Kala itu kita jauh dari baik-baik saja.Permulaannya tentu saja paling menyenangkan.
Now Playing = Ed Sheeran - Shape Of You
Kylie merasakan dahinya sekarang. Benar-benar sudah terasa seperti api, saking panasnya.
'Pantasan saja semua menggerutu waktu tau pembina upacaranya siapa, yatuhan lama sekalii!!' desis Kylie dalam hatinya. Ia benar-brnar sudah tidak mampu untuk berdiri kokoh.
Kylie merasa sudah tidak bisa menahan pusingnya itu, ia hendak kebelakang memanggil anggota PMR, memberitahukan kondisinya yang sudah tidak kuat untuk melanjutkan upacara tersebut.
Mungkin kali ini nasib sial menimpa dirinya, sesaat ketika hendak berbalik badan, pandangannya mulai kabur, semuanya sudah gelap, dan gadis mungil itu, jatuh pingsan.
Kevin berlonjak kaget, langsung diraihnya tubuh Kylie yang hampir saja membentur tanah. Sontak barisan kelasnya riuh kembali, diikuti barisan kelas lain yang sibuk ikut menoleh.
Kegaduhan itu membuat para anggota PMR datang kebarisan kelasnya, sementara yang lain sibuk mengambil tandu, untuk memopong Kylie yang sudah tidak sadarkan diri.
"Sebentar ya Kak, tandunya lagi diambil." ucap salah satu anggota PMR takut-takut. Gadis itu tidak berani menatap Kevin yang masih memopong tubuh mungil Kylie.
"Lama. Gue aja!" tegasnya seraya berlalu pergi.
Membuat seluruh sorot kaum hawa menatap iri gadis yang bahkan tengah berada dalam bopongan sang most wanted tersebut. Jika harus pingsan terlebih dahulu untuk berada dalam jarak sedekat itu bersama Kevin, semuanya bahkan rela bertukar posisi.
Kini Kevin tidak punya pilihan, dieratkannya lengan kanan nya dipinggang gadis mungil tersebut, sementara lengan kiri nya memegang belakang lutut gadis itu.
Selama perjalanan ke-UKS Kevin memandang sesaat gadis yang tengah dalam dekapannya itu, 'cantik' pujinya dalam hati.
Imajinasi lelaki itu bahkan sudah meliar pagi ini, hanya karena sosok gadis yang bahkan jauh dari dugaannya.
Kemudian Kevin segera memasuki UKS, menghilangkan secercah rasa ingin tahu nya. Ia hanya takut masuk terlalu dalam pada setitik celah di antara mereka.
Dia pun diminta oleh Bu Nana, selaku penjaga UKS untuk meletakkan gadis itu disebuah ranjang yang telah disediakan.
"Kamu apain nih si anak baru Kevin, sampe pingsan gini?!" tanya Bu Nana mengejek dengan nada tajam, kepada sosok lelaki jangkung yang sudah tak terhitung ulahnya itu.
"Aku ajakin pacaran, mungkin kaget ditembak sama cowok ganteng, pas upacara lagi, jadinya pingsan." desis Kevin asal, sembari bergegas pergi meninggalkan UKS, berjalan masuk kekelasnya, padahal saat ini upacara tak kunjung selesai. Tentu Kevin tidak peduli. Ia ambil dalih untuk masa bodoh.
Bu Nana yang melihat tingkah lelaki itu, hanya dapat menggelengkan kepalanya.
Menolong gadis itu sama dengan membawa keberuntungan, tidak panas-panasan dilapangan dan tidak mendengar ocehan Pak Sam yang tak kunjung usai itu.
***
Kylie membuka matanya, sesaat ia mengerang, sakit kepalanya benar-benar tak terelakkan. Bu Nana selaku penjaga UKS segera mendekati gadis mungil itu, memberikan Kylie sebuah obat.
"Ini minum dulu obatnya." pinta penjaga uks itu dengan halus.
Kylie segera menegakkan tubuhnya, ia duduk diatas ranjang dan minum obat yang telah diberikan Bu Nana kepada nya itu.
"Makasih ya Bu, maaf ngerepotin."
"Iya nggak apa, kamu kenapa udah tau sakit masih aja paksain buat upacara, badan kamu panas sekali."
"Nggak apa Bu, tadi gak ada pusing. Tiba-tiba, mungkin karena cuacanya yang panas kali ya." jawab Kylie sedikit berbohong.
"Tadi kamu dianterin sama Kevin ke-uks" ucap Bu Nana seraya sibuk merapikan ruang uks itu, menyusun bermacam obat dengan rak yang telah ditentukan.
Kylie pun terdiam beberapa saat, sembari mengingat bagaimana dirinya bisa sampai jatuh pingsan.
'AHHHHHH MALU-MALUIN AJAA', erangnya dalam hati seraya menundukkan kepalanya, dalam.
Masalah terbesarnya adalah, lelaki jangkung yang membuatnya kesal itu-lah yang telah menolongnya.
"Kamu mau pulang atau gimana?" tanya penjaga uks itu lagi.
"Nggak usah Bu, tetap sekolah aja, lagian udah sedikit enakan" jawab Kylie menjelaskan.
Kylie bahkan rela berada di sekolah untuk waktu lama, daripada harus berada dirumah yang sungguh sepi, orang tuanya sibuk berpergian kesana kemari, rumah itu benar-benar membuatnya suntuk.
"Kalau gitu ayo ibu anterin kekelas kamu, kamu sekelas kan sama siKevin?"
"Iya bu, gak usah aja. Kylie udah tau kelasnya yang mana." jelas gadis itu sopan. "Yaudah kalau gitu makasih ya Bu" sambung Kylie seraya berlalu menuju kelas barunya.
'Tasnya mungkin sudah dibawa oleh Cinta, semoga saja' pikirnya.
*
Ketika sudah sampai didepan kelasnya Kylie terdiam beberapa saat. Belum ada guru, itu yang ia yakini. Sebab kelas barunya ini masih terdengar seperti pasar. Ribut sekali.
Seseorang menepuk pundaknya.
"Hai, murid baru?" tanya seorang lelaki yang sudah berada disebelahnya itu.
"Eh, Haiii. Iyaa" ucap Kylie seraya tersenyum kikuk, bingung akan seseorang yang tiba-tiba saja menepuk pundaknya tersebut.
"Steven Geraldo. Kamu bisa panggil Stev." ucap lelaki itu seraya mengulurkan tangannya.
"Kylie" jawab gadis mungil itu sembari ter-senyum dan membalas uluran tangan lelaki itu. Lelaki disampingnya ini membuatnya sedikit gugup, keramahan-nya membuat Kylie merasa berdebar, untuk sesaat.
"Kamu masuk kelas ini?" tanya lelaki itu seraya menunjuk kelas didepan mereka saat ini.
"Iya, XII IPS 2!" ucap Kylie mantap.
"Yaudah, ayo masuk. Aku juga dikelas yang sama." ucap lelaki itu seraya meraih tangan Kylie untuk mengajaknya masuk.
Deg. Jantung Kylie berdebar, ketika masuk didalam kelas, seluruh teman sekelasnya itu menatapnya, dengan sorot yang tidak bisa ia jelaskan. Sontak Kylie tersadar dan langsung melepaskan tangannya itu dari genggaman lelaki tersebut.
"Sory. Abis kamu tadi kayak orang b**o didepan" ucap lelaki itu seraya cekikikan.
Kylie pun segera menghampiri Cinta, satu-satunya teman yang dapat ditanyakannya itu-terkecuali Kevin, bisa gila ia sampai berani bertanya kepada sosok lelaki yang seperti singa itu.
Kylie melirik ke kiri, ketika dilihatnya lelaki jangkung yang sudah menolongnya saat pingsan tadi namun berhasil membuatnya kesal tengah menundukkan kepalanya diatas meja, tidur.
Sementara lelaki yang meraih tangannya saat didepan kelas tadi duduk dibangku paling depan, barisan pertama.
"Cinta aku duduk dimana?" tanya Kylie bingung.
"Sama Kevin aja? Soalnya dikelas ini cuma Kevin yang duduknya sendirian, lagian udah penuh semua." jelas Cinta.
"Sama Kevin aja? Kevin yang mana?" tanya Kylie berharap, ia berdoa semoga saja lelaki bernama Kevin ada sepuluh orang dikelasnya ini.
"Tu, Kevin yang ituuuu!" tunjuk Cinta kepada lelaki yang bahkan jauh dari harapan Kylie.
"Hahhhh?Benerenn nihh? Aduhhh gimana donggggg Cintaaa!" tanya Kylie tidak percaya. Benar-benar bencana kalau sampai ia duduk bersama sang pentolan sekolahnya itu.
"Iya nggak apa, cobain aja. Tuh bangunin. Tapi hati-hati, soalnya nggak pernah ada yang berani bangunin dia. Aku udah sekelas sama dia 3 tahun, dulu pernah tu si Raka bangunin dia, habis deh bonyok mukanya Raka! Padahal Raka kan sohibnya." ujar Cinta lagi-lagi menjelaskan. Membuat Kylie bergidik ngeri membayangkannya.
Kylie menghembuskan napasnya kuat-kuat, dengan berat hati dan terpaksa ia berjalan dengan langkah gontai kearah Kevin, bangku lelaki itu paling strategis, dibawah kipas angin dan berada dipojokan.
Kylie menatap lelaki jangkung itu yang dengan pulasnya tertidur, padahal keadaan kelas yang memekik pun tidak dihiraukannya.
Kylie mengambil satu kursi disebelah lelaki itu dengan pelan, kemudian menaruh kursinya itu sedikit lebih jauh. Gadis mungil itu bergidik ngeri membayangkan apa yang akan dilakukan lelaki itu terhadapnya, jika ia benar-benar berani membangunkannya.
Jangan bertanya berapa mili ketakutan Kylie. Melebihi di petok ayam yang lagi bawa anaknya.
***