Pesan Misterius - Samuel

1067 Kata
Aku juga sebenarnya takut, tetapi tetap bersikap santai agar tidak terlalu penakut. Malu juga kalau punya badan atletis, tetapi nyalinya ciut. Kalau diibaratkan, badannya Rambo, hatinya Rinto. Astaga, aku tidak mau seperti itu. Kami kembali diam, bahkan Willy tampak kebingungan juga. Sekarang aku jadi menyesali ide gila untuk menyelidiki kasus pembunuhan Berly. Mungkin lebih baik aku di rumah atau bermain basket bersama Gibran. “Kalau kita tanya informasi dari Jesika dan temannya Siska bagaimana?” cetus Willy. Akhirnya, penyelamat ide datang juga. “Bentar!” ujar Marko. Dia mengeluarkan ponselnya. “Gue sempet foto riwayat panggilannya, semalam dia habis telponan sama Berly!” Marko memberikan ponselnya kepada Willy. “Kapan lo ambil ponsel dia?” tanyaku dengan muka bingung. Marko tidak berada di dekat Jesika sejak tadi. Kalau iya, mungkin aku sudah menyadarinya. “Ketike gue peluk di dekat TKP tadi! Makanya lo jangan takut inceran lo gue gebet! Gue mau ambil ponsel dia saat itu, tahu!” kilah Marko. Yah, mungkin pertahanan paling baik saat ini untuk mendapatkan Jesika hanya menjauhkan Jesika dengan Marko, playboy SMA Angkasa. Kalau nanti Jesika berhasil terpikat oleh ucapanmanis Marko, aku tidak bisa berjuang lagi selain menunggu mereka putus. Saat itu terjadi, aku akan menjadi pria pertama yang menghajar wajah Marko. “Tetep aja perbuatan lo itu nggak bener!” protesku. Satu tarikan napas aku lakukan, kemudian menghelanya perlahan-lahan. “Tadi pagi Jesika bilang kalau Berly sempet minta jemput di apotek semalam. Berly takut banget malam itu karena keadaan jalan sepi banget nggak kayak biasanya. Emang bener juga, sih, kalau semalem itu sepi banget. Gue aja beli nasi goreng sendirian itu rasanya kayak hidup di hutan. Suara motor gue doang yang kedengeran. Terus karena Jesika belum bisa nyetir mobil, dia jadi nggak bisa bantu si Berly.” Aku berusaha menjelaskan apa yang kudengar saat berduaan dengannya. “Sam! Lo usahain dapet rekaman suara yang nggak sengaja dia rekam!” cetus Willy dengan cepat. Aku merebut ponsel Marko dari tangan Willy. Di sana terlihat jelas kalau ada tanda rekaman di riwayat panggilannya. “Benar, kan? Kalau dia pelakunya, mana mungkin dia meninggalkan jejak seperti ini!” tanyaku. Mereka semua hampir setuju dengan ucapanku, kepalanya mengangguk-angguk. Aku harus memastikan kalau Jesika tidak mereka incar sebagai tersangka karena nanti cewek itu akan aku tarik ke dalam tim penyelidikan ini. Dengan cara itu juga, kami bisa lebih dekat untuk mengenal satu sama lain. Aku jadi bisa punya banyak waktu untuk berduaan dengannya. Astaga, aku tidak sabar menunggunya.  “Ya sudah! Gue dan Marko cari informasi ke Loli, temannya Siska yang paling lugu itu! Sementara Sam dan Gibran akan tanya informasi ke Jesika!” usul Willy. Kami bertiga mengangguk. Tidak ada ide lain yang lebih tepat selain mencari informasi terlebih dahulu. Sepertinya rencana itu juga memberikan keuntungan untukku. Aku bisa jalan berdua dengan Jesika, alih-alih menjemputnya. “Lantas, kita nggak memeriksa TKP lagi?” tanya Gibran. “Siapa tahu ada yang ketinggalan sama polisi tadi. Lagi pula, kita kan bisa untung kalau ada hal janggal yang kita temuin.” “Kayaknya nggak perlu. Tadi pagi gue sempet nemu ini,” ungkap Marko. Dia mengeluarkan plastik dari tasnya. Hal yang kami lihat benar-benar tidak terduga. Di dalam plastik ternyata ada jepit rambut. Mungkin itu semua hal yang wajar kalau ada mayat perempuan beserta jepit rambut, tetapi kali ini tidak wajar karena mayat perempuannya tidak dikenali wajahnya. Anehnya lagi, siapa yang peduli sama jepit rambut? Semua cewek pasti memilikinya. Akan sulit kalau mengidentifikasi dengan menggunakan jepit rambut saja. “Keren banget emang sohib gue yang satu ini!” Gibran merangkul Marko dengan erat, kemudian berakhir dengan sesi memiting kepala dan menjitaknya. “Jeput rambut semua cewek itu punya, Ko! Lo kenapa nggak mikir ke situ, sih?” “Liat dulu! Itu barang berlabel made in Singapore. Nggak akan gue simpen kalau barangnya butut, Bro!” sahut Marko mengelak. Aku tidak berniat mengambil barang bukti, Willy juga hanya menatapnya. Mungkin karena itu barang yang sangat rentan terkena sidik jari, kami takut juga kalau sidik jari kami menempel di sana. “Boleh kita tanyain itu ke Jesika. Kalau memang itu jepit rambut Berly, berarti barang itu nggak berguna!” paparku kemudian memasukkan plastik ke dalam tas/ Grap! “Siapa di luar?!” pekik Marko kencang. “Sshh!” Kami bertiga memerintah Marko untuk diam lantaran habis berteriak. Marko ini benar-benar tidak bisa ditahan suaranya. Baru saja dia berbisik menjelaskan kepada kami tentang jepit rambut. Sekarang dia sudah mengubah cara bicaranya menjadi pria tidak bersalah yang senang berteriak. Kami langsung terdiam setelah suara tapak kaki yang menginjak daun kering terdengar. Degup jantungku mulai meningkat karena memikirkan asumsi di luar adalah pembunuh Berly. “Lo jangan teriak-teriak, Marko! Kalau ternyata di luar itu si Pembunuh, bisa mampus kita di dalam sini!” bisik Willy. Ternyata bukan hanya aku yang berpikir seperti itu. Marko menghela napasnya dengan kasar. Dia menatap kami penuh sesal. “Sorry! Mulut gue kan emang begini ...!” balas Marko dengan suara yang tak kalah pelan. Aku terus mengisyaratkan untuk diam. Rasanya ingin sekali ke luar ruangan kemudian mendekap pembunuh itu saat ini. Kalau ternyata di luar itu kucing, aku berjanji akan mengurungnya di bawah tangga sebagai hukuman. Berani-beraninya kucing itu membuat jantungku berdetak cepat. Perasaanku semakin penasaran dengan orang yang menginjak daun kering tadi. Perlahan-lahan aku berdiri dan bergerak ke arah jendela ruangan ini, bisa terdengar pekikan tertahan sohib-sohibku dari belakang. Aku harus memeriksa keadaan di luar, siapa tahu hanyalah tikus atau binatang yang tidak sengaja menginjak daun kering. Dari celah sempit dekat jendela, aku mulai mengintip dengan perlahan. Siapa tahu pembunuh itu mengetahui rencanaku dan justru menusuk s*****a tajam ke arah mataku yang mengintip. Setelah berhasil melihat, keadaan di luar benar-benar sepi. Tidak ada manusia yang berkeliaran. Aku mulai mengedarkan pandangan ke arah samping kiri ruangan. Hal yang pertama kali kulihat adalah tulisan di tembok pembatas lantai. “Guys!” panggilku dengan pelan. Aku menengok ke arah teman-temanku dengan wajah ketakutan. Mereka sama tegangnya, melotot dengan kaki yang gemetar. “Di luar ada tulisan!” “Di mana?” tanya Gibran yang langsung berdiri. Willy lebih memilih untuk duduk. Aku langsung memutuskan untuk ke luar ruangan. Perlahan pintu terbuka dan menampakkan tulisan besar yang baru saja di buat dengan darah. Aku tidak tahu itu darah apa, tetapi darah itu masih basah. Kalau memang itu darah manusia, aku tidak sangka ada pembunuh sekejam itu. Tidak perlu repot mengusut kejadian ini! Atau wanita itu dalam bahaya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN