Jalan Bareng - Samuel

2100 Kata
"Karena lo mau deketin dia, tapi lo nggak berani! Dasar payah! Itu udah gue bantu untuk deketin, sisanya lo yang ngatur! Awas aja sampai besok lo cerita kalau gagal deketin dia dari IG, gue tendang b****g lo dari mobil!” Oke, itu adalah ucapan Willy yang terkesan menyeramkan. Walaupun dia suka berbicara pedas, tetapi kali ini lebih pedas dari biasanya. Bukan karena dia yang ingin menendang aku ke luar dari mobil, melainkan ucapannya yang mengandaikan aku gagal dalam mendekati Jesika. Seharusnya dia ingat kalau omongan adalah doa, mengapa dia justru mengatakan aku gagal? Itu sungguh keterlaluan. "Enak aja lo ngomong begitu. Harusnya lo dukung gue biar lebih deket sama Jesika. Kasih tau apa yang Jesika suka, dong! Lo bukannya satu frekuensi sama dia?" tanyaku dengan nada sewot. Aku melihat Marko yang sedang tertawa di belakang setir mobil. Rupanya dia sedang bahagia karena aku kesulitan. Enaknya jadi Marko, bisa mendapatkan perempuan dengan mudah. Andai saja aku berani mendekati Jesika dari dulu. "Sefrekuensi gimana? Gue aja beda kelamin sama dia. Apa yang lo maksud sefrekuensi? Terus hubungannya dengan gue yang tau kesukaan dia itu apa?" Willy bertanya balik kepadaku. Posisinya yang berada di bangku tengah membuatku tidak bisa mengetahui apa yang dia lakukan. Namun, aku bisa memastikan kalau Willy sedang mendengkus. "Ya kalian berdua hobi baca buku, terus kalian juga hobi untuk lomba nggak ngomong sama orang lain. Kalau gue liat-liat kalian sefrekuensi, sih. Iya, kan, Ko?" "Betul!" sahut Marko dengan percaya diri. Dia mulai menyalakan mesin mobil agar kami cepat pergi dari sekolah yang menyebalkan ini. "Mungkin Samuel mau tau apa yang orang-orang seperti kalian sukain, Wil. Kayak lo yang suka ke perpustakaan, begitu. "Bener banget, Ko. Lo emang sohib gue banget, deh. Nggak kayak si Willy yang doain gue gagal deketin Jesika terus," sahutku. "Kenapa jadi gue yang diserang? Gue udah bantuin tadi, apa lagi yang harus gue bantuin? Lagian gue nggak tau dia sukanya apa. Makanya gue suruh lo deketin dia lewat i********:! Lo bisa nanya ke Jesika apa yang dia suka." "Iya terus terang aja gue bingung untuk mulainya. Lo tau, kan, kalau gue itu nggak pernah ngobrol sama perempuan selain obrolan yang bukan pacaran," jawabku. Memang benar kalau aku tidak pernah berbicara dengan perempuan dengan topik yang lebih dalam seperti orang pacaran. Selama ini aku hanya berbicara dengan topik sekolah, tugas, main, jalan-jalan, dan yang lainnya. "Nggak usah banyak omong, Sam! Orangnya ada di depan, lagi jalan sendirian," kata Marko. Aku melihat Jesika yang sedang berjalan sendirian. Dia berjalan terburu-buru dengan langkah yang dipercepat. Ada apa dengannya? Mengapa dia berjalan kaki? Tidak seperti biasanya saja. Jesika biasanya pulang naik motor yang dijemput sama ojeknya. "Dia kenapa pulang jalan kaki, ya?" tanyaku pada Willy dan Marko. "Ngapain lo nanya ke kita? Mending lo samperin dia, terus nanya sama dia! Kenapa lo malah jalan kaki, Jes? Ada masalah apa? Sini ikut aja sama Abang Samuel!" kata Marko yang diikuti dengan tawanya. Astaga, kata-kata itu tidak akan pernah keluar dari mulutku. Aku tidak mungkin mengucapkan hal yang selebay itu, paling-paling hanya bertanya saja. Lagi pula, apa yang dia harapkan dari sekedar bertanya dengan iringan kata-kata manis? “Mending lo ikut dia aja, Sam!” sahut Willy yang menepuk pundakku. Apa yang mereka inginkan sebenarnya? Mereka benar-benar ingin aku keluar dari mobil ini rupanya? Dasar teman tidak setia kawan, seenaknya saja mengusir aku dari mobil saat masih di sekitar sekolah. Aku jadi malas sekarang. Aku tatap saja mereka dengan tajam. “Kalau lo berdua mau ngusir gue dari mobil bilang aja! Nggak usah nyindir secara halus. Lagian lo berdua ada masalah apa, sih? Gue nggak buat salah kayaknya dari tadi.” Willy langsung menoyor kepala aku. Apa maksudnya dia menoyorku? Sepertinya aku sudah sangat jujur untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Mengapa dia terus saja menyalahkan aku? “Lo kenapa, sih, Wil? Ngajak ribut aja dari tadi. Ada masalah apa?” tanyaku agak sedikit nyolot dan mata yang melotot. Yang aku pelototi justru hanya tersenyum miring. Astaga, Willy! Aku ingin sekali menonjoknya saat ini. Apakah dia tidak tahu kalau aku sedang kesal dengannya? Jangan-jangan dia memang sedang memancingku untuk marah? Kemudian, Marko justru menghentikan mobil di depan warung Mpo Rodiyah. Dia membuka kunci pintu mobil di sebelahku. Setelah bunyi kunci pintu terangkat, aku langsung menoleh ke arahnya dengan wajah yang ditekuk. “Sekarang lo juga jadi setuju sama Willy untuk ngusir gue, nih?” tanyaku dengan nada emosi. Marko tidak langsung menjawab pertanyaanku. Dia menatap Willy sekilas, kemudian mereka saling memberikan isyarat. Marko langsung menatapku dengan wajah penuh keseriusan. Apa yang mereka rencanakan? Sepertinya tidak ada habisnya saja mereka ini. “Sekarang lo temuin Jesika! Kalau dia emang mau pulang jalan kaki, lo ikutin dia dan temenin sampe rumah! Nanti kita jemput kalau lo udah sampai rumah Jesika, biar nggak jalan kaki pulangnya. Paham apa yang kita berdua maksud sekarang? Lo manfaatin itu sebagai ajang pendekatan, Sam! Lo paham maksud gue, kan?” tanya Marko. Jadi, itu yang mereka berdua rencanakan. Astaga, aku tidak berpikir sama sekali tentang hal itu. Aku hanya berpikir mereka ingin mengusirku saja. Dasar Samuel yag tidak memiliki pikiran! Aku hanya memikirkan hal buruk saja tadi. Aku langsung tersenyum kecut kepada dua orang di dekatku. Marko membalasnya dengan gelengan kepala, sedangkan Willy menjawabnya dengan bola mata yang memutar. Kalau aku tahu mereka memiliki niat baik, aku sudah pasti menurutinya, kok. Mereka saja yang terlalu lamban menjelaskan. “Makanya jangan buruk sangka sama temen dulu! Lo dikasih kesempatan bagus malah nolak. Udah mending lo ke sana, Sam! Jangan lama-lama mikirnya! Jesika keburu ilang, tuh!” kata Willy. Aku langsung membuka pintu mobil dan keluar dari dalam sana. “Terima kasih banyak teman-temanku yang baik hati. Kalian bail banget, gue jadi makin sayang. Nanti jangan lupa jemput, ya!” Setelah itu, aku langsung berlari menghampiri Jesika. Tentu saja tidak langsung menyusulnya, aku mengikuti Jesika dari belakang. Aku tidak tahu di mana rumah Jesika, padahal sudah tiga tahun satu sekolah. Jadi, aku ingin mengikuti arahnya dulu. Jesika berjalan ke arah g**g kecil yang menuju belakang sekolah. Apa Jesika rumahnya ke arah sana? Aku pikir di belakang sekolah tidak ada perumahan. Omong-omong, Jesika tidak mengangkat wajahnya sama sekali. Apa yang terjadi padanya? Malah langkahnya terlalu terburu-buru. Aku sepertinya harus memanggil Jesika. “Jes!” Tidak disangka kalau Jesika justru akan berlari ketakutan. Apa yang dia pikirkan? Apa jangan-jangan dia tidak mengenal suaraku? Wajar saja sih, dia tidak pernah berbicara denganku untuk waktu yang lama. “Jesika tungguin, dong!” Setelah aku berkata seperti itu, Jesika akhirnya menghentikan langkahnya. Dia berbalik untuk menatapku. Embusan napas kasar terlihat sekali dari jarak aku dan Jesika yang kurang lebih sepuluh meter. Kemudian, aku tertawa melihatnya yang sedang ngos-ngos-an. Apa yang terjadi pada Jesika? Aneh sekali dia. Aku langsung berjalan ke arahnya sambil tertawa. Dia terlihat berkeringat. Pasti akibat terlalu terburu-buru tadi. “Lo kenapa lari-lari kayak tadi? Lagi buru-buru mau pulang, ya?” tanyaku setelah berdiri di hadapannya. Jesika tersenyum kecut kepadaku. “Gue nggak lagi buru-buru, kok. Cuma lagi pengin jalan cepet aja biar cepet sampe rumah. Jadi tadi agak lari gitu. Lo kenapa lewat sini? Gue kira lo bareng Marko dan yang lainnya.” Aku mengangguk mengerti ucapannya. “Jadi tadi lagi buru-buru aja? Kok waktu gue panggil malah makin cepet larinya? Yakin nggak lagi kenapa-kenapa?” Aku yakin Jesika sedang ketakutan jalan sendirian. Ketakutan Jesika juga sudah bisa dipastikan dari sumber kutukan itu. Jelas saja, siapa yang tidak takut? Semua murid tadi sudah pada pulang semenjak bel berbunyi. Apa lagi sekarang Jesika berjalan sendirian, dia pasti sangat ketakutan. “Sebenernya ... sebenernya gue agak takut sama kutukan itu, Sam. Makanya gue tadi jalannya buru-buru. Ya sekedar menghindari aja, sih. Siapa tau ....” Jesika menatapku dengan senyum yang agak dipaksa. “Siapa tau kalau kutukan itu terjadi sama kamu? Ya nggak lah, kan bukan kamu yang dikutuk. Ya udah gue temenin aja pulangnya gimana?” tanyaku. Akhirnya aku ada kesempatan untuk jalan bersama dengan cewek manis alias Jesika. Saat pulang dan bertemu Willy dan Marko nanti, aku akan mengucapkan banyak terima kasih pada mereka. Kalau mereka tidak mengusirku tadi, mungkin saja aku tidak mendapatkan kesempatan ini. “Temenin? Emangnya rumah lo di mana, Sam? Bukannya nggak biasa lewat sini?” tanya Jesika dengan muka herannya. Aduh, aku harus kasih alasan apa, nih? Kalau aku kasih jawaban yang sesungguhnya aku mau mendekati dia, memangnya Jesika tetap mau menerima? Kalau nanti dia marah bagaimana? “Nggak lewat, sih. Rumah gue agak jauh dari sekolah, tapi kalau untuk nganter nggak apa-apa santai aja. Lagi pula lo sendirian jalan kaki di saat kondisi nyeremin begini. Mau jalan sendirian apa gue temenin jadinya?” Jesika menatapku penuh dengan selidik. Dahinya yang mengernyit membuatku sadar, sepertinya Jesika belum percaya padaku. “Ayo jalan! Kelamaan di sini nanti kita malah kesorean, Jes!” Aku menarik lengan Jesika. Kami berjalan menyusuri g**g sempit di samping sekolah. Omong-omong, aku belum pernah lewat sini selama sekolah, mungkin karena selalu menggunakan kendaraan. “Jalan ini nanti keluarnya di mana, Jes?” tanyaku sambil membuka pembicaraan. Akan lebih menyenangkan jika kami berbicara, bukan? Kalau kami terus diam-diam saja sampai rumah Jesika, kemungkinan acara pendekatanku kali ini akan gagal. Hal lebih buruk yang akan terjadi nanti adalah Willy yang siap menendang bokongku. Astaga, aku tidak akan rela ditendang olehnya. “Jalan ini nanti keluarnya di jalan besar yang biasa kita lewatin saat mau ke Staxo. Lo nggak pernah lewat sini, ya? Wajar aja, jalanan ini emang jarang dilewatin sama anak-anak Angkasa. Kalau gue dan Berly sering lewat sini, biar cepet sampai rumah dan sekolah soalnya kayak motong jalan,” jawab Jesika yang menjelaskan semuanya. Aku kira Jesika hanya akan mengucapkan satu atau dua kata saja. Dilihat dari kepribadiannya di sekolah yang jarang berbicara, aku pikir dia mirip Willy yang jarang bicara. Ternyata Jesika mampu mengucapkan lebih dari lima belas kata sekaligus. Dia juga bertanya padaku, komunikasi kami jadi dua arah, deh—aku dan Jesika salin bertanya. “Oh, ini ke jalan yang itu. Gue kira ini jalan buntu. Lo sering lewat sini kalau pulang sekolah, Jes? Sering pulang bareng Berly, dong? Kalau gue jarang lewat sini soalnya bareng sama yang lain terus. Kami lewat jalan besar jadinya,” sahutku. Jesika menggelengkan kepalanya. Apa maksud dia menggeleng? Kemudian dia melanjutkan penjelasannya. “Gue lewat sini kalau jalan kaki doang. Gue, kan, kebiasaan naik ojek jadi jarang lewat sini. Biasanya yang lewat sini itu Berly. Dia setiap jalan kaki lewat sini.” “Lhi Berly kalau jalan kaki lewat sini? Berarti dia pernah nggak jalan kaki?” Sebenarnya pertanyaanku sudah di luar batas pendekatan. Seharusnya aku membicarakan hal tentang kami berdua saja. Mengapa aku jadi bertanya tentang Berly, ya? Sudahlah, aku bicara saja yang penting ada obrolan. “Dia biasanya nebeng sama Vina kalau lagi nggak kerja. Cuma dia kerja sampe malem, terus pulangnya lewat sini nanti,” jawabnya. Apa benar Berly lewat jalan sini kalau pulang malam hari? Suasana di sore hari saja sudah sangat sepi, apa lagi kalau malam hari? Sepertinya bukan tidak mungkin dia hanya mendengar suara kodok dan jangkrik. “Ya ampun, dia jalan kaki lewat tempat sepi seperti ini malam-malam? Kalau gue, sih, mending naik ojek aja dari pada nyari mati.” Jawabanku sukses membuat Jesika tertawa. Apa yang lucu dari jawabanku? Sepertinya semua jawabanku tadi normal-normal saja. Aku menoleh dan bertanya kepadanya. “Kenapa ketawa, Jes?” “Nggak kenapa-kenapa, Sam. Heran aja kenapa si Berly nggak gitu, ya? Gue juga kalau jadi dia mending naik ojek. Mungkin karena desakan ekonomi juga yang buat dia nggak rela uangnya habis buat bayar ojek,” jawab Jesika. Desakan ekonomi? Memangnya Berly ada permasalahan ekonomi? Sependengaranku sepertinya Berly tidak memiliki masalah ekonomi. Dia sering mengumbar-umbar kalau dirinya kaya bahkan. “Memangnya ekonomi Berly kenapa? Bukannya ayah Berly itu pengusaha toko klontong?” tanyaku. Jesika menolehkan kepalanya dan menatapku dengan mulut yang menganga. “Pengusaha toko klontong? Ayahnya itu pengangguran kelas berat. Sudah sejak dia SMP nggak kerja. Makan keluarga aja dari sumbangan-sumbangan doang. Kalau ayahnya pengusaha kenapa Berly jadi pekerja di apotik? Lagian siapa yang bilang kalau ayah Berly itu pengusaha, sih?” Dari cara berbicara Jesika, sepertinya dia marah. Apa yang salah? Aku hanya menyampaikan obrolan-obrolan yang ada di sekolah, tidak ada yang aku buat-buat. Lagi pula, mengapa dia marahnya padaku? Aku saja malas untuk membicarakan Berly. Cewek itu menurutku aneh, aku malas berhubungan dengannya. “Oh, jadi selama ini rumor itu bohongan? Gue kira beneran kalau ayah Berly itu pengusaha klontong. Gue nggak tau yang mulai rumor itu siapa, tapi kata Marko justru si Berly sendiri yang bilang. Dia yang bilang ke beberapa anak di SMA Angkasa kalau ayahnya itu pengusaha. Ada beberapa yang nggak percaya sih, seperti Siska dan kawan-kawannya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN