parkir di tepi jalan lalu masuk. “Mau di sana sampai kapan?” seru Galaksi pada saat dilihatnya Ruby masih berdiri di tempatnya dengan tampang yang menyedihkan. “A-aku jalan kaki saja.” Galaksi melihat langit sejenak. “Cuaca sangat panas. Ayo, masuk.” Ruby mengusap keringatnya kemudian mengangguk dan membuka pintu mobil bagian belakang. Dengan susah payah, Ruby masuk ke dalam mobil itu. Galaksi memperhatikannya lewat cermin kecil di depannya. Setelah memastikan Ruby sudah duduk, barulah Galaksi melajukan mobilnya. Perjalanan itu tidak memakan waktu lama. Sekitar sepuluh menit, mereka sudah tiba di rumah Ruby. Tentu saja kedatangan mereka disambut dengan penuh tanya dari keluarga Ruby. “Kakak, itu siapa?” tanya Kristal yang berdiri di depan toko kue. “Kenapa rambut dan baju Kakak basah?” Ruby membetulkan rambutnya dan melirik ke arah mobil yang kini parkir di depan toko. Pada saat itulah Galaksi keluar dan membuat Kristal terkejut bukan main. “I-itu kan…?” Sandra dan Ben saling pandang, sama terkejutnya dengan Kristal. Galaksi tersenyum tipis dan berjalan mendekat. “Selamat siang.” “Kamu bukannya Galaksi?” tanya Sandra, memastikan. Galaksi mengangguk. “Iya, saya datang ke sini untuk menemui Bianca Ruby. Apa saya boleh menginap di sini selama beberapa hari?” Ternyata Galaksi tipikal orang yang blak-blakan. “Di sini ada banyak hotel, kamu bisa menginap di tempat yang lebih layak,” potong Ruby cepat. Galaksi meliriknya sekilas. “Baiklah, kalau begitu, permisi.” “Eeeeh! Tunggu dulu!” Sandra menahan tas Galaksi. “Tinggallah di sini selama apa yang kamu mau. Kamu bisa tidur di kamar Bastian. Di sini hotel sangat mahal, lagi pula, tidak ada yang akan mengurus kamu di sana. Tetap di sini dan setiap hari aku akan memasak makanan yang enak untuk kamu.” “Ibu, dia punya banyak uang. Menginap selama beberapa hari tidak akan membuatnya jatuh miskin,” ucap Ruby setengah berbisik, namun Galaksi masih bisa mendengarnya. “Jangan bilang begitu. Bagaimana pun juga, dia itu calon suamimu! Kamu harus bersikap baik padanya.” Ruby melipat bibir dan memilih mengalah. Mendengar kata calon suami, kenapa perasaannya jadi tak menentu, ya? Beban hidupnya seakan bertambah saja. “Iya, Kak. Menginap di sini saja. Aku akan membereskan kamarnya sebentar!” Kristal dengan semangat berlari menuju kamar Bastian yang saat itu dalam keadaan berantakan. “Bangun!” katanya pada Bastian yang saat itu sedang menikmati tidur siangnya. “Hmmm.” Bastian bergerak dengan enggan. Kristal menendang b****g Bastian sampai pemuda itu jatuh ke lantai dan mengaduh kesakitan. “Apa-apaan ini! Kenapa mengganggu tidurku?!” Bastian membuka mata dan mengelus-elus kepalanya yang terasa sakit. “Di luar ada kak Galaksi dan dia akan menginap di rumah ini selama beberapa hari.” “Jangan bilang di kamarku?” “Terus di mana lagi? Apa kamu mau menyuruhnya tidur di gudang?” Bastian menatap ranjangnya yang berukuran kecil. “Kalau dia tidur di sini, terus aku tidur di mana?” “Kamu bisa tidur di lantai.” “Yang benar saja!” “Sudah diam, sekarang pergi dari sini karena aku mau merapikan kamar ini,” usir Kristal. Bastian mendesis kesal namun dia tetap beranjak. “Rapikan yang benar!” ucapnya sambil melempar kepala Kristal dengan bantal. Kristal mau mengumpat tapi tidak jadi karena takut mereka yang di luar mendengarnya. Kalau bukan demi calon kakak iparnya, mana sudi dia merapikan kamar Bastian yang seperti kapal pecah itu. Bukan hanya berantakan, tapi bau kamarnya juga tidak sedap. Semoga saja setelah dibersihkan, kamar ini terlihat layak untuk ditempati. *** “Dia tampan sekali. Aku sudah tidak sabar melihat dia menikahi anak kita,” ucap Sandra dari balik etalase pada Ben. Sejak tadi, mereka tidak berhentinya membicarakan tentang Galaksi yang sekarang duduk di salah satu meja di dalam toko. Keberadaannya di sana pun membawa angin segar pada para pelanggan roti keluarga itu. Banyak dari mereka yang tampak terpesona dengan ketampanan Galaksi dan juga senyuman manisnya yang memukau. Sebagian bahkan ada yang langsung bertanya tentang siapa Galaksi. Dengan bangganya, Sandra mengatakan kalau dia adalah calon menantunya. Tentu saja mereka yang mendengarnya terkejut dan tidak percaya begitu saja. Sementara itu, Ruby yang duduk di anak tangga juga turut memperhatikan Galaksi dari jauh. “Kenapa dia harus menginap di sini? Apa tujuannya?” Ruby benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa Galaksi sampai ke rumahnya dan menginap di sini. Dan tadi katanya dia datang dengan maksud untuk menemui Ruby. Apakah itu benar? Memangnya apa yang dia harapkan? Apa dia pikir kalau Ruby adalah gadis bertubuh langsing dan berwajah bak Miss Universe? Pada kenyatannya, Ruby hanyalah gadis biasa dengan tubuh sebesar balon udara di Cappadocia. Mungkin terdengar berlebihan, tapi anggap saja begitu istilahnya. *** Malam menjelang dan Galaksi sedang membantu Sandra untuk memasukkan roti-roti tawar yang tidak habis ke keranjang untuk dipanggang besok dan dijadikan kue kering. Sementara roti yang sudah berjamur akan dijual untuk pakan ternak. Melihat bagaimana lelahnya Sandra dan Ben malam itu, membuat sedikit perasaan iba muncul di hati Galaksi. Selama ini dia tidak pernah bekerja hingga larut malam seperti ini. Dia hanya melakukan pekerjaannya di depan komputer dan menemui para investornya selama beberapa kali dalam sebulan. Tidak banyak yang dikerjakan tapi uangnya terus mengalir. Tapi di sini, ada orang-orang yang bekerja keras hingga malam hari demi kenyamanan hidup mereka. “Apa setiap hari ada roti yang tidak habis?” tanya Galaksi. “Yaaa begitulah, hehehe,” jawab Ben dan tertawa. “Apa tidak rugi kalau setiap hari begitu?” Sandra tersenyum. “Untungnya cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sekeluarga.” Galaksi tidak berkata-kata lagi dan kembali memasukkan roti-roti itu ke dalam keranjang. “Sebaiknya kamu istirahat. Ini sudah malam,” kata Sandra lagi. “Sebentar lagi selesai.” Sandra dan Ben saling melempar pandang dan tersenyum. Ternyata, Galaksi tidak seburuk yang mereka bayangkan. Tadinya mereka pikir Galaksi adalah seseorang yang angkuh dan sulit diajak bicara. Nyatanya, dia cukup cerewet karena terus bertanya dan tidak berhenti bicara. Dia menceritakan tentang dirinya yang dulu bersekolah di Australia dan sudah mengelilingi Eropa. Tentang pekerjaannya dan tentang keluarganya. Dalam beberapa jam saja, mereka sudah akrab dengannya. Ini benar-benar di luar ekspektasi mereka. Setelah menutup pintu toko, barulah Galaksi beranjak dari sana. “Aku tidur dulu, permisi,” pamitnya. “Selamat malam,” ujar Sandra seraya melambaikan tangannya. Galaksi berhenti tepat di depan pintu saat di lihatnya Bastian tidur di lantai beralaskan kasur tipis. Sejenak, dia melihat sekeliling. Kamar ini tidak ada AC dan ukurannya sangat kecil. Ada banyak benda-benda yang tidak tahu apa, menumpuk di atas meja dan lemari. Poster-poster bergambar penyanyi pop memenuhi dinding kamar. Sebuah gitar tergantung di samping jendela. Sepertinya, Bastian sangat menyukai musik. Galaksi mengambil selimut di atas ranjang lalu menutupi tubuh Bastian dengan itu. Udara di sini cukup dingin pada malam hari. Apalagi saat itu Bastian tidur tanpa mengenakan baju. Dia pasti kedinginan. Bukannya naik ke atas ranjang, Galaksi kembali ke luar kamar. Dia nyaris terlonjak kaget sewaktu melihat Ruby sedang mengambil berbungkus-bungkus roti dari dalam keranjang plastik yang ada di dekat sana. Roti itu rencananya akan dijual oleh seseorang untuk pakan ternaknya karena kondisinya sudah berjamur. Lalu, kenapa Ruby mengambilnya? Rambutnya yang panjang itu membuat Galaksi sempat berpikir kalau dia melihat penampakan mahkluk halus tadi. “Sedang apa?” tanya Galaksi setelah berdiri di belakang Ruby. “Astaga!” Ruby terkejut dan dia langsung menyembunyikan beberapa bungkus roti itu ke balik punggungnya. “K-kamu kenapa ada di sini?” “Kenapa mengambil roti-roti itu? Bukannya itu sudah tidak layak untuk dimakan?” Ruby menyesali langkahnya yang diam-diam turun ke sana untuk mengambil roti dan kue karena dia merasa lapar. Harusnya dia ingat kalau sekarang ada orang lain di rumah ini. Aduh, bagaimana ini…. “Siapa bilang? Ini masih enak,” jawab Ruby, membela diri. Galaksi maju selangkah lalu menjulurkan tangannya untuk mengambil roti-roti itu dari tangan Ruby. Hanya dengan sekali tarikan saja, kini empat bungkus roti itu sudah ada di tangan Galaksi. “Ini berjamur. Apa tidak lihat?” Galaksi menunjukkan salah satu roti yang berjamur pada Ruby. “Cuma berjamur, bukan beracun.” Ruby merebut kembali roti-roti tersebut. Galaksi tertawa mendengus. “Yang benar saja. Ini sudah jam sebelas malam dan kamu masih mau mengemil?” “Memangnya kenapa? Apa kamu merasa dirugikan?” Galaksi mendesah. Ternyata gadis ini cukup berani melawannya. Tadinya dia pikir Ruby hanyalah gadis lemah yang mudah ditindas. “Tidak.” “Ya sudah, kalau begitu jangan ganggu.” Ruby berbalik dan berjalan menuju tangga. Mana dia sangka kalau rupanya Galaksi mengikutinya di belakang. “Kamu mau apa?” “Aku mau ikut.” “Ke-ke mana?” “Aku perlu bicara.” “Bicara di sini saja.” “Aku tidak mau ada yang mendengarnya.” “Tapi—“ “Permisi.” Galaksi memotong jalan Ruby lalu menaiki tangga kayu itu dengan santainya, mengabaikan Ruby yang sudah terperangah menatapnya. “Tidak sopan namanya seorang pria masuk ke kamar seorang gadis pada malam hari,” ucap Ruby setelah masuk ke kamarnya. Galaksi sudah ada di sana, berdiri dengan masa bodohnya. Galaksi tidak menjawab, dia justru terpaku pada apa yang ada di depan matanya. Kamar itu dipenuhi lampu-lampu tumbler berwarna emas. Di sudut sana ada sebuah lemari pakaian, berdampingan dengan lemari buku. Beberapa langkah di depannya, ada meja berisi laptop, ponsel, buku, dan snowball. Keadaannya cukup berantakan. Pandangan Galaksi tertuju pada sebuah buku yang ada di atas meja itu lalu meraihnya. Sebuah buku berjudul “Romeo & Juliet” karya Willian Shakespeare. Buku yang sangat familiar. “Mau bicara apa?” tanya Ruby tak sabar. “Cepat, aku tidak mau ibu dan ayah mendengarnya.” Galaksi menatapnya. “Ayo, menikah.” “Hah?” “Kita sudah dijodohkan. Jadi, sebaiknya kita menikah secepatnya.” Ruby diam sesaat, memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan. Hingga akhirnya, setelah satu menit berlalu, Ruby pun berkata, “Kenapa kamu menerima perjodohan ini? Kamu bisa mencari gadis lain yang jauh lebih baik dari aku.” “Itu benar, tapi aku tidak mau mengecewakan kakekku, walaupun dia sudah tiada." Ruby membisu selama beberapa saat sampai Galaksi bertanya lagi," Jadi, ayo kita menikah saja." ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN