Tidak perlu waktu lama untuk sampai ke depan gerbang, tetapi butuh waktu yang lama untuk memantapkan diri masuk ke gedung sekolah. Kami hanya berdiri di depan gerbang sambil menatap satu sama lain. Habisnya satpam malas itu sedang terjaga sekarang, dia tidak tidur. Kalau seperti ini bisa gawat keadaannya. Dia pasti tidak mengizinkan kami untuk masuk.
“Kalian nggak lupa kalau sekolah ditutup, kan?” tanya Marko.
Willy tersenyum lebar. Sejujurnya, aku lebih menganggap itu senyum miringnya dari pada senyum senang. Willy memang lebih suka menyeringai dari pada tersenyum tulus. Yah, itu memang sebuah ciri khasnya dia dalam hidup. Kata Willy, dia memang bukan orang yang tulus. Kalau ada yang dia inginkan dalam melakukan sebuah hubungan, dia akan mengatakannya langsung.
“Gampang! Marko, lo ajak omong satpam males itu! Nanti lo kasih makanan! Pasti dia asik sama makanannya,” kata Willy.
Willy memang tokcer kalau berurusan dengan hal-hal yang mengoras otak. Kalau saja kami tidak memiliki Willy, mungkin ide yang aku punya saja yang akan dipakai, memanjat tembok samping sekolah yang banyak kawat berduri dan beling.
“Emang temen gue yang satu ini pinter banget, deh! Makanannya mana?” tanyaku. Saat ini tidak ada penjual di depan sekolah. Biasanya mereka pada berjejer menunggu siswa yang ingin jajan. Jadi, percuma saja ide Willy kalau tidak ada makanan.
Sayangnya, aku meremehkan seorang Willy. Dia ternyata sudah memikirkan hal itu matang-matang. Willy mengeluarkan bekal makan siangnya dari tas. Sepertinya dia memang sangat berniat melakukan penyelidikan ini. Dia tidak pernah membawa bekal ke sekolah, baru kali ini dia membawanya.
“Lo semua nggak perlu mikir kalau gue niat ngelakuin penyelidikan ini! Hari ini gue sengaja bawa bekel karena seharusnya ada pelajaran tambahan dari Bu Endang.” Willy menjelaskan sambil memberikan bekalnya ke Marko.
Gibran mengdengkus pelan dan berkata. “Kali aja lo emang pengen ngungkapin kalau Jesika dan Fajar itu dalang—“
“Hei, Gib! Mulut lo pengin gue pukul, ya?!” Aku memotong pembicaraan Gibran dengan lantang. Dari pagi dia selalu memojokkan Jesika. Aku, kan, jadi kesal. Sudah aku bilang bukan Jesika penyebabnya, dia masih saja berpikir begitu.
Tatapannya padaku mulai berubah menjadi tidak senang. Salah satu bibirnya yang terangkat membuatku geram. Awas saja sampai dia terus menyalahkan Jesika, aku akan membuat perhitungan dengannya. Tidak, aku berbohong. Paling-paling kami hanya berdebat.
“Cinta boleh tapi sama orang yang bener dong!” kata Gibran dengan tatapan tajamnya. Anak ini benar-benar beranggapan Jesika adalah pembunuh rupanya.
“Enggak mungkin itu Jesika! Gue udah bilang semuanya sama lo tadi. Kenapa lo masih nuduh dia, sih?” tanyaku dengan jengkel. Lama-lama semakin kesal menyahuti pembicaraan Gibran. Kalau bukan teman, sudah pasti aku jotos wajahnya.
“Sudah! Kalau kalian berantem di sini bisa gagal rencananya,” kata Marko sedikit tertahan. Aku lupa kalau kami masih di luar gerbang sekolah. Satpam itu dengar atau tidak, ya?
Marko mulai berjalan ke arah satpam malas di pos. Semua harapan kami berikan pada Marko. Kalau dia tidak becus untuk mengajak satpam itu larut dalam makanannya, bisa-bisa kami gagal masuk ke markas.
Marko sudah berada di dekat satpam. Mereka berdua berbicara dengan santai. Aku dapat melihat tawa dari mulut satpam itu. Apa yang mereka bicarakan? Aku jadi penasaran.
Satpam itu menerima bekal makanan yang Marko berikan. Wajah kami langsung senang. Sepertinya langkah yang tepat memilih Marko untuk merayu satpam malas. Di antara kami semua, hanya Marko yang memiliki mulut manis untuk merayu. Paling-paling beberapa saat lagi Marko akan melambaikan tangan untuk memerintahkan kami masuk.
Kami terus memandangi Marko yang asik berbicara lalu tertawa dengan satpam malas. Entah apa yang mereka tertawakan, pastinya cukup menyenangkan. Tidak mungkin mereka tertawa hanya karena hal bodoh. Satpam itu mulai duduk di lantai, aku jadi tidak bisa melihatnya lagi.
Tidak lama kemudian, Marko melambaikan tangan kepada kami. Langsung saja kami masuk ke sekolah dengan tenang. Jelas saja, satpam itu pasti sedang makan dengan lahap. Tidak perlu berlari atau mengendap-endap karena dia tidak akan melihat kami. Setelah melewati pos satpam Marko langsung mengikuti kami.
Sekolah benar-benar sepi. Tidak ada seorang pun di halaman sekolah, semuanya telah pergi. Bahkan kendaraan yang terparkir juga tidak ada. Pasti semua guru juga ikut pulang karena ketakutan. Sepertinya tragedi pagi ini membuat kengerian bagi warga sekolah. Aku jadi merinding semakin masuk ke dalam sekolah.
Kami berjalan ke arah gedung ekstrakurikuler. Tidak ada suara yang terdengar selain langkah kami. Kalau begitu, lebih baik kami berbicara di rumah Gibran saja. Suasana sekolah langsung suram, aku jadi ikutan takut. Ketiga temanku yang lain juga sudah mulai menengok ke kanan dan ke kiri. Mereka pasti sudah mulai merasakan aura kesunyian di sekitar yang membuat dirinya ketakutan.
Omong-omong, aku seperti mendengar suara langkah selain langkah kami dari gedung basket. Namun, tidak aku pikirkan lebih lanjut. Bisa saja itu hanya pikiranku yang lagi sensitif. Kalau saat seperti ini kan orang bisa jadi lebih parno. Dengar suara aneh sedikit langsung berpikiran negatif, padahal suara itu hanyalah imajinasi saja.
Kami langsung menaiki tangga gedung ekstrakurikuler dengan santai, seperti tidak ada yang terjadi saja. Tiba-tiba, Gibran berhenti di tengah jalan, membuat kami semua ikut berhenti juga. Detak jantungku mulai berdetak lebih cepat. Ada apa yang terjadi?
“Perasaan gue aja atau memang ada yang ngikutin kita dari tadi?” tanya Gibran dengan suara yang pelan sekali terdengar. Aku jadi merinding mendengar suaranya, seperti dalam keadaan mencekam saja. Memang cukup mencekam sih, tetapi bukan berarti harus dibuat lebih mencekam lagi, Gib!
Berarti Gibran juga menyadari kalau ada orang yang mengikuti kami. Aduh, aku jadi semakin parno kalau ada orang yang mendengarnya juga. Jangan-jangan memang ada orang yang mengikuti kami.
“Ada yang denger juga nggak?” tanya Gibran.
“Perasaan lo aja kayaknya, Gib!” sahutku dengan nada yang mengecil. padahal aku juga mendengarnya.
“Gue ngerasanya itu kayak beneran, Sam. Kalau itu Cuma perasaan, kayaknya nggak akan seyakin ini, Sam!” kata Gibran yang kukuh dengan omomngannya.
“Iya, tapi bisa kita omongin itu nanti aja di ruangan nggak, Gib? Kalau kita berada di ruang terbuka gini dan diem doang, bisa-bisa si kutukan nyamperin kita semua. Lo mau mati?” Willy berkata dengan santai sekali seolah tidak ada hal yang megancam.
“Hei! Kenapa omongan lo begitu amat, sih? Nggak bisa di-filter sedikit omongannya? Gue jadi meringin, nih!” sahut Marko.
“Udah, kita harus ke ruangan cepet-cepet sebelum hal yang Willy omongin kejadian beneran,” jawabku.