Hari s**l (4)

1054 Kata
“Sepertinya gue punya tebakan, Wil.” Samuel mendekap badanku dari. Gawat, mengapa Samuel jadi seperti ini? Jantungku kan jadi ikut berdebar-debar. Samuel, jangan membuatku serangan jantung saat ada mayat di dekat kita. Kesialan keempat yang aku hadapi adalah menemukan mayat dan harus olahraga jantung di pagi hari. Kalau boleh dibilang, semuanya gara-gara jangkrik. Jelas saja, kalau tadi pagi aku tidak mencari jangkrik, pastinya sekarang aku masih di rumah sedang menyantap sarapan bersama ibu. Tidak perlu repot-repot tegang karena melihat mayat. Walaupun aku juga senang karena Samuel mendekapku. Omong-omong, posisi kami sekarang sudah seperti orang yang berpacaran. Polisi yang menggunakan jaket kulit hitam menghampiri kami. Dia memegang kartu tanda pengenal di tangannya. Kemudian dia menunjukkan kepada kami. Mata kami langsung membulat menatap tulisan kecil-kecil yang ada di sana. Sayangnya, hanya foto yang bisa aku lihat. Tulisan kecil itu membuatku kesulitan untuk membacanya. “Ada yang mengenal Berly Sekar?” tanya polisi itu dengan nada rendah. Siapa pun tolong cubit aku. Apakah aku sedang bermimpi? Mengapa polisi itu menyebut nama Berly Sekar tadi? Ini semua tidak mungin terjadi, kan? Ini semua tidak benar, kan? Tidak mungkin mayat itu Berly. Semalam dia masih menghubungiku saat tengah malam, tidak mungkin Berly bisa ada di area sekolah. Aku tidak tahu harus bersikap bagimana, yang jelas aku masih berharap itu bukan Berly. Aku menggelengkan kepala dengan pelan. “Ini nggak mungkin ....” Aku melirih sangat pelan, hanya Samuel yang dapat mendengarnya. Pria itu menoleh ke arahku dan mengusap lenganku dengan lembut. “kami semua kenal sama Berly, Om,” sahut Marko santai. Wajahnya penuh selidik menatap polisi di depannya. Dia langsung menatapku tajam, dan kembali menoleh ke polisi. “Emangnya kenapa, Om?” “Sepertinya itu dia, kami menemukan dompet ini di kantung celananya.” Polisi itu kembali memasukkan kartu identitas tadi ke dalam dompet. Tubuhku rasanya lemas sekali, seolah-olah tidak ada penyangga di lutut. Bernapas juga rasanya sulit, oksigen kian menipis di sekitar. Samuel langsung membawaku ke arah gedung serba guna dan duduk di depannya. Pria itu duduk di sampingku dan memeluk badanku kembali. Kemudian aku menangis di pelukannya. Sungguh, rasanya sakit sekali. Baru saja semalam kami mengobrol lewat telepon. Pagi ini aku benar-benar kehilangan sahabat selama SMA. “Itu bohong, kan, Sam ...?” lirihku. Samuel tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya mengelus-elus belakang punggungku. Seharusnya aku tenang karena mendapat perlakuan begini, tetapi kenyataan yang terjadi benar-benar membuatku terpukul. Tidak mungkin aku bisa tenang saat ditinggal pergi selamanya oleh sahabat. “Lo harus sabar! Ini semua sudah terjadi ....” Tangisanku tumpah di bahu Samuel. Tidak peduli kalau bahunya akan basah, air mata ini memang tidak bisa diajak kompromi. Baru saja semalam Berly menelponku untuk meminta jemput, sekarang dia sudah tergeletak dengan wajah tak terbentuk. Seharusnya aku perintahkan Berly untuk tetap di tempat kerja saja sampai motor di rumah kembali. Aku bisa menjemputnya dan mengantar Berly pulang ke rumah. Semua ini sepertinya memang kesalahanku. “Kalian harus pergi dari TKP! Tempat ini harus steril mulai dari sekarang.” Salah satu polisi memberikan amanat. Aku yakin itu untuk kami semua yang sedang menyaksikan polisi mengusut kasus. “Sam! Kalau ada yang mencurigakan, tolong segera kabari Ayah!” Ayah? Mengapa polisi itu mengatakan dirinya begitu? Jadi polisi yang menghampiri kami itu ayah Samuel? “Oke, Yah,” sahut Samuel. Dia melirik ke arahku dan tersenyum. “Ayo kita pergi!” Aku bisa mendengar beberapa derap langkah kaki yang menjauh, pasti sekarang tersisa aku dan Samuel di sini. Perlahan-lahan aku atur degup jantungku dengan mengatur pola napas. “Jes, jangan sedih ...!” kata Samuel. Dia terus mendekap dan mengusap lenganku. Sayangnya, itu sia-sia saja. Aku masih merasakan kesedihan di dalam hati. “Bagaimana gue nggak sedih? Semalam Berly minta tolong untuk jemput dia di apotek, Sam. Seandainya gue bisa nyeti mobil, gue langsung jemput dia dan nggak akan mungkin terjadi hal seperti ini ....” Samuel mengelus rambutku, lagi dan lagi. Nyaman sekali, rasanya ingin berada pada posisi ini untuk waktu yang lama. Sayangnya ini TKP, mana mungkin aku berpelukan di tempat Berly tewas. Sepertinya itu hal yang sangat jahat. Ketika temanku sedang tewas, aku justru bermesraan di dekat mayatnya. “Ayo bangun! Kita di sana aja, jangan di sini, Jes! Denger apa yang ayah gue katakan tadi, kan?” tanya Samuel sambil mengangkat tubuhku. Aku tidak mungkin terus menyulitkannya. Setelah berdiri, dia langsung memegang kedua lenganku. Kalau bisa dikatakan, aku senang sekaligus sedih. Bagaimana ini? Aku memang teman yang tidak setia kawan. Pantas saja kalau aku tidak memiliki teman. Kami mulai berjalan menjauhi area yang menyebalkan dengan Samuel yang menuntunku. Niat bersekolah hari ini benar-benar sirna. Sepertinya meminta izin merupakan cara terbaik untuk keluar dari lingkungan sekolah. Aku tidak mau berbicara pada siapa-siapa sekarang. Semua ingatanku dipenuhi oleh wajah dan suara Berly semasa kami bermain. Setelah keluar dari area tadi, suara siswa yang berbisik-bisik dan penasaran mulai terdengar. Pasti mereka semua sudah datang dan ingin melihat area belakang gedung tanaman. Beberapa dari mereka menatapku penuh iba. Jelas saja, teman yang mau menerimaku di sekolah ini sudah hilang satu. “Jesika!” panggil seseorang dari arah lapangan. Itu Vina, dia sedang berlari ke arahku. Wajahnya sudah merah, aku bisa melihat matanya yang basah. Dia langsung berhambur memelukku. Kami berdua menangis sambil saling memeluk satu sama lain. Tidak ada percakapan yang keluar, tetapi tangisan kami seolah menyatakan semua perasaan. Vina melepaskan pelukannya. Dia menatapku dengan wajah yang sembab. “Jadi beneran itu Berly? Bukannya dia semalem telepon lo, Jes?” Lidah ini sepertinya enggan berbicara. Rasanya ingin menangis saja sepanjang hari. Teman dekatku tewas dengan cara yang mengenaskan. Dasar pembunuh kejam! Aku hanya bisa menganggukkan kepala menjawab pertayaan kedua Vina. “Apakah ini ada sangkut pautnya sama kutukan yang Siska buat kemarin?” tanya Marko. Sekarang wajahnya terlihat sedikit lebih pucat dari sebelumnya, aku baru melihatnya dari pantulan layar ponsel. Mungkin karena dia baru mengetahui yang tewas adalah orang yang baru kemarin sore bertemu dengannya, Marko jadi mengambil kesimpulan begitu. Sebenarnya itu boleh-boleh saja. Namun, sepertinya tidak masuk akal. “Itu mistis, Marko! Mana mungkin kutukan itu ada?! Paling-paling orang seperti lo yang membuat kutukan itu jadi nyata,” sahut Fajar dengan nada agak kencang. “Lo nyari ribut lagi, Jar?” kata Marko, dia sudah berdiri dan hendak menghampiri Fajar. Vina langsung berteriak kencang, “Bisa tenang, nggak? Gue sama Jesika lagi berduka kalian malah asik sok jago!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN