Kantor Hartono & Co. di lantai 24 gedung perkantoran Sudirman selalu tampak megah dengan kaca-kaca tebal dan meja-meja minimalis. Tapi di balik kesan profesional itu, tersimpan sebuah permainan godaan yang terus berlangsung antara Boss Arya, sang direktur muda berusia 38 tahun yang dingin dan tak mudah tergoda, dan Maya, sekretarisnya yang seksi dan tak pernah menyerah.
Maya, 28 tahun, selalu datang dengan pakaian kerja yang hampir melanggar aturan dress code kantor. Rok pensil ketat yang menonjolkan lekuk pantatnya, blazer yang sengaja dibiarkan terbuka untuk memperlihatkan kemeja putih transparan, dan sepatu hak tinggi yang membuat langkahnya selalu terdengar menggoda. Tapi Arya? Dia sama sekali tidak bereaksi. Setiap kali Maya sengaja membungkuk di depannya atau tidak sengaja menyentuhnya, Arya hanya mengalihkan pandangan atau memberi instruksi kerja dengan nada datar.
Tapi hari ini, Maya punya rencana baru.
"Kita harus lembur malam ini, Maya. Laporan kuartal ini harus selesai sebelum besok pagi," ujar Arya tanpa mengangkat pandangan dari komputernya.
Maya tersenyum licik. "Tentu, Pak Arya. Apa pun untuk Anda."
Arya tidak menanggapi.
Maya perlahan berjalan ke meja kerjanya, memastikan langkahnya berayun pelan agar pantatnya yang padat terlihat sempurna. Tapi Arya tetap tidak melihat.
"b******n dingin," pikir Maya kesal.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Hampir semua karyawan sudah pulang, hanya tersisa Arya di ruang direksi dan Maya di sekretariat.
Maya mengambil nafas dalam-dalam. Ini saatnya.
Dia berdiri, berjalan pelan ke ruangan Arya, sambil jarinya membuka dua kancing teratas kemejanya. Padahal kemejanya sudah ketat, sekarang tambahan dua kancing terbuka itu membuat belahan dadanya hampir terlihat jelas.
Dia mengetuk pintu.
"Masuk," sahut Arya singkat.
Maya membuka pintu dan masuk dengan gaya berjalan yang sengaja dibuat sensual. "Pak, saya sudah selesaikan laporan keuangan. Ada yang lain perlu saya bantu?"
Arya baru mengangkat kepala, dan untuk pertama kalinya, matanya terpaku sebentar pada belahan d**a Maya.
Maya tersenyum puas. Akhirnya!
Tapi ekspresi Arya langsung netral lagi. "Sudah. Kamu bisa pulang."
Maya tidak menyerah. Dia berjalan mendekat, sengaja membawa dokumen dan meletakkannya di meja Arya dengan gerakan membungkuk yang membuat kemejanya semakin terbuka.
"Apakah Anda yakin tidak ada yang lain saya bisa bantu, Pak?" ucapnya dengan suara rendah, menggoda.
Arya menatapnya tajam. "Maya, pakai baju yang benar."
Maya berpura-pura terkejut. "Oh, maaf Pak. Kancingnya tidak sengaja terbuka. Panas soalnya." Dia tidak berusaha menutupinya.
Arya menghela nafas. "Kalau kamu tidak bisa profesional, lebih baik pulang sekarang."
Tapi Maya malah duduk di ujung meja Arya, kakinya perlahan bergesekan. "Tapi saya ingin memastikan Bapak puas dengan kerja saya."
Arya menatapnya dengan pandangan yang mulai berubah. "Kamu tahu ini tidak tepat, kan?"
Maya menggigit bibir. "Tepat atau tidak, tergantung bagaimana kita melihatnya."
Arya diam sejenak, lalu tiba-tiba berdiri. Maya kaget, tapi tidak sempat bereaksi sebelum Arya mendorongnya ke tepi meja.
"Kamu benar-benar tidak akan berhenti sampai aku bereaksi, ya?" ujar Arya, suaranya tiba-tiba lebih dalam.
Maya tersenyum menang. "Akhirnya... saya tahu Anda bukan robot."
Arya tidak membuang waktu lagi. Tangannya meraih kemeja Maya, merobeknya sedikit karena kancingnya sudah tidak kuat menahan tekanan.
Maya menjerit kecil, tapi bukan jerit ketakutan. "Aduh, Pak Direktur... kasar sekali~"
Arya menggeram. "Kamu yang memulai."
Dan dalam sekejap, suasana kantor yang biasanya dingin dan formal berubah menjadi panas dan liar.
Maya tak menyangka reaksi Arya akan secepat itu. Tangan besar pria itu sekarang mencengkeram pinggangnya dengan kuat, mendorong tubuhnya hingga punggungnya menempel di permukaan meja kayu mahoni yang dingin. Dokumen-dokumen penting berhamburan ke lantai, tapi tak satu pun dari mereka peduli.
"Pak Direktur... kalau merusak dokumen penting gimana?" Maya menggoda, napasnya sudah tak teratur.
Arya menjawab dengan menggigit leher Maya, membuat wanita itu mengerang. "Diam. Kamu yang meminta ini."
Tangannya merobek lebih banyak kancing kemeja Maya, memperlihatkan bra hitam renda yang nyaris tak bisa menahan p******a montoknya. Arya tak ragu lagi, mulutnya langsung menyambar satu p****g yang sudah mengeras melalui kain tipis.
"Ah! Ssst... ada CCTV—"
"Sudah aku matikan tadi," geram Arya sementara tangannya meremas p****t Maya melalui rok pensil ketat. "Sejak kamu pertama kali masuk dengan baju menggoda seminggu lalu."
Maya terkejut. "Jadi... selama ini kamu pura-pura tidak tertarik?"
Arya menjawab dengan mendorong tangan ke bawah rok Maya, merasakan panas dan basah yang sudah menunggu. "Aku hanya menunggu saat yang tepat."
Jari Arya yang tegas langsung menyusup ke dalam, membuat Maya melengkungkan punggungnya. "Tuhan... jari kamu— ah!"
Arya tersenyum sadis. "Kurasa sekretarisku ini lebih banyak bicara daripada bekerja. Mari kita perbaiki itu."
Dengan gerakan kasar, Arya memutar tubuh Maya hingga wajahnya menempel ke meja dan pantatnya yang padat menjulur menggoda. Rok pensil disobek tanpa ampun, memperlihatkan thong renda yang basah.
"Pak Direktur merusak seragam kantor saya~" Maya memutar kepala untuk melihat Arya yang sedang membuka resletingnya.
"Aku akan ganti dengan yang lebih mahal," jawab Arya sebelum menampar p****t Maya keras-keras, meninggalkan bekas merah. "Setelah kita selesai."
Maya menjerit campur nikmat ketika Arya langsung menancapkan diri ke dalamnya tanpa persiapan lebih lanjut. Ukuran Arya yang besar membuat Maya harus menahan napas sebelum perlahan bisa menyesuaikan.
"D-Dalam sekali... kamu benar-benar menyimpan ini selama ini?" erang Maya sambil cengkeraman tangannya di tepi meja semakin kencang.
Arya menjawab dengan gerakan keras, meja kayu mahoni yang mahal berguncang dengan ritme yang semakin cepat. Suara kulit saling beradu memenuhi ruangan direksi yang biasanya sunyi.
"Kamu pikir aku tidak melihat cara kamu menggoda setiap hari?" Arya menyentak rambut Maya, menarik kepala ke belakang. "Cara kamu menjilat bibir saat menatapku, menggesek-gesek kakimu di bawah meja rapat?"
Maya tak bisa menjawab, mulutnya hanya terbuka lebar mengeluarkan erangan-erangan pendek setiap kali Arya mencapai titik terdalam.
"Aku menghitung setiap kancing yang kamu buka," Arya menggeram sambil mempercepat tempo. "Dan malam ini, aku akan membuka semuanya."
Maya merasakan panas mengumpul di perutnya. "Aku... aku mau—"
"Tunggu," Arya tiba-tiba berhenti, membuat Maya mengerang kesal. "Kita belum selesai."
Dengan gerakan cepat, Arya memutar lagi tubuh Maya hingga mereka berhadapan. Sekarang Maya duduk di tepi meja sementara Arya berdiri di antara pahanya yang terbuka lebar.
"Lihat baik-baik," Arya menggumam sebelum menancapkan diri lagi, kali ini lebih dalam. "Ini yang selalu kamu inginkan, kan?"
Maya menjawab dengan erangan panjang ketika Arya mulai bergerak lagi, satu tangan meremas payudaranya yang berguncang keras, satu lagi meraba klitorisnya yang sudah sangat sensitif.
"Ya! Ya! Seperti itu! Jangan berhenti!" teriak Maya, kuku-kuku merahnya meninggalkan bekas di punggung Arya.
Ruangan dipenuhi suara tubuh mereka yang saling menghantam, erangan, dan kutukan-kutukan kotor. Meja direktur yang biasanya menjadi tempat keputusan bisnis penting sekarang menjadi saksi bagaimana Maya akhirnya mencapai o*****e yang mengguncang, diikuti oleh Arya yang mengisi dalamnya dengan cairan panas.
Beberapa saat mereka hanya terdiam, napas tersengal-sengal, tubuh masih terhubung.
Hingga akhirnya, Arya menarik diri dan dengan tenang mengancingkan bajunya kembali.
"Besok kita lanjutkan laporan kuartalnya," ujarnya dengan suara kembali profesional.
Maya yang masih lemas di atas meja hanya bisa tersenyum puas. "Tentu, Pak Direktur. Apa pun untuk Anda."
Tapi kali ini, mereka berdua tahu arti sebenarnya di balik kata-kata itu.