Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang s**l di hidupku. Hari ini tagline hidupku hanya itu, hari yang s**l. Apa lagi yang akan aku hadapi nanti? Rasanya aku tidak ingin berangkat sekolah saja kalau begini. Bayangkan saja, baru memulai hari, aku sudah mendapatkan setidaknya tiga hal buruk. Baru memulai saja sudah mendapatkan tiga hal buruk, bagaimana sepanjang hari ini? Apa mungkin bisa lebih dari sepuluh kesialan yang akan aku alami? Astaga, aku tidak sanggup menghadapinya nanti.
Kesialan pertama yang aku alami hari ini adalah tidak bisa tidur Setelah Berly minta meneleponku untuk meminta tolong. Awalnya aku sudah tidur tepat jam sepuluh malam—hal itu juga sudah terlalu telat lantaran aku harus mengerjakan laporan praktikum milik Berly sampai tuntas. Mungkin sudah lama aku tertidur, bahkan sampai bermimpi—aku ingat betul mimpi semalam, menjadi seseorang yang ada di hidup Samuel dalam waktu yang lama. Aku menikah dengan Samuel. Aduh! Aku berharap itu akan terjadi suatu saat nanti.
Kemudian Berly dengan tidak ada rasa bersalah menghubungi ponselku lalu meminta jemput di dekat apotek tempat dia kerja. Aku bilang saja tidak bisa menjemputnya malam ini. Bukan karena aku tidak ingin menolongnya, melainkan tidak ada motor yang bisa digunakan. Di garasi hanya tersisa mobil manual milik Ayah, aku belum bisa mengendarainya. Dari pada kami kecelakaan, lebih baik aku tidak menolongnya, bukan? Setelah dia menelepon, kedua bola mataku rasanya kering saja. Akhirnya aku tidak bisa tidur sampai pagi. Pasti sudah terlihat hitam di bagian kantung mata.
Kesialan kedua yang aku alami adalah mendapatkan ciuman hangat dari meja belajar tepat di dahiku. Ketika mendekati waktu untuk rapi-rapi pergi sekolah, rasa kantuk justru mulai menyerang. Aku bangun dan mencoba untuk berdiri dengan harap memegang ujung tempat tidur. Ternyata, titik yang kujadikan tujuan untuk menahan diri adalah ruang kosong. Akhirnya aku terjatuh dengan dahi yang terbentur meja. Bagian tubuh yang tidak terbentuk memang berdarah, tetapi tetap saja terasa sakit. Munkin akan timbul benjol beberapa saat lagi.
Kesialan ketiga yang aku alami adalah lupa mencari jangkrik untuk latihan praktikum biologi hari ini. Padahal sudah tercatat dalam catatan harian kemarin. Tetap saja aku tidak melipir ke warung pakan burung waktu pulang sekolah. Ini semua karena bertemu Samuel si Cowok sempurna yang menghantui kehidupanku dari awal masuk sekolah di warung Mpo Rodiyah. Dia yang mengganggu pikiranku kemarin sore sampai lupa kalau harus membeli jangkrik. Jantungku yang meletup-letup akibat dia mengikuti IG-ku itu benar-benar membuat lupa.
Akhirnya, aku harus rela berangkat lebih awal untuk mencari jangkrik di belakang sekolah. Ini semua karena menghindari hukuman guru biologi yang super berisik. Kalau ada satu murid yang melanggar perintahnya, bisa-bisa pelajaran biologi akan berubah menjadi pelajaran bimbingan sikap. Guru itu akan terus menasihati kami tentang tata krama dan menyikapi seseorang yang seharusnya kami jadikan panutan. Memang bagus untuk pembelajaran kehidupan, banyak nilai-nilai moral di setiap tutur katanya. Namun, tetap saja membuang waktu kami untuk belajar biologi. Bagiku, mungkin juga bagi semua murid yang diajar olehnya, tidak akan pernah mau melanggar perintah dia, kecuali kepepet.
Sampai detik ini, aku tidak berhasil menangkap satu jangkrik pun. Mereka sangat lincah gerakannya, melompat ke sana dan ke sini, mengelabui penglihatanku. Ketika ingin menangkapnya, mereka sudah melompat lebih dulu. Jangankan mengambil sikap ancang-ancang ingin menangkap, aku menengok ke arah mereka saja sudah ketahuan. Yah, mungkin itu merupakan suatu keahlian jangkrik dalam mengelak dan mendapatkan sinyal untuk mengetahui kalau aku ingin menangkapnya.
“s**l!!!” Aku sengaja berteriak. Siapa tahu ada yang kebetulan lewat dan mau membantu. Mungkin orang itu akan aku jadikan pacar kalau dia seorang lelaki, atau akan aku jadikan sahabat sejati kalau dia seorang perempuan. Jadi mengkhayal di pagi hari, maafkan aku.
Setelah lama berkutat dengan ilalang-ilalang di belakang sekolah, akhirnya aku menyerah. Langkah kaki membawaku keluar dari area ilalang tinggi dengan tangan kosong. Lupakan masalah jangkrik. Pasti di kelas banyak yang membawa lebih dari satu, aku akan memintanya nanti. Lagi pula, aku yakin di belakang laboratorium ada jangkrik yang berkeliaran juga. Kalau masih belum dapat, nanti aku akan cari lagi. Kalau masih belum dapat setelah mencari, aku harus siap menerima konsekuensinya.
Sial, seragamku jadi kotor begini. Tidak mungkin aku harus pulang ke rumah lagi dan berganti pakaian. Walaupun waktunya masih cukup, aku tidak mau melakukannya, itu sangat melelahkan. Cara terbaik untuk menjalani hidup saat ini hanya satu, muka badak dengan penampilan yang dekil! Paling-paling nanti akan ada orang yang mengatakan kalau Jesika, seorang siswi kutu buku telah mengubah tambilannya menjadi siswi kutu buku yang dekil. Astaga, julukanku semakin panjang saja sepertinya.
Dengan langkah yang malu-malu, wajah ditundukkan, dan tangan memeluk buku di d**a, aku meninggalkan area yang sangat menyebalkan. Sekali lagi, itu merupakan gayaku sehari-hari, bertingkah layaknya kutu buku dan pecundang. Mana mungkin seorang Jesika yang culun berjalan dengan langkah tegap, wajah yang sedikit diangkat ke atas, dan tas disampirkan di salah satu bahu. Sepertinya itu Jesika di alam mimpi liar, tidak mungkin terjadi di dunia nyata.
Omong-omong, daerah belakang sekolah masih gelap kalau jam segini. Memang matahari belum muncul, tetap saja seharusnya diberikan lampu penerangan. Jangan-jangan warga sini enggan memberikan karena pelit? Kalau begitu, harus segera dilaporkan ke kepala RT secepatnya! Bisa jadi wilayah ini akan menjadi tempat tindak kejahatan.
Tidak lama kemudian, aku sudah sampai di depan gerbang sekolah. Kedua tungkai kaki yang lemas sudah membawaku melewati gerbang sekolah. Satpam malas pastinya masih tertidur, aku tidak perlu heran dengannya. Tidak penting, aku harus segera ke perpustakaan dan mengembalikan buku pinjaman. Sudah hampir telat pengembalian, nanti aku kena hukuman karena sudah terlambat mengembalikannya.
“Jesika!” panggil seseorang. Aku menengok untuk melihatnya, ternyata itu Fajar, teman sekelasku.
“Tumben dateng pagi. Ada apa, Jar?” tanyaku balik. Biasanya dia datang saat bel masuk ingin berbunyi. Bisa dibilang dia sering telat juga. Wajar saja, rumahnya jauh dan tidak ada kendaraan pribadi. Dia harus jalan kaki dari rumah ke sekolah.
Fajar adalah sobat karibku di pencak silat, kami satu padepokan waktu SMP. Kalau untuk kemampuan silat, jangan diragukan lagi, Fajar pernah meraih medali emas tahun lalu. Mungkin badannya yang terbentuk juga didapat akibat latihan silat. Aku kasih tahu satu hal, Fajar juga ditaksir oleh beberapa wanita di SMA Angkasa. Mereka ingin sekali memiliki pacar yang ganteng dan bisa menjaga mereka dari bahaya, seperti Fajar. Dia sudah ganteng, badannya bagus, ototnya terbentuk, jago silat juga. Siapa yang tidak ingin berpacaran dengannya? Hanya saja dia malas untuk pacaran.