“Keluarga Berly nggak mau anaknya diautopsi? Kenapa mereka nggak mau, sih? Bukannya itu penting untuk kepolisian, ya?” tanya Vina.
“Gue nggak ngerti apa-apa, Vin. Mending lu tanya sama orang di samping Jesika! Yang lagi megangin tangannya kenceng banget,” kata Marko.
Marko menyindirku? Masa bodoh, yang penting Jesika aman di sampingku. Paling dia hanya iri melihat kemesraan kami. Kalau tidak, mana mungkin dia sampai menyindirku begitu. Marko, kan, anak yang maunya punya pacar, bukan jomlo.
“Autopsi itu dilakan sama dokter, bukan sama polisi. Yang bedah itu ya dokter-dokter ahli dari tim forensik kayaknya. Kalau sepengetahuan gue begitu, sih,” sahutku.
“Autopsi itu penting untuk liat penyebab kematian orang. Bisa aja si Berly itu habis makan sesuatu, terus wajahnya meledak gitu? Jadi mati, kan?” timpal Willy.
Sudah aku katakan kalau Willy itu terlalu blak-blakan. Aku sudah tidak heran dengan cara berbicaranya.
“Bisa aja si Berly makan buah beracun gitu ya, Wil?” timpal Gibran dengan semangat. “Jadi, ya bukan dibunuh, kan? Kenapa orang tuanya nggak mau, sih? Jadi lebih spesifik informasinya, kan?”
“Ya ada beberapa orang yang nggak mau kalau keluarganya diautopsi, kan? Mayatnya nanti dibedah gitu dan nggak langsung dikubur hari ini. Mungkin mereka juga udah nggak peduli sama penyebab kematian anaknya. Lebih baik kubur si Berly hari ini mungkin menurut mereka,” sahut Willy.
Aku tidak mengerti apa itu autopsi lebih lanjut. Jadi, lebih baik aku diam dari pada memperkeruh suasana dengan jawaban yang tidak benar. Lebih baik diam dari pada berbicara tanpa ilmu, kan?
“Lo mau langsung pulang, Jes?” kataku sedikit berbisik.
Jesika menoleh dan tersenyum. “Iya langsung pulang, Sam. Soalnya nanti mau langsung balik lagi ke rumah Berly.” Jesika menoleh ke Vina. “Lo hadir ke acara pemakaman Berly, kan?”
Vina mengangguk menanggapi pertanyaan Jesika. “Gue pulang dulu mau ganti pakaian. Nanti ketemuan di rumah Berly aja atau mau gue jemput?”
“Jemput di rumah gue aja, ya? Motor kayaknya dipake, nggak ada kendaraan,” jawab Jesika.
Vina membalas, “Kalian semua mau ikut ke pemakaman Berly atau mau langsung pulang aja? Kalau emang mau ikut, kenapa kita nggak bareng-bareng aja?”
Aku menatap ketiga teman yang lain. Semuanya tidak ada raut muka ingin ikut. Aku yakin banget kalau mereka tidak akan mau, apalagi Marko. Kalau Gibran sepertinya tidak akan mau juga. Dia mau mengantar Berly kemarin karena dia merasa tidak enak saja dengan cewek itu yang dikutuk.
“Kayaknya gue nggak bisa ikut, deh. Mungkin kalian kalau mau ikut, nggak masalah,” kata Willy.
Sudah aku duga akan seperti itu jawabannya. Kalau tidak ucapan penolakan, mungkin alasan yang diada-adakan. Bukan karena kami tidak mau melayat, tetapi memang kami para manusia dari kelompok yang pemalas untuk ikut acara keagamaan.
“Ya udah, gue pulang duluan,” ucap Jesika sambil melepaskan genggaman tanganku.
Aku langsung menahannya. Jesika mukanya kaget banget melihatku yang menahan tangannya. Aku hanya menyengir dan menjawabnya. “Pulang sama gue aja gimana? Gue anterin sampai depan rumah lagi kayak kemarin. Hari ini gue bawa motor, Jes. Kita nggak jalan kaki lagi.”
Pipi Jesika memerah seperti tomat. “Nggak masalah kalau anterin gue sampai rumah?”
“Aduh, yang pengin pacaran kenapa harus pamer-pamer, sih? Kenapa nggak langsung pergi aja?” protes Marko.
Rasakan itu Marko! Kali ini biarkan aku yang pamer. Dia tidak boleh senang jika aku senang. Aku merasa menjadi manusia tidak baik sekarang. Maafkan aku, Marko.
“Nggak masalah. Ayo kita jalan, Jes. Di sini ada orang iri sama kita,” ucapku.
Aku dan Jesika meninggalkan mereka semua. Kami langsung menuju parkiran motor. Omong-omong, aku jadi semakin punya banyak waktu dengan Jesika.
“Lo tadi pagi kenapa bisa berangkat pagi banget, Sam?” tanya Jesika sesampainya di parkiran.
“Nggak tau, Jes. Gue semalem nggak bisa tidur. Terus gue langsung berangkat aja pagi-pagi banget dari pada ngantuk di rumah,” jawabku.
“Helm untuk gue ada, kan?” kata Jesika.
Tenang saja, aku sudah menyiapkan untuknya. Hari ini memang niat untuk mengantar Jesika pulang lagi walaupun tidak ada tragedi mayat Berly. Mulai hari ini juga, aku akan mulai mendekatinya.
Doakan aku!
“Ada, dong.” Aku membuka jok motor dan memgeluarkan satu buah pelindung kepala untuk Jesika. Tidak perlu memberikan benda itu kepada Jesika, aku langsung saja memasangkan di kepalanya.
Saat pandangan mata kami bertemu, lagi-lagi jantungnya berpacu semakin cepat. Padahal tadi tidak secepat ini. Ada apa dengan jantungku, sih?
“Emang ada helm di bawah situ atau hari ini sengaja lo bawa?” tanya Jesika.
Aduh, mengapa Jesika jadi bertanya hal seperti itu, sih? Apa dia tidak tahu kalau aku sedang gugup?
“Sebenernya emang nggak biasa bawa helm dua. Kalau Marko atau Gibran atau Willy mau nebeng, mereka biasanya nggak pakai helm. Berhubung yang mau gue bawa kali ini Jesika, jadi, gue bawa helm dua.”
“Jadi berhubung itu gue, lo bawa lebih? Emangnya ada apa dengan gue?”
Sial, Jesika ternyata lebih bawel dari yang aku duga. Aduh! Tidak bisa dibiarkan kalau seperti ini.
“Nggak ada apa-apa sama Jesika. Lo perempuan, jadi harus dijaga agar selamat sampai tujuan,” jawabku dengan nada pelan. “Ayo pulang! Jangan terlalu ngobrol di parkiran yang sepi ini. Gue takut kalau ada apa-apa, Jes.”
Kami berdua langsung keluar dari lingkungan sekolag. Di depan gerbang, masih ada mobil Marko ternyata. Aku sempatkan diri untuk ke sampingnya. “Kalian mah nunggu di sini? Kenapa nggak langsung balik?”
“Bosen di rumah sendirian. Hari ini gue ikut ke mana kalian pergi, deh,” sahut Willy.
Aku langsung meninggalkan mereka di sana. Jawaban Willy sudah mencakup semua rasa penasaranku.
Di perjalanan, aku tidak dipeluk oleh Jesika. Ada apa dengan Jesika, sih? Apa dia tidak takut jatuh?
“Kok nggak peluk gue, Jes?” Aku bertanya sambil teriak.
“Untuk apa?” tanya Jesika.
“Lo nggak takut jatuh?”
“Nggak akan jatuh. Lo pasti bawa motornya aman, kan?”
“Tetep aja lo nggak takut jatuh kalau gue bawa motor ngebut?”
“Ya udah gue peluk!”
Senang sekali rasanya mendapatkan momen ini dengan Jesika. Setidaknya, ada pengalaman yang indah di masa sekolah. Aku jadi bisa menceritakan kisah ini pada anakku dan Jesika kelak.
Sekarang aku berkhayal saja akan menikah dengan Jesika. Nanti aku akan punya anak, deh.
Sesampainya di depan rumah Jesika, aku kembali melepas helm yang dia pakai. “Lo hati-hati, ya? Jangan sampai kenapa-kenapa di pemakaman!”
“Kenapa-kenapa yang kamu maksud itu gimana? Gue nggak ngerti, Sam.”
“Hati-hati aja pokoknya. Jangan lupa telepon gue kalau ada masalah. Oh bukan, telepon gue setiap lo pindah tempat, ya? Jangan telepon, chat aja biar nggak terlalu merepotkan.”
Jesika tersenyum. “Iya, nanti gue chat kalau pindah tempat. Sana pergi!”
“Kok ngusir?”
“Temen lo lagi nungguin di sekolah tadi. Emangnya nggak mau nyamperin mereka?”
Benar juga Jesika.
“Gue pulang, ya? Dah, Jes!”
“Dah, Sam!”