19 : EKSEKUSI

1827 Kata

“Hei, sudah dari tadi menunggu?” Wita yang sedang menikmati kopinya langsung saja menoleh. Di sampingnya berdiri Gafar. Setitik keringat jatuh di keningnya. Wita tersenyum. “Belum terlalu lama. Silakan duduk.” Gafar menjatuhkan tubuhnya di seberang Wita. Lelaki itu terlihat lelah seakan-akan baru saja menempuh jarak yang jauh. “Kamu habis ngapain? Kok kayak cape.” Komentar Wita menyadari penampilan Gafar. “Karena takut membuat kamu menunggu lebih lama, jadi aku putuskan untuk lari ke sini karena jalanannya macet.” Wita menatap Gafar dengan pandangan setengah tak terpercaya. “Kamu niat banget. Padahal santai aja. Ini akhir pekan dan jalanan Jakarta pasti padat. Lagi pula, aku bakal enjoy menunggunya.” “It’s okay. Aku sengaja supaya bisa lebih cepat bertemu dengan kamu.” Ucapan Gafar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN