Aku tersenyum menanggapi perkataan Vina. Kalau saja Riko bukan pacarnya Vina, sudah bisa dipastikan dia akan menjadi orang pertama yang mendapat bogeman dariku. Aku juga tidak akan segan-segan mencari masalah dengannya di kantin. Kalau peribahasa seorang Jesika, dia mencari masalah, akan aku hadapi. Mungkin kalau peribahasa yang lebih benar adalah “lo jual, gue beli”. “Lo mau ke mana habis minum itu? Perpustakaan lagi, Jes? Apa beneran nggak mau ke perpus dan di sini aja?” tanya Fajar. Aku mengangguk menjawabnya. Sambil menoleh, aku menampilkan senyum tidak suka pada Riko. “Mau ke mana lagi? Duduk di sini? Di depan cowok nggak jelas seperti Riko? Bukan maksud nyindir ya Vin, Riko ini rada aneh kalau bukan sama lo. Sama gue, bahkan sama Fajar, dia udah kayak orang paling nggak waras dalam

