Personil Baru - Jesika

1308 Kata
Hari ini, aku sungguh bahagia menjalani hidup, awalnya. Aku bahkan tidak pernah berharap kalau kejadian hari ini akan terjadi. Semuanya terjadi begitu saja tanpa aku harapkan. Ketika aku keluar dari kelas, sungguh pikiran langsung tertuju ke perpustakaan. Aku sangat penasaran pergerakan benda langit. Makanya aku langsung buru-buru ke perpustakaan dan mencari bukunya. Semuanya terjadi tanpa ada kendala. Aku duduk di bangku yang atasnya ada baling-baling kipas sambil membawa buku astrologi. Lalu suasana berubah ketika seorang cowok bertubuh tegap dan berjambul duduk di depanku. Dia adalah Samuel. Ya, benar sekali, Samuel Lazuardi. Cowok yang aku taksir sejak zaman purba. Oke itu terdengar terlalu berlebihan. Sejak zaman kami masa orientasi sekolah. Cowok yang berhasil memikat hati banyak cewek termasuk aku, cewek cupu yang hobinya baca buku. Semalam, kami berada di satu mobil yang sama. Sekarang, kami berbagi meja. Sayangnya, ini di perpustakaan, pasti tidak bisa banyak yang bisa kami bicarakan. Akhirnya, aku hanya bisa mencuri pandang saat sedang membaca. Hal yang sangat disayangkan kedua, Samuel mendadak harus pergi. Entah apa yang dia harus lakukan, aku tidak tahu alasannya. Yah, itu yang membuatku merasa sedih sehingga memutuskan untuk membuntutinya. Satu hal kesalahanku, terlalu curiga. Aku sudah berpikir macam-macam pada Samuel, padahal dia hanya bertemu dengan Marko dan Loli. Bisa aku putuskan kalau mereka berdua sedang mengorek informasi dari Loli. “Ngintipin siapa, Jes?” “Astaga!” Aku memekik keras kala seorang pria berbicara tepat di belakangku. Aku sempat mengira itu setan. “Lo ngagetin aja, sih!” Fajar hanya tersenyum menanggapi teguranku. Kalau bukan teman, sudah aku hajar dia. Kemudian aku langsung berjalan meninggalkannya sendirian. “Lo mau ke mana, Jes?” tanya Fajar yang ternyata mengikutiku. “Balik ke kelas lah. Mau ke mana lagi? Gue males ke perpustakaan lagi, bete banget sama si Mirna.” Aku mencak-mencak sambil berjalan menuju arah kelas. Fajar justru tertawa mendengar ucapanku. Dia sih enak, tertawa saat aku ditegur oleh si Penjaga perpustakaan. Aku yang ditegur dengan cara dibentak di depan umum masih merasakan malu yang super malu. “Itu si Samuel dan Marko mau ngapain ngobrol sama Loli?” tanya Fajar di tengah anak tangga. “Ya mana gue tahu, Jar. Kalau gue tahu, gue nggak akan bersikap seolah mau nguping tadi. Lo lupa kalau gue hampir ketauan nguping gara-gara lo kagetin? Dasar jahat!” tandasku. Lagi-lagi dia tertawa keras. Sesampainya di lantai dua, kami memilih tempat di dekat tembok pembatas dan berdiri di sana. “Lo jangan ketawa mulu dong! Kalau gue jadi punya penyakit jantung gara-gara lo kagetin, emangnya lo mau tanggung jawab?” “Enak aja tanggung jawab. Emangnya gue hamilin lo? Lagian dikagetin begitu doang mah nggak ada efeknya, Jes. Lo terlalu berlebihan!” sahutnya dengan nada yang tinggi. Aku paling malas berbicara dengan Fajar jika dia sedang merasa tersinggung. Anak itu pasti akan mengeluarkan segala cara untuk melindungi dirinya agar aman. Mirip-mirip orang egois, tetapi Fajar masih bisa dinasihati. “Makanya jangan suka ngagetin orang! Lo nggak bisa nepuk pundak gue emangnya?” Aku bertanya dengan nada yang tidak kalah tinggi. Masa bodoh dengan siswa di dalam kelas yang melihat kami seperti bertengkar. “Ya gue minta maaf. Lain kali nggak akan ulang lagi, kalau inget. Lo tadi ngintipin Samuel apa mau nguping omongan mereka?” Pasti seperti itu akhirnya, Fajar mengalihkan pembicaraan. Dia mana mau mengaku salah dengan tulus. Kalau mengaku benar, dia paling ahli. “Kenapa juga lo di sana tadi? Bukannya tadi gue udah liat lo mau ke lantai dua? Kenapa jadi di kantin?” tanyaku yang dibalas dengan cengiran Fajar. Apa maksudnya dia memberikan aku cengiran? Ada hal yang terlupa? “Gue juga penasaran sama mereka bertiga tadi, Jes. Lo nggak penasaran emangnya? Tumben banget si Marko manggil si Loli doang. Loli juga mau aja samperin sendirian,” jawabnya. Ada yang aneh. Aku langsung menyahuti perkataan Fajar. “Sebentar, Jar! Kenapa lo bisa tahu kalau mereka bertiga mau ketemuan? Bukannya tadi lo udah ada di lantai dua, ya? Aneh banget, Jar.” Fajar terdiam setelah aku menjawab. Namun, dia langsung menjawabnya setelah tertawa pelan. “Gue tadi denger si Marko di kantin. Dia tadi ngomong pelan, kebetulan gue di belakangnya. Waktu nyampe lantai dua, gue langsung penasaran. Apa mereka mau nyelidikin kasus si Berly?” Oh, jadi dia menguping perkataan Marko. Aku hampir saja curiga dia ingin mengikutiku. Pernah ada rumor juga kalau Fajar menaruh cinta padaku. Jangan sampai itu terjadi karena aku tidak mau berurusan percintaan dengan teman. “Iya, mereka berempat ngajak gue buat nyelidikin kasus si Berly. Kasian banget Berly kalau sampai jadi arwah gentayangan kalau sampai pelakunya nggak ditemuin,” sahutku santai. “Jadi, semuanya sampai pada keputusan yang sama seperti gue, ya? Kutukan itu nggak ada, adanya pembunuh. Baru pada percaya, ya?” Fajar berkata dengan nada yang lumayan keras, beruntung tidak ada orang lewat. “Gue juga nggak pernah berpikir kalau kutukan itu ada, Jar. Gue nggak percaya kutukan. Kalau masalah hantu, setan, jib, iblis, semacamnya gue masih percaya. Kalau kutukan, gua sulit untuk percaya,” jawabku. Fajar menyetujui ucapanku dengan anggukan. “Terus akhirnya rencana kalian gimana? Gue berhak tau juga, soalnya gue ada di TKP sama lo dan Samuel, kan?” “Iya kita mau cari informasi dari Loli. Tersangka pertama kita itu ya si Siska, pelontar kutukannya. Siapa tau Siska yang ngelakuin? Nggak ada yang tau, Jar,” sahutku menjelaskan. Aku percaya kalau Fajar bisa menjaga rahasia. Lagi pula, aku memang berniat mengajaknya di tim penyelidikan. Aku jadi tidak perlu lelah-lelah mengajak. Bagus kalau begitu. “Iya bener, ya. Tertuduh yang paling gampang itu si pelontar kutukan. Omong-omong dia juga nggak masuk hari ini, Jes. Sudah dua hari setelah kejadian, Siska tetep nggak masuk sekolah. Gue masih belum tau alasannya,” kata Fajar. Aku tidak peduli dengan Siska sebenarnya. Mau dia masuk atau tidak, aku tidak peduli. Mudah-mudahan saja dia tidak kembali lagi ke sekolah. “Omong-omong, lo kenal yang namanya Kevin? Anak kelas sebelas ipa, Jar.” Fajar mengangguk. Dia mengeluarkan ponsel lalu menunjukkan laman Twitter milik Kevin. “Kita mutualan di twit, Jes. Kenapa emangnya?” “Waktu hari kematian Berly, gue sama Vina sempet ngikutin dia. Lo harus tau kalau dia adalah satu-satunya orang yang dateng ke sekolah saat semuanya memilih untuk pulang. Gue nggak ngerti dia mau apa juga. Kalau dipikir-pikir, nggak mungkin dia kelupaan sesuatu di kelas. Kevin nggak masuk ke kelas, dia malah pergi ke ruang basket,” jelasku dengan singkat, tetapi jelas. “Ruang basket, Jes? Aneh banget anak itu. Kenapa dia sampai ke ruang basket? Terus lo ketahuan sama dia?” tanya Fajar. “Jelas aja nggak ketahuan, dong. Kalau ketahuan, gue bisa habis sama dia, Jar. Lo lupa kalau dia pernah buat wali kelasnya pingsan?” tanyaku. Fajar menggelengkan kepalanya dengan wajah yang semakin kebingungan. Aku yakin dia belum mendengar berita itu. Namun, itu aneh banget. Semua warga sekolah tahu tentang itu karena hampir membuat kericuhan. “Terus kenapa lo ngomongin dia, Jes?” “Gue curiga dia yang ngelakuin, Jar. Bocah sejenis psikopat kayak dia bisa aja ngelakuin hal yang nggak kita duga, kan? Kalau sampai itu dia, gue nggak akan tinggal diam untuk nggak ngelaporin masalah itu ke pihak polisi,” sahutku. “Serem banget mainnya langsung polisi. Ya udah, gue ikut selidikin kasusnya juga, deh. Banyak orang banyak bantuan, kan?” tanya Fajar. “Ya, asal lo nggak bocor informasi ke siapa-siapa, pasti diterima di tim kita, Jar!” “Lo pikir gue cewek yang senengnya gosip? Nggak akan nyebar, santai aja, semua informasi akan terjaga oleh Fajar. Lagi pula, lo pasti butuh tambahan orang yang jago bela diri juga, kan?” sahut Fajar. Benar juga kami membutuhkan tambahan. Ada Marko dan Fajar di tim pasti akan membuat semua rencana berjalan semakin lancar. “Ya ikut aja, Jar. Gue niatnya juga emang mau ngajak lo.” “Asal jangan kecewain geng gue, ya!” Aku dan Fajar kaget banget dengan suara itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN