Pasca Tragedi (3) - Samuel

1102 Kata
Oke, satu lagi yang tidak masuk akal, orang tua Berly tidak mau anaknya diautopsi. Apa maksudnya mereka? Jadi, Berly akan dikubur begitu saja? Astaga, ini adalah hal terkonyol. Bukan karena autopsi itu penting, tetapi apa mereka tidak ingin mencari informasi lebih lanjut? Ah sudah lah, aku malas memikirkannya. Biar saja mereka berduka dengan cara masing-masing. Mereka sudah lebih dewasa, seharusnya tahu apa yang terbaik untuk keluarganya. Jesika mulai berdiri dari duduknya. Dia mengucapkan beberapa kata yang tidak aku dengar, sedikit berbisik kepada orang tua Berly soalnya. Lalu, dia berjalan menghampiri aku dan Fajar. “Ayo kita keluar, Jar, Sam! Suasana di sini kayaknya mulai nggak kondusif untuk kita,” kata Jesika dengan santainya. Aduh, kenapa cewek manis ini membuatku iri saja, sih? Mengapa dia menyebutkan nama Fajar terlebih dahulu sebelum namaku? Aku, kan, jadi overthinking. Namun, memang  benar kalau keadaan di sini sudah semakin tidak enak untuk anak seusia kami. Sudah pembicaraan orang dewasa. Lebih baik kami pergi dari sini secepar mungkin. Aku langsung menggandeng lengan Jesika untuk segera pergi dari ruangan. Fajar pun mengikuti dari belakang. Masa bodoh dengan Ayah yang menatapku dengan heran, biarkan saja dia. Sesampainya di luar, aku sudah tidak punya alasan lain untuk tidak terkejut. Mulutku menganga dan mata yang terbelalak, pasti semuanya tidak enak dilihat. “Apa-apaan, nih? Kenapa sekolah jadi kosong begini? Perasaan tadi masih kayak pasar, kenapa jadi kayak rumah sakit yang ditinggal semua pasiennya?” protesku setelah melihat lingkungan sekolah sepi bersih tak bersisa oleh siswa. Ke mana perginya semua orang? “Kayaknya mereka semua udah pada pulang, deh,” timpal Fajar. Aku menoleh ke belakang dan membalas ucapan Fajar. “Terus tas kita nggak ada yang jagain gitu?” Jesika langsung tertawa kecil mendengar ucapanku. Dia menyenggol bahuku dan menjawab pertanyaan. “Sobat lo kayaknya nggak akan ninggalin begitu aja, sih. Mending kita ke sana sekarang.” Tanpa banyak kata, aku langsung menggandeng tangan Jesika lagi ke arah lapangan tempat kami duduk tadi. Fajar sudah teriak meminta aku melepaskan tangan Jesika. Memangnya aku salah memegang tangannya? Aku hanya menjaga Jesika agar tidak kenapa-kenapa, mengapa jadi dia yang sewot, ya? “Kayaknya dugaan kita tadi bener, Jar!” ucap Jesika. Aku menoleh ke arah Jesika. “Dugaan yang pelaku pembunuhan itu datengnya udah lama, ya? Yang kalian bilang bercak darah mengering dan badannya kaku banget?” “Iya, Sam. Gue beneran ngeliat itu badan udah putih membiru banget. Makanya gue bisa putusin kalau pelaku itu udah lama banget ninggalin mayat Berly di sana. Mungkin hampir semalaman, deh.” Jesika menjawab pertanyaanku sambil berjalan. Sesuai dugaanku di depan Pak Praja tadi, mayat tadi pasti sudah ditinggalkan oleh pembunuh sejak malam hari. Astaga Samuel! Aku ini sebenarnya orang pintar dan jenius, hanya malas mikir dan enggan peduli dengan keadaan. Jadi sombong begini, haha. “Iya darah di tanah juga udah kering, Jes. Lo lihat tadi darahnya hampir pudar, kan? Cuma darah di tubuh Berly doang yang masih keliatan banget merahnya,” timpal Fajar. Aku langsung menghentikan langkah. Hal yang membuat Jesika terpekik karena kaget dan membuat Fajar bingung. “Tunggu sebentar! Kalau kalian udah mikir mayat itu ditinggal lama, kenapa kalian masih mikir gue pembunuhnya?” tanyaku dengan sewot. Aku jadi teringat pagi tadi. Fajar, kan, terlalu semangat menuduhku sebagai pembunuhnya. Mengapa sekarag dia jadi peduli sangat dengan omongan Jesika? Hal yang aneh bagiku. “Yah, siapa tau lo lagi menyamar. Semalem lo yang ninggalin mayat itu, terus pagi ini lo yang nemuin seolah-olah kaget terus lapor polisi. Jadi semacam lo lempar batu aje, terus nggak mau ngaku. Siapa yang bisa tau kalau lo begitu?” tanya Fajar. Ucapan Fajar sudah mulai tidak masuk akal. Bagaimana mungkin dia bisa memikirkan hal itu? Aku mendengkus dan menjawah pertanyaannya dengan sewot. “Kalau gue pembunuhnya, lebih baik gue dateng terlalu siang. Sampai di sekolah udah ramai dan gue nggak perlu repot ngotorin tangan di TKP tadi, Jar. Lo bener-bener nuduh gue sebagai pembunuhnya, ya? Bukti apa lagi yang harus gue kasih biar lo percaya?” “Udah lah, Sam. Gue udah nggak nuduh lo lagi. Tadi pagi itu pikiran gue aja. Gue juga panik ngeliat mayat dengan darah begitu merahnya. Makanya gue nggak bisa berpikir jernih,” kata Fajar. Kalau begitu bilang saja dia tidak bisa berpikir jernih atau setidaknya ucapkan kata maaf. Ini dia justru mengutarakan dugaannya yang makin tidak masuk akal. “Masalah tuduh-menuduh udah selesai tadi pagi. Gue juga udah larang Fajar untuk nggak marah lantaran yakin kalau lo bukan pembunuhnya. Masalah tadi pagi bener-bener salah kita yang sok pinter aja, sih. Harusnya tadi kita nggak boleh tuduh-tuduhan, gue juga ikut-ikutan. Gue minta maaf, Sam,” ucap Jesika dengan nada lembut. Ya Tuhan, aku jadi semakin takjub pada cewek ini. Mengapa dia begitu lembut dalam bertutur kata? Kalau tahu dia sebaik ini, mungkin aku akan melepaskan diri dari kemarin dari ketalutan diri. “Iya, gue juga minta maaf udah buat kalian mikir yang bukan-bukan. Sekarang kita ke tempat tadi aja, deh. Kayaknya udah makin nggak enak diri di lorong sekolah yang semalem dijadiin tempat pembunuhan,” ucapku. Fajar dan Jesika sedikit tertawa mendengar ucapanku. Kami langsung berjalan cepat menuju tempat tadi. Tidak ada obrolan lagi, hanya derap langkah kaki yang menemani perjalanan kami. Sesampainya di tempat tadi, semuanya masih utuh, bahkan masih ada Riko juga di sana. Sepertinya aku memiliki teman yang kelewat setia. Mereka mau menungguku di sini untuk waktu yang lama. “Widih! Teman-temanku terlalu baik apa emang setia kawan, nih? Kenapa belum pulang kayak yang lain?” tanyaku setelah mendekati mereka. Marko dengan wajah yang menyinyir langsung melemparku dengan batu kecil. Sepertinya dia yang paling marah kali ini. Wajar saja, Marko tidak suka kesepian, dia lebih suka suasana ramai. “Lo lama banget di sana, Sam. Kalau gue bukan temen lo, mungkin udah pergi dari tadi. Udah ayo kita pulang! Gue males banget duduk di lapangan kayak gini,” ucapnya. Senuanya berdiri dan menyampirkan tas masing-masing. Setelah itu, kami pun berjalan ke arah gerbang yang sialnya semakin ditutup rapat. Aku harus melakukan protes pada Pak Praja besok untuk memecat satpam malas itu. Biarkan saja dia digantikan oleh satpam lain yang lebih bagus. “Kalian lama banget di dalam ruangan. Ada apa emangnya? Apa yang kalian omongin, sih?” tanya Vina dengan raut muka penasaran. Gibran menimpali dengan berkata. “Kalian nggak disuruh ke kantor polisi untuk jadi saksi mata, kan? Apa jangan-jangan kalian mau ke kantor polisi sekarang? Perlu gue temenin nggak, Men?” Jesika langsung menjawab pertanyaan Vina dan Gibran tanpa pikir panjang. “Nggak disuruh apa-apa. Mereka hanya mau ngobrol sama seleb saksi kayak kami bertiga. Yang lamanya itu adegan penolakan keluarga Berly yang nggak mau anaknya diautopsi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN