"Sebenarnya, Tuan ini siapa? Apa mungkin...kalau Tuan adalah ayah salah satu dari kami?"
Sidra terkejut saat mendengar pertanyaan Camilo. Padahal Camilo sendiri tahu bahwa Ayahnya sudah meninggal di istana karena dituduh sebagai pengkhianat, namun saudaranya itu malah tetap menanyakan pertanyaan yang jawabannya kemungkinan akan menyakiti dirinya sendiri.
"Tidak. Aku bukan ayah dari siapapun karena sepanjang hidup, aku bahkan tidak berpikir untuk menikah," jawab Loiz.
Dia merapikan jubah yang dia kenakan kemudian turun dari kereta kuda.
"Turunlah! Kalian harus menunjukkan sudah seberapa pesat kemajuan kalian dalam bertarung setelah aku memberikan kalian pedang," titahnya.
Sidra dan Camilo langsung bergerak turun dari kereta. Mereka baru menyadari jika saat ini mereka berhenti di sebuah tanah lapang yang sangat terik, nyaris tidak ada pohon satu pun selain pohon dengan ranting yang sudah gundul dan kering.
"Aku akan duduk di sana," tunjuk Loiz pada sebuah batu besar yang ada di bagian ujung. "Lakukan dengan benar, jika aku tidak merasa puas dengan kemajuan kalian maka aku akan mengambil kembali pedang yang udah kuberikan pada kalian. Jadi jangan main-main."
Keduanya langsung mengeluarkan pedang, lalu saling pandang.
"Apa kita akan beradu tanding dengan menggunakan pedang ini? Bagaimana jika aku belum bisa mengontrol kemampuanku sepenuhnya? Aku takut tanpa sadar akan melukaimu," tanya Sidra kebingungan.
Kebalikan dari saudaranya, Camilo justru tampak sangat tenang saat mengeluarkan pedang miliknya.
"Bukankah ini bukan hal yang sulit untukmu? Kau hanya perlu menganggapnya sebagai pedang kayu, seperti biasa. Dan kau juga jangan terlalu meremehkan aku, karena aku mungkin bisa lebih hebat dari dirimu."
Tertawa kecil, Sidra kemudian mengangguk.
"Ya, baiklah. Aku percaya jika kemungkinan kau lebih mahir daripada aku."
"Apa yang kalian lakukan? Apa kalian sengaja ingin menyiksaku di tengah terik matahari seperti ini lebih lama?!" teriak Loiz.
Bergegas Sidra menghunus pedangnya dengan kuda-kuda, dia mengambil jarak yang cukup dari Camilo, memperhatikan gerak-gerik saudaranya itu.
Ini adalah pertama kalinya dia beradu tanding secara langsung dengan Camilo menggunakan pedang sungguhan, karena biasanya mereka hanya melakukan hal itu dengan menggunakan pedang kayu yang tidak akan melukai salah satu di antara mereka.
SRTTT
Mata Sidra membulat, lekas dia memutar satu kakinya ke belakang untuk menghindari serangan akurat yang dilayangkan oleh Camilo. Dirinya lengah karena terlalu banyak berpikir, sedangkan Camilo sudah mengambil langkah pasti yang sama sekali tidak ragu-ragu.
Memberikan serangan balasan, Sidra bergerak cepat, mengambil jalur bawah dengan pedangnya hingga pedangnya dapat mengenai pedang Camilo. Camilo hampir saja melepaskan pedang di tangannya jika dia tidak cepat tangkas untuk berputar badan.
"Kau memang tidak bisa diremehkan," ujar Camilo.
Sidra tersenyum bangga, di langkah selanjutnya dia menjadi lebih mudah membaca setiap pergerakan Camilo. Gerakannya terasa begitu ringan saat mengayunkan pedang, satu langkah, dua langkah, dia sama sekali tidak merasa kesulitan untuk menangkis semua serangan yang dilayangkan oleh Camilo padanya hingga akhirnya Camilo terpojok saat salah satu lengannya terkena luka goresan akibat pedang.
Gerakan Sidra terhenti, dia mulai merasa cemas melihat darah yang mengucur dari lengan Camilo.
"Harusnya kau tidak berhenti hanya karena melihat aku terluka. Jika dengan lawan yang sesungguhnya, nyawamu bisa dalam bahaya jika kau melangkah dengan ragu-ragu."
Mengabaikan ucapan Camilo, Sidra malah memasukan kembali pedangnya dan kemudian menyobek bagian dari pakaian yang dia kenakan. Dia membalut luka Camilo menggunakan itu.
"Jika itu orang lain, aku tidak akan merasa ragu untuk membuatnya kehilangan nyawa. Tapi kau adalah saudaraku, mana mungkin aku melanjutkan serangan di saat kau sudah terluka? Aku yakin bahwa kau juga akan melakukan hal yang sama," balasnya.
Camilo tersenyum juga. Dia ikut memasukan kembali pedang miliknya ke dalam sarung.
"Tidak disangka bahwa pedang itu tidak sia-sia aku berikan pada kalian," ujar Loiz yang membuat Sidra dan juga Camilo menoleh serempak. "Setidaknya walaupun gerakan dan langkah kalian masih terkesan ragu dan juga kaku, namun kalian tidak terlihat seperti seorang amatir. Itu melegakan."
Dipuji seperti itu oleh orang yang mereka tahu sebagai pejabat istana membuat Camilo dan Sidra sama-sama mengulum senyum bangga.
"Namun jangan terlalu senang dulu, kalian bahkan belum mendekati standar yang aku bayangkan. Jadi terus lah berlatih dan kita akan bertemu lagi nanti. Aku akan terus memantau perkembangan kalian," lanjut Loiz.
Sidra mengangguk, "Kami tidak akan menyia-nyiakan pedang sehebat ini dengan terus membuatnya ada di sarung yang tergantung di pinggang kami. Tuan tidak usah khawatir."
Tersenyum kecil, Loiz menoleh ke arah kereta kudanya.
"Kalau begitu kita harus melanjutkan perjalan untuk pulang ke rumah kalian, karena hari sudah semakin malam."
"Baik," balas Sidra dan Camilo hampir bersamaan.
Ketika mereka sudah hendak mengikuti langkah Loiz, tiba-tiba saja pria itu berhenti tanpa membalikan tubuhnya.
"Satu hal lagi, aku peringatkan agar kalian tidak lagi datang ke Ibu Kota apalagi istana. Karena tempat itu sama sekali bukan tempat yang aman untuk kalian."
*
Semakin malam, pesta itu justru menjadi semakin meriah.
Para Bangsawan saling berbaur, tertawa dan terlihat sangat akrab seakan mereka memang benar-benar saling menyukai satu sama lain.
Tidak ada yang tahu jika di balik kipas yang menutupi mulut itu, mereka saling membicarakan satu sama lainnya.
Pangeran Arderl Hillario, seorang yang esok nanti akan dinobatkan sebagai Putra Mahkota secara resmi itu, duduk dengan tenang di atas kursi mewah. Menatap pada semua tamu undangan yang masih menikmati pesta dengan alunan musik merdu yang menjadi latar belakang mereka saling menari dan berdansa.
Tiga hari bertutut-turut dia harus menghadiri pesta yang membosankan, dengan semua orang yang berusaha mendekatinya, menjalin relasi dengannya. Semua itu terasa memuakkan.
Tapi ada satu orang yang sangat dia nantikan kehadirannya baik di pesta maupun dimana pun dia berada. Sosok yang sudah mencuri perhatiannya sejak pertama kali muncul, seorang gadis cantik yang membuat Arderl merasa bangga terlahir sebagai seorang Putra Mahkota karena dia yakin, dia akan dengan mudahnya mendapatkan wanita itu.
Bibirnya tersenyum saat sosok itu memenuhi pesta dengan pesonanya. berjalan dengan sangat anggun memasuki hall dan membuat semua orang mulai berbisik-bisik tentangnya.
Gadis muda yang bersinar, yang seluruh bangsawan menginginkan dirinya. Tak terkecuali Arderl. Dia menginginkan sosok Chastine untuk menjadi pendampingnya, menjadi Ratu yang akan berada di sisinya nanti ketika dia menggantikan Ayahnya sebagai Raja.
"Malam ini pun dia sangat cantik," pujinya pelan.
Sosok pengawal setia yang berdiri di sampingnya mengulum senyum ketika menunduk.
"Saya dengar bahwa Yang Mulia Ibu Suri sudah meminta secara langsung pada Ayahanda Putri Chastine, agar Putri Chastine bisa menjadi pendamping Yang Mulia Putra Mahkota."
Arderl terkejut, dia langsung menoleh pada pengawalnya setelah dia mendengar tentang hal itu.
"Benarkah? Darimana kau mendengar tentang itu?" tanyanya penasaran.
Vell masih menunduk dengan senyum yang bertahan di wajahnya. Nampaknya dia sangat senang melihat Sang Putra Mahkota begitu tertarik dengan kabar yang dia dapatkan.
"Salah satu dayang Yang Mulia Ibu Suri yang mengetahui soal itu dan kemudian menceritakannya ke dayang lain sehingga kabar itu mulai menyebar dari mulut ke mulut. Tapi saya sudah memastikan jika hal itu benar adanya karena saya juga sempat melihat Yang Mulia Ibu Suri mengunjungi ruang kerja Yang Mulia Kaisar tadi siang," terangnya.
Hati Arderl merasa berbunga-bunga. Rupanya bukan hanya dirinya yang jatuh cinta pada gadis itu namun juga Ibu Suri sehingga Ibu Suri langsung melayangkan lamaran pada keluarga Chastine sebelum mereka menerima lamaran dari orang lain.
"Jika memang seperti itu, maka aku akan sangat bersyukur. Memang aku lah yang lebih pantas dibanding siapapun untuk mendapatkan kecantikan dan keanggunan itu. Di dalam istana Naga ini, dia akan hidup dengan bersinar dan menjadi Ratu terbaik."
Mata itu masih menatap lurus pada sosok gadis yang dipujanya. Chastine tampak sedang berbincang dengan para gadis muda lainnya yang juga datang ke pesta.
Berada di tengah-tengah gadis yang lain, Chastine terlihat sangat bercahaya hingga menyilaukan. Rasanya semua gadis di sana merasa bahwa pesona mereka tersedot habis karena berada di sekitar gadis cantik itu.
Jika saja ini bukan acara resmi, Arderl pasti lah sudah turun dari singgasananya dan mendekati gadis itu, membawanya untuk dirinya sendiri agar tidak ada lagi pria lain yang dengan nakal memandangnya.
"Jika Pangeran memang ingin mengajak Putri berbicara, Pangeran bisa turun saat pergantian lagu dan mengajaknya berdansa," usul Vell.
Kening Arderl berkerut. "Bukan kah itu akan membawa opini bagi semua orang yang melihatnya? Mereka akan berpikir jika aku tertarik pada Putri Chastine."
"Bukankah itu tidak masalah, Pangeran? Lagipula saya yakin banyak dari bangsawan di sana yang sudah mendengar perihal kabar Yang Mulia Ibu Suri yang sudah melamar Putri Chastine secara tidak resmi. Pun mereka pasti beranggapan bahwa Pangeran memang orang yang sudah pasti akan mendapatkan Putri."
Menimbang sejenak, Arderl kemudian mengangguk. Dia berdiri, mengibaskan jubah merah yang ia kenakan dan kemudian menunggu hingga lagu berganti.
Setiap langkahnya membuat semua orang yang tadinya sibuk berbincang dan berdansa, kini menoleh dengan penasaran padanya. Menatapnya dengan rasa takjub karena mereka bisa melihat sosok Pangeran dari dekat. Padahal sejak mereka menginjakkan kaki di istana, mereka hanya bisa melihat Sang Pangeran dari jauh karena pengamanan yang ketat.
Arderl didampingi para pengawalnya membelah kerumunan, berhenti tepat di depan Chastine yang tampak terkejut.
"Salam hormat saya pada Yang Mulia Pangeran!" salam gadis itu diikuti oleh gadis yang lain.
Tersenyum, Arderl dengan percaya diri mengulurkan tangannya.
"Jika Putri tidak keberatan, maukah Putri berdansa bersama saya di lagu selanjutnya?" tanyanya kemudian.
Ajakannya mengundang pekikan dari semua orang yang ada di sana. Dan pekikan itu semakin menjadi saat Chastine balas mengulurkan tangan dan menyambut ajakan Sang Pangeran.
"Dengan senang hati, Pangeran," katanya.
Musik mulai berputar merdu, mengiringi dua langkah yang saling menyatu dan membuat semua orang merasa iri. Mereka berdua adalah keindahan yang sesungguhnya hingga tidak ada yang berani untuk menjadi penghalang bagi keduanya.
__