“Oh, jadi selama ini rumor itu bohongan? Gue kira beneran kalau ayah Berly itu pengusaha klontong. Gue nggak tau yang mulai rumor itu siapa, tapi kata Marko justru si Berly sendiri yang bilang. Dia yang bilang ke beberapa anak di SMA Angkasa kalau ayahnya itu pengusaha. Ada beberapa yang nggak percaya sih, seperti Siska dan kawan-kawannya.”
“Berly yang ngomong sendiri kalau ayahnya pengusaha? Kenapa dia bohong sama orang lain, ya? Gue tau banget kalau ayahnya itu pengangguran bahkan sekarang yang biayain hidup mereka ya si Berly doang, Sam. Lo bayangin aja anak seusia dia harus kerja banting tulang buat keluarga. Kalau gue jadi Berly, mungkin gue akan tendang ayahnya dari rumah. Bisanya cuma main gaple doang malem-malem,” sahut Jesika.
Astaga, jadi sepelik itu permasalahan keluarga Berly? Pantas saja dia menggunakan warna cerah di bagian kantung mata. Pasti Berly menutupi kantung matanya yang menghitam. “Abaikan masalah Berly, deh. Jadi, rumah lo di mana, Jes?”
“Rumah gue di Perumahan Nusa II. Kalau dari sini lebih dekat, kan? Kalau rumah lo di mana, Sam?” tanya Jesika.
Jika dipikir-pikir kalau lewat dari sini kemudian keluar jalan raya, bisa dibilang lumayan dekat. Namun, kalau Jesika jalan kaki sampai rumah, sepertinya akan sangat membosankan dan jauh. Beruntung ada Samuel sang Penyelamat Jesika, pasti dia tidak akan merasa kesepian.
“Deket juga, ya, rumah lo kalau lewat jalan sini. Kalau rumah gue di Cluster Permata, Jes,” jawabku yang disahuti oleh wajah sumringah Jesika.
“Ternyata lo orang yang kaya banget, ya? Bisa sampai punya rumah di daerah itu,” katanya.
Memangnya rumah di sana hanya milik orang kaya? Sepertinya ada juga pemilik yang keuangannya biasa saja dan rumahnya juga tidak terlalu besar. Bahkan rumahku di sana juga tidak terlalu besar. Aneh-aneh saja Jesika ini.
“Kata siapa rumah di sana itu milik orang kaya? Justru di sana itu perumahan dengan harga yang lebih miring kata bokap gue. Lo kalau nggak percaya, rumah gue aja harganya di bawah lima ratus juta, Jes. Itu rumah dengan luas lebih dari seratus meter persegi. Bisa lo bayangin semurah apa, kan? Gue tau kenapa orang-orang pada percaya di sana mahal, soalnya ada makelar yang suka menghasut orang-orang tentang kemahalan perumahan di sana. Jadi kayak ngelarang orang-orang untuk beli rumah di sana.”
Jesika menatapku dengan penuh keheranan. Dia menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil. “Semuanya bisa diatur ya sekarang. Bahkan isu-isu seperti itu aja gampang dimanipulasi orang lain. Anyway, lo nggak masalah temenin gue jalan di sini? Rumah itu jauh dari sini, kan?”
“Nggak masalah, Jes. Gue emang pengin nganterin lo sampe rumah. Jangan pikirin gue yang pulangnya nanti gimana! Sebelumnya juga gue minta maaf karena nganterinnya jalan kaki, sih. Nggak kayak Gibran yang tadi nganter Berly pakai motor,” ucapku dengan nada penyesalan.
“Santai aja kali, Sam. Gue ditemenin pulang aja udah seneng banget,” jawab Jesika sambil menyampingkan wajahnya. “Apa lagi yang nemenin orangnya lo,” gumamnya yang bisa terdengar olehku.
Aku yakin dia ingin menyembunyikan kata-kata terakhir itu. Sayangnya aku bisa mendengar ucapannya. Apa itu berati kalau dia juga ingin aku temani jalan pulang? Apa itu berarti dia memiliki perasaan yang sama padaku? Astaga Samuel! Jangan terlalu berharap!
“Sebelumnya kita udah saling kenalan belum, sih? Kenapa udah tau nama masing-masing, ya? Padahal ini pertama kalinya kita ngobrol, Jes.” Aku tidak bohong perihal pertama kali berbicara dengannya. Aku dan Jesika bisa diibaratkan sebagai dua orang yang berbeda kesenangan. Aku sebagai cowok yang senang olahraga di gedung olahraga sekolah dan Jesika sebagai cewek yang senang membaca di perpustakaan sekolah. Kami jarang bertemu kalau tidak upacara.
“Nggak usah kenalan. Siapa yang nggak kenal cowok leader basket SMA Angkasa? Semua orang kenal kayaknya,” jawab Jesika.
Apa? Jesika mengetahui kalau aku leader di tim basket sekolah? Bagaimana dia bisa mengetahuinya? Setiap hari saja dia di perpustakaan. “Kok tau kalau gue leader di tim basket?”
“Sam, lo itu udah terkenal, beda sama gue yang mungkin hanya anak kelas doang taunya. Kalau lo jalan ke lorong kelas sepuluh juga mereka pasti pada nyapa. Beda hal kalau gue yang jalan, pasti didiemin dan dianggap nggak ada mungkin,” sahutnya.
Dia tertawa. Aku jadi ikut tertawa mendengarnya. Padahal itu tidak boleh, sama saja aku setuju kalau Jesika tidak dikenal oleh penghuni sekolah. Sepertinya aku harus mengalihkan topik dari ketenaran.
“Lo sama Fajar itu deket banget, ya?” tanyaku.
Oke! Ini adalah percakapan yang sangat membosankan. Dasar Samuel bodoh! Mengapa aku jadi membicarakan Fajar? Seharusnya aku bisa membicarakan hal yang lainnya.
“Biasa aja kayaknya. Fajar udah kenal gue sejak kami SMP. Jadi, wajar aja kalau kami lebih dekat dari yang lain. Gue juga udah percaya sama dia, jadi nggak perlu repot membuka diri untuk orang lain lagi. Lo sendiri kayaknya deket banget sama Frisky, Sam.”
Kenapa kami jadi saling lempar pertanyaan mendekati seseorang, sih?
“Frisky itu sepupu gue. Kebetulan umur kita berdua sama, jadi gue lebih deket sama dia karena dia sepupu doang. Emangnya kenapa kalau gue deket sama Frisky?” tanyaku.
Jesika tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Omong-omong masalah Berly, lo tau masalah itu, Sam?”
Kembali lagi ke masalah Berly. Bukanya tadi aku sudah bilang malas berbicara tentang Berly? Apa aku hanya mengalihkan pembicaraan tadi tanpa alasan? Malas sekali rasanya membicarakan cewek pembohong itu.
“Kebetulan gue ada di kantin saat itu. Kenapa emangnya?” tanyaku yang dibalas dengan senyuman Jesika.
“Lo mau denger cerita kutukan itu nggak?” tanya Jesika setelah keluar dari jalan sempit tadi. Sekarang kami sudah berada di jalan besar dan sudah banyak motor yang berlalu-lalang. Setidaknya aku bisa merasakan ketenangan di sini.
Cerita kutukan apa yang dimaksud Jesika? Apa saja, deh! Yang penting aku bisa berduaan dengan Jesika hari ini. “Boleh, Jes. Nanti di minimarket depan kita beli minum dulu, ya? Biar nggak haus saat jalan kaki.”
“Boleh, Sam.”
Setelah mendepat persetujuan dari Jesika, aku langsung berlari untuk membeli minum untuk kami berdua. Jesika menungguku di luar. Aku tidak boleh lama-lama karena Jesika tidak boleh menunggu lama.
Akhirnya aku berhasil mendapatkan dua botol minuman teh dari sana. “Jadi mau cerita apa? Sambil jalan aja, ya? Soalnya udah kesorean, nanti lo semakin sore pulangnya.”
Setelah beberapa langkah berjalan, Jesika menyenggol lenganku. Sontak aku menoleh dan bertanya. “Kenapa, Jes?”
“Lo percaya kalau kutukan itu udah berlangsung sejak dua belas tahun terakhir?”
Mataku membulat menatapnya. Apa katanya tadi? Dua belas tahun sudah kutukan ini berlangsung? Astaga lama sekali.
“Nggak tau, Jes. Itu lama banget ternyata dan sampai sekarang masih ada. Kayaknya anak sekolah juga belum tau masalah itu, Jes. Lo tau dari mana?” tanyaku dengan suara yang sedikit mengecil. Hitung-hitung mengurangi sedikit orang yang mendengar pembicaraan kami. Walaupun tidak ada orang yang mendengarnya juga, sih.
Jesika tidak menjawab pertanyaanku. Dia menggumam panjang, lalu berkata. “Gue harap lo janji untuk nggak nyebarin omongan ini ke siapa-siapa, Sam. Terutama lo nggak boleh ngomong ini ke Marko, gue takut mulutnya ember terus cerita ke semua orang, deh. Soalnya kayaknya ini baru gue doang yang diceritain.”
“Oke, gue nggak akan cerita sama siapa-siapa. Lo diceritain sama siapa emangnya, Jes?” tanyaku.
Jesika membisikkan sesuatu dengan badan yang agak jinjit. “Gue diceritain sama Mpo Rodiyah,” bisiknya.
Aku menganggukkan kepala. “Terus dia cerita apa aja?”
“Dia bilang ada dua kutukan yang terjadi pada tahun itu, terus ada seorang yang bilang kayak itu kutukan. Kalau dari cerita dia, korban-korbannya nggak kayak mati sendiri gitu, seolah ada yang bunuh. Mungkin nggak kalau ini pembunuhan?” tanya Jesika.
Mengapa pembicaraan kami jadi semakin melebar ke permasalahan kutukan, ya? Pembicaraan tadi jadi tidak terlalu menyenangkan. Namun, tidak masalah, aku juga senang membicarakan hal yang misterius. “Gue juga nggak pernah mikir itu kutukan beneran. Soalnya aneh aja. Jadi, gue nggak sendirian untuk mikir kutukan itu palsu, ya?”
“Ada gue yang mikir itu palsu juga, kok,” sahut Jesika.
“Terus masalah Berly gimana? Tadi dia dikutuk, Jes. Lo nggak takut kalau temen lo kenapa-kenapa?” tanyaku memastikan.
Jesika langsung mengubah tatapannya jadi sendu. “Gue juga nggak tau apa yang terjadi nanti, Sam. Mudah-mudahan aja Berly selamat dan kutukan itu nggak beneran terjadi. Lagian si Siska juga nggak bilang ngutuk, kan? Cuma nyumpahin doang?”
“Kayaknya dia nggak ngomong ngutuk, sih. Mudah-mudahan aja Berly nggak kenapa-kenapa. Oh iya, gue tadi follow i********: lo, Jes. Jangan lupa di follow back, ya!”
“Udah gue follow dari kelas sepulu, Sam. Lo aja yang nggak notice gue,” jawabnya.
Benarkah itu yang terjadi? Astaga Samuel, mengapa aku jadi semakin bodoh, ya? Aku jadi tidak enak hati begini.
“Maaf, Jes. Gue nggak pernah tau siapa yang follow. Soalnya notif tiap hari masuk banyak banget,” ucapku dengan nada bersalah.
Jesika mengangguk. “Nggak masalah, Sam. Jadi, hari ini kenapa mau anterin gue, nih?”
Astaga, apa aku harus jujur padanya? Sepertinya aku harus mengatakan yang sebenarnya. Kalau dia mengizinkan, aku bisa semakin leluasa mendekatinya. Mudah-mudahan saja Jesika menerima perjuanganku.
“Hmmm ... sebenernya gue mau deket sama lo, Jes. Nggak masalah, kan?” tanyaku sedikit ragu-ragu.
Jesika langsung tersenyum dengan wajah yang ditundukkan. Ayo jangan menunduk, aku ingin melihat wajahmu yang tersenyum.
“Siapa yang larang?” tanya Jesika masih dengan wajah yang menunduk. “Kalau mau deket, ya deket aja. Kenapa nggak boleh?”
Benar juga, siapa yang melarang aku mendekatinya, ya? Omong-omong mengapa obrolan kami semakin jauh, ya?
“Kalau pagi-pagi lo dianter ojek juga, Jes?” Aku kembali menanyakan Jesika perihal dia yang berangkat sekolah. Siapa tahu aku bisa jadi ojek pribadinya nanti.
“Kalau pagi dianter Bokap. Biasanya kalau Bokap nggak buru-buru gue bareng, tapi kalau lagi buru-buru paling jalan kaki kayak begini,” jawabnya.
Aku baru ingat kalau Jesika adalah cewek yang senang datang mendekati bel berbunyi. Aku pikir dia cewek yang datang bahkan sebelum orang lain datang. Ternyata justru dia orang yang suka terlambat juga.
“Kalau lagi buru-buru, telepon gue aja. Nanti gue jemput di rumah,” kataku.
Jesika langsung menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat kami berjalan menuju rumah Jesika dengan banyak pembicaraan. Aku sampai tidak menyangka kalau kami banyak berbicara sejak tadi. Untung saja Jesika orang yang bisa menyahuti obrolan. Kalau tidak, mungkin hanya aku yang berceloteh.
Tidak terasa kami sudah sampai di rumah Jesika. Rumah yang menurutku paling megah di kawasan ini. Omong-omong juga rumahnya lebih megah dari rumahku. Aku menatapnya dengan senyum. Jesika membalasnya dengan senyum juga.
“Sudah sampai rumah, silakan masuk,” ucapku.
Jesika tertawa melihat tingkahku. “Terima kasih udah temenin sampai rumah, ya? Gue nggak tau tadi bakalan setakut apa pulang sendirian lewat jalan sempit itu. Kalau lo nggak temenin, mungkin gue udah jadi manusia paling berdegup jantungnya.”
Benar juga, alasan aku ikut dengannya karena dipaksa oleh Willy dan Marko sementara Jesika lari terburu-buru karena ketakutan. Lucu juga mengingat Jesika yang mengiraku sebagai penjahat tadi. Dia bahkan sempat berlari setelah aku memanggilnya.
“Sekarang udah aman, sudah sampai di rumah yang nyaman. Kalau ada masalah apa-apa lo bisa hubungi gue aja. Gue siap siaga 25 jam seminggu untuk lo, kok,” sahutku yang diiringin dengan senyuman di wajah.
Namun, Jesika malah menatapku dengan datar. Apa yang salah? Apa jangan-jangan Jesika marah karena aku terlalu mengganggunya?
“Gimana gue mau kabarin kalau kita aja nggak saling simpan nomor.”
Astaga benar juga. Kami berdua belum saling menyimpan nomor. “Maafin, gue lupa.”
Aku langsung memberikan nomor ponsel kepadanya. Setelah itu Jesika menghubungiku untuk sekedar memberitahu nomornya. Setelah itu, Jesika berkata. “Terus lo pulang sama siapa? Jalan kaki sendirian sampai rumah?”
“Oh, gue minta jemput Marko sama Willy. Ini mau telepon,” ucapku.
“Kalau begitu gue temenin sampai dia dateng aja, ya? Nggak enak masa lo sendirian nungguin mereka. Kalau mereka deket, sih, nggak masalah. Kalau mereka jauh, gue jadi semakin nggak enak hati ninggalinnya,” jawab Jesika.
Setelah Jesika menjawab, mobil Marko langsung terlihat di tikungan ujung jalan rumah Jesika. Aku langsung menunjuknya. “Itu mereka dateng, padahal gue belom telepon.”
Mobil Marko berhenti di depan kami berdua. Kaca jendela dibuka dan menampilkan Marko yang sedang menatap kami dengan wajah yang menyebalkan. Dia tersenyum mengejekku.
“Terima kasih udah nemenin Samuel di sini, Jes. Lo emang cewek paling baik, deh. Maaf, ya kalau lo terganggu hari ini. Temen gue itu sebenernya suka sama—“
“Jes, gue langsung pulang, ya? Soalnya mereka udah sampai, biar lo juga cepet istirahat. Nanti kalau kelamaan di luar malah kecapekan.”
Aku langsung memotong ucapan Marko dan masuk ke dalam Mobil. Kalau tidak begitu, mulutnya akan semakin bocor.