Hujan mendera kekaisaran sore itu, namun persiapan yang masih dilakukan untuk menyambut pesta perayaan itu masih berlangsung.
Utusan dari Kerajaan lain sudah mulai berdatangan, menempati bagian pavilliun yang memang sudah disiapkan jauh-jauh hari.
Lauda sudah sibuk untuk menyambut para tamu penting secara langsung, ditambah dirinya juga harus mengikuti ritual untuk menjadi pendamping Arderl saat upacara nanti.
Sore itu Lauda baru saja selesai setelah melakukan semua tugasnya hari itu. dia hendak kembali bersama dengan Loiz dan para pengawalnya saat seseorang tiba-tiba saja menghadang jalannya.
Dia mengenali orang itu sebagai utusan dari Laut. Adik dari Raja Laut yang sangat disayangi oleh sang Raja.
Raja Laut tidak memiliki anak karena tidak pernah berhasil membuat Ratu dan para selirnya mengandung, maka dari itu Sang Raja sangat menyayangi keponakan perempuannya yang merupakan anak dari adik kandungnya.
"Salam hormat pada Sang Kaisar Naga yang Agung. Saya Valent menghaturkan salam."
Lauda tersenyum, dia melirik pada seorang anak remaja yang berdiri di samping pria itu. Dia yakin bahwa gadis ini adalah gadis yang banyak diperbincangkan oleh orang-orang, gadis yang katanya kelak akan mewarisi tahta Raja Laut.
"Ada apa sampai kau menemuiku disini? Apakah kamar yang kami siapkan kurang nyaman?" tanya Lauda.
Lekas Valent menggeleng.
"Itu tidak mungkin terjadi, Yang Mulia. Semua yang disiapkan di dalam istana ini sungguh luar biasa. Bahkan saya mengagumi istana ini secara pribadi, mungkin saat saya pulang nanti saya akan menceritakan bahwa istana Naga begitu indah pada Kakak hingga Kakak merasa iri dan membuat istana kami menjadi seperti ini," ujar Valent dengan manis.
Pria dengan perawakan yang tinggi dan kulit yang sangat putih itu tertawa, hingga mau tidak mau membaut Lauda mengikuti alur kelakarnya.
"Ini bukan apa-apa. Justru kalau sampai dipuji seperti itu, saya merasa malu karena kebanyakan semua yang ada di istana ini didapat dari sumbangsih rakyat." Lauda menunduk, menatap pada gadis itu yang bahkan tidak terlihat kikuk sedikitpun. Seakan anak itu memang sudah biasa berhadapan dengan para petinggi atau juga para Raja-Raja.
"Apakah ini anakmu? Yang sering kali terdengar di kalangan para bangsawan?"
Mendengar pertanyaan dari Lauda, Valent langsung menunduk.
"Ah, benar, Yang Mulia. Dia adalah putri sulung saya." Valent menyentuh kepala anaknya kemudian. "Chastine, beri salam pada Yang Mulia," titahnya pada sang anak.
Anak itu langsung membungkuk, memberi penghormatan pada Lauda dengan sangat indah dan teratur.
"Salam saya pada Sang Kaisar Naga yang Agung!"
Melihat bagaimana gadis itu tampak sangat pandai bersikap, Lauda merasa kagum. Sepertinya anak ini memang sudah disiapkan untuk menjadi Ratu di Negerinya sendiri ataupun di Negeri orang lain.
"Apakah kau tidak bosan selama disini? Jika kau ingin, kau bisa bermain di taman bersama dengan anak bangsawan lainnya," tanya Lauda.
Pertanyaannya itu justru dijawab oleh Valent, bukan Chastine yang hanya diam dengan memasang senyum cantik.
"Anak saya tidak terlalu bisa bergaul dengan yang lain. Dia biasanya lebih menyukai menghabiskan waktu di ruang baca dan tidak keluar dari sana seharian," timpalnya. Matanya melirik ke arah anaknya, menatap dengan sendu. "Saya bahkan kadang merasa khawatir dengan dia yang seperti ini. Saya takut dia akan terlambat menemukan pendamping daripada anak seusianya karena dia tidak pandai bergaul."
Samar, Lauda mengerutkan keningnya.
Dia tidak hanya hidup untuk satu dua hari. Mana mungkin dia tidak bisa mendapati bahwa kenyataannya Chastine akan tumbuh menjadi gadis yang diperebutkan di kalangan anak bangsawan dan Raja-Raja.
"Mana mungkin anak secantik dirinya tidak memiliki pendamping. Bahkan aku yakin, dalam beberapa bulan ke depan surat lamaran akan datang ke istana laut dalam jumlah yang banyak," ujar Lauda dengan senyum terkulum.
Valent tertawa pelan.
"Walaupun begitu, Kakak tidak akan membiarkan Chastine menikah dengan mudah. Dia sangat mencintai Chastin bahkan lebih daripada saya sebagai ayahnya, maka kemungkinan Kakak sendiri yang akan mencarikan pendamping untuk Chastine di masa depan."
Lauda mengangguk, dia melirik ke arah Loiz yang membisikan sesuatu padanya.
"Maafkan aku, tapi aku harus segera pergi sekarang," ucap Lauda dengan nada berat hati.
Valent buru-buru mengangguk.
"Silahkan, Yang Mulia. Maafkan saya yang banyak menyita waktu berharga Yang Mulia."
Membalas dengan senyum tipis, Lauda kemudian berjalan melewati kedua manusia itu.
Ketika jarak mereka sudah jauh, Lauda memberikan tanda pada Loiz untuk berjalan di sampingnya.
"Bagaimana menurutmu dengan anak itu?" tanyanya.
Loiz menunduk, "Anak itu terlihat tidak berbahaya. Namun tidak dengan Ayahnya. Seperti kabar yang beredar di kalangan Bangsawan, pria itu sangat pandai bersilat lidah sehingga bisa membuat Kakaknya membunuh istri yang paling dicintainya dengan tangannya sendiri."
Lauda mengangguk paham. Walaupun dirinya memang tidak pernah melibatkan diri dalam pergaulan Bangsawan semenjak masih menjadi Putra Mahkota, namun dia sudah sering mendengar kabar tentang Para Raja dan juga keluarganya.
"Ya bagaimana pun Arderl harus memiliki pendamping yang pantas dengan statusnya yang segera akan menjadi Putra Mahkota," gumamnya.
*
"Nek!"
Sidra berteriak, dia berlari masuk ke dalam gubuk itu tidak lama setelah turun dari kereta kuda.
Mereka pergi dari rumah saat matahari belum sepenuhnya terbit dan kini mereka baru kembali ke rumah saat matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya. Ditambah tadi turun hujan dengan deras sehingga dirinya dan juga Camilo harus terkena air hujan selama perjalanan pulang.
'Jangan berteriak! Walaupun aku sudah tua, tapi aku masih bisa mendengar suaramu dengan jelas."
Menyengir, Sidra kemudian memberikan kantung hitam kecil yang dia simpan di dalam bajunya tadi.
"Apa ini?" tanya Sieana bingung.
"Itu adalah setengah dari penjualan hari ini."
"Kenapa kau berikan ini padaku?"
Sejenak Sidra menoleh ke arah belakang tubuhnya dimana Camilo baru saja masuk.
"Karena anggur yang kami jual kan berasal dari kebun Nenek. Jadi sudah sewajarnya jika kami membayar atas anggur-anggur yang kami ambil."
Mendengar penjelasan dari cucu asuhnya, Sieana berdecak.
"Untuk apa kalian melakukan hal itu? Kalian bisa menyimpan uang ini untuk diri kalian sendiri. Aku tidak butuh uang," tolak Sieana.
Dia sudah akan menyerahkan kembali kantung itu saat Sidra dan Camilo kompak menolak.
"Kami sudah tinggal disini sejak lama dan selama itu kami tida k bisa memberikan apapun sebagai balasannya. Maka dari itu, walaupun ini tidak banyak namun kami berharap Nenek mau menerimanya," timpal Camilo.
Sieana menatap kedua anak yang tidak terasa sudah sebesar ini hanya dalam waktu dua tahun. Dia menghela napas, kemudian mengangguk.
"Baiklah jika memang itu yang kalian inginkan. Aku akan menerima pemberian kalian ini dengan senang hati."
Sidra tertawa, dia berjalan ke arah kursi kayu dan duduk di sana.
"Bagaimana penjualan kalian hari ini?" tanya Sieana.
Nenek tua itu berjalan ke belakang, lalu kembali lagi dengan dua piring makanan yang kemudian dia berikan kepada dua cucunya.
"Seperti biasa. Hanya saja besok dan mungkin beberapa hari ke depan, penjualannya tidak akan sebanyak sekarang karena ada perayaan di istana," jawab Camilo. Tangan anak itu menerima piring yang disodorkan oleh Sieana. "Terimakasih, Nek!"
Sieana mengangguk. Sekarang dia beralih pada Sidra yang sudah berganti pakaian dengan yang kering.
"Ah, soal upacara itu. Ya kalian benar, karena usahaku juga beberapa hari ini sepi karena sebagian banyak orang sibuk mencari tumpangan untuk bisa sampai ke istana jauh-jauh hari. Bagaimana pun Pangeran itu adalah satu-satunya pewaris tahta sehingga semua orang ingin menyaksikan secara langsung bentuk Naga Emas yang baru ada setelah beberapa tahun terakhir."
Nampaknya kedua cucunya itu sama sekali tidak tertarik. Keduanya asik saling berebut lauk dan Sidra menjadi yang pertama yang memulainya karena dia tidak puas dengan lauk yang menjadi miliknya.
"Berikan aku sedikit lagi. Nasi ku masih banyak, tapi lauknya sudah habis," rengek Sidra pada Camilo.
Namun Camilo menolak, anak itu langsung berpaling muka dan melindungi lauk yang menjadi miliknya.
"Mengapa kau habiskan lebih dulu lauknya? Harusnya kau makan bersama dengan nasinya agar seimbang," kilah Camilo.
Sidra berdecak kesal, dengan wajah yang cemberut dia memakan nasinya yang masih banyak tampak lauk.
Sieana yang sejak tadi memperhatikan kedua cucunya itu akhirnya tertawa. Dengan susah payah dia bangkit dari duduknya, berjalan kembali ke belakang dan membawa piring berisi irisan daging domba yang dia masak hari ini.
"Kau bisa mengambilnya lagi," katanya pada Sidra. Dia kemudian menoleh pada Camilo. Kau juga bisa mengambilnya lagi jika kau mau."
Namun berbeda dengan Sidra yang langsung mengambil lauknya lagi, Camilo justru menggeleng.
"Jika kami habiskan lauknya, bagaimana cara Nenek makan?"
Mendengar perkataan saudaranya, tangan Sidra langsung terhenti. Dengan wajah sendu, dia kembali menaruh lauk yang sudah dia pindahkan ke piringnya.
"Itu benar. Maafkan aku yang tidak memikirkan Nenek dan hanya memikirkan diriku sendiri," ucap Sidra menyesal.
Sieana merasa terharu. Sebelum dia menerima kedua anak ini, dirinya hanya hidup seorang diri tanpa ada satu orang pun yang memikirkan dirinya. Sehingga sekarang rasanya hangat sekali saat ada dua anak kecil yang dengan penuh perasaan menghargai dirinya dan mau berbagi dengannya.
Ia tertawa kemudian, kembali mendekatkan piring lauk itu pada mereka.
"Tidak apa. Kalian bisa menghabiskan yang ada disini dan aku akan makan dengan lauk yang lain. Bukan kah kalian tahu bahwa aku adalah orang kaya?" kelakarnya dengan kekehan kecil.
Sidra menoleh pada Camilo, kedua anak itu kemudian ikut tertawa.
"Kalau begitu, kami hanya akan makan satu potong lagi saja," putus Sidra.
Dia memindahkan satu potong daging ke atas piringnya, diikuti oleh Camilo yang melakukan hal yang sama.
"Kalian yakin tidak ingin lagi?" tanya Sieana.
Keduanya menggeleng dan mulai sibuk dengan makanan mereka lagi.
Mengulum senyum, Sieana memperhatikan keduanya yang makan dengan lahap. Sesekali keduanya membahas masalah penjualan anggur milik mereka dengan mulut penuh, lalu di detik selanjutnya akan tersedak dan berebut gelas minum.
Seiana merasa terhibur dengan tingkah dua anak Naga yang selama ini tinggal bersamanya itu. Walaupun keduanya memiliki nasib yang malang, namun Sieana merasa tenang bahwa keduanya tumbuh dengan baik.
__