Ch. 14

1542 Kata
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak tahu jika Tuan pejabat istana," ucap salah satu petugas gerbang setelah melihat plakat yang Loiz berikan. Sidra terdiam, dia menatap pria berjubah yang secara tiba-tiba dan kemudian meminta agar dirinya dan juga Camilo ikut bersamanya.  Padahal beberapa saat lalu dia sudah berpikir jika kemungkinan dia akan berakhir di dalam penjara setelah melakukan kesalahan dengan membawa orang yang ternyata menyelundupkan bahan peledak. Dia dan juga Camilo sama sekali tidak menyangka jika pria kurus yang mereka tolong malah membahayakan mereka. Saat pemeriksaan sebelum memasuki gerbang, di dalam balik pakaian lusuh yang dikenakan oleh pria itu terdapat sebuah bubuk yang diyakini sebagai bubuk mesiu, yang bisa dijadikan sebagai bahan utama peledak. Mereka berulang kali menjelaskan jika mereka sama sekali tidak terkait dengan pemuda itu dan hanya berniat mengantarnya hingga ke istana. Namun petugas penjaga gerbang sama sekali tidak mempercayai ucapan mereka hingga membuat Camilo yang memang memiliki sifat sedikit keras itu memilih diam dan membiarkan saja petugas itu mengatakan apapun tentang dirinya. Dan pria berjubah ini, entah akan menjadi penolong atau malah membuat mereka berdua semakin terlibat dalam masalah. Yang jelas, Sidra tidak mengenal pria itu yang katanya adalah seorang pejabat istana. "Urus yang lainnya. Pastikan tidak ada penyelundup yang berhasil masuk satu pun, atau jika itu sampai terjadi maka nyawa kalian yang akan jadi taruhannya," ujar Loiz dengan nada dingin. Masih dengan mengenakan jubah, dia menoleh pada kedua anak lelaki yang sudah menjadi tanggung jawabnya itu. "Ikut denganku!" titahnya. Sidra melirik ke arah Camilo, saudaranya itu mengikuti langkah pria berjubah dengan patuh, meninggalkan para petugas yang menyeret tubuh pria kurus tadi entah kemana. Sepanjang jalan yang tidak terlalu jauh, Sidra merasa seperti mengenali tubuh dan perawakan pria ini. Namun dia sama sekali tidak merasa pernah memiliki seorang kenalan yang bekerja di istana, apalagi jika dia adalah seorang pejabat. Matanya melebar kemudian melihat kereta kuda dengan simbol istana yang terdapat di jalan yang tidak jauh dari tempat mereka tadi. "Masuklah!" "Tapi, bagaimana dengan kereta kami?" tanya Sidra kebingungan. Walaupun kereta kuda miliknya dan Camilo sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kereta kuda istana, namun dirinya tetap tidak bisa meninggalkan kereta itu begitu saja. "Kalian tenang saja, kereta itu akan diantarkan ke rumah kalian." Sidra membulatkan matanya, "Apa?" tanyanya tidak mengerti. Namun pria itu sudah lebih dulu masuk ke dalam kereta sehingga mau tidak mau Sidra dan Camilo ikut masuk ke dalamnya. Kereta berjalan lurus melewati perbatasan, dengan keadaan yang masih hening hingga mereka bahkan melihat kereta milik mereka berjalan mengikuti dari belakang. "Apakah kami akan diantarkan pulang?" tanya Camilo setelah sejak tadi diam. Loiz menatap Camilo dalam diam, kemudian mengangguk. "Bukankah itu yang kalian inginkan? Atau kalian justru lebih suka tinggal di penjara?" Lekas keduanya menggeleng, membuat senyum tipis muncul di wajah Loiz. "Tapi, jika kami boleh tahu, siapakah anda ini, Tuan? Anda bahkan langsung mempercayai jika kami tidak terlibat dengan pria itu," tanya Sidra kali ini. "Itu karena aku memang mengenali kalian." Sidra dan Camilo semakin dibuat bingung oleh ucapan pria yang datang membawa mereka. "Kami hanya penjual anggur dari desa kecil, jadi kami tidak mungkin lupa jika kami sama sekali tidak pernah memiliki kenalan seorang pejabat istana," kata Camilo. Loiz mengangguk. "Bisa dibilang kalian adalah anak-anak yang beruntung karena berhasil memiliki kenalan sepertiku." Ucapannya membuat Sidra dan Camilo langsung diam. Mau dipikir berapa kali pun, dirinya sama sekali tidak mengenali pria besar di depannya ini. Pun pria di depannya ini sama sekali tidak terlihat sebagai pejabat rendahan dan bukan juga merupakan seseorang yang mengaku-ngaku sebagai pejabat. Hingga kemudian saat Sidra yang sejak tadi tidak berhenti memperhatikan pria itu melirik ke arah pinggang yang sedikit tertutupi oleh jubah, matanya membulat. Dia mengenali gagang pedang yang tergantung di pinggang pria itu. "Apakah anda adalah pria tempo hari yang memberikan aku dan saudaraku pedang??" Pertanyaan yang disuarakan dengan nada tinggi itu membuat Camilo juga menoleh terkejut pada pria di depannya. Sedangkan Loiz hanya menatap tenang pada keduanya. "Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" Sidra menunjuk pada pedang yang ada di pinggang Loiz. "Aku ingat sekali pernah melihat pedang itu, walaupun saat itu gelap namun gagang pedang itu sangat mencolok sehingga tidak akan mudah untuk melupakannya." Loiz tertawa kecil, kemudian tanpa membantah dia langsung mengangguk. "Kau cukup jeli. Jadi, apakah aku sudah bisa menilai seberapa banyak kemajuan kalian dalam berpedang?" * "Bukan begitu maksudku, Bu. Bagaimana pun Arderl bahkan belum menyelesaikan upacara pertamanya, dia juga baru akan dilantik sebagai Putra Mahkota. Bukankah terlalu cepat jika kita sudah membahas perihal siapa yang akan menjadi pendampingnya?" Ibu Suri mengerutkan keningnya samar. "Apa yang cepat? Begitu Pangeran sudah dilantik sebagai Putra Mahkota, maka dia juga harus bersiap menjadi Raja selanjutnya, Kaisar selanjutnya. Dan seorang Kaisar tidak bisa sembarangan menemukan pasangan begitu saja, kita sudah harus membicarakan tentang itu dari sekarang. Bukan kah dulu kau juga begitu?" Lauda menghela napas pelan. Padahal istana sedang sangat sibuk dengan persiapan upacara yang masih belum selesai, namun Ibunya sudah mendesak perihal wanita yang kelak akan menjadi pendamping bagi Arderl. "Ibu sudah membahas tentang ini, bukan kah itu berarti Ibu sudah memiliki kandidat yang menurut Ibu tepat?" tanya Lauda langsung. Dia langsung tahu bahwa tebakannya benar saat Ibunya itu tersenyum dengan penuh arti. "Dari semua orang, bukan kah Putri Chastine adalah yang terbaik? Dia sangat cantik, pintar dan juga ramah. Dia juga satu-satunya yang akan mewarisi Kerajaan Laut saat Raja itu lengser. Tidak ada wanita yang lebih pantas mendampingi Pangeran selain dia." Sudah bisa Lauda tebak sejak pertama kali melihat gadis itu, bahwa gadis itu akan sangat menarik perhatian banyak orang karena dianggap memiliki kualitas tinggi. Bahkan penampilan dan juga latar belakangnya berhasil membuat Ibu Suri yang terkenal pemilih, memutuskan untuk memilihnya. "Kalau begitu, bukankah Ibu akan tetap memilihnya walaupun aku menolak?" "Untuk apa kau menolak gadis sebaik dan secantik dia? Apakah kau tidak berpikir bahwa dia bisa menjadi Ratu yang baik untuk Kekaisaran kita ini?" Lauda menggeleng pelan. "Bukan dia masalahnya, hanya saja aku merasakan sesuatu yang tidak baik dengan Ayahnya. Bukankah beredar kabar jika selama ini dia pandai menghasut bahkan sampai membuat Raja Laut membunuh istrinya sendiri?" Sang Ibu Suri berdecak keras. "Itu hanya rumor yang dibesar-besarkan dan belum tentu benar adanya. Apa kau juga tidak mendengar jika dia membunuh istrinya karena istrinya berselingkuh dengan ajudannya sendiri? Mana mungkin ayah yang jahat bisa memiliki anak yang sebaik Chastine?" Memilih untuk diam, Lauda merasa bahwa apapun yang dikatakan olehnya tidak akan mengubah pandangan sang Ibu pada gadis yang memikat hatinya. Dulu juga seperti ini. Ibunya sangat tertarik pada Axia, yang membuat perbedaan adalah karena Lauda juga jatuh cinta pada gadis cantik dan gemilang itu sehingga dia langsung menerima perjodohan yang diatur oleh kedua orang tuanya dan juga orang tua Axia. Namun kali ini Arderl bahkan belum mengenal Chastine, dia takut jika Arderl akan merasa tertekan dan terpaksa menerima perjodohan. "Bicarakan lah dulu pada Pangeran, Bu. Bagaimana pun juga, dia berhak tahu dan memutuskan untuk menerimanya atau tidak. Bukankah itu yang selalu kita lakukan sejak dulu?" Kali ini Ibu suri langsung mengangguk. "Kau tenang saja. Dia adalah anakmu dan sudah pasti akan sama seperti dirimu. Dia akan langsung jatuh cinta pada Chastine seperti dulu dirimu jatuh cinta pada Axia." Tersenyum kecil, Lauda tidak lagi menanggapi ucapan Ibunya, Ibu Suri bangun dari duduknya, bergerak ke arah pintu ruangan. "Satu lagi, Lauda. Jangan terlalu mendengarkan ucapan ajudan mu. Aku dengar terakhir kali, bahkan dia berani menentang ucapan Axia yang adalah seorang Ratu. Walaupun dia sudah berada di sisi mu untuk waktu yang lama, namun tindakannya sama sekali tidak bisa untuk dibenarkan." Tertegun, Lauda hanya bisa terbengong menatap Ibunya. Dia sama sekali tidak menduga kejadian terakhir kali saat terjadi perdebatan kecil antara dirinya, Axia dan juga Loiz yang ada bersamanya saat itu, akan sampai ke telinga Ibunya. "Dia tidak salah, Ibu. Bagaimana pun saat itu Axia melarang aku untuk bertemu dengan Arderl." "Itu karena Arderl butuh tenang dari pengaruh orang luar." Mata Lauda melotot, "Aku adalah ayahnya, aku juga seorang Kaisar disini. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi orang luar?" tanyanya tidak mengerti. Ibunya sama sekali tidak menunjukan reaksi yang berarti. Wanita itu hanya berbalik badan dan sepenuhnya menghadap pintu. "Jangan kekanakan, Lauda. Kau harusnya mengerti bahwa Axia adalah yang paling tahu apa yang terbaik untuk Pangeran karena dia adalah Ibunya." Setelah mengatakan kalimat dingin itu, Sang Ibu Suri bergerak keluar dan meninggalkan ruangan. Sedangkan Lauda dibuat tercengang dengan sifat Ibunya yang hingga saat ini tidak berubah sedikit pun. Sejak dulu, Ibunya selalu merasa memiliki kuasa yang lebih setelah Ayah mereka meninggal. Itu karena dulu Sang Ibu adalah keturunan satu-satunya dari Naga Emas yang merupakan Kakek Lauda, namun dia justru berakhir menyerahkan tahta pada Saudara sepupunya yang juga seorang Naga Emas karena terlahir sebagai lelaki. Akhirnya karena dia tidak ingin kehilangan tahta, dia menikahi sepupunya itu dan menjadi Ratu. Lalu saat Ayah Lauda meninggal, Ibunya berlaku seakan segala kekuasaan ada di telapak kakinya meskipun pada kenyataannya Lauda lah Kaisar di Negara ini. Sedangkan Lauda tidak pernah bisa membantah ataupun melawan pada Ibunya. Karena dia tahu, sepanjang hidupnya, Ibunya memeluk luka kecewa karena kehilangan tahta hanya karena dirinya terlahir sebagai seorang perempuan. Mungkin bisa dibilang ini adalah bentuk kasih sayangnya pada sang Ibu, namun mungkin juga jika ini hanya lah rasa kasihan karena dia sudah melihat banyak kesulitan yang dihadapi Ibunya setelah terbuang dari pewaris tahta, diremehkan oleh orang-orang yang dahulu ada di pihaknya. __
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN