bc

Pengantin 365 Hari

book_age16+
705
IKUTI
4.9K
BACA
contract marriage
HE
drama
bxg
brilliant
office/work place
assistant
like
intro-logo
Uraian

“Enak aja! Giliran bikinnya barengan, masa sekarang pas udah jadi cuma aku yang disuruh merawat.”

“Jadi, kamu inginnya bagaimana?”

“Nikahilah aku!”

Lola seorang presenter berusia 27 tahu mengetahui bahwa dirinya hamil. Masalahnya, pria pertama dan terakhir yang tidur dengannya hanyalah Alpha, seorang general manager di tempatnya bekerja.

Alpha yang sedang menunggu sang pujaan hati menjanda, jelas tak mau pernikahannya dengan Lola diketahui oleh publik. Keduanya, lalu sepakat untuk menjalin pernikahan rahasia selama 365 hari ke depan.

chap-preview
Pratinjau gratis
0 : PROLOG
Dentuman musik yang keras membuat Lola merasa tak nyaman. Perempuan dengan kacamata cat-eye itu memilih untuk keluar dari pub. Pilihan Lola jatuh pada parkiran. Tempat itu sepi dan dingin. Dirogohnya tas bahu yang ia bawah. Lola lantas mengeluarkan sebungkus rokok filter dan korek. Tak lama dari itu asap sudah memenuhi paru-parunya. “Sendirian saja?” Suara berat khas laki-laki dewasa membuat Lola menoleh. Di sampingnya berdiri seorang pria tinggi. Orang asing itu nampak menggunakan setelan kemeja berwarna biru muda yang bagian lengannya digulung sampai siku. Sementara itu, dua kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka dan secara sukses menampilkan sedikit dadanya yang bidang. Merasa tertarik, Lola lantas menimpali, “Seperti yang bisa dilihat.” Pria itu tersenyum tipis. Dan, Lola berani bersumpah demi nama Ibu panti asuhnya, laki-laki itu seksi sekali ketika menyunggingkan senyum! Wajahnya yang tampan terlihat begitu menggoda ketika dua sudut bibirnya naik membentuk kurva. “Boleh saya minta rokoknya?” tanya pria itu kemudian. Walaupun sedikit bingung, akan tetapi Lola tetap menurut. Diberikannya sebatang rokok milik Lola. Perempuan itu juga sempat menyalakan korek untuk pria asing tersebut. “Thanks,” ucap pria itu sambil mendekatkan wajahnya pada api korek yang dinyalakan oleh Lola. Tindakan tersebut membuat wajah mereka berdekatan. Dari jarak setipis itu, Lola dapat mencium aroma parfum lawan bicaranya. Aroma maskulin musk memenuhi hidung dan otak Lola, membuatnya tenggelam di dalam fantasi liar. Lola menelan ludahnya seraya mengamati lekuk wajah pria itu. Garis rahangnya tegas dan ditumbuhi oleh rambut halus bakal janggut, lalu matanya berwarna hitam kecokelatan, dan sepasang alisnya nampak tebal. Ganteng banget, gila! Batin Lola menjerit mengagumi paras pria asing tersebut. “Kamu baru datang ke tempat ini?” Pria itu bertanya setelah menarik wajahnya menjauhi Lola. Dengan kikuk Lola menjawab, “Umm … ya, begitulah. Memangnya kelihatan sekali?” “Iya,” jawabnya lalu membuat pandangan menilai kepada Lola. “Kamu masih pakai baju kantoran. Jarang sekali ada pengunjung pub yang datang dengan setelan seperti itu.” Lola menunduk memperhatikan penampilannya. Di dalam hatinya, Lola sedang merutuki keputusannya untuk langsung pergi ke pub tempat Bagus merayakan ulang tahun setelah pulang bekerja. Jadilah, Lola datang dengan setelan blouse berwarna salmon dan rok pensil. Lola mendesah kesal. “Cupu banget ya penampilanku?” Pria itu mengerutkan keningnya. “Cupu? No, you looks so sexy.” “Seksi?” Lola membeo. “Dari mana letak seksinya coba?” Pria itu mengembuskan asap rokoknya sekali sebelum menjelaskan, “Menurutku kamu seksi. Wajah dan lekuk tubuhmu, semuanya seksi. Ditambah lagi kacamata yang kamu pakai. Kamu terlihat semakin berwibawa.” Udah gila, lo! Batin Lola merutuki ucapan pria itu. Selama dua puluh tujuh tahun hidup belum pernah ada seorang pun yang menyebut Lola seksi. Perempuan itu lebih akrab disebut cupu atau nerd karena penampilannya. Lola tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “Kamu pasti mabuk. Belum pernah ada yang menyebutku seksi sebelumnya.” “Well, itu aneh. Dengan fisik seperti itu, seharusnya kamu sudah sering mendapatkan pujian. s*x appeal kamu kuat, kok.” “s*x appeal? Apa itu?” “Daya tarik seksual yang dimiliki oleh individu,” balas pria itu sekenanya. “Dan, kamu memiliki itu.” Lola melongo. Rokok rasa mentol yang biasanya berhasil menghibur Lola kini terasa hambar. Otaknya sedang penuh oleh pujian-pujian manis yang dilayangkan lawan bicaranya. “Masa sih?” Lola masih tak percaya kalau ia yang biasa-biasa saja bisa terlihat menarik di mata pria itu. “Kenapa? Kamu sedang meragukan diri sendiri atau ucapanku?” “Dua-duanya!” Cowok itu terkekeh geli. “Kenapa begitu?” Lola menjatuhkan rokoknya dan menggilasnya menggunakan kitten heel-nya. Gilingan tembakau itu langsung padam dengan menyisakan aroma gosong. Ditatapnya pria itu dengan pandangan menyelidik. “Seharusnya cowok seperti kamu mengatakan seksi pada orang yang memiliki penampilan fisik minimal seperti Clara Augustina atau model perempuan pakaian dalam sekelasnya.” “So, you are telling me that I’m a liar?” tebak pria itu dengan tenang. Lola mengangguk. “Tentu. Kalau kamu sedang berusaha menghiburku, enggak perlu. Trims.” Anehnya pria itu justru tertawa. Suaranya terdengar renyah dan candu di telinga Lola. Apa-apa ini?! Kenapa aku jadi ketagihan denger suaranya? Batin Lola lagi-lagi merutuki dirinya sendiri. “Aku tidak berbohong,” kata pria itu setelah puasa dengan tawanya. “Bagaimana caranya agar kamu percaya? You looks so amazing, pretty, and sexy as f—” Lola mengangkat satu alisnya, membuat pria itu menghentikan ucapannya. “Kalau kamu lagi enggak mabuk, berarti kamu aneh.” “Begini ….” Pria itu mulai menjelaskan sudut pandanganya. “Clara Augustina dan model pakaian dalam lainnya memang seksi dan cantik. Tapi, batas seksi dan cantik bukan hanya pada tubuh tinggi, kulit putih, dan lekuk d**a yang menonjol. Kalau hanya itu, ya … itu namanya cantik stereotip—cantik yang dianggap seharusnya padahal faktanya tidak begitu.” Sebuah ide gila lantas melintas di dalam benak Lola. “Can we kiss? Kita lihat keseriusan dari ucapan kamu.” Semula Lola sempat berpikir jika pria itu akan menilainya tidak waras. Akan tetapi, dugaan Lola meleset sebab pria itu dengan cepat menerima ajakannya. “Sure,” balas lawan bicaranya sambil membuang rokok yang tinggal setengah ke aspal. Seperti mendapatkan harta karun, pria itu dengan senang hati mendekati Lola dan ketika jarak keduanya sudah dekat ia mendaratkan bibirnya di atas bibir milik Lola. Seumur hidupnya, Lola tidak pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis lebih dari rekan kerja. Jangankan ciuman, sekadar pelukan atau pegangan tangan saja dengan lawan jenis Lola tidak pernah—kecuali, Bagus. Jadi, Lola sedikit kewalahan ketika harus mengimbangi ciuman tersebut. Ia hanya menutup matanya dan membuka bibir, membiarkan pria itu bergerak sesuai instingnya sendiri. “You are so cute,” bisik pria itu di tengah ciuman mereka. Lola tidak dapat menimpali karena otaknya sudah dipenuhi oleh hal-hal liar yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Ciuman itu berlangsung lama dan dalam sampai pada tahap di mana Lola tidak dapat menopang berat tubuhnya sendiri. Cumbuan yang ditinggalkan oleh pria itu meninggalkan sensasi geli, hangat, dan sedikit rasa mentol yang membuat kedua kaki Lola lemas. Dengan cepat tangan pria itu melingkari pinggang Lola, membantunya berdiri sambil sesekali mengusap pinggangnya. Enggak bener! Ini enggak bener! Batin Lola sudah berteriak, memperingatkan. Akan tetapi, gairah liar membuat Lola menumpulkan instingnya. Ciuman itu baru berhenti ketika keduanya mendengar derap langkah kaki yang mendekat. Dengan sedikit panik, pria itu menjauhkan wajahnya dari wajah Lola. “Mau pergi ke tempat lain?” ajaknya kemudian. Lola seharusnya menolak. Lola tidak dapat ke pub untuk ini, tetapi sesuatu di dalam dirinya terus mendorong Lola untuk mendobrak batas norma yang selama ini ia bangun. “Ke mana? Apakah tempat yang menyenangkan?” Pria itu menaikan satu sudut bibirnya, membentuk senyum paling menggoda yang pernah Lola lihat. “Sangat menyenangkan. Shall we?” Pria itu mengulurkan tangannya dan Lola tanpa perlu berpikir untuk kedua kalinya langsung meraih tangan tersebut. Malam itu Lola hanya ingat dua hal. Pertama hotel tempat keduanya memadu kasih memiliki interior bergaya victoria yang mewah. Kamar sebagus itu seharusnya digunakan untuk pengantin baru yang akan menjalin kasih selama berhari-hari. Kedua, nama pria itu adalah Alpha. “Siapa namamu?” tanya Lola di tengah deru napasnya yang semakin tak beraturan. Pria yang menindih tubuh Lola terlihat menunduk, dikecupnya pipi Lola sebelum ia menjawab, “Alpha. Namaku Alpha. Kamu?” Lola menyerngit ketika merasakan Alpha yang bergerak semakin dalam. Untuk pertama kalinya Lola tahu bagaimana rasanya b******a, bagaimana rasanya b******u dengan desah gairah yang terasa panas membakar tubuhnya, dan bagaimana rasanya ketika kedua tangan Alpha yang kekar memeluknya. “Does it hurt?” tanya Alpha menyadari ekspresi tak nyaman di wajah Lola. Lola menggigit bibir bawahnya sebelum mengangguk. “Lumayan.” Alpha yang seperti sudah terbiasa melakukan hal tersebut dengan lembut mengamit jari-jemari milik Lola dan menggenggamnya. Secara berangsur-angsur Lola dapat merasakan tubuhnya yang relaks dan beradaptasi dengan tubuh milik Alpha. “Siapa namamu tadi?” tanya Alpha sekali lagi. Lola di ambang gairahnya meremas tangan Alpha sambil membusungkan d**a. “Lola … namaku Lola,” kata Lola kemudian. Malam itu untuk pertama kalinya Lola menjeritkan nama Alpha. Alpha … sebuah nama yang akan disesali oleh Lola kemudian hari. []

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook