Bab 12. Alvin Kecewa dengan Ayah

1671 Kata
“Jangan nakal.” Melvin mendekatkan minuman dingin ke pipi Azura, Alvin baru saja tertidur dan kini waktu Melvin untuk bersama dengan Azura. Entah kenapa semakin kesini perasaan Melvin semakin dalam, dia takut kehilangan Azura. Walaupun Azura istrinya, tetapi dia takut jika perasaan Azura kepadanya hilang dan dengan mudahnya meminta berpisah untuk bersama lelaki lain. “Apa sih? Nakal dari mana?” tanya Azura cemberut. “Aku nggak suka kamu ketemu cowok lain,” ujar Melvin. “Itu nggak sengaja, udah dibilangin nggak percaya.” Melvin menarik pinggang Azura agar mereka semakin dekat duduknya, sudah lama dia tidak merasakan ketenangan seperti ini. Sudah lima tahun berlalu dan kini dia baru merasakan bagaimana bisa duduk berdua dengan tenang bersama dengan istrinya. “Gerah,” ujar Azura melepaskan tangan Melvin dari pinggangnya. “Biarin, aku nggak mau lepasin, kenaapa nggak panggil ‘Mas’ lagi?” tanya Melvin dan membuat Azura malu. “Jangan bahas itu, lepasin aku tidak ingin Alvin bangun,” ucap Azura. “Alvin sudah tidur sayang, patuhlah.” Melvin mengecup leher Azura yang terbebas dari rambutnya. Azura merinding dengan perlakuan Melvin, lelaki itu suka sekali mencium lehernya. Dia bahkan tidak bisa menghindar karena lelaki itu melakukan semuanya tanpa aba-aba, Azura tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu, tetapi dia merasa jika Melvin orang yang bertanggung jawab akan hidupnya. “Apa yang terjadi di masa lalu? Kenapa aku bisa hilang ingatan?” tanya Azura. Melvin terdiam, dia tidak bisa menceritakan hal ini, baginya ini bukan waktu yang tepat dia hanya tidak ingin jika nantinya Azura kembali bermasalah dengan kesehatannya, sudah cukup dia bahagia dengan kondisi yang saat ini jadi dia tidak ingin kembali mengalami masalah seperti dulu lagi, hal yang terpenting Azura bisa dia kendalikan dengan mudah. “Kamu nggak mau menerima tawaran jadi asisten?” tanya Melvin yang semakin intens menyentuh tubuhnya. “Enggak, Azura kan baru masuk jadi wakil ketua divisi pokoknya nggak mau di kira jadi simpananmu.” Melvin mencium liar bibir Azura, dia hanya ingin menghentikan ucapan wanita itu yang kini semakin tidak masuk akal. Azura tahu jika dia adalah istri Melvin, lantas kenapa dia harus memikirkan ucapan orang lain bahwa dia adalah simpanannya? Bukankah sejak awal memang dia istri sah Melvin. “Otakmu bermasalah,” Ucap Melvin setelah mencium Azura. “Otakmu yang bermasalah! Cium cium terus.” Kesal Azura. “Semua orang tahu bahwa kamu istriku, lantas kenapa kamu harus memikirkan omongan mereka yang mengatakan bahwa kamu simpananku? Bukankah aneh?” tanya Melvin. Azura memikirkan ucapan Melvin dan dia merasa bodoh, dia melupakan fakta jika semua orang tahu bahwa dia adalah Nyonya Abraham, istri dari sang pemilik perusahaan. Semua orang pasti mengetahui dirinya, jika kini Azura terus menolak maka akan semakin aneh dimata mereka. “Apakah semua tahu akan masalah ini?” tanya Azura. “Sejak awal semua karyawan tahu jika kamu istriku, dulu kamu sering mengikutiku ke perusahaan.” Azura hanya memutar bola matanya kesal. “Aku rasa bukan aku yang mengikutimu, tetapi kamu yang memaksaku untuk ikut. Aku rasa kamu mencintaiku secara brutal.” Azura mengatakan hal itu pada Melvin. “Aku mencintaimu dan bersetubuh denganmu secara brutal.” Bisik Melvin dan membuat Azura tercengang. Azura cemberut menatap Melvin, dia memang merasa akan mempertimbangkan semua hal yang terjadi, tetapi dia belum menerima Melvin sebagai suaminya. Azura hanya berusaha untuk menerima semuanya dengan perlahan, tetapi melihat tingkah Melvin yang seperti ini membuatnya tidak bisa mengelak jikalau terus bersentuhan secara fisik seperti ini. “Mas, Azura mau ngomong.” Melvin menatap Azura menunggu istrinya untuk berbicara, dia ingin memberikan kesempatan pada Azura untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya, Melvin sejak awal memang melakukan segalanya sesuai dengan apa yang dia inginkan, dia tidak peduli pada Azura yang entah menolak atau tidak dengan segala hal yang dia lakukan. “Bicaralah,” ujar Melvin memeluk Azura. “Mas, emm jujur aja karena sudah lama tidak bersama dan hilang ingatan rasanya perasaan ini tidak merasakan apapun ketika bersamamu,” ucap Azura. “Walaupun kamu tidak mencintaiku, aku tidak akan melepaskanmu. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, untuk kedua kalinya.” “Mas—” “Diam Azura! Sudah lama aku menunggumu dan aku berjuang untuk anak kita, jangan pernah mengatakan jika kau akan pergi bersama dengan lelaki lain! Siapapun itu aku akan menghancurkannya tanpa ampun.” Melvin pergi meninggalkan Azura yang mematung, sungguh Melvin sangat menakutkan jika marah. Azura tidak bermaksud untuk pergi bersama dengan lelaki lain, dia hanya mengungkapkan apa yang dia rasakan, Azura juga tau mana yang terbaik, karena kini dia sudah memiliki Alvin. “Bukan gitu maksudku.” Azura hanya bisa melihat punggung Melvin yang keluar dari rumah, entah dia pergi kemana Azura tidak tahu, dia takut Melvin melakukan hal buruk karena ucapan yang dia lakukan. Azura juga tidak tahu kenapa Melvin membenci Fernandes seperti itu, Azura hanya berteman dan dia tidak akrab, tetapi melihat ekspresi Melvin dia merasa yakin juga Fernandes juga ada di masa lalunya. “Apa yang harus aku lakukan?” *** “Ibu!” Alvin berteriak agar Azura membuka pintu kamarnya, pagi ini dia harus mengantarkan anaknya untuk ke sekolah. Dia juga sudah berjanji untuk membawakan Alvin bekal karena itulah anak itu selalu bersemangat melihat dirinya memasak untuk di bawa ke sekolah. “Ibu sakit? Wajahnya pucat.” Alvin menyetuh wajah Azura yang kini berjongkok di depan Alvin, sejak Melvin pergi dia memang tidak bisa tidur. Kepalanya pusing, dia banyak bertanya-tanya pada dirinya, tetapi nihil dia bahkan tidak mengingat apapun. “Ibu nggak sakit, ayo kita masak. Hari ini Alvin ingin di bawakan bekal apa?” tanya Azura yang berdiri dan menggandeng tangan Alvin untuk ke dapur. “Bu, kalau ibu sakit nggak usah buat bekal. Alvin takut ibu kenapa-kenapa,” ucap Alvin yang begitu perhatian. “Ibu hanya kelelahan sayang, lagi pula nanti juga baikan kalau udah minum obat. Ayo kita bergegas, kalau telat nanti Alvin kena hukum,” ujar Azura. Alvin mengangguk, dia duduk mengamati ibunya yang kini sedang membuat omlete telur, sungguh Alvin takut jika ibunya kembali sakit dan meninggalkan dirinya dalam waktu yang lama. Alvin takut ibunya akan pergi meninggalkannya lagi seperti dulu. “Ayah kemana? Ibu sakit.” Alvin mengirim pesan pada ayahnya, sejak dia bangun dia tidak melihat keberadaan ayahnya. Alvin takut jika ibunya sakit dan tidak ada yang membantunya, dia juga tidak melihat Regi maupun Kale disini, hanya mereka berdua dan Alvin merasa takut ibunya akan pingsan. “Ibu, kalau capek ibu istirahat.” *** Azura menyetir dengan tenang, walaupun tubuhnya terasa demam dia masih bisa melakukan hal itu dengan baik. Azura berusaha kuat karena dia tidak ingin anaknya khawatir, sejak pagi tadi Alvin terus merasa khawatir akan kondisinya, Azura hanya akan meminum obat dan setelah itu akan sembuh. “Ibu akan membeli kopi, Alvin ikut? Masih ada waktu tiga puluh menit jadi tidak akan telat.” “Iya, Alvin akan menjaga Ibu.” “Anak pintar,” ujar Azura mengusap lembut kepala Alvin. Mereka turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam untuk membeli kopi, Alvin mengedarkan pandangannya dan kini jatuh pada dua orang yang sedang mengobrol di pojok ruangan, terlihat santai dan ada Regi di sana. Alvin mengepalkan tangannya, ayahnya tidak membalas pesannya dan kini bersama dengan wanita lain ketika ibunya sakit. Ketika ibunya fokus memesan dia langsung mengeluarkan ponselnya dan memfoto ayahnya, dia tidak suka ada wanita yang kini mendekati ayahnya, terlebih posisi duduk mereka sangatlah dekat, sangat terlihat jelas jika wanita itu tertarik pada ayahnya. “Alvin, ayo. Kamu liat apa?” tanya Azura. “Nggak lihat apa-apa Bu, ayo kita pergi. Bentar lagi masuk,” ujar Alvin. Alvin tidak ingin jika ibunya sakit hati karena itulah dia segera mengajak Azura keluar dari sini. Jika ayahnya tidak bisa melindungi ibunya maka Alvin yang akan ada untuk ibunya, sudah lama Alvin menanti kehadiran ibunya, jika ayahnya melakukan hal buruk maka dia yang akan menentang ayahnya. “Kenapa Alvin terlihat bingung?” tanya Azura. “Alvin lupa belum cek takut bukunya ketinggalan,” ujar Alvin yang langsung pura-pura mengecek tas nya. “Sudah lengkap?” tanya Azura. Alvin mengangguk, dia mengajak ibunya untuk segera bergegas pergi ke sekolahnya. Jika kondisi seperti itu di lihat oleh ibunya maka akan membuat kesalahpahaman dan ibunya akan sakit hati lalu meninggalkannya seorang diri. “Ibu, apapun yang terjadi ibu tidak boleh meninggalkan Alvin.” “Alvin kenapa ngomong gitu?” tanya Azura. “Pokoknya Ibu nggak boleh ninggalin Alvin.” “Iya, ibu berjanji. Jangan marah-marah ya?” Alvin mengangguk. Azura merasa jika masalahnya semakin rumit, dia tidak berani untuk bertemu dengan Melvin dan pagi ini dia juga tidak melihat keberadaan lelaki itu, Azura tahu dia salah, tetapi bukan begini caranya. Dia hanya ingin menyelesaikan semuanya dengan baik, dia tidak ingin masalah ini berakhir tidak baik dan Alvin harus di korbankan dalam masalah ini. “Ini ada acara apa kok macet masuk sekolahnya?” tanya Azura. “Alvin juga nggak tau Bu, ya sudah Ibu antarkan dari sini aja. Lagi pula yang lain juga parkir di pinggir jalan,” ujar Alvin. “Ya sudah, ayo ibu antarkan sampai dalam.” Azura mengambil tas dan bekal Alvin, dia membukakan pintu Alvin yang memang berada di pinggir jalan, dia tidak mau Alvin celaka karena itulah dia harus lebih waspada nantinya. Azura sudah menyayangi Alvin, dia merasa bahwa dia memang ibu dari anak pintar itu. “Alvin harus sekolah yang rajin, ibu senang memiliki anak seperti kamu. Ibu bangga sayang,” ujar Azura mengecup kening Alvin. Dia menggandeng Alvin masuk ke dalam gerbang sekolah, Alvin bahagia karena dia bisa pergi sekolah diantar oleh ibunya. Dulu dia tidak pernah merasakan hal seperti ini, rasanya seperti mimpi bisa mengalaminya. “Kepala ibu masih pusing?” tanya Alvin. “Em cuma sedikit, tapi nggak papa. Nanti juga sembuh, udah kamu masuk dulu Ibu pergi kerja ya?” Alvin mencium tangan Azura, dia melambaikan tangannya Alvin merasa sangat bersemangat dan harus membahagiakan ibunya. Alvin senang melihat ibunya bahagia dengan kepintarannya. Sesekali Alvin menengok ke belakang, melihat ibunya yang menuju gerbang sekolah, tetapi hal yang tidak dia inginkan terjadi. Alvin berlari dan berteriak memanggil ibunya yang tidak sadarkan diri. “Ibuuuu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN