Jesicca bersama Jovan dan para manager juga asisten mereka sudah mendarat di Bali. Di sini Jessica dan Jovan akan melakukan pemotretan dan syuting iklan parfum milik braned terkenal. Mereka berjalan di dampingi para pengawal menerobos para penggemar yang menunggu mereka di bandara.
Jovan berjalan lebih dulu dan Jessica berjalan di belakangnya. Karena ada yang mendadak menerobos, membuat Jovan mendadak berhenti dan membuat Jessica yang tidak fokus ke depan membuatnya menabrak punggung Jovan.
“Aww!” ringisnya memegang keningnya.
Jovan membalikkan badannya. “Ck, dimana sih mata-“ ucapan Jovan tertahan saat mendapat tatapan tajam dan ancaman dari managernya.
“Coba aku lihat,” seru Jovan berubah menjadi nada lembut seraya memegang kepala Jessica membuat mata mereka bertemu satu sama lain. Jovan tersadar lebih dulu dari keterpakuannya dan menekan sedikit kepala Jessica dengan kedua tangannya membuat Jessica tersadar dari keterpakuannya.
“Sakit kadal!” gumam Jessica memberikan pelototan pada Jovan.
“Diam saja! Lu harus senyum atau gue teken lebih kenceng!” bisik Jovan. Jessica berusaha tersenyum walau kesal.
“Oh tidak apa-apa. Biar aku tiupin,” seru Jovan tersenyum seraya meniupi kening Jessica.
“Cukup! Aku baik-baik saja,” seru Jessica sedikit mendorong d**a Jovan karena merasa sakit sekaligus kesal pada Jovan.
“Makanya kalau jalan matanya lihat ke depan,” seru Jovan bibirnya tersenyum, walau tatapan matanya menunjukkan tatapan kesal.
“Harusnya kamu jagain dan lindungin aku dong. Kamu kan cowok, jangan jangan sendirian,” seru Jessica dengan nada manja membuat para penggemar menjawab iya mendukung Jessica dan Jessica merasa menang.
Jovan menatap sinis ke arah Jessica dan ia langsung mengambil tangan Jessica, menautkan jemari mereka.
“Jangan lepaskan peganganku,” ucap Jovan dan menarik Jessica untuk berjalan bersama. Dan saat itu juga para penggemar berteriak heboh melihat pertunjukkan mereka.
Jessica berjalan di samping Jovan dan melirik ke arah pegangan tangan Jovan.
---
“Oke, adegannya sudah selesai,” seru Jovan melepaskan pegangannya pada Jessica saat mereka sudah berada di dekat mobil.
“Bukakan pintu mobilnya buat Jessi, Van. Masih ada banyak wartawan dan penggemar,” seru Manda membuat Jovan mencibir. Jovan pun membukakan pintu mobil alphard putih itu membuat Jessica masuk diikuti Jovan, begitu juga dengan dua orang manager dan dua orang asisten yang mengikuti mereka.
Jessica dan Jovan memilih duduk di setiap sisi, dan sama-sama memalingkan wajah mereka keluar jendela. Para manager hanya bisa menggelengkan kepala mereka.
“Wah hebat sekali kalian tadi memberikan pertunjukkan romantic singkat,” goda Manda.
Baik Jessica maupun Jovan, mereka berdua tak menggubris dan tetap pada posisi masing-masing seakan larut ke dalam pikiran mereka.
“Hei Jessi!” Panggil Jovan pada Jessica yang tengah berjalan menuju kelasnya terlihat lesu.
Jessica terus berjalan tanpa menggubris panggilan itu.
“Jessi!” panggil Jovan kembali seraya menepuk pundak Jessica dan Jessica baru menoleh.
“Van?”
“Aku panggil kamu dari tadi lho. Kamu kenapa? Sakit?” Tanya Jovan menyentuh kening Jessica.
“Aku baik-baik saja,” seru Jessica menarik tangan Jovan dari keningnya.
“Kamu kelihatan lemas lho. Apa lagi ada masalah? Aku juga udah panggil kamu daritadi lho, kamu keliatan gak fokus,” seru Jovan.
“Aku semalam begadang karena nyelesain tugasnya pak Ridwan. Jadi gak fokus dan lemas,” kekeh Jessica berbohong.
“Begitu. Kalau begitu kita sarapan dulu,” ajak Jovan yang di angguki Jessica.
Jovan mengulurkan telapak tangannya ke arah Jessica membuat Jessica menaikkan sebelah alisnya.
“Pegang tanganku biar gak oleng,” gurau Jovan.
“Modus. Ini di sekolah lho,” seru Jessica.
“Gak apa-apa. Sini,” seru Jovan mengambil tangan Jessica dan menautkan jemari mereka. “Lain kali kalau merasa tidak fokus, pegangan padaku biar gak oleng.”
“Modus banget sih,” kekeh Jessica.
“Aku serius lho Jess.”
“Baiklah-baiklah,” kekeh Jessica.
Mereka pun berjalan bersama menyusuri lorong dengan saling berpegangan tangan.
Baik Jessica maupun Jovan mereka sama-sama tersenyum miris kala mengingat kenangan itu. Jessica melirik ke arah telapak tangan yang ada di atas pangkuannya, hangatnya pegangan tangan Jovan tadi masih terasa.
***
Mereka sampai di tempat mereka akan menginap. Resort mewah dekat pantai, mereka semua sama-sama memasuki kamar mereka.
Jovan menatap pemandangan di luar melalui jendela kamar hotelnya. Ia mengingat kenangan di masalalu.
Jovan tengah berada di perpustakaan sekolah. Mereka tengah membaca dan mengerjakan tugas.
“Ah males banget kalau udah di kasih tugas gini. Nyari bahannya bikin ngantuk,” keluh Jovan merebahkan kepalanya di atas meja membuat Jessica terkekeh.
“Kamu tau sejak tadi aku juga gak baca materi,” seru Jessica membuat Jovan bangun dari posisinya dan mengintip ke balik buku materi tebal di tangan Jessica.
“Kamu baca novel?” seru Jovan.
“Ssstt jangan berisik,” ucap Jessica.
“Apa judulnya. Aku juga pengen baca,” ucap Jovan.
“Emang kamu suka baca novel? Ini kan novel romance,” seru Jessica.
“Jangankan novel cinta, aku aja suka nonton drakor,” jawab Jovan membuat Jessica kaget.
“Serius?”
“Iya. Bagaimana kalau kita nonton drakor aja,” ajak Jovan yang di angguki Jessica.
Mereka pun memasang headset di telinga mereka masing-masing dan menonton drakor yang lagi hits saat itu.
“Ahh he he he!” mereka terkekeh cukup kencang membuat orang-orang melihat ke arah mereka.
“Khem,” dehem Jovan mengubah ekspresinya menjadi lebih serius dan membaca bukunya. Jessica menunduk dan menyembunyikan wajahnya di balik buku seraya menahan senyum. Mereka sama-sama menoleh dan terkekeh tanpa suara dengan menyembunyikan wajah mereka di balik buku.
***
“Astaga lucu banget tadi filmnya. Mereka harus menikah padahal mereka musuhan,” kekeh Jessica.
“Gokil yah. Ceritanya bikin gak berhenti tertawa,” kekeh Jovan.
“Bener sih. Nanti kita nonton lagi,” seru Jessica.
“Kita ke warnet saja, nonton drakor di sana sambil main game,” seru Jovan.
“Oke siap.”
“Btw tadi mereka honeymoon ke pantai. Kamu udah pernah ke pantai mana?” Tanya Jovan.
“Aku sih belum pernah ke pantai,” kekeh Jessica.
“Serius?”
“Ya. Orangtua ku sibuk bekerja, jadi aku gak pernah pergi liburan kemana-mana,” jelas Jessica.
“Kasihan sekali sayangku ini,” seru Jovan mengusap kepala Jessica.
“Kalau begitu ajak aku berlibur,” seru Jessica.
“EMm, boleh aja sih. Aku akan atur deh, tapi gak masalah kan kalau ajakin F4, kekehnya Jovan.
“F4 apanya,” jawab Jessica. “Tapi gak apa-apa sih. Lagian Revan, Abimanyu dan Rico juga pada baik. Kamu aja yang gak baik,” kekeh Jessica.
“Iissh kamu ini. Kamu ajak temen perempuanmu, biar ada teman,” ujar Jovan.
“Siap. Tapi kemana?”
“Kamu maunya kemana?” Tanya Jovan.
“Ke Bali,” seru Jessica.
“Ck, gadis ini ternyata keinginannya tinggi,” seru Jovan membuat Jessica terkekeh.
“Ke Bali entar aja kalau kita honeymoon,” goda Jovan.
“Honeymoon apanya sih,” seru Jessica dimana wajahnya berubah menjadi merah tersipu malu.
“Kita cari yang deket aja. Yang penting ke pantai,” seru Jovan.
“Oke bos!” serunya memberi hormat pada Jovan membuat Jovan tersenyum seraya membelai pipi Jessica.
Jovan berusaha mengusir pikiran tentang masa lalunya. "Menyebalkan!" Ia memilih merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
***