Setitik benci tetap bisa menimbulkan rasa.
HAPPY READINGGGGGG GUYSS:)
The Chainsmokers & Coldplay - Something Just Like This
"Oh aku inginkan sesuatu seperti ini, Aku inginkan sesuatu seperti ini"
***
Gedoran dan suara teriakan Mbok Titin berhasil membangunkan gadis mungil yang tentu saja masih terlelap dengan pulas.
Kylie tersadar, di liriknya jam wekker the pooh kesayangannya yang terletak disamping ranjang miliknya, segera ia bersiap-siap untuk bergegas sekolah. Tubuhnya sudah benar-benar terasa pulih saat ini.
*
Selesai mandi Kylie segera turun untuk sarapan, ditemani Mbok Titin. Karena kedua orang tuanya tengah sibuk kerja diluar kota.
Tinggalah ia, Pak Anto dan Mbok Titin dirumah yang bisa dibilang besar itu. Terkadang hanya ia berdua dengan mbok Titin karena Pak Anto sang supirnya tersebut, harus pulang kerumah mengurus anaknya yang masih kecil. Tidak seperti mbok Titin yang anak-anaknya sudah besar semua. Tidak jarang pula Mbok Titin pulang memasak untuk keluarganya.
Namun bagi Kylie tetap saja, rumah yang terasa besar itu nyatanya selalu kosong dimatanya.
Kylie mulai melahap roti bakar kesukaannya. Ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada sebuah line masuk dari Stev, sontak segera ia letakkan roti tersebut dan langsung diraihnya ponselnya itu.
Steven Gerarldo
Aku didepan rumah kamu nih.
*
Sebuah pesan dan permintaan pertemanan diline itu, membuat gadis mungil tersebut segera melahap habis roti bakarnya, berpamitan kepada Mbok Titin dengan perasaan menggebu-gebu, seraya merapikan rambut dan poninya, ia harus terlihat cantik dimata lelaki yang sedang ditaksirnya itu. Secepat kilat Kylie bergegas kedepan rumahnya dengan penuh semangat.
Senyumnya berkali lipat ketika dilihatnya mobil Steven sudah terparkir rapi dihalaman rumahnya.
"Kenapa tiba-tiba ngejemput?" tanya Kylie berpura-pura, padahal hatinya senang bukan main.
Lelaki yang baru dikenalnya belum dari 1x24 jam itu mampu memberikan kesan yang luar biasa dimatanya.
"Nggak boleh aku jemput nih? Yaudah aku langsung kesekolah aja." balas Stev pura-pura marah.
"Hehe jangan donggg." ujar Kylie manja seraya mengedip-edipkan matanya seperti yang ia lakukan kepada sang pentolan sekolahnya kemarin. Eits, siapa tadi? Sang pentolan sekolah? Kevin? Aduhhhhh hampir dilupakannya lelaki jangkung yang bakalan ia temui setiap hari itu.
Tawa Steven langsung meledak melihat tingkah Kylie tersebut. Sesaat Steven melirik jam tangan nya, kemudian memasuki jeepnya, seraya mengajak Kylie untuk segera bergegas pergi.
"Kamu gak apa duduk sama si Kevin?" tanya Stev lagi-lagi disela perjalanan mereka.
Sontak hal tersebut membuat Kylie semakin bingung.
"Ya gimana lagi, soalnya kan cuma dia yang duduk sendirian." desis Kylie malas seraya membayangkan wajah lelaki yang bakalan ditemuinya kelak, dalam jarak yang benar-benar dekat.
"Kasian, tapi kalau ada apa-apa cerita aja sama aku. Kamu kan pasti udah dengar sendiri dari Cinta gimana
"
"Iyaaa pastiii!!"
*
Jeep tersebut sudah memasuki parkiran kelas XII, ketika turun dari mobil Steven, seluruh anak kelas dua belas menatap mereka dengan tatapan bingung dan penuh tanya.
Kylie tidak ambil pusing, ia segera berjalan menuju kelasnya diikuti Stev yang berada disampingnya.
Ketika memasuki koridor utama, tampak beberapa siswa pancasila berkumpul didepan kelas XI IPS 4, membuat Kylie mengernyitkan dahinya penasaran.
"Itu kenapa Stev?" tanyanya masih dengan dahi mengernyit.
"Paling ada yang berantem, yaudah aku kekoperasi dulu ya, mau ambil sesuatu." ujar Stev seraya bergegas meninggalkan Kylie yang masih berdiri dengan raut penasarannya.
Ntah apa yang sedang Kylie pikirkan, sehingga membuatnya melangkahkan kaki ke gerombolan orang-orang yang tampak riuh tersebut.
Beberapa siswa yang melihat kedatangan Kylie tampak mengalihkan pandangan kepada gadis tersebut, mungkin kagum melihat wajah mungil nan cantik Kylie yang tiba-tiba saja muncul.
Kylie sendiri masih bingung, ia berada dikelas yang juga tidak diketahuinya.
Kylie ternganga, melihat pemandangan luar biasa dihadapannya saat ini. Ia melangkah ingin menghentikan seorang lelaki yang tampak familiar dimatanya, lelaki yang dengan ganas dan gusar tengah meninju lelaki yang sudah tampak tak berdaya dilantai tersebut.
"Jangan ikut campur, atau lo mau digebukin juga?"
Suara peringatan itu membuat Kylie memundurkan langkahnya, diliriknya lelaki yang tengah berbicara kepadanya, nyatanya suara berat dan tatapan tajam Kevin itu berhasil membuatnya melangkahkan kaki sejauh mungkin, bergegas kekelasnya menjauhi tempat yang membuatnya bergidik ngeri itu.
***
Bel tanda masuk belum berbunyi, Kylie segera menghampiri Cinta dan meminta gadis itu untuk menemaninya berjalan keliling sekolah.
Kejadian tadi membuatnya berfikir keras, apa gerangan membuat dua orang laki-laki tersebut saling tonjok menonjok.
Saat ini Kylie hanya membutuhkan udara segar. Ia harus menghirup oksigen, sebanyak mungkin.
Dan juga sebagai seorang murid baru, Kylie tidak enak selalu meminta Stev menemaninya, ia takut akan ada gosip yang beredar tidak-tidak nanti.
Sepanjang perjalanan keliling sekolah Cinta mengajak Kylie untuk melihat basecame para anak berandalan nangkring.
Benar-benar ruangan yang tampak seperti gudang, ada banyak puntung rokok yang berhamburan kesegala arah. Kylie baru tau bahwa Cinta adalah pacarnya Dipga, salah satu teman segenk-nya Kevin, yang bearti nakalnya sama seperti Kevin 11-12.
Hal itu membuat Kylie teringat bahwa lelaki yang berkelahi tadi adalah salah satu genk-nya Kevin yang pertama kali ditemuinya, ketika tubuhnya tak sengaja bertabrakan dengan sang pentolan itu.
Sejak pertama bertemu Cinta, Kylie merasa benar-benar merindukan Rara. Sifat dan cara bicara gadis itu mirip sekali dengan Rara, hanya saja Cinta tidak suka ke-perpustakaan, ia lebih suka menghabiskan waktu dikantin bersama kekasihnya.
Kylie mempercayai Cinta, segala cerita ia beritahukan kepada gadis itu, begitu juga sebaliknya. Mereka menjadi dekat. Kylie bercerita mengenai lelaki yang membuatnya jatuh cinta, Steven. Sedangkan Cinta bercerita mengenai Dipga.
Cinta sayang kepada Dipga, itu yang Kylie tahu saat ini. Namun kelihatan Dipga terlalu seenaknya, lelaki tersebut selalu mengabari Cinta kapanpun ia mau. Cinta tidak marah dan selalu mengerti, tetapi lebih tepatnya pasrah. Rasa sayang gadis tersebut sangat besar kepada kekasih nya, itu yang dapat Kylie simpulkan.
*
Kylie teringat akan perkelahian yang sempat ingin dihentikannya tadi.
"Oh iyaa, Cinta tadi ada yang berantemm, sampe robek gitu kancing bajunya, terus nih ya Kevin ada disana, dan parahnya dia cuma nontonnnnn" cerocos Kylie penuh bacotan.
"Baru tau kan, bahkan kamu bisa liat perkelahian itu setiap hari disini" jelas Cinta kepada gadis yang dimatanya, sangat menggemaskan itu.
"Bener? parah! Sumpah, kok? itu kenapasihhh?" tanya Kylie bertubi-tubi, ia tidak percaya akan hal yang baru saja didengarnya itu.
"Biasalah, Kevin sama genk-nya itu kalau lagi bosen atau gak ada kerjaan, ya gitu nyari adek kelas yang songong, buat jadi bahannya mereka." ucap Cinta lagi-lagi menjelaskan.
"Parah, parahh. Dipga juga ikutan?????" tanya Kylie tak percaya.
"Satu genk Kylieeee. Dipga jugalah pasti!" ujar Cinta. Membuat Kylie membulatkan matanya tidak percaya.
"Kamu gak marahin?" tanya Kylie polos.
"Sampe capek malah, sekarang aja udah mendingan." jelas cinta lagi.
"Sekarang aja udah mendingan???" ujar Kylie tak percaya. "Terus dulunya gimanaa??" sambung gadis itu lagi.
"Lebih parah." desis Cinta sembari cekikikan. Membuat Kylie menggeleng-gelengkan kepalanya, takjub akan sekolah luar biasa yang dimasukinya ini.
*
TETTT*TEETTT*TEEETT
Bel telah berbunyi, Cinta dan Kylie segera bergegas untuk kembali ke kelasnya.
Pelajaran hari ini, SEJARAH. Ketika dikoridor dekat kelas XI mereka berdua berpapasan dengan Kevin, Dipga, dan yang lainnya.
"Gue kekelas dulu bro." ucap salah satu teman Kevin yang bernama Joy, diikuti oleh yang lainnya. Tersisalah Dipga dan Kevin.
"Kamu dari mana aja sayangggg?" tanya Dipga lembut kepada Cinta, seraya meraih punggung gadis tersebut untuk dirangkulnya.
"Habis jalan-jalan nganterin Kylie, dia mau liat seisi sekolah wkwk~" jawab Cinta tak kalah lembutnya, seraya menaruh tangannya dipinggang lelaki yang tingginya hampir sama dengan sang pentolan sekolah itu.
Pemandangan yang benar-benar menakjubkan.
"Masuk lo sana." desis Kevin tajam kepada Kylie.
"Nggak usah lo suruh! Ini juga gue mau masuk, yuk Cin." jawab Kylie ketus seraya mengajak Cinta untuk segera bergegas kekelas mereka, karena yakin Pak Adi selaku guru sejarah pasti sedang menuju kelas, sebab beliau terkenal dengan guru yang selalu one time.
"Sayang aku masuk kelas dulu ya. Kamu jangan ngerokok terus awas aja. Ntar balik sekolah tungguin aku yah." ucap Cinta manja kepada kekasihnya itu.
Dipga tidak menjawab, tetapi di kecupnya dahi kepala Cinta, seraya di pintanya kekasihnya itu untuk segera masuk kekelas.
*
Saat memasuki kelas, tampak Pak Adi baru saja ingin menuju kelas XII IPS 2. Kylie segera duduk seraya senyum, ketika melewati bangku lelaki yang sedang membuatnya jatuh cinta itu.
Pak Adi sudah masuk kelas, tetapi Kevin tidak juga nongol. 'Kemana lagi perginya lelaki gila itu!', ujar kylie dalam hatinya.
Pak Adi meminta untuk mengerjakan soal halaman 60 di-LKS.
Dua puluh menit telah berlalu, barulah sang pentolan tersebut menampakan batang hidungnya.
"Kamu dari mana Kevin?!" tanya pak Adi lembut tapi terdengar tajam. Beliau salah satu guru yang memiliki watak lembut dan berhasil membuat seluruh siswa PANCASILA gemas sendiri melihat wajahnya.
"Saya habis dari wc pak kebelet pup." jawab sang pentolan itu asal, tidak peduli seraya duduk dibangkunya. Yang hanya dibalas Pak Adi dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sesaat Kevin melirik teman sebangkunya itu, yang tengah sibuk mengerjakan berpuluh-puluh soal, kemudian dia keluarkan ponselnya, apabila tidak ada hal seru yang dapat dimainkan-maka tidurlah sang pembuat onar tersebut.
Terlebih lagi bagi Pak Adi, murid seperti Kevin lebih baik tidur dikelas, dari pada bangun hanya menimbulkan masalah.
"Lo nggak ngerjain?" tanya Kylie yang sedari tadi sibuk melihat Kevin
dengan seriusnya bermain tanpa mengeluarkan bukunya, atau mungkin dia sama sekali gak bawa buku, pikirnya.
"Ganggu! Diam!" desis Kevin gusar.
Kylie tidak mau ambil pusing, ia pun segera melanjutkan tugasnya itu.
*
Ketika bel istirahat Kylie bergegas kekantin bersama Steven, sementara Cinta sibuk bersama Dipga. Menghabiskan waktu-waktu terakhir masa SMA sebelum lulus. Kylie benar-benar ketagihan sama bakso kuah Bu Tuti tersebut, ia pun mengajak Stev memakannya lagi.
Seperti biasa, sesampainya dikantin dilihatnya Kevin dan geng-nya dengan santai merokok seenaknya. Tidak ada sama sekali siswa yang berani menegurnya, bahkan ketua osis sekalipun. Benar-benar terlihat jelas ketidak-adilan yang melanda sekolah ini.
Kylie menoleh kearah sang pentolan itu. Kedua mata mereka saling beradu, memancarkan sesuatu yang tidak juga bisa dijelaskan.
Kylie dulu membuang muka, kemudian memesan bakso kuah yang membuatnya ketagihan itu bersama Steven.
Sementara yang tidak Kylie tahu, bahwa sang pentolan itu selalu menatap kecut kearah ia dan Steven.
***
Dua hari berkesan yang membuat Kylie benar-benar jatuh cinta kepada Steven. Sejak lelaki itu meraih tangannya dan ketika lelaki itu tiba-tiba menjemputnya.
Lagi, ketika pulang sekolah langsung diraihnya diary putihnya, dengan semangat ia merangkai seluruh kejadian hari ini mengenai Steven. Dalam diarynya itu dengan pede dan ge-er nya ia menulis bahwa Steven menyukai dirinya, sebenarnya itu hanya pandangan sematanya.
Sementara diary merahnya, ia rangkai lagi beribu u*****n dan cemohan kepada Kevin, lelaki yang berhasil membuatnya gusar sendiri-tapi entah kenapa selalu ingin tulis cerita mengenai sang pentolan tersebut.
***