Aku pikir tidak ada orang nekat lagi selain Marko yang mengajak aku untuk menginterogasi Loli saat di kantin. Ternyata, aku justru menemukan orang nekat baru lainnya. Kemudian hal yang paling buruknya, orang itu ada di dalam gengku sendiri. Dia adalah Willy, sobatku dengan sikap anehnya.
Tidak aneh kalau seorang Willy bisa berpikiran liar. Liar yang aku bicarakan di sini bukan hal yang negatif, tetapi hal yang menguras tenaga serta pikiran hanya untuk kepentingan kita. Kalau dipikir-pikir, Willy memang sudah seperti psikopat yang menyamar menjadi siswa SMA. Apa aku harus memasukkan Willy ke dalam daftar orang yang mencurigakan di kasus pembunuhan Berly? Mengingat dia sudah memenuhi kriteria psikopat yang tersebar di internet.
Dia mengelarkan usulan untuk membuat kutukan baru lagi. Itu berarti akan ada korban lain yang jatuh akibat kutukan baru. Astaga! Aku sendiri tidak tega jika memang harus merelakan nyawa orang lain dengan kutukan. Hal itu sama saja kami adalah pembunuh secara tidak langsung.
Lebih baik kutukan itu terjadi secara spontanitas. Kalau dengan cara itu, kami semua akan lebih mudah untuk terlaksana. Kami tidak perlu repot-repot memikirkan perasaan kami yang telah membunuh orang secara tidak langsung. Biarkan saja mereka yang menanggung akibatnya.
Sepertinya aku harus memastikan satu kebenaran dalam diri Willy. Aku langsung memotong pembicaaraan yang sedang terjadi. “Hei! Ada yang mau main teka-teki? Gue ada satu teka-teki yang harus kalian jawab. Kalian hars jawab, ya!”
Seperti biasa, Marko dengan wajah asamnya langsung menatapku. Orang seperti Marko memang tidak pernah senang jika berurusan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengurang otak. Dia lebih senang pertanyaan tentang perempuan dan bermain fisik.
“Dipercepat aja, ya! Soalnya sedikit lagi mau bel,” kata cewek manis alias Jesika. Dia tersenyum padaku sambil menunjukkan jejeran gigi putihnya yang rapi. Berapa kali kamu gosok gigi itu sehari, Jes? Bersinar sekali di mataku.
“Lo aneh-aneh aja, Sam. Mau nanya apa emangnya?” tanya Gibran. Dia langsung menegakkan tubuhnya dan menyangga tangan di bangku tribun.
“Kita mau main point of view, gitu. Kalian akan menjadi orang yang gue ceritain. Kemudian, kalian harus jawab apa yang gue tanya nanti dengan catatan, semuanya harus tutup mata!” Aku menjelaskan pada mereka dengan lancar.
Fajar yang pertama kali menyahut. “Nggak jelas banget, deh. Lo kalau mau nanya, langsung aja nanya, sih! Nggak usah pakai tutup mata segala dong!”
“Kenapa? Lo takut kalau tutup mata? Takut gelap, ya? Masa anak silat takut gelap, sih,” kata Marko menyahut dengan nada yang meledek.
Sebelum mereka berdua membuat keributan dengan cekcok, aku harus melerainya terlebih dahulu. “Oke perdebatannya jangan dimulai sekarang, ya! Marko dan Fajar harus nurut! Nggak boleh berantem kalau ada di tim ini! Paham apa yang gue maksud?”
Marko mengalihkan pandangannya ke arah Willy, lalu memukul kursi tribun dengan keras. Sementara Fajar hanya menatap Marko dengan penuh kebencian. Aku yakin kalau mereka berdua berada di dalam satu arena, pasti perkelahiannya bukan untuk saling mengalahkan, tetapi kemungkinan buruknya, mereka akan saling membunuh.
“Udah buruan, Sam! Dua puluh menit lagi bel masuk, nih!” Willy memerintahkanku untuk memulai teka-teki.
“Ya, oke. Semuanya tutup mata! Buruan tutup matanya!”
Setelah mereka semua sudah mentup mata, aku langsung memastikannya satu persatu. Jangan ada yang curang dalam permainan kali ini. Kemungkinan hal itu justru membuat permainan menjadi tidak seru.
“Gue ada beberapa pertanyaan. Kalian hanya harus menjawab pertanyaan gue setelah mendengar pertanyaannya. Kalian boleh jawab satu per satu, kalau nggak mau ketahan sama yang lain, boleh bisikin aja ke gue jawabannya!” ucapku.
Tidak ada yang menyanggah ucapanku. Itu berarti semuanya sudah paham. Aku langsung mengeluarkan pertanyaan pertama. “Aku adalah perampok dan sedang berada di luar rumah seseorang yang rumahnya ingin aku rampok. Namun, ternyata di dalam rumah terdapat penghuninya. Ketika aku membuka pintu, penghuni itu justru berlari ketakutan ke arah dapur. Aku pikir dia berlari lewat pintu belakang, tetapi dia malah naik ke atap rumah yang tidak ada pintu keluarnya. Aku bisa melihat pintu atap yang baru tertutup tadi. Apa yang akan aku lakukan?”
Mereka semua diam tidak menjawab pertanyaanku. Aku langsung menghampiri Marko dan menepuk pundaknya. Seketika dia paham apa maksudku, dia langsung berbisik. “Nungguin sampai orangnya keluar. Seenggaknya gue aman dari polisi.”
Oke, jawaban Marko sudah ak ketahui. Aku berjalan ke arah Jesika di sampingnya. Dia menjawab, “Aku keluar aja langsung lari biar nggak ketahuan warga.”
Jawaban yang menurutku paling lucu. Dia adalah orang pertama yang memikirkan hal itu. Apa jangan-jangan dia tidak sadar kalau dia adalah perampok tadi? Memangnya ada perampok yang takut sama warga? Bahkan perampok asli justru merampok seluruh harta sebagian warga.
Aku kembali berjalan ke arah Willy. Dia menjawab, “Gue rampok barang-barangnya, terus pulang.”
Jawaban Willy sudah aku dengar. Tersisa Fajar dan Gibran. Aku langsung berjalan ke arah Fajar dan duduk di antara Fajar dan Gibram. Fajar menjawab dengan suara berbisik yang keras. “Gue ambil semua barang, habis itu pergi.”
“Gue tungguin sampai orangnya keluar. Baru gue melakukan misi untuk merampok,” kata Gibran.
Semua jawaban sudah aku terima. Seharusnya aku sudah bisa menyimpulkannya dari mereka. Namun, aku masih sedikit kurang yakin dengan jawaban mereka. Akhirnya aku memutuskan untuk bertanya kembali.
“Oke pertanyaan kedua. Aku sedang menggali tanah di malam hari untuk mengubur orang yang baru saja aku bunuh. Ketika sedang menggali, ada bayangan orang yang sedang menatapku dari kamar apartemennya. Ketika aku lihat, ada orang yang berdiri di belakang jendela sambil menatapku dengan ketakutan. Seketika tanganku menunjuk ke arah gedung apartemen. Apa yang aku tunjuk?”
Aku memulai jawaban dari Fajar dan Gibran. Fajar langsung membisikkannya padaku setelah aku menepuknya. “Gue nunjuk orangnya untuk ngancam.”
Setelah itu, aku menepuk Gibran agar langsung menjawab pertanyaanku. Dia langsung menjawabnya. “Gue seakan lagi ngancam dia.”
Dua jawaban awal yang aku dapat tidak ada masalah. Aku langsung mendekat ke arah Willy. Dia menjawabnya dengan gelengan dan tawa. Setelah itu dia berkata, “Pertanyaan lo aneh. Dia lagi ngancem orangnya.”
Apa yang aneh, sih? Aku hanya ingin memastikan seluruh anggota tim penyelidik saja. Bagaimana kalau ternyata di dalam tim ada psikopat sungguhan? Aku bukannya takut, hanya saja kalau dia bersikap lebih parah, tim kami bisa dalam bahaya.
“Jawaban kamu apa, Jes?” tanyaku setelah duduk di sampingnya.
Dia tersenyum simpul lalu menjawabnya dengan suara lembut. “Aku lagi ngancam orang itu, Sam. Biar dia diem dan nggak ngelaporin ke polisi.”
Astaga Jesika! Jangan terlalu manis! Aku bisa kena penyakit gula karenamu.
Langsung aku berjalan ke arah Marko. Awalnya aku biasa saja dengan semua jawaban yang sudah terjawab. Namun, setelah Marko menjawab pertanyaan pertama, aku jadi sedikit ragu.
“Jawaban lo apa, Ko?”
Marko membuka matanya dan menjawab pertanyaanku dengan mata memicing. “Kayaknya gue lagi nyari tahu itu lantai berapa. Soalnya dari luar, pasti kelihatan bisa ngitung lantai berapa. Terus gue mau nyamperin si orang yang ngintipin gue.”
“Nyamperin? Lo mau ngapain nyamperin orang itu?” tanyaku dengan sedikit berbisik.
“Ya jelas mau ngasih peringatan untuk nggak bocor. Kalau sampai bocor atau kalau gue nggak percaya, bisa gue habisin saat itu juga.”