Ngedate - Jesika

1056 Kata
Kalian tahu makna dari bahagia di atas penderitaan orang lain? Biar aku jelaskan sedikit. Semisal orang lain sedang menderita, kalian justru bersenang-senang. Kalau aku bilang, kalian bahagia di atas kesusahannya orang lain. Hari ini, sepertinya aku sedang melakukan itu, bahagia di atas penderitaan orang lain. Setelah aku sampai di rumah, aku langsung masuk lupa kalau aku adalah seorang Jesika si kutu buku SMA Angkasa. Saat itu aku sadar kalau aku bukanlah Jesika yang biasa, melainkan Jesika yang beruntung karena bisa diantarkan pulang oleh cowok yang aku suka, Samuel Lazuardi. Bayangkan saja, aku dibonceng naik sepeda motor olehnya. Dia juga menyuruhku untuk memeluk tubuhnya saat motor berjalan. OH MY GOD! I CAN FEEL HIS BODY SIX PACK! YOU KNOW WHAT I FEEL, RIGHT? Rasanya keras, kemudian enak disentuh juga. Aku masih bisa merasakan hal itu. Kemudian beberapa jam setelah aku melamun dan membayangkan Samuel, dia mengirimiku pesan melalui aplikasi WA. Aku baru ingat kalau memberikan nomor untuknya tadi di depan gerbang. Aku langsung simpan nomornya agar sewaktu-waktu aku tidak perlu repot mencarinya. Kalian mau lihat isi pesannya? My Sam: Jes, kamu ada acara malam ini? Kita jalan, yuk! Aku mau ajak kau ke kafe, nanti aku jemput. Gimana? Kalau ada acara, boleh atur jadwal malam besok? “MAMAAAAAA!” teriakku langsung setelah membaca pesan itu. Aku yakin seisi rumah mendengar pekikan suaraku yang sangat nyaring. Masa bodoh, aku tidak peduli. Aku hanya mengekspresikan perasaan. Bagaimana ini? Apa yang harus aku jawab? Setuju pada ajakannya? Oh tidak, itu berarti aku melupakan kematian Berly hari ini. Lalu, kalau aku tidak menjawabnya, apakah aku mendapatkan kesempatan ini lagi nanti? Aku harus meminta bantuan Vina sekarang. Tunggu-tunggu, aku tidak mungkin meneleponnya. Vina sedang ke rumah Riko, dia pasti sedang bermesraan. Aku tidak mungkin mengganggunya. Nanti dia malah marah kepadaku. Ya Tuhan, jadi aku balas apa sekarang? Oke, tarik napas terlebih dahulu. Jesika: Oke. Aku tunggu di depan rumah jam delapan, ya. See you, Sam! Pesan yang dikirim Samuel benar-benar menggembirakan hati. Jelas saja, dia mengajakku pergi malam ini ke kedai kopi Staxo. Hal yang sudah aku tunggu sejak pertama kali kenal dengannya. Bukan menunggu ke kedai kopi Staxo bersama Samuel, tetapi menunggunya mengajakku pergi ke suatu tempat berduaan. Namun, karena keberadaanku yang nyaris tak dapat diketahui lantaran hanya seorang kutu buku, membuat keinginan itu terpendam jauh di dalam lubuk hati. Siapa yang mau mengajak Jesika pergi? Pertanyaanya mungkin akan berubah menjadi, siapa itu Jesika? Miris, ya? Aku saja yang merasakan sudah miris sekali. Kalian jangan sampai merasakan kemirisan seperti diriku. Kalau bisa, aku saja yang merasakan. Kalau mau memilih, aku lebih memilih untuk menjadi cewek biasa-biasa saja. Namun, aku tidak bisa karena aku tidak pandai dalam bergaul. Awalnya aku sempat bingung dengan tawaran Samuel yang langsung aku setujui. Baru saja Berly dimakamkan tadi siang. Tidak mungkin seseorang bisa berkencan dan berhagia ketika temannya baru saja tewas. Namun, sesuai omongan Vina pagi ini ketika melihatku murung dan bersedih di depan peti mayatnya. “Apapun yang terjadi, lo tetap bernapas. Jadi, lo harus hidup layaknya manusia yang lain! Jangan jadikan momen ini untuk melankolis sepanjang hari, Jes! Lo masih punya kehidupan yang harus dijalani.” Oleh karena itu, aku menerima tawaran Samuel. Hitung-hitung menghibur diri juga, kan? Tidak mungkin aku sedih terus karena ditinggal Berly. Dia saja sudah tenang, mengapa justru aku yang gelisah? Seharusnya aku juga memiliki kesenangan tersendiri, kan? Sekarang tepat pada pukul 19.45 aku sudah rapi. Berhubung hari ini cuacanya dingin, aku memakai baju turtleneck berwarna putih yang ditutupi coat berwarna biru cerah dengan bawahan legging hitam panjang. Tentu saja Vina tidak akan membiarkanku pergi jika tidak memakai sepatu boots hitam yang dia berikan bulan lalu. Sesuai perkataan Vina, aku sempat heran dengan tampilan malam ini. Jelas-jelas bukan diriku! Aku tadinya berniat untuk mengganti pakaian menjadi kaus santai dengan celana bahan yang lain. Namun, aku belum sempat mengganti pakaian yang lebih comfy karena Samuel sudah menunggu di ruang tamu. Ibu yang berteriak mengatakan kalau ada cowok tampan dan gagah yang menjemputku. “Jeees, ada cowok ganteng di bawah, gagah lagi. Buruan dandannya!” kata Ibu yang berteriak kencang dan nyaring. “Kalian mau ke mana, sih? Dandanannya pada ganteng dan cantik begini. Tante titip Jesika, ya, Samuel?” Aduh, perempuan satu itu pasti heran mengapa anak culunnya dijemput oleh cowok tampan dan gagah seperti Samuel. Aku langsung saja berjalan turun menghampiri Samuel. Astaga, dia keren banget. Bolehkah aku malu dengan penampilan diri? “Iya, Tante. Sam pinjem Jesika sebentar, ya? Nanti dibalikin sebelum jam sepuluh malam. Sam pamit sekarang, Tan.” Samuel langsung menggandeng tanganku ke mobilnya. “Kamu cantik malam ini, Jes!” ucap Samuel di dekat mobil. Sungguh, seertinya pipiku merona. Tidak boleh! Samuel tidak boleh melihat pipiku yang berubah menjadi merah. Langsung saja aku menunduk. Dengan jari yang saling bertaut aku membalasnya. “Terima kasih! Kamu juga keren, Sam!” balasku malu-malu. Tiba-tiba dia membukakan pintu mobil untukku. Tuhan! Rasanya aku pengin berteriak kencang karena kesenangan. Namun yang bisa aku ucapkan hanya terima kasih sambil terbata-bata. “Te-terima kasih, Sam!” Sudah jelas mengapa gelar culun aku dapatkan, bukan? Aku memang culun. Berhadapan dengan Samuel saja aku sudah gugup, apa lagi kalau berhadapa dengan orang lain yang lebih keren? Dasar Jesika! “No problem!” balasnya. Sungguh, suaranya membuatku berdebar. Baru kali ini kami berbincang berdua, tanpa ada niat tuduh-menuduh pula. Aku masih mengingat kalau pagi tadi kami sempat tuduh-menuduh. Setelah mobil dijalankan, suasana hening mulai menyelimuti kami. Aku tidak mungkin membuka suara untuk berbincang, bukan gayaku juga. Sepertinya Samuel juga sedang fokus pada aksi menyetir mobil. Aku lebih baik diam agar tidak membuyarkan konsentrasinya. Namun, rasa bersalah akan tuduhan tadi pagi menyelimutiku. Samuel pasti tersinggung karena aku menuduhnya. s**l! Aku memang bodoh! Aku harus meminta maaf padanya. “Jes!” “Sam!” Kenapa Samuel jadi memanggilku juga? Seperti di sinetron saja. Aku jadi malu untuk berbicara. Samuel menolehkan kepala sekilas, lalu tertawa. Aku jadi ikut tertawa dibuatnya. “Lo dulu, Sam!” ucapku dengan santai. Samuel menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum manis sampai membuatku terpesona. “Lo aja dulu, Jes!” sahutnya. Oke, kalau harus saling lempar satu sama lain, nanti tidak akan ada yang berbicara. Sepertinya memang aku yang harus berbicara terlebih dahulu. Semboyan ladies first memang mendarah daging rupanya. Dengan satu tarikan napas aku menjawabnya. “Sam, gue mau minta maaf atas kejadian pagi ini. Sori, gue bener-bener minta maaf ....”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN