Pada celah tanpa jeda. Bersenyawa setitik rasa.
Now Playing = Love me like you - Litlle Mix
Bel telah berbunyi, seperti biasa rutinitas hari senin adalah upacara bendera. Kylie diantar oleh Pak Heri, selaku wakil kesiswaan untuk menempati barisan yang akan ia masuki, barisan yang akan menjadi kelasnya itu.
Pak Heri memanggil salah satu murid di barisan paling belakang.
"Cinta, sini sebentar!" pinta Pak Heri kepada murid yang Kylie yakini bernama Cinta itu.
Sontak gadis yang berambut pendek sebahu itu menoleh, diikuti oleh beberapa siswa yang menatap bingung kearah gadis mungil yang berada tepat disebelah wakil kesiswaan itu.
Seluruh murid SMA PANCASILA sudah berkumpul dilapangan, berhubung sebentar lagi upacara akan segera dilaksanakan.
Nyatanya kedatangan Kylie mampu menguras sebagian tatapan tatapan kagum dan penuh tanya.
"Cinta, kamu temani Kylie ya. Dia murid baru disini." pinta sang guru, kepada siswa perempuan itu.
"Iya Pak, siapp!" jawab gadis itu sopan.
"Oh iya mana si Kevin kok belum nongol juga?" tanya Pak Heri antusias, mencari sosok lelaki berandalan yang batang hidungnya tak kunjung kelihatan itu.
"Gaktau Pak belum datang kali, atau lagi dibelakang." jelas Cinta asal.
"Oalah emang anak gak bisa dibilangin itu, udah kelas 12 juga!" ucap wakil kesiswaan itu seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya betapa luar biasanya sang most wanted tersebut.
Kemudian Pak Heri bergegas pergi untuk berbaris dibarisan guru.
Cinta pun membimbing Kylie memasuki barisan kelasnya. Beberapa orang dibarisan kelas tersebut tampak kaget, dan langsung riuh kembali, ketika melihat Kylie masuk dibarisan kelas mereka.
Sementara para lelaki sibuk bersiul, seraya menggoda gadis mungil tersebut. Tidak hanya dari kelasnya, nyatanya kelas lain yang notaben berbaris bersebelahan dengan kelas XII IPS 2 juga sibuk memancarkan tatapan maut mereka kepada gadis yang dapat meruntuhkan sebagian iman itu.
"WIHH ANAK BARUU CUYY" ucap seorang lelaki dibarisan ketiga.
"IYA NIH! CANTIKK UYY!" goda satu lelaki lagi yang tak jauh berada dari lelaki sebelumnya.
"PINDAHAN DARI MANA NENG!" goda salah satu lagi, dibarisan sebelah.
Sontak barisan kelas itu kini semakin riuh, karena pada dasarnya kelas tersebut diisi dengan para biang kerok dan pembuat onar.
"Aku Kylie." ucap Kylie seraya mengulurkan tangannya kepada Cinta.
Perkenalan paling klasik dimuka bumi.
"Iya, aku Cinta." jawab gadis berambut sebahu itu, seraya membalas uluran tangan gadis mungil tersebut.
"Ini yang akan jadi kelas kamu nanti, harap maklum aja ya " jelas Cinta seraya cekikikan.
Sementara Kylie tersenyum dan mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia bahagia bahwa awal kepindahannya, teman teman barunya tidaklah seburuk yang dikiranya.
Upacara sebentar lagi akan dimulai.
"Oh iya, tadi Pak Heri nanyain siapa sih?" tanya Kylie penasaran.
"Biasalah pentolan sekolah, emang kayak gitu anaknya. Palingan udah ditengah upacara baru masuk barisan." jelas Cinta menggebu-gebu.
"Anak nakal ya pasti" desis Kylie seraya tersenyum kecut.
"Biasa, kayak gaktau anak jaman sekarang aja." sindir Cinta. Membuat keduanya saling tatap dan tertawa.
Upacara telah dimulai. Kylie sedikit melupakan sakit yang tengah ia rasakan itu. Tetapi panas matahari pagi ini benar-benar tidak mendukungnya.
Matahari memancarkan cahaya jingganya itu dengan pekat, pusingnya semakin bertambah, tapi sebaik mungkin masih mampu ditahannya.
Cinta melirik kegadis disebelahnya itu, wajah pucat gadis tersebut membuatnya sedikit khawatir.
"Kamu gapapa? muka kamu pucat banget" ucap Cinta kepada gadis disebelahnya itu.
"Iya gapapa, lagian bentar lagi kan selesai upacaranya." jelas Kylie sedikit berbohong. Sungguh dia tidak ingin merepotkan teman barunya itu.
"Kalau udah gak mampu, kasi tau aku ya. Ntar aku panggil anggota PMR." jelas Cinta, yang dibalas anggukan penuh dari Kylie.
*
"UNTUK AMANAT ISTIRAHAT DITEMPATTTTT! GRAK!!" teriak pemimpin upacara dengan lantangnya.
Hal tersebut berhasil membuat sebagian siswa berdiri dengan tegap seraya menaruhkan tangan mereka dibelakang, menuruti aba-aba pemimpin upacara itu.
Beda halnya dengan kelas duabelas. Anak-anak kelas dua belas, sudah muak mendengar beribu amanat yang akan disampaikan oleh pembina kelak, mereka berdiri tegap namun lebih terlihat ogah-ogahan.
Dan 3 hal terpenting yang harus diketahui seluruh siswa Pancasila :
1. Kevin sang pentolan sekolah.
2. Pak Sam si pemegang rekor ngoceh terlama.
3. Bu Ida sang guru super cerewet dan bawel melebihi orang tua sendiri.
Permasalahannya hanya saja, saat ini yang menjadi pembina adalah Pak Sam. Beliau dikenal sebagai guru BK, dan bagi seluruh siswa ini M-A-L-A-P-E-T-A-K-A.
Seluruh penjuru pasti sangat mengetahui, apabila beliau sudah menjadi pembina upacara, maka ia akan menyampaikan amanat sepanjang jalan JAKARTA-BANDUNG, benar-benar L-A-M-A.
Sontak hal tersebut, membuat seluruh siswa mengerang, terlebih lagi siswa perempuan.
"Anjir, bisa hitam kulit gue!" desis gadis berambut ikal yang berada tepat didepan Kylie.
"Yampun, kesel gue kalau udah Pak Sam, lama banget pasti!!!!!" rutuk salah satu gadis berambut lurus yang berada tepat disebelah rambut ikal tersebut.
"Pura-pura sakit aja yuk, gak tahan gue gak tahannnnn!!" sambung gadis yang tepat berada dipinggiran barisan keduanya.
"Berisik banget sih, dasar cewek rempong! Panas gini aja udah kayak mau mampus" ejek lelaki yang berada tepat dibelakang ketiga gadis tersebut.
Sontak perkataan lelaki itu berhasil membuat ketiga gadis tersebut menoleh, menatapnya setajam elang. Dan sama sama melontarkan sebuah kekesalan.
"BACOTTTTT!!!!" desis ketiga gadis itu serentak. Membuat pertengkaran tersebut, memicu keriuhan kelas itu lagi dan lagi.
Kevin berjalan dengan tenangnya, dia baru saja dapat sebuah pesan yang memberitahukan bahwa upacara sudah memasuki tahap menyampaikan amanat.
Seperti biasa pada saat inilah dia harus masuk kedalam barisan. Dengan tubuh jangkungnya yang dia bungkuk-kan itu, Kevin berjalan memasuki barisan kelasnya, yang benar-benar beruntung tidak kelihatan oleh barisan guru.
Beberapa orang tampak menoleh kearahnya, apalagi adik kelasnya, terutama para kaum hawa, yang ingin menatap sang pentolan itu untuk waktu yang lebih lama, karena setiap kali memandang Kevin sang pembuat onar itu, tatapan nya dapat mendebarkan siapapun yang melihatnya.
Sebab pada dasarnya jika ingin kebarisan kelasnya, Kevin harus terlebih dahulu melewati barisan kelas X dan XI.
Lelaki itu mulai mengeluarkan cengiran dan tatapan khasnya, ketika dilihatnya tatapan-tatapan yang tampak seperti kekaguman itu, Kevin segera mengedipkan sebelah mata, menaruhkan jari telunjuk kebibirnya, yang menandakan bahwa siapapun yang melihatnya harus segera diam.
Sontak seluruh adik kelas, tentunya berjenis kelamin perempuan yang melihat itu langsung kalap sendiri, semuanya yang melihat itu segera menuruti perintah sang pentolan tersebut. Jika sudah begitu, siapa yang berani melawan seorang Kevin? Tidak ada. Tentu.
Namun nyatanya, tidak hanya di SMA PANCASILA, Kevin bahkan hampir dikenali seluruh sekolah lain, membuat lelaki itu bahkan semakin membanggakan dirinya. Lihat saja pengikut di media sosial miliknya, banyak sekali, yang berisi terutama kaum hawa.
Kemudian segera dia bergegas kebarisan kelasnya, XII IPS 2.
Ketika tiba-tiba Kylie mendengar suara berisik dibelakangnya, ia yakin seseorang baru saja tiba. Penasaran, mungkin ini yang diceritakan oleh Cinta tadi, ia pun menoleh.
"HEH! Ngapain lo disini!!" gusar Kevin, dia dibuat kaget karena gadis kurang ajar yang dimatanya, telah menabraknya tadi, tiba-tiba tepat berada didepannya.
"Suka suka gue dong!" desis Kylie acuh tah acuh.
Cinta yang mendengar perdebatan itu pun segera menoleh.
"Kamu kenal Kevin?" tanyanya tak percaya.
"Ya nggaklah, mana mau aku kenalan sama cowok tengik begitu!" jawab Kylie ketus.
"Dia itu pentolan SMA kita!" ucap Cinta lagi menegaskan.
"Iya ding, aku tau, kelihatan banget. Liat aja tuh bajunya, udah kayak berandalan aja!" jawab Kylie mantap, seraya melirik lelaki yang membuatnya kesal itu.
Dia harus menerima kenyataan, bahwa dirinya sekelas dengan lelaki yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata itu.
Sementara Kevin menggeram, benar-benar cari masalah gadis mungil yang sekarang tepat berada didepan matanya itu.
Sesaat ditatapnya Kylie, rambut lurusnya yang dibiarkan terurai, serta tubuhnya yang benar-benar hanya sedada dirinya.
Tidak hanya Kylie, nyatanya Kevin mampu bertahan dengan keterpanaan sosok gadis itu.
Jika semua orang tunduk dan hormat kepadanya, kenapa bisa Kylie bahkan tidak menyadari keberadaannya?
***