Perdebatan - Jesika

1393 Kata
Ternyata seorang cowok yang memakai jaket hitam polos dan tudungnya digunakan yang berbicara, Willy. Aku tidak heran kalau dia seolah seperti cowok menyeramkan seperti psikopat, karena penampilan dan gaya berbicaranya persis seperti golongan mereka. Yang aku maksud itu golongan psikopat, ya. Aku dan Fajar kaget ketika dia berbicara dengan nada rendah. Apalagi kehadirannya tidak kami sadari. Kalau saja dia tidak berbicara, mungkin kami akan terkejut saat ingin pergi. Apa yang sudah dia dengar sejak tadi, ya? “Kenapa lo muncul selalu ngagetin orang, sih? Nggak bisa nyapa dulu gitu?” tanyaku dengan nada yang super sewot. Biar saja dia tersinggung, aku paling tidak suka dengan orang yang menguping soalnya. “Lo kenapa mirip banget sama hantu, sih? Gue sampe nggak sadar kalau lo ada di situ. Sejak kapan lo di situ?” tanya Fajar yang sambil mengelus-elus dadanya. Omong-omong, aku tidak terlalu terkejut sampai harus mengelus-elus d**a seperti Fajar. Soalnya Willy tidak terlalu mengagetkan banget. Paling-paling hanya membuat napasku terhenti beberapa detik. Setelah itu langsung kembali normal. “Sejak Jesika ngasih tau rencana untuk interogasi Loli buat dapetin informasi mengenai Siska.” Willy melepas penutup kepala jaketnya. Wajahnya yang berwarna putih kemerahan langsung terlihat jelas oleh mataku. Dia tersenyum miring sebelum melanjutkan perkataannya. “Lo marah karena gue ngagetin atau marah karena gue seolah-olah menguntit?” Memang dasar psikopat! Bisa-bisanya dia paham apa yang sedang aku pikirkan. Waktu itu dia paham apa yang Vina takutkan. Sekarang, dia paham apa yang aku tidak suka. Sepertinya aku tidak perlu banyak bicara dengannya. Willy pandai membaca pikiran seseorang, hebat sekali. “Nggak usah kesel karena gue paham apa yang lo pikirin, Jes. Terlihat jelas kalau lo nggak kaget tadi, jadi gue bisa nyimpulin. Kalian nggak perlu repot ngobrol berdua masalah kutukan itu. Sebentar lagi Marko dan Samuel akan dapat informasi dari Loli. Kita tunggu aja infonya,” kata Willy. Fajar langsung semringah mendengar penjelasan dari Willy. Sebenarnya aku juga senang, sebab tandanya kami bisa mendapatkan satu informasi. Setidaknya ada satu petunjuk untuk menemukan siapa sosok di belakang kedok kutukan. “Kalian geraknya cepet banget, sih. Kapan kalian ngerencanain hal itu, deh? Kayaknya waktu itu kita langsung pisah setelah pulang sekolah. Kalian nyembunyiin rapat khusus tentang masalah ini, ya?” tanya Fajar. “Waktu itu emang semuanya pisah, Jar. Kita ketemuan semalem di kafe Staxo. Lo sengaja nggak diajak, soalnya rumah lo nggak ada yang tahu letaknya. Gue juga males nganterin ke sana,” jawabku dengan santai. Sebenarnya, aku juga tidak tahu masalah rapat di kafe semalam. Aku hanya diundang oleh Samuel untuk makan malam. Tahu-tahu ada Gibran datang dan kami langsung berbicara di mobil Marko. Jadi, semua perkataanku tadi adalah bohong. “Lo kenapa pengin banget ikut rapat khusus itu? Emangnya lo yakin geng gue nerima lo? Lagian nanti lo sama Marko bakal berantem terus kalau disatuin. Gue sebenernya ogah untuk nerima. Berhubung lo bilang bisa jadi sosok yang bisa diandelin kalau ada adegan jotos-jotosan, akhirnya gue setuju,” sahut Willy. Aku tidak mau ikut campur dalam masalah terima-menerima. Soalnya itu bukan geng aku, melainkan geng Samuel dan yang lainnya. Biarkan saja Willy yang berbicara. Aku hanya bisa mengajak, kalau disetujui berarti Fajar boleh bergabung. “Walaupun gue bukan geng kalian, seenggaknya gue bisa membantu, Wil. Lagian lo takut banget gue sama Marko bakal berantem terus, sih? Kalau dia nggak nyari gara-gara duluan, gue nggak akan berantem, kok,” kata Fajar. Itu adalah pembelaan paling tidak masuk akal yang pernah aku dengar. Fajar berkata seolah-olah dia tidak pernah mencari gara-gara dengan Marko. Padahal, hampir keduanya selalu mencari gara-gara jika bertemu. “Gue nggak peduli siapa yang cari masalah duluan. Soalnya gue nggak tertarik dengan pertengkaran kalian yang nggak bermutu. Lo kalau mau gabung, cukup jadi manusia baik.” Willy berjalan ke arah lorong kelas IPS. Mau ke mana dia? Apa Willy ingin kembali ke kelasnya? Seperti boneka jelangkung saja. Datang tidak diundang, pulang tidak diantar. “Ikutin dia nggak, Jar?” Aku bertanya. Bukan karena aku tertarik dengan pembicaraan, tetapi Fajar terlihat ingin sekali untuk berbicara pada Willy. “Kita ikutin aja, deh!” Fajar mendahuluiku untuk mengejar Willy. Yah, Willy gagal jadi boneka jelangkung seperti yang aku katakan tadi. Dia jadi kami antar pulang. Tidak masalah, setidaknya dia memenuhi lima puluh persen kriteria jelangkung “Emangnya selama ini gue jadi manusia yang kurang baik, ya? Kok lo ngomong begitu, Wil? Lo kalau ngomong jangan setengah-setengah, dong!” Fajar menepuk pundak Willy lalu membalikkan badan cowok kurus berjaket hitam. Apa Fajar sedang tersinggung karena perkataan Willy? Sejujurnya, Fajar memang orang yang baik. Dia bersikap seperti siswa yang lainnya dan tidak ada yang perlu dikesalkan. Willy juga pasti berkata hal yang ingin dia katakan saja, tidak bermaksud menyinggung. “Lo tersinggung karena ucapan gue, Jar? Emangnya lo selama ini jadi manusia yang baik atau yang kurang baik? Kalau lo jadi manusia baik, seharusnya lo nggak perlu tersinggung. Kalau lo tersinggung justru buat gue makin percaya bahwa lo adalah orang yang nggak terlalu baik,” jawab Willy. Jadi itu prinsip yang Willy pegang. Dia tidak perlu khawatir kalau sindiran orang tidak ada di dalam dirinya. Kalau dia tersinggung, berarti dia sedang merasakan kesalahan itu. Menarik, ada satu hal yang bisa aku ambil dari Willy. “Lo nggak perlu pusing cari pembelaan kalau diri lo itu baik, Jar. Cukup jadi diri lo yang sekarang, lo udah dianggap jadi orang baik.” Willy melepas pegangan tangan Fajar di pundaknya. Tidak dengan Marko, Fajar malah mencari masalah dengan Willy. Sebenarnya, Fajar yang bermasalah di sini. Dia yang banyak memiliki masalah pada orang lain. Kalau begitu kejadiannya, justru Fajar yang salah, bukan orang lain. “Lo nggak usah nyari ribut sama gue bisa nggak? Kalau lo mau bilang gue itu nggak baik, bilang aja, Wil! Lo nggak perlu pakai sindir-sindiran! Gue lebih seneng orang yang to the point dari pada orang yang seneng main sindir-sindiran!” bantah Fajar tak kalah sengit. Dia sudah mengeluarkan urat-urat di lehernya. Itu berarti Fajar sedang marah. “Terus lo mau hajar gue di wilayah sekolah karena nyindir lo tadi? Lo terlalu mikirin banget kalau lo nggak baik, sih? Santai aja, Jar. Gue bilang lo harus jadi orang baik, bukan lo nggak baik,” ucap Willy. “Sudah lah, Jar. Lo nggak perlu terlalu kelewat marah karena omongan Willy. Lagian percuma kalau lo marah-marah sama Willy juga. Lo sama aja membuktikan kalau diri lo nggak baik,” sahutku. Aku bukan membela Willy. Namun, pembicaraan mereka justru akan semakin berlarut jika tidak ada pemisah. Seandainya saja Fajar semakin emosi, aku yakin Willy akan dihajar. Kalau sudah seperti itu, aku tidak yakin kalau Marko diam saja. Akhirnya, Fajar mulai melangkah mundur. Syukurlah, tidak memanjang masalah ini. Sekarang aku tinggal memastikan keduanya meminta maaf. “Ayo, keduanya minta maaf!” Fajar menoleh ke arahku dan menggelengkan kepalanya. “Dia yang salah, kenapa gue yang harus minta maaf juga, Jes? Lo nggak salah ngomong, kan?” “Serius, gue nggak salah ngomong. Lo juga harus minta maaf karena udah nuduh Willy sembarangan. Nggak penting siapa yang salah sebenernya, tapi minta maaf akan ngebuat lo berpikir kalau lo juga gak terlalu benar dalam bertindak.” Keduanya masih diam di tempat. Apa yang mereka pikirkan? Ego masing-masing untuk tidak meminta maaf? Dasar para cowok gengsi! Apa aku juga yang harus menyuruh mereka untuk berjabatan tangan? Oke, aku semakin geram melihat tingkah mereka berdua. Langsung saja aku tarik tangan keduanya dan membuat mereka berjabatan tangan. “Susah banget minta maaf, ya?” tanyaku. Willy mengembuskan napasnya dengan kasar. Dia membuang muka ke arahku lalu kembali menatap Marko. “Gue minta maaf, Ko.” “Iya, gue juga minta maaf, Wil.” Aku senang melihat mereka yang akur. Tidak seperti tadi yang ingin bertengkar. “Lagi gladiresik untuk lebaran, ya? Tumben banget pada salam-salaman segala,” kata orang yang aku kenal, dia Gibran. Aku langsung menoleh ke belakang. Apa dia mendengar pembicaraan kami bertiga tadi? Masa bodoh lah. “Nggak usah banyak drama, yuk. Si Samuel sama Marko udah dapetin informasi dari Loli. Kita ke gedung basket aja sekarang.” Gibran berjalan disusul oleh willy. Aku langsung mengikut di belakangnya. Astaga, ini adalah hal yang paling ditunggu. Aku pikir informasinya akan didapat esok hari. Paling cepat juga malam hari. Belum ada sehari, bahkan belum ada satu jam, kami sudah diajak berkumpul. Sesampainya di gedung basket, Gibran berhenti di pinggir podium. “Nggak mungkin di tempat biasa, ada Jesika soalnya.” Ada apa dengan aku memangnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN