Jovan tengah berenang di kolam renang di area apartementnya. Asistennya datang bersama dengan managernya Manda.
“Jovan, udah lihat berita hari ini?” Tanya Manda.
“Memang ada apa? Palingan kabar mengenai wawancara kemarin,” seru Jovan berenang dengan gaya terlentang.
“Kau cepat kemari dan lihat beritanya. Kalian benar-benar sudah menjadi viral, bahkan ada yang menyebar foto kalian saat sekolah.”
“Kalian? Sial!” gerutu Jovan mengakhiri aktivitas berenangnya dan naik ke daratan. “Gue sama si Kerdil itu ada kabar apa sih?”
“Lihat sendiri beritanya,” seru Manda. “Jangan remehkan para Netizen, mereka deketif paling handal. Bahkan dalam hitungan jam saja sudah mendapatkan fotomu dengan Jessica saat SMA. Kalian berpacaran,” seru Manda.
“Ah sial! Kenapa ada berita seperti ini sih? Ogah banget gue mesumin si Kerdil!” protes Jovan.
“Lagian ngapain sih kamu narik-narik dia ke tempat begitu?” Tanya Manda.
“Gue gak kepikiran sama tempatnya. Gue narik dia Cuma buat bicara tentang perintah produser yang minta kami berpura-pura akur,” seru Jovan.
“Ya, selamat deh. Sekarang kalian jadi viral dan di jodohkan oleh para netizen,” seru Manda.
“Bantu gue buat hilangin berita ini dong,” seru Jovan.
“Gak mungkin Jovan. Banyak factor positif yang di dapat termasuk agensi kita. Berita ini tidak akan bisa di take down. Kamu bersiap-siap aja untuk mendapatkan job yang sama dengan Jessica. Sebaiknya juga lupakan permusuhan kalian berdua,” goda Manda dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu bersama asistennya.
“Sial! Ini semua karena si Kerdil itu!” gerutu Jovan.
***
Dan benar saja, setelah mereka viral. Banyak sekali tawaran pekerjaan kepada mereka berdua untuk tampil bersama. Ada tawaran untuk membintangi iklan, menjadi brand ambasadore, dan jumpa pers atau meet and great bersama mereka. Belum lagi undangan di setiap acara wawancara saluran televise dan juga undangan dari beberapa rekan artisnya untuk melakukan podcast mereka berdua.
“Lihat job yang menghampiri kalian berdua,” seru pihak management. “Pihak management juga sepakat untuk bekerjasama hanya untuk membantu kalian berdua.”
“Haishh kata-kata lu sungguh indah di dengar seakan kalian tidak mendapatkan keuntungan apapun dari semua ini,” jawab Jovan dengan malas.
Di sana juga ada Jessica, manager mereka masing-masing dan dua orang dari pihak management masing-masing.
“Kami tidak memungkiri kalau kami mendapatkan untung dari keviralan kalian. Tetapi keuntungan kalian juga sangat luar biasa, bukan?” ucap management dari pihak Jessica.
“Lu bahkan membeli mobil Ferrari terbaru,” seru dari pihak management Jovan.
“Lu malah menyinggung hal itu, Ki. Lagian gue beli mobil juga pake uang hasil kerja keras gue sendiri,” jawab Jovan pada pria berkacamata bernama Rizki perwakilan dari managementnya.
“Maka dari itu, lu bisa mendapatkan keuntungan lebih besar lagi. Kalian bisa menjadi terkenal dan banyak mengeluarkan karya. Jangan kecewakan para fans kalian. Apalagi sponsor yang mensponsor job kalian ini sangat besar. Makanya dua management kami sekarang bergabung demi kalian.”
“Gimana tanggapanmu, Jessi?” Tanya Doni yang merupakan perwakilan dari management Jessica.
“Aku ikut saja. Lagipula semua ini hanya acting,” jawab Jessica dengan santai.
“Ck, gak ada prinsip,” ejek Jovan yang membuat Jessica hanya meliriknya.
“Aku sih setuju aja mengenai masalah pekerjaan, asalkan itu masih batas wajar dan tidak sampai menghancurkan harga diriku. Lagipula aku memang membutuhkan uang. Aku berbeda dengan seseorang yang berpura-pura tidak tertarik tetapi butuh uangnya,” sindir Jessica.
“Heh Kerdil! Lu nyindir gue?” seru Jovan merasa kesal.
“Nggak! Emang kapan gue nyebut nama lu. Tanya aja sama yang lain, gue gak ada nyebut nama Landak,” jawab Jessica membuat Jovan naik vital.
“Oke gue terima semua job itu. Lagipula ini hanya acting kan,” jawab Jovan berbicara seraya melihat ke arah Jessica membuat Jessica tersenyum sinis.
“Ah baiklah kalau begitu, kita akan atur jadwal kalian,” seru mereka dengan sangat senang.
***
“Ternyata kau benar-benar bisa membuat Jovan yang keras kepala menjadi lebih lunak,” ucap Rara saat ini mereka berada di dalam mobil untuk mengantar Jessica kembali ke apartementnya.
“Sejak dulu dia emang gak pernah suka di remehkan,” jawab Jessica memainkan handphone nya.
“Kau sangat mengenalnya,” celetuk Jessica.
“Hmm tidak juga.”
Gerakan tangannya berhenti mengskroll handphone nya saat melihat foto Jovan yang di sandingkan dengan dirinya. Banyak sekali komentar positif yang mendukung hubungan mereka berdua supaya bisa menjadi pasangan terus hingga menikah dan maut memisahkan mereka.
“Komentar para netizen ini benar-benar penuh bualan,” jawab Jessica. “Tidak ada hubungan yang seindah itu. Happy ending? Aku rasa itu tidak pernah terjadi di kehidupan nyata,” ucapnya.
“Jangan terlalu terpengaruh dengan komentar para Netizen. Kau cukup fokus saja dengan pekerjaanmu. Besok siang persiapkan dirimu untuk berangkat ke Bali bersama mantan terindahmu itu,” goda Rara.
“Berhenti menggodaku.”
Jessica mematikan handphone nya dan memandang keluar jendela. Ia tidak bisa memungkiri bahwa jauh di relung hatinya yang paling dalam, ada sedikit kebahagiaan dimana ia akan sering menghabiskan waktunya dengan Jovan.
***
Saat ini Jovan tengah mandi di bawah guyuran shower. Ia kembali teringat dengan kata-kata yang di ucapkan Jessica tadi siang.
“Sial! Si Kerdil benar-benar ngeremehin gue!” keluh Jovan menghentikan aktivitasnya yang tengah menggosok rambutnya dengan sampoo.
“Dia berpura-pura menjadi manusia yang bersikap rasional. Dia bilang gue munafik. Sebenarnya siapa yang munafik! Arrgghhh sialan!” racaunya.
“Gue gak mau ada urusan lagi dengan wanita sialan itu. Tapi kenapa takdir seakan membawa gue buat terus berkaitan dengannya?”
***
“Kamu lihat, aku jadi juara pertama!” seru Jessica sangat senang seraya menunjukkan piala dan hadiah yang ia dapat pada Jovan.
“Kamu memang sangat hebat,” seru Jovan mengusap kepala Jessica. “Suara sangat indah, karakter suaramu juga sangat kuat.”
“Ini semua berkat Van van tersayangku, yang selalu mengajariku teknik vocal dan bernyanyi,” ucap Jessica.
“Apa sih yang enggak buat my Jessi,” ucap Jovan.
“Aku beruntung lho bisa jadi pacar kamu. Walau yang terkenal sangat tampan di sekolah adalah Abimanyu, lalu Revan, tapi kamu adalah pria tertampan di hatiku,” seru Jessica.
“Ck, dasar pintar membual,” seru Jovan membuat Jessica terkekeh.
“Ayoo kita pergi makan.” Jessica merengkuh lengan Jovan.
“Jadi hari ini kamu mau mentraktirku?” Tanya Jovan.
“Ya. Aku dapat hadiah lumayan bisa traktir kamu makan enak,” seru Jessica.
“Tapi aku ingin makan mie ayam di tempat biasa.”
“Mie ayam? Tidak ingin makan di café?” Tanya Jessica.
“Nanti saja makan di café kalau aku yang traktir. Sekarang kita makan mie ayam saja, gimana?”
“Oke. Kamu bener-bener pengertian deh!” kekeh Jessica.
***
Jessica baru saja sampai di rumahnya dan ia mendengar pertengkaran kedua orangtua nya yang sangat keras hingga terdengar keluar rumah. Untunglah Jovan langsung pergi karena harus kumpul dengan sahabatnya. Jessica masuk perlahan. Ia ingin mengucapkan kata bahwa ia telah pulang tidak jadi karena melihat Papanya sudah menggerek koper hendak pergi.
“Papa! Papa mau kemana?” cegah Jessica. Ayahnya melihat ke arah Jessica.
“Jangan sampai kau seperti wanita jalang itu!” ucap Papanya.
“Papa-“
“Pergi kau! Aku gak butuh pria pecundang sepertimu!” amuk Ibunya.
“Dasar wanita sialan! Gue akan lemparkan surat cerai ke wajahmu!” Ayahnya pergi begitu saja.
“Papa, papa mau kemana?” Jessica kembali mencegahnya.
“Aku tidak bisa membawamu ikut denganku. Kau ikut ibumu saja. Sana jangan halangi aku!”
Jessica terus menghalangi Ayahnya tetapi Ayahnya malah mendorongnya pergi hingga Jessica terjatuh ke tanah. Dan Ayahnya pergi menggunakan mobilnya.
Jessica perlahan masuk ke dalam rumahnya yang berantakan dengan barang pecah dan berserakan di lantai. Ia melihat ibunya tengah menyulut rokok duduk di kursi.
“Untuk apa mengejar pria tidak bertanggung jawab itu,” seru Ibu Jessica.
“Kenapa harus seperti ini? Setiap hari hanya ada pertengkaran dan sekarang kenapa lagi?” Tanya Jessica.
“Kamu sudah tau kami sering cekcok dan bertengkar. Kami tidak cocok. Jadi tidak perlu kau pikirkan. Lebih baik kau kembali ke kamar dan bereskan kekacauan ini. Ibu lelah, ingin tidur.”
Ibunya beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Jessica seorang diri.
Jessica kira bisa berbagi kebahagiaannya dengan kedua orangtuanya tetapi ternyata tidak bisa. Berharap mereka melihat ke arah Jessica saja tidak bisa.
Jessica melempar tas dan pialanya ke atas ranjang. Ia berlari keluar rumah meninggalkan rumah. Saat itu hujan turun dengan derasnya. Ia menangis menerobos hujan dengan masih memakai seragam sekolahnya.
Ia menangis terisak hingga sampai di salah satu sungai. Ia duduk di tepi sungai dan membiarkan hujan mengguyur tubuhnya.
Di saat semua orangtua menyayangi dan memanjakan anak satu-satunya mereka, kedua orangtua Jessica seakan tak mengharapkan kehadirannya. Mereka benar-benar tidak perduli dengan perasaan dan keberadaan Jessica selama ini.
“Hei, kau berniat bunuh diri?” seru seseorang membuat Jessica menoleh. Ia melihat seorang pria dewasa dengan pakaian casual tengah memegang payung.
Jessica tidak menggubrisnya dan kembali memalingkan wajahnya menatap lajur air sungai dimana arusnya cukup besar. Ternyata pria itu turun dan mendekati Jessica.
“Apa kau baik-baik saja. Jangan putus harapan dan memilih bunuh diri,” seru pria itu membuat Jessica beranjak dari duduknya.
“Aku tidak berniat bunuh diri. Jadi kamu boleh pergi sekarang,” ucap Jessica.
“Aku punya ini,” pria itu memberikan coklat pada Jessica.
“Ini?”
“Coklat bisa membuat hatimu lebih baik. Makanlah dan jangan berlama-lama diam di sini, bahaya. Sebentar lagi petang, sebaiknya kamu pulang,” ucapnya.
“Terima kasih,” seru Jessica yang sudah menerima coklat itu.
“Nama kamu Jessica yah?” serunya melihat papan nama yang menempel di seragam Jessica.
“Ehh iya.”
“Namaku Dion. Kalau begitu aku pamit dulu. Ingat jangan berbuat hal konyol, cepatlah pulang,” ucapnya meninggalkan Jessica yang masih berdiri di tempatnya.
***