Kenyataan - Jesika

1225 Kata
Tidak ada yang pernah menyangka kalau ajal akan datang secepat itu. Sosok yang belum lama menghubungiku, tadi pagi sudah tergeletak dengan darah yang hampir memenuhi seluruh permukaan tubuhnya. Malamnya kami masih berhubungan lewat telepon genggam. Berly memintaku untuk menjemputnya di apotek, tetapi sekarang dia sudah tidak bisa aku hubungi. Andai saja semalam aku bisa menjemput Berly, tidak akan seperti ini akhirnya. Berly masih ada di dekatku dan kami bisa berbicara seperti biasa. Semua siswa berbicara tentang kutukan kemarin. Mereka percaya lagi kalau itu adalah bukti kutukan yang kemarin Siska lontarkan kepada Berly. Walaupun aku sedikit percaya, tetapi tetap saja aku tidak mau terlalu yakin kalau itu adalah bukti kutukan. Pasti ada seseorang di balik semua kutukan itu. Tidak mungkin kutukan saja. Omong-omong, selain sedih karena kehilangan teman dekat, aku merasakan hal yang bertolak belakang. Pagi ini Samuel terlalu ... bagaimana, ya? Aku bingung mendeskripsikannya karena takut terlalu percaya diri. Bisa saja dia hanya bersikap layaknya cowok pada umumnya, kan? Aku sudah mengganti seragam sekolah dengan pakaian serba hitam. Vina sudah menunggu di teras rumah. Aku bisa mendengar bel yang dia tekan berkali-kali dari tadi. Aku langsung menghampirinya dengan cepat. “Untung gue udah rapi. Lo cepet banget ke sininya, sih? Emangnya lo nggak mandi atau melakukan ritual lain di rumah?” tanyaku setelah melihat Vina yang duduk di atas jok motornya. Cewek itu langsung menampilkan senyum gigi kepadaku. “Mau ngapain lagi emang? Udah mandi tadi sebelum berangkat sekolah. Gue juga masih pakai make up sampai sekarang. Ritual gue, kan, hanya satu, buang air besar sambil mengkhayal bisa menikah dengan bias-ku, Kim Taehyung. Sayangnya hanya sebatas khayalan, nggak akan jadi kenyataan.” Anak ini tidak ada habisnya menggilai orang yang dia idolakan. Kalau dia tidak bercerita tentang itu, justru aku yang merasa aneh. Barang kali dia sakit? Anak itu kalau sakit senang diam tanpa banyak bicara. “Lagian lo kenapa buru-buru banget, sih? Gue baru sampai rumah itu sekitar tiga puluh menit yang lalu. Gue aja baru selesai ganti baju. Pasti juga masih lama acaranya. Kemungkinan juga agak siang makaminnya,” protesku. Yang diprotes hanya menyengir tanpa rasa bersalah. Tiba-tiba dia berdiri dan berjalan ke arahku. “Kita nyantai dulu aja kalau begitu. Gue nggak mau sendirian di rumah, Jes. Takut banget kalau ada hal aneh yang mengintai gue. Mending gue di sini aja, setidaknya kita berdua. Buat minuman sana!” Baru kali ini ada tamu yang menyuruh tuan rumah membuat minuman. Biasanya tuan rumah yang menawarkan. “Terus kita berangkatnya kapan?” “Dikit lagi setelah haus gue hilanh. Makanya ayo buruan buat minum!" Tanpa banyak bicara lagi, aku langsung membuatkan minuman untuk Vina di dapur. Dia juga ikut ke dapur, tidak mau di ruang tamu katanya. “Gue nggak ngerasa sedih banget, Jes,” kata Vina. Aku langsung menoleh menatapnya. “Kenapa begitu?” Vina mengulum senyumnya sebelum menjawab pertanyaanku. “Gue bersyukur aja kalau dia emang beneran pergi. Berly kelihatannya aja baik sama lo, tapi aslinya dia sering ngomongin lo di belakang. Dia yang bilang lo nyontek sama dia dari kelas sepuluh, terus suka nyusahin dia kalau masalah jajan, yang paling parah dia bilang kalau lo suka nyusahin dia beberapa kali.” Oke, ini benar-benar tidak masuk akal. Pertama, aku tidak pernah menyontek Berly sedikit pun, justru dia yang sering menyontek padaku. Kedua, aku tidak pernah minta uang jajan sama dia. Aku punya uang jajan sendiri, kok. Terkadang justru Berly yang meminta jajan padaku. Ketiga, aku tidak pernah meminta tolong padanya. Selama ini dia terus yang meminta tolong. Aku justru yang membantunya. “Lo tau kalau omongan itu nggak bener, kan?” tanyaku sambil memberikan segelas penuh isi es sirsak. “Gue jelas tau kalau omongan itu bohong dan membuat b***k citra seorang Jesika yang baik hati,” kata Vina. Syukurlah kalau Vina sadar omongan Berly itu bohong. “Terus kenapa dia ngomongin yang jelek tentang gue, ya? Emangnya gue pernah buat salah sama dia, Vin?” Vina mengedikkan bahunya dan menggeleng. Dia tidak tahu alasan kenapa Berly bersikap seperti itu. Apalagi aku yang tidak mendengarnya. “Bagaimana lo bisa denger semua itu, Vin? Lo denger dari mulut Berly secara langsung apa dari orang lain? Kok Berly jahat, ya?” Vina menyuruhku untuk duduk di depannya. Setelah itu, Vina baru mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan riwayat pesannya dengan Frisky di WA. Aku membacanya dengan teliti agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. “Dia ngomong ke Frisky. Si Frisky bilang ke gue tentang semua omongan Berly. Gue kaget banget waktu denger itu. Si Frisky ini cuma nanya, kenapa Berly nggak mau main sama yang lain padahal masih banyak yang nerima dia untuk jadi temannya ketimbang kita berdua. Berly bilang kalau lo nggak ngelepasin dia, lo tahan dia biar nggak main sama siapa-siapa selain lo dan gue.” Kenapa Berly jadi terlalu menjelekkan kami berdua, ya? Kalau aku yang dijelek-jelekkan, mungkin aku masih bisa terima. Aku juga memang tidak bagu-bagus banget. Namun, ini Vina, lho. “Aduh, kenapa dia jadi semakin nggak benar, ya? Bukannya justru dia yang nyusahin kita srlama ini? Emangnya siapa yang mau nulisin tugas sama laporan dia saat kerja kalau bukan kita? Lagian emangnya ada apa dengan bergaul sama kita berdua? Apa kita terlalu hina sampai diomongin begitu?” “Justru itu, Jes, gue bingung. Selama ini dia yang nyusahin, dia yang selalu minta tolong. Nanti kalau udah ditolongin, dia baik banget kayak jadi orang paling baik se-dunia, Jes! Lo inget waktu dia minta tolong kerjain tugas remidial fisika dia? Dia nggak bisa ngerjain karena mau ke daerah Mangga Dua, mau kerja buat bayar utang ayahnya. Gue sampe pusing mikirin soalnya yang susah, terus tangan keriting juga. Lo tahu? Dia lagi main sama si Fanya dan Risma di Kokas. Sumpah gue bete banget, Jes!” Aku menggelengkan kepala menjawabnya. “Kenapa lo baru cerita? Itu udah lama banget, Vin. Terus itu alasan kenapa kemarin lo pengin banget dia kerjain tugas kelompok?” “Iya jelas, itu alasannya. Gue nggak mau dia makan gaji buta.  Makanya dia mau nurut karena udah ketahuan sama gue, Jes. Lo denger desas-desus kalau dia ngomongin gue nggak?” “Nggak denger, Vin. Soalnya selama ini gue males ngobrol sama orang lain kecuali kalian berdua. Ya udah, lupain masa lalu. Anggep aja itu kesalahan yang harus dilupakan, orangnya juga udah pergi. Maafin aja, Vin.” Aku beralih mengambil tas selempang di atas meja. “Kita berangkat sekarang aja gimana? Udah semakin siang, gue takut ketinggalan.” “Ya elah, dimandiin aja belom, Jes!” sahut Vina. Benar juga, pasti belum dimandikan. Omong-omong, memangnya boleh memandikan sendiri? “Nanti jenazahnya kapan dateng? Si Riko nggak ikut, Vin?” Vina tertawa mendengar pertanyaanku. Namun, tawanya terdengar tidak menyenangkan  seperti tawa orang yang meledek sesuatu. “Riko nggak akan mau ikut kalau untuk Berly. Dia benci banget sama Berly, kan. Makanya nggak perlu gue ajak. Tadi aja dia bilang seneng banget kalau Berly udah menghilang.” Riko memang tidak pernah suka dengan Berly. Semenjak kejadian Berly yang mengkritik kinerja OSIS tidak becus, Riko jadi marah sampai sekarang. Seharusnya Riko tidak boleh marah dengan Berly karena itu kritikan. “Udah jangan omongin orang yang udah nggak ada, Vin. Kita jahat banget kayaknya kalau sampai ngomongin keburukan dia. Mending sekarang kita coba muter-muter ke mana dulu gitu sebelum dateng ke rumah Berly.” Vina langsung semringah mendengarnya. “Kayaknya gue punya ide. Kalau kita jajan dulu gimana? Gue pengin banget makan burger.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN