Pasca Tragedi-Samuel

1026 Kata
Pagi hari ini ditemukan kembali mayat seorang siswi SMA Angkasa di belakang gedung tanaman. Mayat tersebut ditemukan dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Diduga wajahnya disayat oleh s*****a tajam sehingga tidak bisa terdeteksi oleh mata t*******g. Pihak kepolisian menemukan dompet beserta kartu identitas milik Berly Sekar di kantung rok mayat tersebut. Keluarga terkait histeris setelah melihat jenazah putrinya yang mengenaskan, tetapi pihak keluarga tidak menginginkan penyelidikan lebih lanjut sehingga jenazah langsung diantar ke rumah duka. Sekian berita temuan mayat di SMA Angkasa, saya kembalikan ke studio. Sepertinya tragedi pagi ini tidak cukup untuk menghebohkan seluruh warga SMA Angkasa saja. Tidak lama setelah polisi tiba, beberapa wartawan dan petugas pencari berita langsung mendatangi sekolah ini. Bukan hanya mereka, warga sekitar pun berusaha menerobos masuk gerbang sekolah yang ditutup. Aku sempat heran, mengapa mereka begitu antusias untuk mendapatkan informasi tentang siswi yang tewas di sekolah ini? Akhirnya aku mendapatkan jawabannya, mereka hanya penasaran dengan berita kutukan yang kian menyebar di sekolah ini. Oke, itu terdengar sedikit funny kalau banyak warga yang ketakutan dengan berita kutukan. Namun, wajar saja kalau warga takut dengan kutukan. I mean, mereka punya hak untuk hidup tenang, bukan? Bagaimana mereka mau hidup tenang kalau tinggal di sekitar lingkungan sekolah? Kami—aku, Gibran, Marko, Willy, Jesika, Fajar, dan Vina—sedang duduk di lapangan sekolah. Semua murid belum ada yang berani masuk ke kelas. Kami memutuskan untuk duduk di sana lantaran banyak siswa juga yang duduk di sana. Abaikan masalah kericuhan sekolah, ada yang lebih penting dibanding itu. Jesika sekarang sedang bersedih. Aku dapat melihat raut wajahnya yang sedih walaupun hanya memandang lurus area di depannya. Sementara di sampingnya, Vina sedang melakukan hal yang sama juga. Aku tahu kalau mereka berdua adalah teman dekatnya Berly. Jadi, wajar saja kalau Jesika dan Vina sedih kalau ditinggal teman dekat, apa lagi ditinggal untuk waktu yang lama. Bukan sehari atau dua hari, bukan seminggu atau dia minggu, bahkan bukan setahun atau dua tahun, melainkan selamanya. Aku bisa merasakan kepedihan yang mereka rasakan. “Jesika! Fajar! Samuel! Kalian dipanggil Pak Praja di ruangannya!” teriak salah satu murid bernama Riko. Dia adalah ketua OSIS pada masanya. Cowok yang dinobatkan sebagai cowok terganteng di SMA Angkasa, cowok yang menjadi sainganku dalam memamerkan wajah. “Kenapa hanya kalian bertiga yang dipanggil?” tanya Marko dengan polosnya. Willy yang juga mendengar langsung menoyor kepala Marko dengan enteng. “Berarti lo nggak dibutuhin sama dia. Lo nggak berarti buat dia. Sadar diri!” Omongan willy memang selalu membuat orang sakjt hati. Namun, itu wajar karena omongannya memang fakta. Kalau dipikir-pikir, Willy memang tidak seharusnya berbicara yang menyakitkan hati orang lain. Ya, itu lah yang dinamakan kebiasaan. Bukan hal yang mudah untuk mengubah kebiasaan. “Beruntung lo nggak dipanggil, Ko! Kalau dipanggil, emangnya lo pikir mau dikasih hadiah, ya? Mereka bertiga paling mau ditanyain kesaksiannya aja,” sahut Gibran dengan nada yang mulai santai. Omong-omong, dari tadi Gibran sudah tegang saja. Dia bahkan bergemetar saat mengetahui mayat tadi adalah Berly Sekar, cewek yang menyukainya dan cewek yang dikutuk kemarin akibat memperebutkan dirinya. “Sana buruan! Jangan kelamaan ngobrol di sini! Kalian ini kalau disuruh selalu alasan melulu dan cari cara buat lama-lamain. Kayak bukan orang berpendidikan aja!” tegur Riko dengan sewot. Aku balas saja dengan dengkusan kasar. “Iya, ini mau jalan sekarang. Nggak usah sok bossy, dong!” “Ayo, Jar!” ajak Jesika. Kami berdua sudah berdiri, tetapi Fajar masih duduk diam di tempatnya. “Ayo, Jar! Lo nggak denger tadi?” Fajar terlihat aneh sekali  dia berkeringat sekarang. Ada apa dengannya? “Kira-kira Pak Praja mau nanya apa, ya?” katanya. Tadi dia tidak mendengar perkataan Gibran? Padahal Gibran sudah menjelaskannya. “Paling nanyain kesaksian aja. Kenapa emangnya? Kok lo kayak ketakutan gitu?” balasku. Fajar langsung membelalakkan matanya dan menggelengkan kepala. “Gue nggak takut, kok. I-iya, sih, gue takut ... kalau beasiswa gue dicabut gara-gara masalah tadi, gue bisa gawat, Sam!” Aneh sekali dia. Seperti orang yang menyembunyikan sesuatu saja. Aku jadi heran begini. Jesika membalas ucapan Fajar dengan tenang. “Nggak akan ada masalah sama beasiswa, Jar. Lagian kita itu saksi, emang akan ditanya cepat atau lambat. Ayo buruan!” “Kebanyakan mikir malah kena omel sama Pak Praja. Udah buruan sana pergi!” kata Willy. Akhirnya, Fajar pun berdiri mengikuti kamj berjalan ke arah ruangan Pak Praja. Sorot mata siswa-siswi di lapangan langsung tertuju kepada kami. Aneh juga, kenapa sekolah tidak meliburkan murid-muridnya saja, ya? Banyak dari mereka yang ingin pulang dan banyak juga yang ketakutan. Melewati ruang kelas menuju ruang Pak Praja bagaikan melewati lorong dan ruang kelas yang kosong. Sepi sekali, tidak ada kehidupan di satu kelas pun. Semuanya pasti tidak mau masuk kelas bahkan berduaan. Pasti mereka ingin mengamankan diri di keramaian. Setidaknya mereka aman dari penjahat, tidak mungkin celaka jika dalam kerumunan, kan? Ya, kecuali kalau ada genosida di SMA Angkasa. Sesampainya di depan ruangan, ternyata sudah ada beberapa polisi dan guru yang sedang berbicara. Kami langsung masuk saja tanpa menunggu. Ada orang tua Berly di salah satu bangku panjang ruangan Pak Praja. Mereka berdua sedang menangis tersedu-sedu. Aku jadi tidak enak hati mendengarnya. “Kalian bertiga, duduk di depan saya!” titah Pak Praja yang menunjuk tiga bangku di depan mejanya. Kami langsung duduk di sana. Berly yang membuka omongan terlebih dahulu. “Ada apa memanggil kami bertiga, Pak?” Kepala sekolah kami yang ini memang sangat hebat. Dia tidak menampilkan raut wajah ketakutan atau kepanikan di saat kondisi yang terkesan menyeramkan. Pak Praja membalas, “Apa benar kalau kalian bertiga yang menemukan jasad Berly?” Benar sekali dugaan kami tadi kalau hal yang akan dibicarakan tentang kesaksian. Aku mengangguk sambil menjawab pertanyaan Pak Praja, “Iya, Pak. Sejujurnya bukan kami bertiga yang menemukan jasad Berly tadi pagi. Lebih tepatnya saya sendirian. Mereka berdua nemuinnya setelah saya.” Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Ternyata itu Ayah. Sejak kapan dia ada di ruangan ini? “Tadi Samuel yang telepon saya waktu nemuin mayat itu. Untung saya nggak jauh dari sini kelilingnya, makanya bisa langsung cepet dateng,” kata Ayah. Pak Praja menatapku dengan tajam, seolah menelisik ke dalam pandangan mata. “Bisa kamu ceritakan sedetail mungkin kejadian pagi ini?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN