Keanehan dari Kutukan - Samuel

1247 Kata
Sepertinya aku harus segera menyelesaikan waktu sekolah dengan cepat. Aku mulai merasakan ada yang aneh dengan sekolah ini. Hal yang selama ini aku anggap tidak mungkin terjadi, justru terjadi di sekitarku. Aku tidak pernah percaya dengan yang namanya kutukan. Namun, kali ini mungkin aku harus percaya pada kutukan, walaupun sedikit.  Kutukan yang menjadi nyata di SMA Angkasa. Siapa yang percaya dengan kutukan? Memangnya manusia memiliki kekuatan super sampai bisa mewujudkan omongannya sendiri? Aku, sih, tidak percaya kalau ada manusia yang bisa berkata dan perkataannya menjadi kenyataan. Kalau berbicara negeri dongeng, hal itu mungkin bisa saja terjadi. Namun, ini dunia nyata! Awalnya aku memang tidak percaya. Namun, sekarang aku justru bingung. Masalahnya, orang yang mengutuk bukan seorang diri, melainkan berganti-gantian. Ada cowok, cewek, karyawan sekolah, bahkan guru. Tidak mungkin mereka semua memiliki kekuatan super itu, kan? Itu semua aneh sekali. Jadi, kepercayaanku mulai goyang akibat kenyataan. Sekarang, kejadian yang baru saja terjadi di depan mata tadi pagi. Ada seorang siswi yang aku temukan tewas dengan wajah terbentuk. Sialnya lagi, siswi itu adalah siswi yang dikutuk kemarin. Aku pun melihat sendiri adegan kutukan itu. Jadi, sebenarnya apa yang terjadi? Aku baru saja tiba, ketiga temanku sudah berdiri di luar mobil. Willy dengan wajahnya yang serius sedang melipat tangan di d**a, sementara Marko dan Gibran memasang wajah tidak senang. Asyik! Pasti Willy menginginkan hal yang sama denganku, dia pasti ingin membicarakan masalah tadi. “Sekarang kita harus pulang, kan?” tanya Marko dengan wajah linglungnya. Dia menatap ke arah kami. Anak itu memang tidak pernah suka jika diajak untuk hal yang menyulitkan otaknya. “Atau kita bisa melayat ke rumah Berly sekarang.” Tragedi yang baru saja terjadi pagi ini membuat seisi sekolah panik, termasuk para petinggi yayasan. Banyak siswa yang histeris setelah melihat banyak darah di TKP. Akhirnya sekolah diliburkan hari ini untuk mencegah adanya persepsi-persepsi aneh yang keluar dari mulut siswa. Yah, memang benar kalau banyak siswa SMA Angkasa yang bermulut bocor alias tidak bisa menjaga omongan. Pasti mereka akan menyebarluaskan informasi yang mereka dapat walaupun itu tidak benar. Hal itu kan bisa menyebabkan reputasi SMA Angkasa menjadi lebih buruk buruk. “Nggak, deh. Gue lebih milih tidur di rumah dari pada harus ke rumah Berly,” sahut Willy dengan tatapan setengah terpejam. Dia tidak pernah mau juga untuk berurusan dengan khalayak ramai. Willy lebih senang berurusan dengan materi dan buku dari pada orang. Gibran menatapku dengan alis yang terangkat. Dia menghela napasnya, lalu menatap kedua temanku yang lainnya satu per satu. “Mau main di rumah gue? Masih pagi banget untuk pulang. Kalian yakin nggak akan bete kalau di rumah? Gue bisa suruh Bibi buatin makanan kesukaan kalian. Mumpung masih pagi juga, pasti bahan-bahannya gampang didapet.” Tidak ada yang menjawab pertanyaan Gibran. Aku yakin Marko ingin sekali ke rumah Gibran dari pada mengusut kasus kematian Berly. Namun, aku tidak yakin kalau Willy setuju. Cowok yang satu itu terus berbicara tentang praduga-praduganya tentang masalah Berly. “Ada yang mau gue bicarain terkait pembunuhan tadi. Ada hal yang menurut gue janggal banget dan itu semuaKalian mau ikut ngomongin nggak?” tanya Willy dengan nada seriusnya. Sudah saatnya aku menyetujui ucapan Willy. Sebab hal yang terjadi hari ini dan beberapa bulan belakangan memang tidak masuk akal. Kalau memang hal mistis itu ada, sepertinya sekolah ini akan semakin kacau. “Gue juga mau kasih tau beberapa hal ke kalian. Kasus ini harus diselidiki!” sahutku menimpali. Terlihat dari raut muka Gibran yang sangat enggan menyelidiki kasus ini. Marko pun sudah beberapa kali mendengkus. Mereka berdua tidak setuju pasti. Kondisinya seimbang, aku dan Willy ingin menyelidiki, sedangkan mereka berdua tidak mau. “Apa nggak sebaiknya biarkan kasus ini diselidiki bokap lo, Sam?” tanya Marko. Benar sekali apa yang aku pikirkan. Marko tidak mau mengusut kasus Berly. Kalau dipikir-pikir, omongan Marko ada benarnya juga. Namun, aku hanya ingin mengusutnya sendiri. Hitung-hitung mengasah kemampuan otak dalam berpikir lebih tajam. “Bokap gue nggak bisa sepenuhnya menyelidiki kasus ini. Pekerjaannya nggak hanya ini, bro!” Omong-omong, ayahku bisa sepenuhnya menyelidiki kasus itu. Alasan tadi hanyalah tipuan agar Marko menurut. Kalau aku jujur, dia pasti akan sulit untuk setuju. Marko sekarang sudah diam, tidak mendengkus kembali, tetapi mulutnya terus saja dimajukan. Kalau bukan teman, aku sudah pukul dengan sendal mungkin. “Memangnya apa lagi yang harus diselidiki? Lagian siswa kayak kita mau pake cara apa? Nanti buat keadaan makin kacau kalau kita salah langkah. Kalau misalnya kita buat kacau, nanti malah kita yang ditangkap,” ucap Gibran. Yah, itu pasti alasannya saja untuk tidak memikirkan masalah ini. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, dia merasa bersalah atas kematian Berly. Kalau saja bukan dia orang yang direbutkan oleh Berly dan Siska di kantin kemarin, pasti Gibran sudah santai sekarang. Dia pasti akan ikut serta. Raut wajahnya terus tertekuk sejak aku datang ke sini tadi. Kasihan Gibran, aku harus membuatnya tenang dengan cara apa, ya? “Gib! Gue tahu lo lagi kepikiran masalah kutukan kemarin di kantin juga. Kalau emang lo merasa bersalah, ayo kita selidiki kasus ini agar nggak ada lagi kasus pembunuhan yang lain,” sahut Willy. Gibran mentap Willy dengan lesu. Dia benar-benar tertekan, irama napasnya saja tidak beraturan. Sebenarnya aku juga tidak tega melihat Gibran seperti ini, tetapi aku yakin kalau ini semua bukanlah kutukan. Pasti ada orang yang mendalangi semua ini. Kalau sampai aku mengetahui orangnya, sepuluh bogeman di wajah sepertinya cukup. Gibran menarik napas panjang. “Lo emang bisa nebak pikiran gue melulu, Wil! Oke, gue ikut, tapi gue nggak mau ikut kalau Marko juga nggak ikut.” Akhirnya Gibran setuju. Sekarang tersisa Marko yang masih menatap kosong ke arah tanah. Dia memang tidak suka berurusan dengan hal seperti ini. Bukannya dia takut, hanya saja dia enggan untuk berpikir. Menurutnya lebih enak main fisik dari pada main otak. Kalau saja dia tidak setuju, aku tidak masalah. Biarkan saja dia pulang, nanti biar kami bertiga yang membicarakan masalah itu. “Mar— “ “Marko!!!” sanggahnya keras. "Lo lupa atau emang nyari gara-gara sama gue, Sam?" “Iya, MARKO!” sahutku dengan penekanan terhadap namanya. Heran, dia selalu saja peka saat aku hanya menggunakan panggilan itu. “Lo bagaimana? Mau setia kawan atau berkhianat? Kalau setia kawan, lo harus ikut kami. Kalau nggak setia kawan, lo boleh pulang sendirian. Gampang aja, sih. Kalau besok ada apa-apa, gue males bantuin. Yang lain juga paling begitu.” Tidak, itu hanya gurauan. Mana mungkin aku menyebutnya pengkhianat lantaran dia tidak mau ikut andil. Dia juga punya hak untuk menolak, aku tidak bisa memaksanya. Tidak ada balasan dari bibir mungilnya, sedangkan matanya asik menatap kami bergantian. Helaan napas kasar dari mulut Marko keluar setelah Willy mendengkus kencang. Pancingan yang sangat akurat, Wil! Pasti Marko mengira kalau Willy menganggapnya cemen. Kalau tidak, mana mungkin dia gusar. Dia tidak suka dianggap remeh, itu kelemahannya. Setelah itu, Marko berdiri dan berjalan menjauhi kami bertiga. Tampaknya dia benar-benar enggan menghadapi kasus pembunuhan Berly. Tidak apa, aku juga hanya bergurau masalah pertemanan dengannya. Kalau dia memang tidak ingin membantu, tidak masalah, akan lebih baik juga kalau dia jujur dari pada ikut karena terpaksa. Bisa-bisa di tengah jalan dia marah-marah tidak jelas dan membuat rencana gagal. Marko berbalik menatap kami dengan alis yang bertaut. “Ayo! Kalian terlalu lamban dalam bergerak. Percuma punya badan besar! Sebenernya mau diem di sini aja atau mau ngomongin masalah tadi? Nggak usah pura-pura bodoh, deh!” kata Marko yang terus saja berjalan. “Memang kita akan ke mana?” tanya Gibran menatap ke arah aku dan Willy. “Ke mana lagi? Markas, dong!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN