Ch. 8

1523 Kata
Matahari bahkan belum sepenuhnya menyingsing di langit, namun kedua pemuda itu sudah keluar dari gubuknya dengan membawa gerobak yang berisi penuh dengan botol-botol anggur. Sidra dan juga Camilo mulai memasok anggur buatannya ke pasar atas dukungan dari Sieana. Walaupun awalnya banyak pedagang yang meragukan kualitas anggur buatan mereka, namun lambat laun orang-orang yang hanya ingin meminum anggur untuk menghangatkan badan akan lebih memilih anggur buatan Sidra dan juga camilo karena tidak membuat mabuk jika diminum dalam batas tertentu. Harganya juga lebih terjangkau jika dibandingkan dengan harga anggur yang dijual di pasaran sehingga orang dari kalangan bawah tidak kesulitan untuk menikmati anggur yang selama ini dianggap sebagai minuman mewah yang hanya bisa mereka minum dalam perjamuan atau setiap kali masa panen saja. "Sepertinya kita harus mulai memikirkan untuk mengganti kereta kuda ini dengan yang lebih besar. Jadi kita tidak harus dua kali mengangkut barang dari rumah ke pasar," ujar Camilo yang bertugas memacu kuda. Sidra yang hampir terkantuk di antara tumpukan botol anggur, langsung mengangkat pandangannya, menatap camilo dari dalam celah kereta kuda. "Tapi harganya sangat mahal. Keuntungan yang kita dapat dari hasil berjualan anggur tidak akan cukup jika kita gunakan untuk membeli kereta kuda, lagipula kita memerlukan biaya untuk mengolah anggur dalam jumlah banyak." Di depan Camilo termenung. Usaha anggur yang dia lakukan bersama dengan Sidra memang baru berjalan beberapa minggu. Walaupun anggur buatan mereka banyak diminati oleh pelanggan, namun beberapa hari ini minatnya menurun karena bersamaan dengan akan diadakannya upacara besar di istana. Biasanya jika ada perayaan, apalagi perayaan besar seperti Upacara tingkat satu yang akan dijalani oleh Putra Mahkota, maka rakyat akan mendapatkan jatah anggur dari istana yang rasanya akan lebih nikmat jika dibandingkan dengan anggur buatan tangan mereka. Jadi sebagian besar pembeli menahan keinginan mereka hingga hari perayaan tiba. "Bagaimana kalau kita meminjam dari Nenek? Bukan kah Nenek memiliki banyak uang? Kita bisa membayarnya setengah dengan keuntungan yang sudah kita kumpulkan dan sisanya bisa kita bayar seiring dengan berjalannya waktu," usul Camilo. Wajah Sidra berbinar tatkala mendengar usulan dari saudaranya itu. "Benar! Nenek juga pasti akan mau membantu kita apalagi Nenek mengetahui bahwa banyak orang menyukai anggur buatan kita. Nanti setelah pekerjaan kali ini selesai, kita bisa langsung mengatakannya pada Nenek," ujar Sidra setuju. Mereka melanjutkan perjalanan dengan membahas rencana mereka untuk membeli kereta yang lebih besar agar dapat mengangkut lebih banyak botol anggur, sehingga mereka tidak harus bolak-balik sebanyak dua kali untuk membawa pesanan dari pedagang di pasar. Namun di tengah perbincangan mereka yang terhalang oleh kayu kereta itu, Camilo di kagetkan dengan kemunculan beberapa orang yang menghadang kereta kudanya. Dia berhenti, membuat Sidra yang ada di dalam berteriak pelan karena kemungkinan terantuk oleh badan kereta. "Turunkan semua barang bawaan kalian!" perintah salah satu orang yang berdiri paling depan. Camilo tidak gentar sedikit pun, dirinya bahkan tidak turun atau meminta Sidra yang ada di dalam sana untuk turun. "Mengapa harus? Kami bahkan belum sampai di tempat tujuan kami, mana mungkin kami harus menurunkan barang bawaan kami?" balas Camilo tenang. Orang-orang berjubah hitam itu menghunus pedang yang mereka bawa, mengacungkan pada Camilo. "Anak kecil ini lumayan berani juga, lumayan sebagai kenangan di akhir hidupnya," ujar seorang lainnya. Mereka semua tertawa, menertawakan ucapan Camilo yang dianggap sebagai omong kosong. Sedangkan Sidra yang ada di dalam kereta, tidak bergeming sedikit pun. Dia hanya bersiap dengan memperhatikan apa yang terjadi melalui celah. "Tolong minggir, Paman! Kami harus melanjutkan perjalanan kami," pinta Camilo. Dia sudah bersiap memegang kembali tali kekang kudanya, bersiap untuk berjalan. Namun salah seorang dari orang-orang yang menghadangnya malah berlari menyerang, menghunuskan pedang ke arah Camilo hingga membuat Camilo terjatuh dari kuda. Sidra membulatkan mata, dia sudah akan keluar dari dalam kereta untuk membantu Camilo saat kemudian dia melihat Camilo yang dengan mudah menjatuhkan orang itu hanya dengan lemparan batu yang dia ambil dari bawah. Kemudian yang lain ikut menyerang, dua lawan satu dengan pedang dan sebatang kayu. Sidra tidak pernah tahu bahwa saudaranya itu pandai dalam berkelahi, yang dia tahu selama ini Camilo adalah sosok yang pendiam dan tidak banyak bicara jika kepada orang yang tidak di kenal. Namun kini Camilo terlihat sebagai petarung sejati, hanya dengan sebilah kayu panjang Camilo berhasil membuat pedang-pedang yang tampak mahal itu terjatuh ke tanah. Lalu Sidra keluar, mengambil beberapa botol anggur dan melemparkan ke arah orang-orang itu. Mereka semua terhuyung dengan luka berdarah di keningnya. "Kenapa kau turun?" tanya Camilo. Sidra mengangkat bahunya, "Karena aku tidak ingin membiarkan kau bermain sendirian." Tersenyum, Camilo berjalan ke depan untuk memastikan jika orang-orang itu tidak akan lagi sanggup melawan. Setelahnya, dia memberikan tanda agar Sidra kembali masuk ke dalam kereta. "Kita sudah terlambat. Para pedagang itu pasti sudah menunggu kita," katanya. Sidra lekas kembali naik, mempercayakan sisa perjalanannya pada Camilo untuk menjemput harta mereka. * "Nak, untuk besok tolong kurangi sekitar dua puluh botol. Karena pesta perayaan sudah semakin dekat, pada prajurit dan keluarganya itu tidak lagi membeli anggur di pasar," kata salah seorang pedagang. Sidra menoleh ke arah Camilo yang sedang menurunkan barang bawaan mereka. "Baiklah, Bu. Lagipula kami juga tidak membuat terlalu banyak karena tahu akan ada pesta." Ibu penjual itu mengangguk, duduk sambil mengipasi dirinya dengan selembar daun. "Kalian tampak seperti anak bangsawan, jika kalian memakai pakaian yang lebih baik dan masuk ke istana, tidak akan ada yang tahu bahwa kalian hanya lah seorang penjual anggur." Menanggapi ucapan itu, Sidra tertawa. "Kami tidak memiliki waktu untuk itu. Banyak yang harus kami kerjakan untuk menghasilkan uang daripada menjadi salah satu tamu perjamuan." Kening penjual itu mengerut. "Kenapa tidak? Katanya, banyak yang bisa kalian dapat jika kalian masuk ke dalam istana. Selain mendapatkan anggur dengan kualitas yang lebih baik, kalian juga akan mendapatkan cindera mata yang bisa kalian jual di luar dengan harga dua koin emas." Mendengar hal itu, Camilo yang sedang menurunkan botol-botol anggur langsung menoleh tertarik. "Apakah harganya bisa semahal itu? Mengapa orang-orang mau membeli cindera mata dengan harga semahal itu?" tanyanya tidak percaya. Si penjual tertawa, "Memang bisa dijual semahal itu. Bahkan jika kau pandai, kau bisa menjualnya dengan harga yang lebih mahal lagi. Karena semua orang percaya bahwa barang-barang yang didapatkan dari dalam istana adalah barang-barang mewah yang di dalamnya ada berkah dari Kaisar Naga." Berbeda dengan Camilo yang tampak tertarik, Sidra justru tidak perduli. Dia hanya sibuk menghitung berapa jumlah yang harus dibayarkan oleh pedagang itu atas barang yang mereka jual. "Totalnya dua puluh lima koin perak, Bu," katanya pada si Ibu pedagang. Pedagang itu langsung mengeluarkan sejumlah koin dan menyerahkannya pada Sidra. "Terimakasih, kami akan kembali lagi besok," ujar Sidra. Berbeda dengan saat datang, kali ini dia ikut duduk di depan bersama dengan Camilo yang mengendarai kuda. Mereka berbalik arah, melewati banyak pedagang dan juga pembeli yang berlalu lalang di jalanan. "Sidra, apakah kau berpikir untuk datang ke istana?" tanya Camilo. Sidra menoleh, kemudian menggeleng. "Untuk apa? Kita tidak memiliki orang yang bisa membawa kita untuk datang kesana. Apa kau berpikir untuk mengikuti cara yang dilakukan oleh pedagang itu? Dengan menyusup masuk ke dalam istana?" tanyanya dengan tawa kecil yang berderai. Camilo mengulum senyum, "Benar juga. Kita bahkan tidak memiliki pakaian yang pantas yang bisa kita kenakan untuk masuk ke istana." "Maka dari itu. Bagaimana mungkin orang seperti kita bisa masuk ke dalam istana? Apa kau sebegitu inginnya untuk mendapatkan cindera mata dari sana dan menjualnya?" kelakar Sidra. Namun berbeda dari dugaannya, Camilo sama sekali tidak tertawa. Pria itu hanya menatap ke depan sambil tetap memperhatikan jalan. Kini mereka sudah keluar dari pasar. "Daripada cindera mata, aku lebih berharap untuk bisa bertemu dengan ibuku. Ibuku juga pasti sedang sibuk sekarang, menyiapkan segala sesuatu untuk perayaan. Mungkin...dia akan kelelahan." Tawa Sidra langsung lenyap tatkala melihat wajah sendu saudaranya. Dia terdiam, ikut memandang ke depan dengan perasaan gamang. Dirinya tidak memiliki Ibu, karena menurut Sieana, Ibunya sudah meninggal saat melahirkan dirinya. Hanya ada Ayahnya, yang selama ini selalu datang setiap kali Sidra sedang tertidur atau sedang tidak ada di rumah. Sehingga dirinya belum pernah bertemu dengan sosok Ayahnya itu. Dengan kata lain, Sidra tidak mengetahui bagaimana rasanya merindukan seorang Ibu seperti yang dirasakan oleh Camilo. "Dia tidak bekerja sendirian. Jadi mana mungkin dia kelelahan, kan? Malah dia pasti senang karena banyak makanan mahal yang bisa dia nikmati diam-diam. Dia juga akan mendapatkan cindera mata yang diinginkan semua orang lalu menjualnya ke luar untuk menambah gajinya." Sidra tertawa dan kali ini Camilo pun juga. "Kau benar. Dia pasti hidup dengan baik di dalam istana sehingga dia masih bisa mengirimkan aku uang untuk bertahan hidup. Nenek bilang, Ibu selalu mengirimkan sejumlah uang untuk biaya hidupku walaupun jumlahnya tidak seberapa. Itu berarti dia masih mengingatku kan?" Kepala Sidra mengangguk. "Tentu saja! Bagaimana mungkin Ibu mu bisa melupakan anak setampan dirimu? Bahkan jika dia menikah lagi dan memiliki anak, anaknya yang baru tidak akan bisa setampan dirimu tahu!" Kelakarnya itu membuat Camilo lepas dari rasa sendu nya. Sepanjang jalan mereka saling bertukar gurauan, hingga ingatan dan rindu yang dirasakan Camilo pada Ibunya ketika mengingat istana mulai lenyap. Bahkan mereka kembali membahas rencana untuk usaha mereka yang kemungkinan akan menemui kesulitan karena perayaan yang ada di istana. Sidra menyarankan agar mereka mulai memasok anggur ke tempat perjudian yang dimiliki oleh Sieana, walaupun mereka masih belum yakin jika Sieana akan mengizinkan niat mereka yang satu ini. __
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN