godaan tetangga yang tak terhindarkan
Di sebuah kompleks perumahan mewah, hiduplah seorang wanita kaya bernama Riana. Usianya sudah menginjak 35 tahun, tetapi kecantikannya masih memesona. Kulitnya yang mulus, tubuhnya yang seksi, dan gayanya yang selalu percaya diri membuat banyak pria menoleh. Namun, Riana sama sekali tidak tertarik untuk menikah. Baginya, kebebasan jauh lebih berharga daripada ikatan pernikahan.
Tetangga di sebelah rumahnya adalah Ardian, seorang pria tampan berusia 40 tahun yang sudah menikah dengan Lina. Pernikahan mereka terlihat harmonis, meskipun sebenarnya hubungan mereka mulai hambar karena kesibukan masing-masing. Ardian adalah tipe pria yang setia, tetapi godaan hidup di sebelah seorang wanita seksi seperti Riana tentu bukan hal yang mudah.
Suatu sore, Lina memasak banyak sekali makanan.
"Ardian, tolong antarkan sebagian ini ke rumah Bu Riana. Aku masaknya kebanyakan," pinta Lina sambil membungkus beberapa kotak makanan.
Ardian menghela napas. "Kenapa harus aku? Kamu saja yang ngasih."
"Aku lagi sibuk membereskan dapur. Lagian kan kamu tetangga baik, harusnya saling membantu," sahut Lina sambil tersenyum polos.
Dengan enggan, Ardian membawa kotak makanan itu dan berjalan ke rumah Riana. Dia mengetuk pintu, dan beberapa detik kemudian, Riana membukanya.
Dan Ardian pun terkesima.
Riana berdiri di hadapannya hanya mengenakan drees transparan yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang menggairahkan. Dalamannya hanya bra lace hitam yang terlihat jelas, dan celana pendek ketat yang membuat lekuk tubuhnya semakin tak terbantahkan.
"Oh, Mas Ardian," ucap Riana dengan suara mendesah. "Ada apa nih datang ke sini?"
Ardian berusaha menahan pandangannya agar tidak jatuh ke bagian tubuh yang tidak semestinya. "Ini... istriku masak kebanyakan. Dia minta aku ngasih ke kamu."
Riana tersenyum menggoda. "Wah, terima kasih banyak. Kamu baik banget ya." Dia sengaja mengambil kotak makanan itu dengan gerakan lambat, jarinya "tidak sengaja" menyentuh tangan Ardian.
Ardian merasakan panas mengalir di tubuhnya. "Sama-sama. Aku... aku harus pergi dulu."
"Lho, kok buru-buru? Masuk dong, aku lagi sendirian nih. Kamu kan tetangga baik, harusnya kita bisa ngobrol santai," goda Riana sambil sedikit membelakangi Ardian, memperlihatkan pantatnya yang padat.
Ardian menggigit bibir. "Aku enggak bisa lama-lama. Istriku nunggu."
"Ah, pasti Lina lagi sibuk. Lagian, cuma sebentar kok," Riana mendekat, tubuhnya hampir menempel. Aroma parfumnya yang menggoda membuat kepala Ardian pusing.
"Aku... aku enggak boleh—"
"Boleh, kok," bisik Riana sambil tangannya mulai meraba d**a Ardian. "Kamu kan laki-laki. Aku tahu kamu juga pengen."
Ardian menelan ludah. Pertahanannya mulai runtuh. "Riana, jangan..."
"Aku tahu kamu pengalaman. Lina pasti enggak bisa bikin kamu senikmat ini," ucap Riana sambil tangannya sudah merayap ke celana Ardian.
Ardian menghela napas berat. "Kita... kita enggak boleh..."
"Diam saja. Nikmati," bisik Riana sebelum mulutnya menyambar bibir Ardian.
Dan dalam sekejap, nafsu mengalahkan logika.
Ardian tak bisa menolak lagi. Tubuhnya menyerah pada sentuhan Riana. Mereka pun berpelukan panas, lalu berjalan ke dalam rumah.
Di sofa mewahnya, Riana mendorong Ardian hingga terjatuh. "Aku yang akan memimpin," katanya sambil melepas kebayanya perlahan.
Ardian hanya bisa memandang, nafsu membara di matanya. "Kita... kita harus berhenti..."
"Sudah terlambat," balas Riana sambil menaiki tubuh Ardian.
Dan dalam sekejap, dunia mereka pun hanyut dalam kenikmatan yang tak terelakkan.
Setelah Riana dengan penuh percaya diri menaiki tubuh Ardian, suasana di ruang tamu mewahnya semakin panas. Udara terasa berat, dipenuhi oleh desahan dan gemericik kulit yang saling bersentuhan.
"Kamu benar-benar tidak bisa menolak aku, kan?" bisik Riana sambil bibirnya menyusur dari leher Ardian ke dadanya. Tangannya dengan lihai membuka kancing baju Ardian, memperlihatkan tubuh pria berotot yang selama ini tersembunyi di balik kemeja rapi.
Ardian menggigit bibir, mencoba bertahan. "Riana... kita tidak boleh—"
"Diam," potong Riana dengan suara rendah yang penuh d******i. "Aku tahu kamu menginginkannya. Lihat saja bagaimana tubuhmu meresponsku."
Benar saja, Ardian sudah tidak bisa menyangkal lagi keinginannya sendiri. Riana tersenyum puas saat merasakan betapa bergairahnya dia.
Dengan gerakan perlahan, Riana melepas bra lace-nya, membiarkan payudaranya yang montok terbuka di hadapan Ardian. "Kamu ingin menyentuhnya, kan?" godanya.
Ardian tidak bisa menahan diri lagi. Tangannya meraih, memenuhi genggamannya dengan kehangatan tubuh Riana. Gadis itu mendesah pelan, memainkan rambut Ardian dengan jari-jemarinya.
"Sekarang, lepaskan celanamu," perintah Riana.
Ardian, yang sudah terlalu jauh terjerat, menuruti keinginannya. Begitu celananya terbuka, Riana langsung menggeser tubuhnya ke bawah, bibirnya menyusur dari perut Ardian ke bagian yang paling membuatnya tidak berdaya.
"Riana—!" Ardian mengerang saat bibir wanita itu menyelimutinya dengan panas.
Riana tidak terburu-buru. Dia bermain-main, menikmati setiap reaksi Ardian. Tangannya meraba paha pria itu sementara mulutnya bekerja dengan penuh keahlian.
"Kamu... terlalu... ah—!" Ardian menutup mata, menyerah pada kenikmatan.
Tapi Riana tidak berniat membiarkannya selesai terlalu cepat. Dia berhenti tiba-tiba, membuat Ardian membuka mata penuh tanya.
"Belum," bisiknya sambil berdiri. "Aku ingin kamu memuaskanku dulu."
Dengan gerakan memikat, Riana melepas celana pendeknya, memperlihatkan dirinya yang sudah tidak bisa menahan keinginan.
"Aku ingin kamu di dalamku. Sekarang."
Ardian tidak perlu diperintah dua kali. Dalam satu gerakan cepat, dia membalikkan posisi mereka, menindih Riana di bawah tubuhnya.
"Kamu yakin?" tanyanya, masih mencoba bertahan meski nafsunya sudah menguasai.
"Jangan banyak bicara," desis Riana sambil meraih erat bahu Ardian. "Masukkan."
Dan dengan satu dorongan dalam, mereka menyatu.
Riana melengkungkan punggungnya, mendesah keras saat Ardian memenuhi dirinya. "Ya... seperti ini... jangan berhenti!"
Ardian tidak bisa berpikir lagi. Gerakannya semakin cepat, semakin dalam. Suara kulit mereka yang saling beradu memenuhi ruangan, diiringi desahan dan erangan yang semakin tak terbendung.
Riana meraih rambut Ardian, menariknya ke bawah sehingga bibir mereka kembali bertemu. Ciuman mereka liar, penuh nafsu, lidah mereka saling mempermainkan.
"Kamu... lebih baik dari yang kubayangkan," erang Riana di antara ciuman.
Ardian tidak menjawab. Tangannya meraih pinggul Riana, mendorong lebih dalam, membuat wanita itu menjerit kecil.
"Aku... aku hampir—"
"Jangan tahan," bisik Riana. "Lepaskan semuanya untukku."
Dan seperti dipicu oleh kata-katanya, Ardian pun mencapai puncaknya, tubuhnya gemetar hebat sambil mengerang nama Riana.
Riana sendiri tidak kalah, menggigit bahu Ardian erat-erat saat gelombang kenikmatan menerpanya.
Beberapa saat mereka hanya terdiam, napas berat saling bercampur.
Hingga akhirnya, Riana tersenyum puas.
"Kamu tahu kita akan melakukannya lagi, kan?"
Ardian menghela napas, menyadari betapa dia sudah melangkah terlalu jauh.
Tapi satu hal yang pasti—godaan Riana belum berakhir.
Napas mereka masih belum sepenuhnya tenang ketika Riana menggigit bibir bawahnya, matanya berkilat dengan nafsu yang belum terpuaskan.
"Kamu pikir sekali sudah cukup?" bisiknya, jari-jarinya yang bercat kuku merah menggaruk perlahan di d**a Ardian yang masih basah oleh keringat.
Ardian mengerang, tubuhnya sudah lelah tapi keinginannya masih menyala. "Riana... kita harus berhenti—"
"Sssst," Riana menempelkan jari di bibir Ardian, memotong ucapannya. "Aku belum selesai denganmu."
Dengan gerakan perlahan tapi penuh keyakinan, Riana mendorong Ardian hingga berbaring kembali di sofa. Dia melompat dengan lincah, duduk di atasnya, memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya yang memikat di bawah cahaya lampu temaram.
"Kali ini, aku yang akan mengendalikan semuanya," ucapnya sambil tangan mungilnya meraba perlahan ke bawah, memastikan Ardian sudah siap lagi untuknya.
Ardian menghela napas dalam, tidak bisa menolak ketika Riana mengangkat tubuhnya sedikit, lalu perlahan menurunkannya lagi, merasakan setiap inci Ardian masuk ke dalam dirinya.
"Oh Tuhan—" erang Ardian, tangannya mencengkram erat pinggul Riana.
Riana memulai ritme lambat tapi dalam, setiap gerakannya dihitung untuk memaksimalkan kenikmatan. "Kamu suka melihatku seperti ini, kan?" godanya sambil tangannya meremas payudaranya sendiri.
Ardian tidak bisa menjawab, matanya terpaku pada tubuh Riana yang bergerak di atasnya.
"Jawab aku," perintah Riana sambil tiba-tiba berhenti bergerak, membuat Ardian meronta-ronta.
"Ya! Ya aku suka—"
"Bagus," Riana tersenyum puas sebelum kembali bergerak, kali ini lebih cepat.
Suara kulit mereka yang saling beradu semakin keras, diiringi desahan dan erangan yang semakin tak terbendung.
"Aku... aku tidak bisa bertahan lama lagi—"
"Tahan!" perintah Riana sambil mempercepat gerakannya. "Aku ingin merasakan semuanya bersamaan!"
Ardian mengatupkan gigi, berusaha menahan hasratnya yang sudah di ujung tanduk.
Riana merasakan panas yang mulai menggelombang di tubuhnya sendiri. Gerakannya semakin tidak teratur, semakin liar.
"Sekarang, Ardian! SEKARANG!"
Dengan erangan keras, mereka mencapai puncak bersama-sama, tubuh Riana bergetar hebat di atas Ardian yang juga tidak bisa menahan diri lagi.
Beberapa saat mereka hanya terdiam, napas tersengal-sengal, tubuh masih terhubung erat.
Hingga akhirnya, Riana bersandar ke depan, bibirnya menyentuh telinga Ardian.
"Besok malam, aku ingin kamu datang lagi ke sini," bisiknya. "Dan kali ini, kita akan mencoba sesuatu yang... lebih ekstrem."
Ardian menelan ludah, menyadari bahwa dia sudah terjebak dalam permainan berbahaya ini.
Tapi satu hal yang pasti—dia tidak bisa menolak.