Bab 11. Kurang Jatah Membuat Azura tidak senang

1069 Kata
Azura hampir tersedak mendengar apa yang dikatakan oleh Melvin, jatah? Jatah apa yang dimaksud oleh lelaki yang ada di depannya? Jika berkaitan dengan hal m***m yang ada di kepala Melvin maka itu bukan hal yang benar, Azura belum memutuskan apapun, dia tidak mungkin dengan mudahnya memberikan tubuhnya ketika dia masih merasa dilemma seperti ini. “Mas, ngomong apa sih.” Azura menggoyangkan tangan Melvin agar lelaki itu berhenti bicara, dia bahkan memanggil Melvin Mas agar lelaki itu luluh dan berhenti untuk berbicara omong kosong, Azura takut jika dirinya semakin malu jika mengatakan banyak hal lain yang membuatnya terlihat seperti w************n. “Ayo sayang kita pulang, program adik Alvin masih perlu dilaksanakan ulang.” Melvin ingin membuat Fernandes semakin panas. “Yey, Alvin akan punya adik.” Alvin menghampiri Ayahnya dan meminta gendong, Azura pamit kepada Fernandes karena dia juga harus pulang, Azura tidak ingin membuat Melvin semakin marah terlebih hal ini berkaitan dengan Fernandes, orang yang mungkin tidak Melvin senangi sejak dari lima tahun lalu. “Makanannya sayang sekali, untung saja aku membawa beberapa,” ujar Azura. “Aku bisa membelikannya lagi walau ketinggalan makanannya,” ujar Melvin dan langsung masuk mobil. “Jangan seperti itu, menyia-nyiakan makanan bukan hal baik. Terus mobilku gimana?” tanya Azura bingung. “Aku akan meminta orang untuk mengambilnya, berikan kuncinya pada Kale, dia yang akan mengurusnya.” Azura menurut, gaya bicara Melvin yang cuek dan dingin, Azura kini takut jika Melvin akan melakukan hal buruk padanya. Ancaman Melvin selalu terdengar sangat nyata, lelaki itu bisa melakukan apapun dengan segala cara, Azura takut jika Melvin tiba-tiba memperkosanya. “Lain kali jika ada yang mendekati Ibu, langsung bilang Ayah. Alvin tidak suka ibu di dekati lelaki lain,” ujar Alvin menasehati ibunya. “Ibu mengerti Alvin.” Azura tidak bisa berkutik. “Ayah yang akan memberikan Pelajaran jika ibu masih tidak memahami apa yang Alvin katakan, jadi jangan ganggu kami ketika sedang negosiasi. Alvin paham,” ujar Melvin berbisik di telinga anaknya. Alvin mengangguk, dia bahkan menjaga rahasia dan tidak memberitahukan semua hal itu pada ibunya. Alvin sangat tidak setuju ibunya dekat dengan lelaki lain karena itulah dia mengikuti saran ayahnya demi ketenangan di masa depan tanpa ada orang yang ingin mendekati ibunya. “Kalian marah?” tanya Azura. “Masih pantaskah untuk bertanya?” Regi menahan tawa ketika mendengar dua lelaki kembar ini mengatakan hal yang sama, mereka memang duplikat dari wajah yang hampir mirip dan sifatnya pun sangat sama. Mereka egois dengan apa yang sudah mereka miliki, mereka tidak akan membiarkan orang lain mengusik segala sesuatu yang sudah menjadi hak milik mereka. “Regi, kenapa aku yang salah?” “Maaf Nyonya, saya tidak tahu apapun.” Regi tidak ingin ikut campur dalam masalah keluarga bosnya. “Jangan cari pembelaan, jelas-jelas kamu di deketin cowok lain. Bukankah aku sudah mengatakan jika aku tidak menyukai hal itu?” tanya Melvin. Azura menepuk dahinya, sangat sulit berhadapan dengan lelaki posesif, bukan hanya menghadapi Melvin, tetapi juga harus menghadapi Alvin yang kelewat posesif. Sudahlah dia pasrah Melvin akan memberikan hukuman apa padanya, dia tidak peduli dan akan menjalaninya dengan pasrah. “Sudahlah, aku yang salah. Aku kalah telak.” Azura mengangkat tangannya mengaku kalah. *** Sesampainya di rumah Melvin langsung menarik tangan Azura dan membawanya ke kamar, seperti biasa dia tidak mengijinkan Alvin untuk mengetahui pembicaraan yang akan mereka katakan, Melvin tidak ingin melihat anaknya mengerti hal yang seperti itu. “Aku tidak suka kamu bertemu dengan Fernandes.” “Siapa yang bertemu? Kami hanya tidak sengaja bertemu. Lagi pula sejak awal aku sudah bilang kalau akan ke toko es krim sesuai keinginan Alvin kan?” tanya Azura. Lelaki posesif itu masih saja menuduh Azura janjian dengan Fernandes, padahal Azura tidak pernah melakukan hal yang seperti itu, dia bahkan tidak tahu jika Fernandes ada di negara ini karena memang mereka tidak bertemu lagi setelah pertemuan terakhir mereka. “Tingkahmu yang seperti ini membuatku ragu, menikah tanpa rasa percaya adalah hal yang sia-sia.” Azura mengatakan hal itu pada Melvin. “Aku percaya padamu, aku hanya tidak suka ada lelaki lain yang mengusik wanita milik orang lain. Apa yang sudah menjadi milikku tidak akan aku biarkan lelaki lain merebutnya,” ucap Melvin keras. Dia mendorong Azura dengan lembut hingga dia terjatuh diatas ranjang, begitulah awal dari ciuman liar yang Melvin lakukan, Melvin hanya ingin memberikan Pelajaran bagi Azura agar dia tidak berani melakukan hal itu di belakangnya. Melvin pencium handal dan Azura bisa saja lengah jika dia tidak menahan diri untuk tetap menjaga kewarasannya. “Jika kamu bertemu dengannya, maka aku akan memasukimu saat itu juga. Paham?” Melvin melepaskan ciumannya dan pergi meninggalkan Azura yang masih terengah-engah setelah ciuman liar yang Melvin lakukan kepadanya. Lelaki itu memang benar-benar sialan, dia tidak menyangka jika Melvin membuat segalanya buyar, baik hati dan pikirannya. “Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan,” ujar Azura. Dia segera merapikan penampilannya dan bertemu dengan Alvin, anak itu sepertinya masih marah dengannya mau tidak mau Azura harus meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukan hal yang tidak di sukai oleh Alvin dan ayahnya. “Alvin, masih marah?” “Nggak, tapi Ibu harus janji ya? Alvin tidak suka ibu di dekatin lelaki lain.” Azura mengangguk, dia memeluk Alvin dengan hati yang bahagia, dia tahu kesalahannya memang tidak terlalu fatal, tetapi dia tidak suka membuat Alvin cemberut dan hari-harinya tidak terasa menyenangkan karena dirinya. “Alvin yang jaga Ibu kan? Ibu tidak perlu khawatir jadinya.” Azura merasa sedih karena dia harus menghadapi kemarahan Melvin yang menyebalkan. “Ya, Alvin kan pahlawan untuk Ibu jadi Ibu tidak usah khawatir.” Alvin tersenyum dan berpose sebagai pahlawan yang siap menyerang siapapun yang akan mendekati ibunya, dari dapur Melvin melihat semuanya dan dia merasa senang karena anaknya sudah pandai diajak kerjasama untuk mengusir lelaki yang ingin mendekati Azura. “Ayah tadi marah?” tanya Alvin. Azura mengangguk, dia mengeluh pada Alvin jika ayahnya membuat hati Azura sedih. Alvin kini menenangkan Azura dan dia akan membalaskan sakit hati ibunya agar ayahnya tidak memperlakukan ibunya dengan buruk, Alvin tidak akan membiarkan siapapapun termasuk ayah nya untuk memperlakukan ibunya dengan buruk. “Ayo serangggg! Ayah tidak boleh membuat ibu sedih, rasakan ini.” Alvin mengejar Melvin yang berlari karena tidak suka dengan semprotan air yang di bawa oleh Alvin, anaknya ini memang sudah beralih kelain hati, sedikit-sedikit berada di pihaknya dan kini sudah beralih ke pihak ibunya. “Sudah-sudah, Ayah mengaku kalah.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN