Keadaan istana tampak sangat ramai. Para dayang dan pekerja istana sibuk menyiapkan segala sesuatu berkaitan dengan upacara tingkat satu Putra Mahkota.
Upacara tingkat satu adalah upacara yang diadakan bagi para anak Naga yang sudah menginjak usia pertama atau remaja. Dimana mereka akan mulai terlihat menjadi Naga jenis apa dan itu akan menentukan bagaimana upacara mereka akan dilaksanakan.
Arderl Hillario tentu saja terlahir sebagai Naga Emas karena merupakan keturunan langsung dari Kaisar Agung, sehingga upacara Tingkat satunya tidak akan diadakan sembarangan, melainkan akan diadakan dengan cara yang paling mewah hingga melibatkan banyak Kerajaan tetangga dan Kerajaan sahabat, juga ikut serta oleh semua Rakyat di Kekaisaran Naga.
Axia yang merupakan Ratu sekaligus Ibunda dari Arderl bahkan melarang siapapun untuk menemui Putranya sebelum upacara dilaksanakan. Hal ini demi menghindari kejadian yang tidak diinginkan terjadi pada Arderl sebelum upacaranya.
Namun tindakannya itu justru menjadi sesuatu yang keterlaluan saat Axia sendiri melarang Lauda yang merupakan Ayah dari Arderl untuk mengunjungi Putranya sendiri.
"Apa kau lupa, selain aku adalah Ayah dari Putra Mahkota, aku juga seorang Kaisar disini," tanya Lauda dengan tetap menjaga nada bicaranya.
Kaisar menatap lurus pada istrinya, namun wanita itu tidak gentar dan tidak beralih sedikitpun dari hadapan Kaisar.
"Saya tahu, Yang Mulia. Namun peraturan ini saya tetapkan kepada siapapun tanpa terkecuali, bahkan kepada diri saya sendiri. Saya hanya mengirimkan pelayan dan dayang yang sudah berada dalam pengaruh sumpah setia mereka. Ini semua demi keselamatan Putra Mahkota sebelum upacara benar-benar dilaksanakan."
"Tapi aku tidak mungkin menyakiti anakku sendiri."
Di depannya. Axia tersenyum miring begitu tipis.
"Siapa yang akan tahu? Bagaimana pun Arderl bukan lah satu-satunya anakmu."
"Ratu! Tolong jaga ucapan anda!"
Axia menatap tajam pada Loiz
"Siapa kau sampai berani meninggikan suaramu padaku? Pengawal rendahan yang dikasihani oleh Kaisar saja sudah berani menatap wajahku dengan terang-terangan. Lancang sekali!"
Lauda melirik ke belakang, mengangkat sebelah telapak tangannya untuk meminta Loiz berhenti.
"Kau masih sebegitu membenci diriku padahal kau sampai sudah melenyapkan mereka semua. Apa yang kau mau? Kau mau memisahkan aku dengan anakku lagi?"
Mata Axia menatap penuh benci pada suaminya sendiri.
"Jika itu bisa aku lakukan, maka akan aku lakukan. Sekalipun wanita itu dan anaknya sudah mati, namun luka yang kau torehkan padaku tidak akan pernah mati. Aku akan selalu mengingatnya sampai kapan pun, bahwa kau yang membawaku dengan paksa ke istana ini justru mengecewakan aku dengan menghamili perempuan dari kalangan miskin. Sungguh hal hina yang bisa dilakukan oleh seorang Kaisar Agung!"
Walaupun Lauda merasa sakit dengan ucapan yang dikatakan oleh istrinya sendiri, namun tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia masih harus menahan perasaannya karena satu-satunya wanita yang dia cintai hanyalah wanita di depannya ini.
Wanita yang tidak pernah mencintai dirinya sejak dulu.
"Baiklah. Lakukan apapun yang kau mau, tapi jangan buat Putra Mahkota kesulitan atau kesepian dengan terkurung seorang diri di dalam sana," kata Lauda.
Dia kemudian berbalik badan diikuti oleh Loiz yang berjalan di belakangnya.
"Bukankah Yang Mulia Ratu sudah bertindak keterlaluan, Yang Mulia?" tanya Loiz.
Lauda tersenyum.
"Maafkan istriku yang berkata kasar padamu."
Lekas Loiz menggeleng dengan kepala yang menunduk.
"Bukan itu yang hamba maksud. Tapi sikap kasarnya pada Yang Mulia, hamba rasa sudah sangat keterlaluan."
Menatap jauh ke hamparan taman yang terbentang di sepanjang jalan yang dia lalui, Lauda hanya bisa menghela napas berat.
"Sudah banyak kesulitan yang dia terima karena aku. Mungkin itu adalah sebaik-baiknya balasan yang bisa dia berikan untukku. Tidak apa, selama dia bisa menjadi Ratu yang baik untuk rakyat dan juga Ibu yang baik untuk Arderl, maka dia tidak harus menjadi istri yang baik bagiku."
*
Malam hari itu Sieana baru saja pulang setelah mengunjungi kebun anggur miliknya. Dia bahkan tidak terkejut lagi saat melihat anak-anak yang diasuh nya sudah tumbuh besar.
Baik Sidra dan Camilo sudah memiliki tubuh yang cukup tinggi. Jika disamakan dengan umur manusia, wujud mereka yang saat ini terlihat seperti anak berusia dua belas tahun. Apalagi jika melihat tubuh tegap dan putih milik Sidra.
Anak itu persis seperti anak bangsawan. Wajahnya rupawan dan sikapnya sangat teratur walaupun Sieana nyaris tidak pernah mempermasalahkan bagaimana mereka bersikap.
Pertumbuhan anak-anak Naga tidak dapat ditentukan secara harfiah. Karena Sidra baru berada di rumah itu dua tahun lebih, namun dia sudah tumbuh menjadi besar. Itu semua disebabkan oleh kekuatan alami yang menyertai mereka. Sehingga pertumbuhan nya tidak akan sama dengan bayi manusia.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Sieana.
Dia menaruh anggur di atas meja, kemudian duduk di sebuah kursi kayu yang berhadapan langsung dengan kedua anak itu.
"Kami hanya sedang membuat anggur. Bibi di pasar bilang, bahwa harga anggur yang diracik sendiri akan memiliki harga yang lebih mahal. Satu cangkir bisa terjual dengan harga dua koin perak."
Menaikan sebelah alisnya, Sieana kemudian tertawa melihat ada banyaknya cangkir di atas meja. Bahkan cairan berwarna ungu pekat sudah banyak mengotori meja kayu yang sudah usang itu
"Membuat anggur tidak semudah kalian menyeduh daun teh. Masih harus diperlukan banyak waktu dan langkah. Kalian yang tidak berpengalaman tidak akan bisa," ujar Sieana.
Kedua anak itu saling pandang, kemudian sama-sama menunduk ke arah cangkir di hadapan mereka.
"Tapi bibi di pasar bilang anggur buatan kami enak. Maka dari itu kami membuatnya lagi," kata Camilo.
Mendengar hal itu, Sieana mulai menampakan wajah yang serius. Dia bangkit dari duduknya dengan susah payah, mendatangi kedua anak itu yang kini memegangi cangkir milik mereka masing-masing.
Sekilas Sieana bisa mencium wangi anggur yang biasa dia temukan di pasar. Walaupun yang kali ini terasa lebih ringan. Ragu, dia mengambil cangkir yang dipegang oleh Sidra. Menghirup aromanya sekilas.
"Apa kalian sendiri sudah mencicipinya?"
Keduanya mengangguk.
"Kami sudah mencicipinya sejak pertama kali kami mencoba membuatnya."
"Dan kalian tidak mabuk?"
Keduanya kali ini menggeleng.
Maka dengan meyakinkan dirinya sendiri, Sieana mulai mendekatkan cairan itu ke mulutnya, menyesapnya dengan perlahan.
"Harum.. sangat harum," pujinya.
Dia kembali meneguk cairan itu.
"Bagaimana kalian bisa membuat ini?"
Sidra yang pertama kali menjawab.
"Kami hanya melakukan hal yang biasa Nenek lakukan. Hanya saja kami tidak mengendap nya di gudang, kami mencampurkan daun Aksa yang ada di hutan sehingga anggur ini langsung berubah asam. Mungkin karena itu juga anggur buatan kami tidak membuat orang mabuk," terangnya.
Daun Aksa adalah daun yang ada di hutan seberang desa. Satu-satunya daun yang dapat memilki racun namun bisa juga jadi penawar jika tahu bagaimana cara meracik nya.
Sieana terkejut. Ini bukan pertama kalinya dia mendengar daun aksa digunakan untuk membuat semacam ramuan. Namun tidak banyak orang yang tahu takaran yang benar sehingga kebanyakan dari mereka memilih mencari bahan lain. Dan biasanya daun aksa akan terasa pusing jika diminum pertama kali, namun yang terasa dari anggur ini hanyalah rasa manis asam yang membuat orang ketagihan.
"Luar biasa! Kalian mampu menciptakan hal yang belum pernah ada sebelumnya," puji Sieana puas.
Dia bahkan sampai meminum isi gelas milik Camilo hingga tandas.
"Kita bisa menjualnya setelah kita benar-benar memastikan bahwa anggur ini tidak memiliki efek yang bahaya. Hanya saja...sepertinya kita tidak bisa memasarkan dalam waktu dekat, karena beberapa hari ke depan desa akan sangat sepi."
Sidra memiringkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya anak itu.
"Ah, kau belum dengar ya? Istana akan segera mengadakan pesta upacara tingkat pertama bagi Putra Mahkota. Putra Mahkota akan menerima gelar resmi sebagai bagian dari Kekaisaran karena dia terlahir sebagai Naga Emas."
Mendengar hal itu, mata Camilo bersinar terang.
"Apakah jika aku datang kesana, aku akan dapat bertemu Ibu?"
Sidra menoleh pada temannya itu, memperhatikan bagaimana wajah Camilo tampak sangat berharap bisa mendapatkan jawaban yang dia inginkan dari Sieana.
Namun sayangnya, Sieana menggeleng lemah.
"Aku tidak bisa memastikan hal itu. Karena untuk pergi ke istana pun memerlukan waktu dan uang yang banyak. Belum lagi, kita belum tentu bisa menemukan Ibumu. Karena pekerja di istana itu sangat banyak sekali."
Kepala Camilo langsung menunduk lesu. Anak itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan jika dirinya kecewa.
Setelah kurang lebih satu tahun yang lalu menerima kabar jika Ayahnya mati dipenggal, harapan Camilo hanyalah agar dapat bertemu dengan Ibunya satu kali saja.
"Tidak apa, Cam! Kita pasti bisa bertemu dengan Ibumu suatu saat nanti. Selama kita tidak menerima kabar kematiannya, kita masih bisa berharap, bukan?" hibur Sidra.
Camilo menoleh, menampakkan senyum pada Sidra yang tulus menghiburnya.
"Iya! Tidak apa juga kalaupun aku tidak bisa bertemu dengannya. Walaupun aku akan sedih, tapi asalkan Ibu bahagia dan masih hidup, aku sudah sangat bersyukur."
Sidra mengangguk cepat, tangannya menepuk pundak temannya itu berulang kali.
"Kalau begitu, jangan bersedih lagi. Aku yakin Ibumu juga sama merindukan dirimu, suatu hari nanti dia akan datang untuk mencari mu. Anaknya yang sudah dia tinggalkan demi bertahan hidup."
Sieana diam-diam mengulum senyum. Dia sangat beruntung hidup ditemani oleh dua anak lelaki yang luar biasa di penghujung hidupnya.
Keduanya tidak pernah menyusahkan, tidak pernah merepotkan dan sejak kecil selalu akrab dan bermain bersama. Padahal dilihat dari luarnya saja, mereka terlihat berasal dari kasta yang berbeda.
Entah kenapa sejak pertama kali melihat Sidra, Sieana yakin jika anak itu berasal dari keluarga bangsawan yang teramat kaya raya. Karena Loiz sendiri yang selalu datang menjenguknya sedangkan yang Sieana tahu bahwa Loiz adalah prajurit terhebat di istana.
"Baiklah! Karena hari sudah malam, lebih baik kalian secepatnya tidur. Masalah anggur dan Ibu Camillo, bisa kita bicarakan setelah acara di istana selesai!" seru Sieana.
Dia beranjak pergi, menuju kamarnya.
Sedangkan kedua anak itu lebih dulu membereskan sisa kekacauan yang mereka sebabkan sebelum kemudian masuk ke dalam kamar yang mereka tempati.
__