Keputusan - Samuel

1393 Kata
Setelah aku menjelaskan pada mereka, tidak ada yang mengeluarkan pertanyaan lagi. Akhirnya, aku bisa bernapas lega dengan semua pertanyaan ini. Satu hal yang mengganggu pikiran, mengapa Willy tidak menjawabnya dengan jawaban psikopat, ya? Apa jangan-jangan Willy memang bukan psikopat? “Oke kita lanjut ke rencana awal. Tadi Willy bilang kita harus buat rencana kutukan baru. Jadi, gimana rencana kutukannya?” tanya Jesika. Dia langsung membuka diskusi setelah sekian lama kami terdiam. Ketika aku melihat arloji, ternyata memang sudah mendekati masuk. “Sebelum masuk ke rencana, gue masih nggak paham maksudnya, Wil. Kenapa lo memilih untuk buat rencana baru? Kenapa kita nggak lanjutin rencana kemarin aja? Kita tinggal sedikit lagi mendapatkan informasi dari Siska,” tanya Gibran. Willy melepas kupluk jaketnya lalu menatap Jesika dengan tajam. Setelah itu, dia menundukkan kepala sambil menjawab pertanyaan Gibran. “Jesika pasti paham apa yang gue rencanain. Dia juga pasti mengerti maksud dan tujuannya. Jelasin, Jes!” Jadi, Jesika juga memiliki rencana yang sama untuk membuat rencana kutukan baru? Astaga, mengapa Jesika juga menjadi mirip psikopat sepeti Willy? Aku tidak mau kalau cewek manis menjadi seperti psikopat macam Willy. “Sebelum gue jawab, mungkin kalian bisa pelanin suaranya, ya. Kita di ruangan terbuka, gue takut banget kalau ada yang denger. Nanti kita malah ketahuan sama orang lain kalau lagi nyelidikin kasus Berly. Gue, sih, nggak mau jadi korban berikutnya tanpa kutukan. Kalau kalian mau, silakan aja,” ungkapnya. Benar juga, tadi Gibran secara gamblang mengucapkan kutukan baru. Sepertinya Kami terlalu gegabah dalam menyusun rencana. Mudah-mudahan saja tidak ada yang mendengar pembicaraan kami. b “Kalau gue sendiri, kenapa buat kutukan baru, ya? Ya karena dengan adanya kutukan baru, kita bisa menyelidiki semua hal yang akan terjadi nantinya. Menyelidiki orang yang mengutuk, menyelidiki orang yang dikutuk, dan menyelidiki semuanya secara bersamaan agar bisa mendapatkan informasi penting dari kutukan itu. menurut kalian bagaimana?” tanya Jesika. Jawabannya cukup masuk akal. Aku pikir Jesika sengaja membuat rencana itu karena menginginkan satu korban lain. Syukurlah, aku tidak perlu repot-repot curiga kalau Jesika adalah seorang psikopat. “Dengan kita membuat rencana kutukan baru, kita juga bisa menahan agar kutukan itu nggak terjadi. Kita nggak akan biarin orang yang dikutuk lolos dari penjagaan dan kita juga nggak akan biarin yang mengutuk untuk bebas berkeliaran. Gue juga takut kalau harus mencelakai nyawa orang lain, nggak akan hal itu terjadi.” Willy menyambung penjelasan Jesika. Kalau seperti itu niatnya, aku juga setuju. Kami tidak perlu repot-repot memikirkan siapa orang di balik kutukan ini. Dengan kutukan baru, kami tinggal main detektif-detektifan saja. “Setuju banget! Gue setuju banget buat bikin kutukan baru!” sahutku mantap. Mereka semua keheranan menatapku. Pasti mereka tadi berpikir kalau aku tidak setuju lantaran menyanggah rencana Willy di awal. Biar saja mereka berkata apa, yang penting aku setuju dengan alasannya. “Gue juga setuju kalau emang itu tujuannya. Awalnya gue sempet nggak mau ngelakuin itu, karena taruhannya nyawa, Bro! Kalau kita nggak bisa nyelesain masalah setelah kutukan baru, bisa-bisa kit juga kerepotan nanti,” kata Gibran. Gibran memang sahabatku. Jawaban dan pemikiran dia sama persis dengan pemikiranku. “Jadi, siapa yang akan melakukan kutukan itu?” tanya Marko yang membuat kami semua terdiam. Pasti tidak akan ada yang mau menjadi orang yang mengutuk. Siapa yang mau menjadi pembunuh secara tidak langsung? Aku juga tidak mau. “Pastinya nggak akan ada yang mau ngelakuin kutukan itu, sih. Gue juga nggak mau ngelakuin hal itu. Lo sendiri gimana, Wil?” tanyaku pada Willy. Yang ditanya justru tersenyum miring. Dia tertawa kecil. “Kenapa lo nunjuk gue? Gue nggak bisa ngelakuin hal itu, karena nggak akan ada yang berani macem-macem sama gue. Lo tahu sendiri gimana anak Angkasa kalau sama gue, pasti males cari ribut karena tahu kalau gue akan kalah. Gue punya orang lain untuk melakukan kutukan itu.” “Jangan gue, ya! Gue paling nggak mau cari ribut sama orang lain. Gue mendingan jadi orang yang di belakang layar aja, Wil,” kata Fajar. Semua orang juga lebih kepengin santai dari pada harus menjadi orang yang terlibat. Kalau semua orang berpikiran seperti itu, tidak akan ada yang namanya keributan. Aneh banget si Fajar. “Gue juga nggak akan milih lo, Jar. Lo yang bilang sendiri kalau lo akan bertindak saat butuh jotos-jotosan aja, kan? Jadi lo cukup santai aja. Diem di posisi sampai ada kebutuhan yang mendesak untuk lo lakuin,” kata Willy. Aku semakin penasaran dengan orang yang Willy maksud. Jelas saja aku tidak akan mau menjadi orang itu. Astaga, aku bisa gawat kalau hal itu benar terjadi. Aku tidak akan mau menerima keputusannya. “Jadi siapa orang yang lo pilih? Gue harap jangan gue, ya!” kata Gibran menyahuti. Willy langsung menggelengkan kepalanya. Dia menatap kami satu per satu, kemudian pandangan matanya beralih menatapku lebih lama. Apa jangan-jangan aku yang dia pilih? Jangan sampai itu terjadi! Tersadar aku mendengar dengkusan Jesika yang kencang. Aku menoleh ke arahnya, dia sedang mengalihkan pandangan ke arah Willy juga. “Orang yang gue pilih untuk ngelakuin hal itu adalah Jesika,” kata Willy. Duh, kenapa Jesika yang Willy pilih? Mengapa dia tidak menyuruh Marko atau Gibran? Jangan Jesika! Dia terlalu baik untuk menjadi seorang pembunuh secara tidak langsung. “Gue udah duga,” kata Jesika. “Kenapa harus Jesika? Padahal di sini ada Marko, ada Gibran, ada gue juga, Wil. Kenapa harus Jesika yang lo pilih, sih?” tanyaku. Willy menggelengkan kepalanya. Dia menatap Jesika dengan senyum simpul. “Lo mau ngelakuin hal itu, kan, Jes?” tanya Willy. Jesika menatap kami bergantian. Air keringat di dahinya telah mengucur dari tadi. Mungkin itu bukan karena dia ketakutan, karena suasana gedung ini memang panas. Jesika tidak mungkin ketakutan lantaran menjadi orang yang mengutuk. Setahuku, Jesika adalah perempuan yang berani. “Jawab pertanyaannya Samuel dulu, Wil! Kenapa harus gue yang ngelakuin hal itu? Gue ini cewek cupu dan orang yang paling dijauhi di sekolah. Untuk rencana ini, gue bener-bener nggak bisa diandelin. Bukannya lo butuh orang yang kuat juga? Lo sendiri yang bilang kalau orang lemah seperti lo nggak bisa dijadikan andelan,” kata Jesika. “Kata siapa gue lemah?” tanya Willy. “Tadi lo bilang sendiri, lo akan kalah melawan siapa pun. Bukannya itu berarti kalau lo orang lemah juga?” tanya Jesika dengan sangat yakin. Jesika adalah orang pertama yang mengatakan Willy adalah orang lemah. Walaupun fisiknya kurus dan terlihat orang yang lemah, Willy justru lebih menakutkan jika sedang marah. Omong-omong, dia hampir mengalahkan Gibran saat adu pancu setahun yang lalu, Yang lain tidak ada yang bersuara. Pasti pada bingung ingin menjawabnya dengan apa. Aku lebih senang tim yang jarang berdebat, tetapi hasil akhirnya lancar. “Intinya gue memilih lo jadi andelan kali ini, Jes. Lo itu sebenernya nggak cupu. Gue tau kalau lo pernah hampir juara silat, Jes. Lo satu padepokan sama Fajar, kan?” tanya Willy. Astaga! Kenapa Willy bisa mengetahui Jesika sampai sedalam itu? Aku saja yang mencintainya sejak lama tidak mengetahui tentang Jesika yang hampir menjadi juara silat. “Itu nggak menjawab pertanyaan Samuel,” kata Jesika. “Jawabannya, karena siswi di sini pasti ngerasa lo adalah orang yang paling bisa ditindas. Lo tinggal nyari ribut sama orang lain, terus lo kutuk orang itu. Gampang, kan?” Willy tersenyum lebar. Baru kali ini dia tersenyum lebar. “Iya kalau omongan doang, sih, gampang, Wil. Kalau dilakuin itu yang susah. Gue tetep bingung gimana cara nyari ribut sama orang lain. Gue nggak pernah punya temen selain Vina dan Berly. Sekarang temen gue hanya Vina. Bagaimana kalau gue justru jadi orang yang tertindas terus justru dikutuk? Gue belum siap untuk mati,” kata Jesika. “Santai aja, Jes. Ada kita semua yang jagain kita nanti. Lagian, aku nggak akan pernah ngebiarin orang lain mengutuk kamu, kok,” sahutku. “Mungkin sebaiknya kasih Jesika waktu untuk berpikir, Wil. Kasihan banget lo suruh dia langsung gini. Kalau dia keberatan, kasihan dia, Wil,” kata Marko. “Bener banget! Kali ini gue setuju sama Marko. Jesika harus dikasih waktu untuk berpikir. Kalau dia setuju, kita boleh melanjutkan rencana. Kalau emang dia nggak setuju, kita harus ganti rencana lain,” sahut Fajar. Kami semua sontak langsung menatap Jesika. Dia langsung kebingungan. Namun, sedetik kemudian dia langsung menjawabnya dengan lantang. “Sebelumnya gue minta maaf karena nggak bisa ngasih jawabannya sekarang. Bener banget kata Marko, gue nggak bisa ngasih jawaban itu karena gue harus pikirin hal-hal lainnya. Gue baru bisa ngasih jawaban itu nanti malam aja, gimana?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN