“Jajan mulu pikiran lo. Temen lo mau dikubur, tuh! Bukannya unjukin rasa simpati sedikit. Lebih bagus kalau empati, Vin,” sahutku dengan rada kesal.
Walaupun perlakuan dan perkataan Berly salah, tetap saja kami harus menghormati orang yang sudah tiada. Lagi pula, seburuk-buruknya Berly memperlakukan kami berdua, dia tetap sahabat kami. Mungkin ada alasan lain dia bersikap begitu.
“Ah, lo, Jes. Terserah, deh!” Vina berjalan meninggalkanku di dapur sendirian. Dasar Vina, selalu saja marah kalau aku membela Berly.
Aku langsung menyusulnya ke depan. Vina sudah duduk di atas motor dengan helm yang terpasang di kepala. “Kita berangkat sekarang?”
“Jelas, dong! Katanya lo suruh gue kasih empati ke Berly. Sekarang giliran gue mau kasih empati, lo malah nanya seakan-akan gue bercanda. Udah ayo buruan!” kilahnya.
Tanpa banyak argumen lagi, aku langsung ikut Vina. Sudah jam sepuluh sekarang, pasti jenazah Berly sudah pulang juga. Kami harus buru-buru sampai di rumah Berly.
Vina tidak langsung ke rumah Berly. Dia mengarahkan motor ke arah sekolah. Aku bingung dengan apa yang Vina lakukan, tetapi aku tidak mau banyak berdebat. Jadi, aku ikuti saja kemauannya.
Sesampainya di depan warung Mpo Rodiyah, Vina menghentikan mesin motornya. Aku sempat heran, kenapa dia memilih berhenti di sini? Bukannya lebih baik ke dalam sekolah?
“Lo mau ngapain ke sini?” tanyaku.
Vina menunjuk gerbang sekolah. “Lo liat itu siapa?”
Aku lupa dengan namanya, tetapi aku ingat dia anak kelas sebelas di SMA Angkasa. Dari tadi ternyata Vina mengikuti dia.
“Dia ngapain ke sekolah, Vin?” tanyaku.
Vina langsung memarkirkan motornya di depan gerbang warung Mpo Rodiyah. Aku langsung mengikutinya. Tanpa aku bertanya, aku sudah tahu kalau misi kami adalah mengikutinya.
“Bentar, ini dia kenapa mencurigakan, sih?” kata Vina.
“Orang-orang pada pulang, dia malah dateng ke sekolah. Dia Kevin Pratama anak kelas sebelah bukan, sih? Yang terkenal pernah ada insiden sama Lita beberapa bulan lalu?” tanyaku pada Vina yang punya segudang informasi pastinya.
“Iya, dia yang pernah mukul Lita pakai bola kasti di lapangan. Gara-gara Lita bilang Kevin itu anak misterius doang. Masa gitu aja dia marah, ya? Apalagi diejek anak nggak bener?”
Kami terus mengikuti Kevin dari belakang. Anak itu menuju ruang ekstrakurikuler. Kami tidak mungkin mengikutinya sampai atas, pasti bisa ketahuan. Aku langsung menarik Vina mundur dan berdiri di dekat kelas sepuluh ipa dua.
“Kita ngumpet dari sini aja, Vin. Nanti kalau dia tiba-tiba balik, bisa-bisa ketauan. Terus nanti dia bisa ngejar kita. Lo mau dipukul sama cowok nggak kelas kayak dia?”
Vina langsung menggelengkan kepala dengan alis yang mengkerut. Aku yakin dia ketakutan. “Kalau di sini kita nggak bisa ngeliat apa-apa, Jes!”
Aku tidak menyahuti omongan Vina. Sebab, aku melihat Kevin yang sedang berdiri di lantai tiga, tepatnya di depan ruang ekstrakurikuler basket.
“Dia ngapain di sana, Vin?”
Awalnya Kevin mengintip-intip keadaan di dalam ruangan. Namun, setelah itu dia berjongkok. Apa dia ingin pergi secara mengendap-endap?
Aku langsung jongkok dan bersembunyi di balik tanaman-tanaman depan kelas. Vina mengikuti gerakanku juga.
“Apa kita pulang aja, Jes?” tanya Vina.
Sejujurnya aku ingin pulang, tetapi aku takut kalau ternyata bertemu Kevin di jalan keluar gerbang. Permasalahannya, kami bersembunyi di gedung sekolah, yang letaknya lebih jauh dari gerbang dari pada gedung ekstrakurikuler.
Tiba-tiba ....
“Jesika!” Vina memekik tertahan.
Kevin berlari ke arah anak tangga lantai tiga. Aku langsung menarik tangan Vina dan buru-buru lari dari persembunyian kami. Aku yakin masih sempat untuk sampai gerbang terlebih dahulu bahkan sampai di depan warung Mpo Rodiyah.
Ketika aku melewati gedung ekstrakurikuler, Vina sudah berusaha untuk berhenti. Namun, aku terus memaksanya berlari.
“Vin, gue nggak mau ketauan sama dia. Ayo buruan pergi! Dia aneh banget soalnya,” ucapku.
Akhirnya, Vina memaksakan diri untuk berlari lagi. Aku yakin dia sudah sangat kelelahan, tetapi kami harus berlari lagi.
Sesampainya di gerbang, aku sempat menengok ke belakang. Sialnya, Kevin sudah terlihat dari sini. Beruntungnya, dia berlari dengan kepala yang menoleh ke belakang.
“Vina buruan!”
“Jes, gue capek banget.”
Kami langsung bergegas menuju motor. Tidak sempat memakai helm, Vina langsung menarik gas agar melaju cepat. Tidak peduli dengan apa pun di depan, Vina menghajarnya saja.
Sudah aman sepertinya, kami sudah jauh dari sekolah. Kevin juga tidak mengejar kami.
“Jes, gue capek banget,” kata Vina sambil teriak.
“Nanti beli minum. Kita ke rumah Berly sekarang, deh!”
Saat perjalanan ke rumah Berly, ada hal yang sangat mengganggu perjalanan kami. Mungkin terkesan biasa saja bagi orang lain, tetapi sangat mengganggu bagi kami.
“Itu Loli sama Riko bukan, sih?” tanya Vina sambil menunjuk pinggiran jalan di depan sana.
Aku melihat arah tangannya. Di depan mini market, ada dua orang berbeda jenis kelamin sedang duduk di atas motor. Kami mengenal keduanya.
“Mereka ngapain berduaan, Vin? Si Riko belum balik juga dari tadi? Gue kira dia langsung balik,” sahutku.
Vina langsung berhenti di pinggir jalan dekat pohon besar. Dia langsung mengambil ponsel dan menempelkan benda pipih itu ke telinga.
“Gue nggak tau mereka ngapain, Jes. Pokoknya ini aneh. Kenapa mereka berduaan, ya? Kenapa juga Riko nggak pulang? Padahal dia bilang tadi mau buru-buru soalnya ada hal yang harus dilakuin di rumah,” jawab Vina panjang lebar.
Tidak biasanya Riko berbohong. Selalunya dia jujur pada Vina, pacar satu-satunya yang dia miliki.
“Ya mungkin itu hal yang harus dia lakuin, ketemuan sama Loli,” ucapku.
Belum sempat telepon Vina diangkat, mereka berdua langsung pergi. Sontak saja Vina langsung mematikan teleponnya dan mengejar Riko.
“Kalau nggak bisa dikejar, biarin aja, Vin!” kataku.
Vina tidak bisa mengendarai motor dengan cepat. Aku takut dia terlalu terburu-buru kemudian membuat kami berdua celaka.
“Gue harus kejar mereka, Jes. Gue nggak masalah kalau Riko mau selingkuh, tapi kenapa harus sama Loli si cewek uler, sih? Gue males banget kalau dia berdua selingkuh, pasti gue yang kena masalah nanti.”
Benar, Loli dan Vina memang tidak pernah akur. Vina tidak suka dengan sikap Loli yang pendiam dan baik hati pada orang lain. Bukan tanpa sebab Vina begitu, tetapi Vina tahu betul bagaimana sikap asli si Loli. Sampai sekarang aku juga belum tahu bagaimana sikap aslinya Loli.
Motor Riko masuk ke dalam g**g sempit yang tidak pernah aku lewati. Aku ragu kalau Vina mau masuk ke dalam sana. Namun, sepertinya Vina akan melewati itu semua.
Benar saja, Vina masuk ke dalam sana. Alih-alih mendapatkan Riko, kami justru terjebak beberapa g**g sempit lainnya di dalam sana.
“Mereka ke mana, Jes? Gue nggak liat mereka masuk g**g yang mana, nih. Kanan apa kiri?” tanya Vina yang mulai panik.
Vina ini aneh-aneh saja. Apa dia lupa kalau aku berada di belakangnya sejak tadi?
“Kalau lo aja nggak tau, gimana gue, Vin? Kalau lo nanya gue, sekarang gue nanya ke siapa? Hantu di belakang gue? Nggak bisa, Vin! Ya udah kalau emang nggak tau, kita pergi aja dari sini, yuk!” bujukku pada Vina.
Vina terdiam sambil mengetuk-ngetuk dashboard motornya. Apakah dia tetap ingin mengejar Riko walau tidak tahu tujuannya?
“Ya udah, kita ke rumah Berly sekarang.”
***
Sesampainya di rumah Berly, aku benar-benar merasakan hal aneh di sini. Biasanya banyak orang yang melayat jika ada orang meninggal. Namun, kali ini lain, tidak banyak orang yang datang melayat.
Apa mungkin karena ini kasus kutukan? Jadi, mereka tidak mau datang karena takut ketularan? Kalau memang itu alasan mereka, aku akan langsung menyembur mereka dengan kata-kata yang sangat pedas.
Namun, apa jangan-jangan karena Berly tidak disenangi oleh orang di sini? Bisa jadi juga karena itu orang-orang tidak mau datang, tapi itu sama saja mereka salah.
“Kenapa sepi begini, sih? Udah diumumin di Mushola apa belum, sih?” tanya Vina.
Itu juga yang aku pertanyakan dari tadi. “Kita langsung masuk aja ke dalem, deh.”
Ternyata eh ternyata, jenazahnya Berly belum sampai ke rumah. Aku pikir sudah datang karena sudah semakin siang. Apa selama ini memandikan jenazah di rumah sakit.
Hal yang paling mengejutkan lagi, keluarga Berly sedang merapikan barang-barangnya ke dalam tas besar. Aku dan Vina hanya bisa melotot melihat mereka.
“Om dan Tante mau pergi ke mana?” tanyaku setelah masuk ke dalam rumah.
Kedua orang tua Berly langsung panik menyembunyikan tas ke dalam kamar. Ada apa dengan mereka? Aneh sekali sikapnya.
“Kami mau pindah ke Semarang. Jenazah Berly juga mau dimakamkan di sana. Makanya di sini sepi. Kami mau ke rumah sakit sekarang,” kata ayahnya.