Ch. 13

1543 Kata
Camilo masih tidak mengerti mengapa Sidra yang selama ini tampak sangat tidak tertarik untuk datang ke istana, kali ini justru menjadi yang pertama kali mengusulkan untuk mengantarkan anak tadi ke istana, untuk mengantar gandum. Tadi, ketika ditanya oleh Camilo, saudaranya itu hanya menjawab jika dia merasa kasihan jika harus membiarkan anak sepantaran dirinya itu untuk berjalan jauh ke istana dengan memanggul sekarung besar gandum. Dan alasan itu masih belum membuat Camilo merasa puas. "Bukan kah kau pernah bilang jika kau tidak menyukai ibu kota?" tanya Camilo yang sedang memacu kuda, duduk di samping Sidra yang duduk di depan bersama dengannya.  Sidra menoleh, kemudian dengan senyum kecil dia menjawab. "Itu benar." "Padahal kau bahkan tidak pernah menginjakkan ibu kota sekalipun," kelakar Camilo. Bibir Sidra megeluarkan tawa. "Benar juga. Tapi entah mengapa aku tidak pernah merasa nyaman saat mendengar cerita tentang ibu kota. Seakan aku merasa ada sesuatu yang tidak aku suka dari itu," balasnya tidak yakin. Camilo hanya menoleh sekilas. padahal satu-satunya orang yang pantas tidak menyukai ibu kota adalah dirinya karena sang Ayah yang mati di alat penggal istana dan juga sang ibu yang kemudian tidak pernah mengunjunginya lagi setelah masuk istana. "Lalu, apakah kita akan mengantarkan anak itu sampai istana?" tanya Camilo lagi. Sejenak Sidra menoleh ke belakang, ke arah gerobak kereta yang di dalamnya terdapat anak itu dengan sekarung gandumnya. "Apakah jarak antara pintu ibu kota dengan istana cukup jauh?" Berpikir sejenak, Camilo kemudian mengangguk. "Sepertinya memang begitu. Karena istana berada di tengah kota sehingga pasti lah jauh dari pintu perbatasan." Terdengar Sidra menghela napas berat. "Kalau begitu, sepertinya kita memang harus mengantarkan anak itu sampai istana. Setelah memastikan jika dia sudah sampai di tempat yang benar, baru lah kita bisa pulang karena nenek pasti mengkhawatirkan kita." Camilo tidak mengatakan apapun. dia hanya terus memacu kudanya dengan kecepatan sedang. Hari sudah mulai akan sore sedangkan mereka sudah terlanjur mengatakan pada nenek mereka jika mereka akan pulang sore nanti. Namun melihat dari bagaimana mereka yang masih tertahan di jalanan menuju istana hingga saat ini, Camilo bahkan tidak yakin dapat sampai di rumah sebelum pagi. Tapi dirinya tidak bisa membantah keputusan Sidra karena bagaimana pun saudaranya itu hanya ingin menolong seseorang yang kesusahan. Dia juga merasa tidak keberatan, hanya saja Camilo takut membuat neneknya khawatir. "Sepertinya masih banyak orang-orang yang berjalan kaki ke istana," gumam Sidra. Camilo memperhatikan di sekitar jalanan yang dilaluinya. Banyak orang-orang dengan memanggul kantung di pundaknya, berjalan menuju istana. Jika saja mereka mengenakan kereta kuda yang lebih layak dan pengangkut manusia, mungkin sejak tadi sudah banyak yang nekat memberhentikan kereta kuda mereka dan meminta tumpangan. Untung lah kereta kuda miliknya belum diganti dengan yang baru, sehingga bahwa orang miskin pun enggan menunpangi kereta kuda yang sekali lihat saja sudah seperti akan rubuh. "Mereka terlalu nekat sedangkan mereka tidak memiliki banyak barang dan juga uang. Entah mereka akan sampai atau tidak hingga ke istana tepat pada waktunya, sedangkan besok upacaranya sudah akan dilaksanakan," kata Camilo. Dia merasa lega saat beberapa waktu kemudian gerbang menuju ibu kota sudah terlihat. Para pengawal yang bertugas di perbatasan tampak sibuk memeriksa para pendatang baik yang berjalan kaki, menunggangi kuda ataupun yang menggunakan kereta sewaan. "Kita sudah sampai," kata Sidra dengan suara keras, berniat agar anak yang ada di dalam gerbong barang dapat mendengar. Sedangkan Camilo hanya bersiap untuk menjalani pemeriksaan oleh petugas, dia berharap bisa secepatnya melanjutkan perjalanan dan kemudian kembali pulang. * Hari terakhir diadakannya pesta untuk para bangsawan sebelum kemudian esok hari akan langsung diadakan upacara Tingkat satu dan juga pelantikan Arderl sebagai putra mahkota. Loiz dibuat sibuk dengan banyaknya pekerjaan di istana. Apalagi beberapa hari belakangan, banyak sekali pelayan dan pengawal yang terpaksa diberhentikan karena terbukti membuat beberapa tamu dari kerajaan lain menadi tidak nyaman. Hal itu menyebabkan tenaga kerja di istana berkurang dan sulit untuk mencari pengganti di waktu yang sudah mepet ini. Bahkan di perbatasan, terdengar kabar bahwa banyak pendatang yang memaksa masuk dan kemudian terbukti membawa beberapa barang yang tidak seharusnya dibawa seperti senjata tajam ataupun racikan bom, sehingga banyak dari mereka yang akhirnya dijebloskan ke dalam penjara. "Tuan, keretanya sudah siap." Loiz menoleh, mengangguk pada seorang prajurit yang memberitahukan bahwa kereta yang akan dia gunakan untuk sampai di perbatasan sudah siap. "Tunggu sebentar. Aku harus menemui Kaisar lebih dulu," katanya. Dia berbalik badan, berjalan ke arah ruang kerja Kaisar untuk memberitahu jika dirinya sudah akan berangkat. Ketika dia mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, dirinya sedikit terkejut mendapati Ibu Suri yang juga berada di sana. "Lama tidak bertemu, Loiz. Bagaimana kabarmu?" sapa wanita yang memiliki kedudukan tertinggi di Negara itu. Loiz menunduk dalam. "Berkat rahmat Dewa, saya dalam keadaan baik-baik saja. Saya mengucapkan terimakasih pada perhatian Yang Mulia Ibu Suri," balas Loiz. "Ada apa?" tanya Kaisar kemudian. "Hari ini, seperti yang sudah diperintahkan sebelumnya bahwa saya akan berangkat ke perbatasan untuk memeriksa sendiri keadaan di sana. Kemungkinan saya baru akan kembali malam nanti, jika Kaisar membutuhkan saya, Kaisar bisa mengirim seseorang untuk meminta saya secepatnya kembali," terang Loiz. Dia masih bertahan dengan menunduk, tidak berani mengangkat kepala saat ada dua orang paling dihormati di hadapannya. "Baiklah. Berhati-hati lah kau di sana." Mendengar balasan dari Kaisar, Loiz langsung menunduk lebih dalam dan bergerak mundur, keluar dari ruang kerja itu. Ketika pintu tertutup, Loiz sekilas menoleh ke arah ruangan yang baru saja dia tinggalkan. Dia menduga-duga, jenis tekanan macam apa lagi yang sedang diberikan oleh Ibu Suri kepada Kaisar? Namun itu sama sekali bukan urusannya. Walaupun dia adalah orang yang paling dekat dengan Kaisar, tapi dirinya tetap lah hanya seorang pengawal setia. Tidak ada hak baginya untuk mencampuri urusan keluarga Kaisar. Bergerak ke arah luar istana, Loiz mengenakan jubah yang sejak tadi dia bawa dan berjalan menuju kereta kuda yang disiapkan olehnya. Sebenarnya dia bisa saja hanya menunggangi kuda seperti biasanya, namun karena keberangkatannya kali ini adalah termasuk dalam perjalanan dinas, maka dia harus berangkat dengan menggunakan kereta kuda istana. Walaupun itu terasa sedikit merepotkan baginya. "Kita berangkat," katanya pada kusir yang bertugas mengantarnya hingga ke perbatasan. Dia sedikit mengkhawatirkan keadaan Kaisar sebenarnya. Harusnya dia yang menjadi ajudan Kaisar, tidak dikirim kemana pun apalagi jauh dari Kaisar. Namun kurangnya tenaga kerja saat ini membuat dia mau tidak mau untuk turun tangan langsung, apalagi jika di antara para pendatang kedapatan ada seorang penyusup, maka itu juga akan sangat membahayakan nyawa Kaisar. Tapi keadaan di istana juga tidak begitu baik. Kekaisaran Naga adalah Kekaisaran yang cukup tangguh dan disegani oleh Kerajaan lain karena dianggap sebagai Kekaisaran legenda. Banyak dari para Raja dan utusan yang berniat menjalin hubungan diplomatik yang menguntungkan. Tujuannya sebagain besar adalah agar Kaisar Naga mau menjadi pelindung jika sewaktu-waktu Kerajaan mereka dalam keadaan kesulitan. Dan untuk mencapai tujuan itu, banyak dari mereka yang menjilat tanpa kenal waktu dan perasaan. Tidak perduli meskipun Kaisar Naga merasa keberatan sekalipun. Apalagi meskipun seorang Kaisar, namun Kaisar Lauda tidak memiliki banyak orang yang berdiri di pihaknya. Kebanyakan adalah kelompok yang tunduk pada Kekuasaan yang dimiliki oleh Ibu Suri dan juga kelompok yang berasal dari orang-orang milik Ratu. "Sepertinya terjadi beberapa keributan lagi di perbatasan, Tuan." Lamunan Loiz langsung buyar saat mendengar ucapan Kusir yang mengantarnya. Dia merapat ke arah jendela kereta, membuka tirai dan melihat jauh ke depan dimana gerbang perbatasan tampak sangat ricuh dengan pengawal yang menutup jalan secara penuh. "Hentikan saja kereta kudanya disini," titah Loiz. Kereta yang ditumpanginya langsung berhenti beberapa meter dari gerbang perbatasan. Dia turun, mengenakan jubah yang tadi dia kenakan. Semakin mendekat, dia bisa mendengar betapa mereka sedang adu mulut dengan para pengawal. Loiz terus melangkah mendekat, tangannya semakin menarik turun jubah yang dia kenakan, belum berniat untuk memberitahu semua orang bahwa dirinya adalah utusan langsung dari istana. Ketika langkahnya sampai di belakang tubuh para pengawal, dia malah terkejut melihat tiga anak lelaki yang tangannya diikat dengan kuat oleh tali yang berasal dari para pengawal. Yang membuat Loiz terkejut adalah karena dia mengenali kedua anak lelaki di antaranya. "Ada apa?" tanyanya. Seorang pengawal menoleh, "Mereka adalah penyusup. Di dalam kereta mereka terdapat barang berbahaya yang diduga sebagai bahan peledak." Lekas Loiz menoleh pada dua anak yang dia kenali. Satu dari mereka hanya diam dengan mata menatap tajam pada pria lainnya. Sedangkan satu lagi justru menggeleng dengan tegas. "Kami tidak tahu bahwa orang yang kami tumpangi ternyata membawa barang berbahaya. Kami hanya berniat menolong dia karena dia akan berjalan kaki dengan satu karung gandum ke istana," terangnya. Tapi para petugas gerbang itu sama sekali tidak mempercayai ucapannya. Meraka justru diseret ke pinggir dengan sangat kasar sampai membuat Loiz yang melihatnya merasa geram. "Nak, siapa yang kau maksud dengan orang yang kau tumpangi?" tanya Loiz kemudian. Pemuda itu langsung menoleh pada seorang pemuda kurus yang berada paling ujung. Tatapannya sama tajam dengan satu orang lainnya. "Dia. Tadi dia hampir dipukuli oleh preman pasar maka kami berdua membantunya dan bahkan mengantarkannya untuk ke istana, karena dia bilang hendak mengirimkan gandum ke pihak istana. Kami sama sekali tidak tahu bahwa dia ternyata membawa barang lain yang dia sembunyikan." Menoleh ke arah si anak kurus, Loiz kemudian berbicara pada penjaga gerbang. "Dua anak ini biarkan ikut denganku. Sedangkan satu anak lainnya bawa ke penjara," titahnya. Tapi dia melupakan jika sampai saat ini dirinya masih tertutupi oleh jubah sehingga petugas gerbang tidak mengindahkan perintahnya. Maka Loiz langsung mengeluarkan sebuah logam besar bergambar Naga besar, simbol plakat yang dimiliki oleh semua pejabat istana. __
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN