Ch. 16

1523 Kata
"Sial! Lama-lama aku kesal dengan nenek tua itu! Bagaimana mungkin kita yang sudah lebih dulu bersama dengannya, setia dengan melakukan bisnis bawah tanah seperti ini, tapi pada akhirnya dia justru mencurahkan perasaannya pada dua anak yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya. Bukankah ini sama sekali tidak adil?" "Kau benar! Aku juga selalu saja kesal setiap kali anak-anak itu datang dan mengambil uang operasi dari kita dengan menyebut nama nenek. Padahal biasanya nenek itu meminta kita yang mengantarkannya ke rumah dan setelah itu memberi kita upah jalan. Sekarang kita hanya menerima upah kerja secara bersih tanpa tambahan apapun." Suasana gelap di sana membuat kedua orang pria dengan tubuh besar dan penuh luka itu, leluasa mengeluh. Sedangkan beberapa meter dari tempat mereka terdengar para penjudi yang sedang asik bermain kartu di sebuah ruangan besar yang ada di bawah tanah. Ini adalah bisnis ilegal, bisnis perjudian yang hanya bisa didatangi oleh orang-orang yang memang sudah menjadi pelanggan. Walaupun dinamakan sebagai bisnis ilegal, namun sebenarnya pihak istana mengetahui tentang keberadaan bisnis ini dan selalu menerima pajak setiap bulannya. Itu lah kenapa bahkan para bangsawan banyak yang datang ke tempat ini dengan menutupi identitas mereka rapat-rapat, mengenakan topeng yang menutupi wajah mereka. Dahulu bisnis ini didirikan oleh Sieana saat dirinya masih lah seorang prajurit aktif. Berkat orang dalam istana yang dia kenal, bisnis ini berjalan lancar hingga sekarang dan membuat nenek itu kaya raya. Sudah banyak orang-orang atau bahkan preman-preman yang bekerja di bawah tangannya. Namun para pekerja itu kini tengah mengeluhkan karena nenek tua itu mulai mengabaikan mereka dan lebih suka mempercayakan semuanya pada dua anak kecil yang dianggap sebagai cucunya. "Mereka hanya anak yang tidak jelas asal-usulnya. Satu anak itu merupakan anak dari prajurit yang dihukum mati karena berkhianat. Aku tidak mengerti mengapa Nenek itu mau repot-repot mengurus anak yang bukan darah dagingnya? Bagaimana jika kedua anak itu hanya anak Naga Putih yang tidak berguna?"  Satu orang pria berkepala botak masih terus mengeluhkan rasa kesalnya. Di tangannya dia memegang sebuah koin logam yang dijadikan sebagai tiket masuk ke tempat ini. Ini adalah pekerjaannya, dia memang penjaga tiket sekaligus algojo yang menjaga pintu masuk kalau-kalau ada orang mencurigakan yang menerobos masuk. "Awalnya aku tidak masalah saat mendengar Nenek itu memungut dua anak Naga. Toh dia memiliki banyak uang untuk melakukannya. Namun saat kedua anak itu mulai dilibatkan dalam bisnis ini, walaupun hanya mengambil uang hasil penjualan, namun aku merasa tidak senang. Tidak seharusnya dia mempercayakan semua itu pada orang asing. Masih ada kita yang sudah bekerja bersama dengannya selama bertahun-tahun," sahut orang lainnya. Pria berkepala botak itu mengangguk. Dia segera berdiri saat seorang pengunjung datang dan memberikan logam itu pada mereka setelah mereka menyebutkan kata sandi yang digunakan sebelum bisa memasuki arena. "Mungkin kita perlu membicarakannya secara langsung pada Nenek. Bagaimanapun kita adalah orang yang sudah lama bersama dengannya, maka dia pasti akan lebih percaya pada kita, bukan?" Temannya mengangguk setuju. "Kalau begitu, esok hari kita harus pergi ke rumahnya dan membicarakan ini. Aku dengar, jika pagi anak-anak itu akan pergi ke pasar untuk menjual anggur buatan mereka. Jadi kita akan memiliki banyak waktu untuk membicarakannya semuanya dengan Nenek. Kita harus mengembalikan kepercayaan Nenek pada kita seperti dulu." Maka rencana itu dibuat. Keduanya bersiap untuk bertemu dengan Sieana keesokan harinya untuk membicarakan perihal hal-hal yang menganggu ketenangan mereka. * "Bukankah kalian bilang jika kalian akan pulang sore hari? Mengapa kalian justru baru pulang setelah hampir pagi lagi?" Baik Sidra ataupun Camilo sama sekali tidak menyangka jika nenek mereka masih akan terjaga hingga saat ini. Padahal mereka pikir neneknya sudah akan tidur dan kemudian mereka baru akan menjelaskan semuanya esok pagi, alasan mereka terlambat pulang seperti ini. "Kami mengalami masalah di jalan sehingga kami tertahan cukup lama. Maafkan kami karena sudah membuat Nenek khawatir dan menunggu kami," sesal Sidra. Sieana tidak membalas, namun dia masih tidak menyingkir dari ambang pintu sehingga kedua anak itu tidak bisa masuk ke dalam rumah. "Masalah apa? Bukan kah kalian bilang bahwa kalian hanya akan mengantar anggur ke pasar dan setelah itu akan pulang?" KIni mereka berdua saling pandang, mencari jawaban siapa yang akan menjawab pertanyaan Sieana dan menjelaskan semuanya. Menghela napas berat, Camilo akhirnya yang mengatakan alasannya. "Kami bertemu dengan seorang anak lelaki yang hampir dipukuli oleh algojo fi pasar, karena itu kami membantunya. Ternyata anak itu berniat ke istana untuk mengirimkan gandum..." Kata demi kata meluncur dari mulut Camilo, menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir. Bahkan sampai akhirnya mereka bertemu dengan seorang pejabat istana yang menyelamatkan mereka dan mengantarkan pulang. Mendengar penjelasan itu, kening Sieana berkerut. "Kalian bertemu dengan Loiz?" Kini Sidra dan Camilo yang berkerut kening. "Apakah Tuan pejabat itu bernama Loiz?" tanya Sidra. Sieana mendesah pelan, dia berbalik badan dan mulai masuk ke dalam gubuknya. "Dia adalah orang yang membawamu ke rumah ini, Sidra. Tapi belakangan aku tidak pernah melihatnya lagi. Aku memang tahu bahwa dia bekerja di istana tapi aku tidak tahu jika dia seorang pejabat. Syukurlah kalian bertemu dengannya sehingga kalian tidak perlu masuk ke dalam penjara karena ulah orang lain." Melangkah semakin masuk, Sieana kemudian berjalan ke arah kamarnya sendiri. "Istirahat lah! Karena kalian masih harus mengantarkan anggur ke pasar besok," katanya sebelum menutup pintu. Sidra terdiam usai mendengar ucapan yang dia dengar dari Sieana. Dia tidak tahu bahwa pria itu adalah orang yang membawanya datang ke rumah ini, padahal tadi jelas-jelas pria bernama Loiz itu berkata bahwa dia bukan lah ayah dari Sidra ataupun Camilo. Lalu siapa sebenarnya pria itu? "Tidak usah dipikirkan, kita bisa menanyakannya lagi saat kita kembali bertemu dengan pria itu," ujar Camilo sambil menepuk pundak Sidra pelan. Sidra mengangguk dengan senyum kecil. "Aku tidak terlalu memikirkan hal itu seperti apa katamu. Aku hanya penasaran sedikit," kilahnya. Memilih tidak lagi menjawab, Camilo hanya sekali lagi menepuk pundak Sidra sebelum kemudian bergerak ke belakang untuk mencuci mukanya. Alih-alih mengikuti langkah Camilo karena dia juga membutuhkan air segar setelah seharian berada di dalam masalah yang hampir menjebloskannya ke penjara, Sidra justru berjalan ke halaman belakang tempat dirinya biasa berlatih. Tidak ada yang dia lakukan, dia hanya terduduk di sebuah batang kayu dan memandang ke atas langit. Terkadang dirinya merasa ingin tahu apa yang terjadi kalau saja orang tuanya masih ada dan tidak menitipkannya di rumah ini. Mungkin walaupun miskin namun dia bisa hidup bahagia dengan mendapatkan kasih sayang utuh dan juga ajaran yang berguna dari Ayahnya. Namun tidak ada hal yang seperti itu. Ibunya sudah meninggal dan Ayahnya entah dimana dan siapa. Sidra sejak awal sudah bertekad untuk tidak memikirkannya karena tidak ingin membebani Neneknya, namun kadang kala dirinya juga merasa merindukan kedua orang tua yang belum pernah dia temui. "Kau bilang, kau tidak akan terlalu memikirkannya. Namun jelas sekali jika sekarang kau sedang memikirkan semuanya." Terlonjak, Sidra menoleh dan menemukan Camilo dengan wajah yang lebih segar. "Aku memang tidak memikirkan hal itu, aku hanya sedang butuh angin segar karena rasanya sesak juga setelah mengalami kejadian yang tidak terduga hari ini." Camilo tertawa, mengambil duduk tidak jauh dari Sidra. "Apa kau tahu, bahwa tadi kau berbicara seperti seorang kakek tua?" ledeknya. "Terkadang menjadi tua itu diperlukan," balasnya dengan kekehan kecil. Sejenak tidak ada suara di antara mereka. Keduanya hanya saling menatap langit yang gelap dan juga pohon yang bergoyang pelan tertiup angin. "Jika saja kita tadi tidak tertangkap, mungkin kah kita bisa melihat istana yang selama ini tidak pernah kita lihat?"  Pertanyaan yang disuarakan dengan pelan oleh Camilo itu membuat Sidra termenung. Sesungguhnya dia sama sekali tidak tertarik melihat istana ataupun Ibu kota. Namun tadi mereka memang nyaris melihatnya jika saja mereka tidak ditangkap oleh penjaga gerbang. "Entahlah. Lagipula kita hanya bisa melihatnya dari depan, tidak ada yang berbeda dengan tidak melihatnya sama sekali," balasnya tidak yakin. Camilo tampak menunduk, tangannya mengambil batang kecil kayu dan memainkan tanah di bawah kakinya.  "Walaupun begitu, aku masih berharap bisa melihatnya." Kini Sidra menoleh, menatap wajah saudaranya yang sendu. "Mungkin kita bisa meminta bantuan Tuan Loiz untuk datang ke istana? Bukankah dia seorang pejabat?" Balas menoleh, Camilo menatap Sidra dengan senyum kecil. "Apa kau tidak mengingat apa yang diucapkan olehnya sebelum pergi? Dia melarang kita untuk datang ke sana ataupun datang ke Ibukota. Dia pasti memiliki alasan yang kuat mengapa kita tidak diperbolehkan datang kesana. Kemungkinan ada sesuatu yang tidak akan baik jika kita nekat datang kesana." Sidra mengangkat pundaknya, "Kalau begitu kita memang tidak bisa pergi. Karena bagaimana pun, aku sendiri masih tidak ingin jika kembali tertangkap oleh prajurit dan akan dimasukan ke dalam penjara. Itu terasa mengerikan. Aku sudah membayangkan terpojok di dalam penjara tanpa bisa melakukan apapun dan menunggu untuk dihukum." Camilo hanya mengangguk, tangannya masih bermain di tanah dengan menggambar sesuatu yang tidak jelas.  "Iya. Mungkin tempat itu memang tidak baik untuk kita. Entah apapun alasannya. Lagipula dengan datang ke istana, bukan berarti aku akan bisa bertemu dengan Ibuku. Karena jika dia memang berniat untuk menemuiku, dia pasti sudah datang sejak dulu." Usai mengucapkan itu, Camilo bangun dari duduknya. "Aku akan masuk. Kau jangan terlalu lama berada disini," katanya pada Sidra. Sidra hanya mengangguk sambil menatap saudaranya yang masuk ke dalam rumah. Rasanya mungkin sulit hidup sebagai Camilo yang selalu mengharapkan kedatangan orang tuanya, walaupun itu tidak pernah terjadi.  Bisa dibilang, Sidra cukup mensyukuri karena dia tidak memiliki orang tua. __
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN