“Jes! Sesekali ke kantin, yuk! Jangan ke perpustakaan terus! Eemangnya kepala lo nggak ngebul setelah ngerjain soal-soal itu? Gue sih mohon maaf aja, ngebul banget. Kalau goreng telor, mungkin sedikit mendidih di atas kulitnya.” Vina menyenggol bahuku. Wajahnya yang kusut menambah kesan tidak sedap untuk diajak bercanda. Vina ini juga aneh banget, ya. Memangnya dia saja yang kesusahann dalam menjawab soal tadi? Aku juga kesusahan dalam menjawabnya. Dia tidak tahu kalau aku memang berniat membeli minuman segar juga di kantin. “Siapa yang bilang kalau gue mau ke perpustakaan? Gue juga mau beli minuman dingin di kantin, Vin. Ayo kita buruan ke kantin, deh. Nanti kalau kelamaan, kantin bisa jadi pasar dadakan yang nggak pada mau antre anak-anaknya. Kepala kita makin panas,” ajakku langsung

