Aku langsung terdiam mendengar jawaban Marko. Tatapan matanya yang tajam membuatku bergidik ngeri. Tidak biasanya dia menatapku dengan tatapan semengerikan ini. Dia menatap seolah ada hal yang ingin dia lakukan padaku. Ada apa dengan marko? Apa dia tidak senang dengan pertanyaan yang tadi?
“Samuel!” Jesika menepuk bahuku dengan sedikit kencang sehingga badanku terlonjak kaget.
Ternyata, semuanya sudah membuka matanya dan menatapku dengan keheranan. Mereka semua menatapku dengan tatapan yang sama, bola mata yang membesar dan mulut sedikit terbuka. Aku sampai lupa kalau mereka sedang menunggu perintah untuk membuka mata.
“Lo kenapa ngeliatin Marko kayak begitu, ya?” tanya Gibran dengan nada yang sedikit meninggi. Kenapa jadi dia yang marah-marah? Seharusnya aku yang marah karena Marko menatapku seolah aku adalah orang yang ingin dia hajar habis-habisan.
“Nggak ada apa-apa, kok. Gue cuma lagi mikir sesuatu aja, Gib,” sahutku sambil berusaha menenangkan degup jantung. Setelah ditatap oleh Marko, aku langsung terdiam dengan jantung yang berdegup soalnya. “Oke karena kalian semua udah jawab, gue juga udah denger semua jawabannya. Terima kasih banyak ya udah mengikuti permainan.”
“Sebenernya tujuan lo untuk ngajak permainan bukan hanya sekedar tahu doang, kan? Jawab jujur aja kenapa lo nanya-nanya kayak tadi? Mana pertanyaannya tentang kejahatan semua,” kata Gibran.
Awalnya aku hanya ingin menyimpan semua informasi tadi sendirian. Namun, mereka mungkin akan bingung dengan maksud dan tujuanku kalau sengaja tidak diberitahu. Jadi, aku memutuskan untuk mengatakannya secara perlahan-lahan.
“Tadi itu tes psikologi doang, kok. Kalian jawab pertanyaan dan jawabannya akan membuat orang yang nanya tahu apa kepribadian kalian,” sahutku.
Semuanya menatapku dengan tatapan kebingungan lagi. Memangnya apa yang mereka harapkan? Apa jangan-jangan mereka sudah mengetahui tes-tes yang aku tanyakan tadi?
“Kenapa kalian natap gue begitu, sih? Kalian berharap gue kasih tahu maksud dan tujuannya? Udah gue jawab, untuk tes doang. Apa lagi yang kalian harap, sih?”
Jesika menggelengkan kepala sembari tersenyum. Dia menjawab pertanyaanku. “Aku yakin ada maksud dan tujuan yang lain selain yang tadi. Mendingan kamu omongin aja semuanya, deh. Bilang apa yang kamu maksud tadi, terus masalah selesai. Kita bisa bahas rencana nanti.”
Jawaban Jesika semakin membuatku yakin. Akhirnya, dengan berat hati, aku harus menjelaskannya pada mereka. Mudah-mudahan saja tidak ada yang berubah setelah jawaban mereka aku ungkap.
“Tadi itu tes untuk psikopat yang gue baca di salah satu artikel. Setiap pertanyaan sudah ada jawabannya, dan jawaban hampir semua psikopat menunjukkan kesamaan. Kalian yakin mau denger jawaban kalian itu jawaban psikopat atau bukan?” tanyaku setelah menjelaskan pada mereka.
“Gue yakin jawaban gue bukan jawaban psikopat. Soalnya gue emang bukan psikopat,” kata Fajar dengan lantang.
“Iya gue juga bukan psikopat. Kalau jawaban gue itu jawaban psikopat, pasti itu salah, Sam!” ucap Gibran.
Aku yakin pertanyaan di artikel itu benar sekali. Walaupun aku belum mengetahui kebenarannya, tetapi aku sangat yakin kalau itu benar. Entah bagaimana caranya aku bisa sepercaya ini. Sebab, semua jawaban yang tersedia menunjukkan bahwa jawaban itu memang jawaban yang tidak masuk akal untuk orang-orang biasa.
“Mending lo jelasin aja! Jangan kelamaan, Sam!” Willy membuka suara setelah sekian lama diam. Dia sepertinya mulai terlihat tidak menyukai suasana ini.
“Pertanyaan pertama tentang perampok. Dua di antara kalian ada yang menjawab pertanyaan perampok itu sesuai dengan jawaban psikopat,” ucapku.
Sontak hal itu membuat suasana yang tadinya ramai dengan tawa Fajar mendadak sepi akibat pada penasaran. Jelas saja, mereka pasti tidak akan mau dikenali sebagai orang yang menjawab sama dengan jawaban psikopat. Memangnya siapa yang mau dikenali sebagai seorang psikopat? Melihat psikopat saja orang-orang tidak mau, apalagi menjadi psikopatnya langsung.
“Siapa orang yang menjawab itu, Sam?” tanya Jesika.
“Orang yang menjawab dengan jawaban psikopat itu ....”
Mereka semua menunggu jawaban yang aku berikan. Gibran dan Willy sampai tidak berkedip dari tadi. Aku memperhatikannya.
“Orang yang menjawab itu Gibran dan Marko.”
“Enak aja! Gue bukan psikopat kali!” tandas Marko dengan suara super kencangnya. Tangannya langsung memukul lenganku dengan kencang. “Lo jangan macem-macem, deh! Segala bilang itu jawaban psikopat. Emangnya selama ini gue terlihat mencurigakan seperti psikopat? Gue selama ini jadi sobat yang baik. Lo lupa dengan kebaikan gue, Sam?”
“Ya lo akan dibuang kalau udah nggak berguna layaknya sampah, Ko!” kata Willy menyahuti.
Astaga! Kenapa Willy harus menjawabnya dengan jawaban itu? Aku yakin Marko akan tersinggung dan lanjut membentakku lagi.
“Oh jadi lo anggep gue sampah yang nggak berguna, ya? Jadi begitu, Sam?” Marko menatapku dengan senyum miringnya.
Benar saja dugaanku tadi. “Nggak begitu, Ko! Gue juga nyebut Gibran tadi, kenapa lo harus tersinggung kalau nggak melakukan apa-apa?”
“Iya, kenapa lo harus tersinggung? Jangan-jangan lo ngumpetin semua identitas psikopat lo, ya? Makanya sampai marah-marah nggak jelas kayak begitu,” ucap Fajar menyahuti.
“Lo jangan sembarangan kalau ngomong, ya! Lo pikir gue takut ngelawan orang kayak lo?” tantang Marko sambil berdiri.
“Ya ayo sekarang! Lapangan sepi, tuh! Lo mau berantem sama gue sekarang, nih?” Fajar menyahuti tantangan yang Marko berikan. Dia berdiri dan langsung menatap Marko dengan tatapan kemarahan.
“Kalian udah mau lulus sekolah, kenapa semakin kayak anak bocah, sih? Nggak usah tersinggung masalah kecil, dong! Di dunia kerja nanti banyak yang suka nyindir-nyindir. Apa kalian akan terus berantem kalau disindir-sindir?” Jesika melerai mereka berdua dengan kedua tangan kecilnya.
Aku sudah duga kalau aku menjawabnya, mereka pasti akan merasa tersinggung dan pasti ada perubahan suasana. Benar saja, Fajar memancing keributan, sementara Marko memakan umpannya sampai percikan api mulai muncul.
“Kalau kalian akan seperti ini terus, nggak akan ada habisnya. Kalau permasalahan kecil, ayo coba berdamai dengan diri sendiri dan anggap itu adalah candaan. Kalau emang udah bener-bener keterlaluan, kalian baru boleh marah-marah. Masa hanya meributkan masalah kehebatan aja kalian mau berantem?” tanya Jesika.
Willi langsung ikut berdiri dan menghampiri Marko. Dia menarik bahu marko yang sedang bertatapan dengan Fajar. “Udah nggak usah kebawa emosi, Ko! Kita ini sekarang jadi tim penyelidik. Jangan sampai masalah kecil buat tim ini hancur, dong!”
Marko kembali duduk di samping Willy kali ini. Fajar sudah mulai tenang juga dengan mengalihkan pandangan ke arah lain. Aman dunia kalau mereka tidak bertengkar.
“Terus jawaban kedua itu ada yang menjawab seperti jawaban psikopat, dan itu Marko lagi. Gue bilang begini bukan berarti gue anggap Marko psikopat, ya! Gue melakukan hal itu coba-coba aja, kok. Buktinya juga banyak psikopat yang jawabannya nggak seperti Marko tadi. Jadi, jangan sampai pertanyaan gue tadi mengubah persepsi seorang Marko yang playboy jadi Marko yang psikopat!”