"Kamu ih. Pak Tio lagi di kantor, aku bilang pulang besok, dia kayaknya pengen nemeni. Gimana ini?" Laki-laki b*****t. Aku tak kuat jika harus menahan hasrat ini lebih lama lagi. Apalagi aku akan satu apartemen dengan mereka, ya meski beda kamar. "Mau gimana lagi. Kamu rencana pulang kapan?" aku mencoba berbesar hati. "Minggu dong. Aku kangen sama kamu. Tapi kalau begini, pasti dia ngajak aku pulang bareng. Duh. Aku bingung," ia tampak gusar. Aku tak bisa memberikan solusi. Aku hanya berpikir, alasan apa yang Pak Tio berikan pada istrinya kalau sampai ia menemani Dokter Ara hingga Sabtu. Laki-laki ini ada-ada saja. "Buat dia pulang nanti dong Bu Dokter. Kan nggak mungkin kita sembunyi-sembunyi. Kalau ketahuan, mati kita," aku tak punya ide jawaban selain ini. "Ya sudah kupikirkan dul

