Samuel terkekeh sambil matanya fokus ke jalanan. Apa yang dia maksud dari kekehan itu? Aku tidak mengerti. Samuel menoleh lagi sekilas. “Justru gue yang minta maaf udah buat lo ketakutan,” kilahnya. Dia tersenyum kepadaku.
Setelah itu keheningan mobil berganti dengan candaan yang Samuel berikan. Tidak kusangka, Samuel adalah orang yang humoris. Aku jadi semakin salah tingkah ketika dia bercanda yang berujung merayuku.
Setelah tiba di parkiran, kami langsung berjalan memasuki kafe. Samuel mengenggam erat tanganku yang membuatku melayang. Masa bodoh dengan rona merah di pipiku, Samuel juga sudah melihatnya dari tadi, pasti. Sekarang aku harus memikirkan apa yang Samuel maksud dari perbuatannya. Apakah dia juga merasakan hal yang sama sepertiku? Atau jangan-jangan dia hanya ingin membuatku jatuh cinta saja? Mudah-mudahan Samuel tidak seperti temannya yang bernama Marko, siswa yang senang menebar pesona agar para cewek jatuh cinta, kemudian dia pacaran hanya dalam kurun waktu dua minggu. WOW, itu sangat menjengkelkan
Kami menempati kursi di pojok ruangan, yang kebetulan sedang kosong. Sikap Samuel sungguh manis malam ini, aku sampai lupa kalau kami berdua hanya sebatas teman. Padahal dia sudah membuatku jatuh cinta setengah mati. Dia memegang tanganku dan menuntunnya sampai aku duduk.
“Ada yang mau aku omongin sama kamu, Jes.” Samuel berbicara setelah memesan kopi dan makanan untuk kami berdua. Omong-omong, apa yang ingin dia katakan? Wajahnya mulai serius sekarang.
“I-iya, ada apa?” Suaraku masih saja gugup, padahal adegan manisnya sudah lewat sejak tadi.
“Ini masalah kematian Berly.” Samuel membungkukkan badannya sehingga jarak kami berdekatan. Matanya mulai memicing, menatapku dengan penuh selidik. “Kamu ngerasa ada yang aneh?” katanya dengan suara berbisik.
Aku ingin sekali mengutarakan pikiran buruk tentang Siska. Sepertinya tidak elok kalau mencurigai seseorang tanpa bukti. Akhirnya aku hanya bisa membalas, “Aneh. Kenapa kematian Berly tepat setelah kutukan itu dilontarkan?”
“Itu yang mau aku bicarain, Jes!” balasnya. Samuel tersenyum ketika mengeluarkan plastik dari saku jaketnya. Plastik itu berisi kunciran, aku tidak tahu itu kunciran siapa. Namun, wajah Samuel benar-benar serius sekarang. Matanya menatap sekitar, seolah memastikan keamanan kami.
“Tadi Marko nemuin ini di TKP.” Samuel memberikan plastik kepadaku.
“Jangan disentuh langsung!” pekiknya.
Jantungku berdegup kencang setelah Samuel berteriak. Aku juga tidak sebodoh itu untuk menyentuh barang bukti. Tidak apa, Samuel juga berniat baik kepadaku. Namun, tidak bisakah berbicara pelan-pelan?
“Itu jepitan rambut milik Berly?” tanya Samuel penuh selidik kepadaku. Sepertinya dia sedang mengorek informasi. Syukurlah, ada yang peduli kepada Berly. Apa dia bilang tadi? Kunciran Berly?
“Berly nggak pernah suka dengan warna biru! By the way, itu kunciran, bukan jepitan,” jawabku dengan nada pelan. Berly paling anti dengan warna yang membuat dirinya terlihat lembut, dia lebih suka dengan warna hitam atau bahkan abu-abu, terkecuali pipinya yang suka dia beri warna merah jambu.
“Kami pikir itu jepitan. Terus ini punya siapa kalau bukan Berly?!” tanya Samuel penuh kebingungan. Sepertinya aneh kalau barang bukti ini bukan milik Berly. Jangan-jangan ini milik pelaku pembunuhan itu? Aku langsung menatap Samuel.
“Berarti ini milik si Pembunuh?” tanya Samuel hati-hati. Dia juga memikirkan hal yang sama rupanya. Aku langsung menganggukkan kepala. Tidak ada tersangka yang mungkin selain pembunuh yang memiliki jepit rambut itu. Dasar pembunuh bodoh, barang bukti sampai tertinggal. Sepertinya pembunuh itu masih amatiran.
“Berarti pembunuh itu perempuan?” tanyaku dengan muka ketakutan.
Samuel langsung menatapku dengan wajah tidak percaya. “Masa perempuan, Jes?”
“Siapa lagi yang pake kunciran rambut selain perempuan? Paling-paling preman berambut panjang, itu juga mereka pake karet gelang atau kunciran berwarna hitam, nggak mungkin biru. Kamu emang mikir pembunuhnya laki-laki kalau pakai kunciran begini?” tanyaku balik. Aku harus mulai memelankan suaraku, takut pembunuh sedang mengintai kami. Nyawa kami bisa repot kalau benar pembunuh ada di sekitar sini.
“Nggak juga, sih. Bener apa yang kamu bilang, preman juga paling pakai karet gelang. Ini berarti punya perempuan. Kalau bener itu milik si Pembunuh, berarti pembunuh itu perempuan, ya? Berniat gabung dengan tim penyelidik kasus ini?” tanya Samuel yang memegang jemariku. Lagi-lagi dia membuat jantungku berdegup kencang.
“Penyelidik kasus ini? Memangnya ada beneran?” tanyaku heran.
Bukan karena aku tidak percaya, tetapi karena sikap Berly yang tidak menyenangkan. Berly terkenal dengan sikap tidak acuhnya, wajar saja kalau kematian Berly tidak ada yang peduli. Pada kali ini aku merasa takjub kalau ada orang-orang yang berniat menyelidikinya. Waktu dia dikubur saja hanya sedikit murid SMA Angkasa yang datang. Mereka yang datang paling hanya OSIS, guru di sekolah, dan kerabat dekat. Tidak ada teman lain selain aku dan Vina.
“Jelas ada, dong, Jes. Teman-temanku sepakat untuk menyelidiki kasus pembunuhan Berly. Kamu mau gabung ke tim kami nggak?” tanya Samuel sekali lagi. Cowok itu melambaikan tangannya ke pintu masuk kafe. Ternyata ada Gibran di sana. Sekarang dia mulai berjalan ke arah kami.
“Kalau kalian tidak keberatan menerima kehadiranku, boleh aja. Aku mau banget nyelidikin kasus itu, biar arwahnya Berly tenang. Dia nggak harus punya dendam sama si Pembunuh,” sahutku tepat setelah Gibran menempatkan dirinya di samping Samuel. Omong-omong, sejak kapan kami berdua merubah gaya bahasa menjadi “aku dan kamu”, ya?
“Bagus, deh!” sahut Samuel. Aku bisa melihat wajahnya yang tersenyum senang. Aku jadi senang juga karena Samuel.
“Tapi, lo nggak masalah kalau kasus kematian teman lo kita selidiki?” tanya Gibran. Entah sejak kapan dia mulai mendengarkan obrolan kami, mudah-mudahan dia tidak menyadari kalau aku dan Samuel saling tersenyum.
“Tidak masalah. Lagi pula, gue seneng banget kalau ada yang mau nyelidikin kasus ini! Jelas banget banyak yang nggak suka sama Berly, pasti yang lain pada bodo amatan aja. Padahal kejadian ini harusnya nggak boleh terjadi lagi, emangnya ada yang mau kalau dirinya dibunuh? Aku, sih, nggak mau. Soalnya, ini nggak mungkin kutukan, pasti ada seorang pembunuh yang mengincar siswa SMA Angkasa. Sampai saat ini gue juga masih kurang paham motif pembunuh itu apa selain kutukan.”
Samuel dan Gibran hanya menganga mendengar penjelasanku. Mungkin ini pertama kalinya mereka mendengar seorang kutu buku yang banyak bicara. Wajahku langsung tersipu. Astaga, aku malu sekali.
“Keren! Kamu bahkan bisa berpikir sejauh itu, Jes!” puji Samuel. Cowok itu menoleh ke arah Gibran dan memukul lengan temannya. “Kunciran itu bukan milik Berly!”