Dengan keberanian yang sudah aku kumpulkan, langsung saja aku berkata, “Fajar lepasin! Sepertinya bukan Samuel pelakunya.”
Fajar menatap dingin Samuel di depannya. Pandangannya juga beralih kepadaku. “Awas kalau sampai lo bohong, gue patahin leher lo, Sam!”
Fajar melepaskan Samuel dan langsung mendorong Samuel hingga tersungkur. Syukurlah, sekarang anak itu bisa bernapas lega. Beruntung tidak sampai patah tangan Samuel karena terlalu ditahan oleh Fajar. Walaupun badan Fajar lebih kecil dari Samuel, tetap saja Fajar pasti bisa mematahkan tangan dan kaki Samuel dengan mudah.
Samuel mulai berdiri sambil memegang lehernya. “Sumpah! Bukan gue pelakunya. Tolong jangan berisik apalagi minta tolong! Gue bisa digebukin sama siswa yang lain kalau mereka lihat.” Samuel mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan bukti kalau dia sudah menghubungi polisi. “Lihat! Gue yang telepon polisi. Tadi gue datang awal karena nggak bisa tidur semalem, terus nyium bau aneh saat udah lewatin gerbang. Gue selidiki ternyata mayat di sini.”
“Sam!” teriak Gibran dari kejauhan. Anak-anak itu langsung lari tunggang-langgang ke arah kami. Anak-anak yang aku maksud adalah teman-teman Samuel.
Gawat, kalau mereka sudah bersekutu, pasti aku dan Fajar akan habis kali ini. Segera Fajar menendang perut Samuel dan membawa aku lari dari tempat itu. Dasar Fajar! Lupa kalau langkah kakinya lebih besar? Aku sampai lelah mengikuti langkahnya yang besar.
Kami terus berlari ke arah lapangan, kemudian tiba di ujung lapangan. Sekarang posisi kami terpojok. Di belakang kami ada pagar besi yang menjulang sampai lantai dua, tidak mungkin aku memanjatnya untuk berlari. Kalau Fajar mungkin bisa, tetapi aku tidak mungkin.
“Jar, bagaimana, nih?” tanyaku sedikit panik.
Hebat, Fajar masih bisa tenang walaupun keadaannya sedang terpojoki. Aku mungkin bisa tenang kalau lawannya perempuan, tetapi kali ini lawannya cowok-cowok. Fajar menatap ke arahku dan berkata, “Lo masih inget waktu kenaikan sabuk waktu itu, kan?”
Aku masih mengingat beberapa jurus, tetapi kalau untuk menghabisi mereka, bisa-bisa tidak mempan. Badan mereka lebih besar, aku sudah kalah ukuran. Tenaga mereka juga lebih kuat, bisa-bisa aku mental hanya dengan satu pukulan.
“Habisi mereka satu per satu, Jes!” bisiknya lagi.
Bisa tidak, ya? Jantungku semakin berdetak cepat. Astaga, bisa tidak dengan k*******n? Aku ketakutan.
Mereka datang dan berhenti beberapa meter dari tempat kami. Marko yang terbawa emosi langsung berjalan ke arah kami berdua. “Kalian jangan bawa fitnah yang bukan-bukan tentang Samuel, dong! Samuel bukan pembunuh, dia yang nemuin mayat itu dan telepon kita tadi!” jelas Marko yang protes dengan nada tinggi.
Fajar langsung menyerang Marko dengan cepat. Tangannya melayang ingin meninju wajah Marko. Beruntung pria itu sudah mengelak terlebih dahulu sehingga Marko tidak terkena pukulannya. Kaki marko langsung bergerak menyapu tanah lapangan berniat untuk menyeleding Fajar. Sayang sekali Fajar harus lompat sehingga tidak ada yang terjatuh.
“Hei! Berhenti!” Willy yang berteriak, sementara mereka berdua langsung berhenti dengan posisi siap menyerang. “Kalau mau adu kekuatan jangan di sekolah!”
“Fajar yang duluan nyerang gue!” pekik Marko.
“Kalian yang mojokin kami! Gue nggak akan nyerang kalau nggak ada tekanan!” sahut Fajar tak kalah keras.
Gawat, suasananya semakin kacau. Seharusnya kami bisa berdiskusi dengan tenang dan Samuel bisa menjelaskan hal yang sebenarnya. Fajar terlalu percaya kalau mereka bersekongkol. Semuanya jadi gawat karena terlalu gegabah.
“Sudah! Ini semua hanya salah paham! Gue bukan pembunuhnya. Kalian bisa geledah seluruh badan bahkan TKP untuk nemuin bukti gue kalau kalian mau.” Samuel mengambil langkah ke depan, kemudian seolah menyerahkan badannya. Dia berdiri dengan tangan yang dia rentangkan setelah melempar tas.
“Tetap aja lo patut dicurigai! Siapa tahu lo lagi berlakon seolah-olah baru nemuin, padahal lo yang ngebunuh!” Fajar kembali berteriak.
“Hei! Jangan sembarangan tuduh! Lo mau gue jotos?” sahut Marko yang kembali berjalan mendekat ke arah Fajar, tetapi ditahan oleh Gibran.
Fajar kembali berjalan ke arah Samuel. Ketika tangannya sudah mengepal di udara, aku langsung menariknya untuk mundur. Tidak boleh ada perkelahian di sekolah, apalagi mereka semua adalah temanku.
“Fajar cukup! Gue percaya sama mereka.” Fajar menatap ke arahku. Satu tarikan napas membuatnya sedikit tenang sekarang.
“Gue nggak ngerti kenapa lo harus percaya sama mereka, Jes? Kalau kalian semua emang bersekongkol, gue pastiin semuanya dapat hukuman termasuk lo Jesika,” kata Fajar dengan nada yang rendah. Dia menatap Marko dengan nyalang. “Kali ini lo lolos karena Jesika. Lain kali akan gue patahin hidung lo!” hardik Fajar sambil menunjuk ke wajah Marko.
“Nggak mungkin! Lo yang duluan gue buat bonyok!” pekik Marko yang kembali menantang Fajar.
Willy menggelengkan kepalanya. Sepertinya kami berdua memikirkan hal yang sama. Mengapa mereka berdua terus bertengkar sejak pertama kali bertemu di kelas sepuluh? Rasa-rasanya ada yang aneh di antara mereka berdua.
“Gue heran, kenapa kalian berdua sering bertengkar, sih? Mau jadi yang paling kuat? Besok gue siapin lahan untuk arena kalian bertanding,” kata Gibran. Aku juga semakin kesal dengan pertikaian mereka.
“Jadi, kalian percaya kalau gue bukan pembunuh?” tanya Samuel. Dia melirik tas yang ada di depan kami. “Cek aja tas gue, nggak ada s*****a tajam di sana.”
“Aku percaya,” ucapku tulus. Fajar memegang lenganku, kemudian membuatku menatapnya. “Lo beneran bukan sekongkol mereka, kan?”
“Bukan, Jar. Samuel bukan orang yang seperti itu juga, kok. Gue yakin bukan Samuel pelakunya. Lagian kalau emang dia pelakunya, buat apa dia nelpon polisi?” tanyaku balik yang dijawab dengan Fajar mengangkat kedua bahunya.
Samuel tersenyum ke arahku. Dia sepertinya senang ketika aku membelanya. Tenang saja, bukan karena cinta aku membelanya. Samuel memang bukan pelakunya, aku yakin.
Baru saja aku bernapas lega karena emosi Fajar dan Marko sudah mereda, sirine polisi terdengar dari kejauhan. Aku menatap mereka satu per satu. “Ayo ke TKP! Jangan sampai kita seperti murid beloon yang pura-pura nggak tau tragedi itu.”
Ketika aku berjalan melewati Samuel, dia langsung menggandeng tanganku. Jujur saja, aku merasa nyaman ketika Samuel memegangku. Kalau bisa, aku ingin tanganku terus dipegang olehnya. Mungkin ini efek karena aku sudah suka padanya sejak lama, akhirnya aku bisa merasakannya juga.
Setelah tiba, kami semua sudah tidak bisa melihat tubuh mayat itu. Sekarang sudah dibatasi oleh pita kuning, dan mayatnya juga sudah dimasuki ke kantung jenazah. Polisi di sana sedang memeriksa sekitar tempat. Tidak ada satu senti yang terlewat dari pengawasan mereka semua. Hebat!
“Kira-kira mayatnya siapa, ya?” bisik Willy di belakangku. Aku juga bertanya-tanya itu mayat siapa, tetapi dari tubuhnya sepertinya aku tidak kenal.