1 : DUA GARIS MERAH

1944 Kata
“Anjir! Beneran hamildun!” seru Bagus sambil mengangkat test pack digital di tangannya. Wita terkesiap mendengar berita tersebut, sedangkan Lola hanya mendesah gelisah. Rooftop kantor yang mereka jadikan sebagai tempat berkumpul hari itu menjadi saksi bisu dari kabar hamilnya Lola. Begitu jam makan siang tiba, Lola yang berasal dari departemen penyiaran segera mengajak Bagus dan Wita yang berasal dari departemen berbeda untuk bertemu. “Lo beneran enggak tau siapa bapaknya, La? Beneran enggak tau? Sekadar nomor telepon?” desak Wita dengan muka panik. Perempuan yang telah menjadi sahabat Lola sejak dua puluh tahun silam itu tak dapat menyembunyikan perasaannya yang risau. Bagaimana tidak risau jika Lola yang dikenalnya jomblo sejak lahir ini tiba-tiba mengaku hamil? Yang paling mengejutkan adalah Lola bahkan tidak tahu identitas dari ayah biologis janin di dalam kandungannya sendiri. Lola menumpukan tangan di atas pagar pembatas rooftop. Mau seberapa banyak Lola berusaha mengingat, tetap tak ada satu pun identitas yang merujuk kepada pria misterius itu. “Gue hanya tau namanya Alpha,” balas Lola sekenanya. Bagus yang sedari tadi mendengarkan mulai angkat bicara. “Alpha? Alphabet maksudnya? Ck … yang bener aja masa nama pendek doang.” “Ya, gue juga pengennya tau dia tinggal di mana atau seenggaknya tau nomor telepon dia. Tapi, gue sama sekali enggak tau!” Lola menggeram frustasi. “Inget-inget lagi, La! Ini menyangkut hidup, mati, harkat, dan martabat lo sebagai jomblowati! Apa kata dunia kalau tau lo yang bahkan enggak pernah pacaran ini mendadak hamil? Mereka bisa mikir kalau lo dihamilin jin penghuni kantor!” Lola melirik Bagus tajam. “Lo pikir gue mau hamil? Kan enggak!” “Ya, emang siapa yang nyuruh lo hamildun, Lola?” Bagus ikut terpancing emosi. “Nama lo tuh persis sama otak lo, deh. Sama-sama loading lama.” Wita yang melihat akan adanya pertikaian di antara dua sahabatnya itu berusaha untuk menengahi. “Gini-gini ….” Wita berdiri di antara Lola dan Bagus yang sudah saling melemparkan tatapan sebal. “Itu cowok ganteng enggak?” Meskipun sedikit bingung, namun Lola tetap memberikan jawaban. “Ganteng, sih.” “Umurnya berapa? Masih muda enggak?” Lola sempat berpikir sebentar. “Emm … sekitar tiga puluhan, deh. Kenapa, sih?” “Nah, kalau gitu gampang!” seru Wita sambil menjentikan jarinya. “Pub yang jadi tempat ultahnya Bagus kemarin tuh bukan pub hits, La. Kebanyakan yang datang ke sana perjaka tua yang mukanya kebanyakan kayak kambing. Kalau dia ganteng plus masih muda, gampanglah kita cari tahunya.” “Maksud lo muka gue kayak kambing, Wit?” Wita memutar bola matanya malas. “Bukan gitu, Bagus. Lo tau, dong itu pub isinya cowok-cowok bangkotan metropolitan. Kebanyakan umurnya empat puluh sampai lima puluh. Kalau dia ganteng plus muda, seengaknya ada harapan kalau Marco, si pemilik pub kenal sama dia.” “Kok gitu?” celetuk Lola. “Ya, ibaratnya itu cowok semacam anomali, sebuah penyimpangan di antara para perjaka tua yang enggak inget umur.” Lola menganggukan kepalanya paham. Jadi, masih ada secercah harapan untuknya menemukan ayah biologis dari anaknya ini. Pemikiran tersebut membuat Lola secara tidak sadar mengusap perutnya sendiri. Sementara itu, berbeda dari Bagus. Laki-laki yang ikut tumbuh bersama Wita dan Lola di panti asuhan itu sangsi ide sahabatnya akan berhasil. “Kalau ternyata Marco enggak kenal gimana?” tanya Bagus dengan nada tidak suka. “Yang paling buruk adalah gimana kalau ternyata cowok itu enggak tinggal di negara ini?” “Kok lo ngomongnya gitu, sih?” sahut Lola yang merasa tak terima atas ucapan pesimis Bagus. “Bukan gimana, La. Cowok yang gampang celap-celup kayak teh gitu biasanya playboy. Mereka biasanya enggak suka terikat, tapi masih pengen enak. Begitu diminta tanggung jawab, ya pasti bakal berkilah atau malah kabur.” Ucapan Bagus ada benarnya. Baik itu Lola maupun Wita sama-sama mengakui hal tersebut di dalam hati mereka. Tamatlah riwayat Lola sekarang. Sebagai seorang presenter televisi nasional, kehamilan tanpa status nikah hanya akan membuat citranya buruk. Terlebih di negara ini di mana masyarakatnya sangat menjunjung tinggi norma. Lola menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas rooftop. Embusan napas berat keluar dari hidungnya. “Terus gue harus gimana, dong?” Wita menatap Lola prihatin. Dengan keibuan, Wita mengusap bahu Lola. Berharap dengan begitu Lola merasa lebih baik. “Gue sama Bagus pasti bakal bantu cari solusi, kok. Jangan lemes gitu, ah,” ucap Wita berusaha membesarkan hati sang sahabat. Bagus kembali menyerahkan test pack di tangannya kepada Lola. Pria itu sama frustasinya, namun tidak tahu harus melakukan apa. Ketiganya melamun dan tenggelam di dalam pikiran masing-masing sebelum sebuah ide gila melintas di dalam kepala Bagus. “Gugurin aja, La,” saran Bagus dengan suara tenang. Lola dan Wita menatap Bagus dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin Bagus yang mereka kenal sebagai laki-laki berhati lembut dan sangat menyayangi anak panti itu mampu berpikir kejam. “Lo udah enggak waras,” tukas Lola. “Gue enggak mau membunuh anak ini.” “Terus, lo sanggup membesarkannya sendirian? Kalau sampai ibu panti tau yang ada beliau bisa kena serangan jantung. Anak panti yang sangat dia banggakan tahu-tahu pulang dengan kondisi hamil tanpa suami.” Lola menelan ludahnya yang terasa mengental. Mendadak otaknya kehilangan fungsi untuk memproduksi kata. “Gue bakal bantu rawat, La,” ujar Wita sesaat kemudian. Bagus menggeleng. “Ini bukan tentang siapa yang bakal bantu Lola ngerawat anaknya, Wit. Tapi, soal status dia yang hamil tanpa suami. Ketika anaknya lahir nanti, dia pasti akan mempertanyakan siapa ayah biologisnya. Sedangkan, Lola bahkan enggak tahu siapa laki-laki yang sudah tidur dengannya. Bisa lo bayangkan perasaan anak Lola nanti?” Kali ini ucapan Bagus tak hanya menohok Wita, melainkan juga Lola. Ketiganya tumbuh di panti asuhan tanpa orang tua. Tumbuh tanpa sosok ayah dan ibu membuat ketiganya sering mempertanyakan tujuan Tuhan menciptakan mereka ke dunia ini. Hidup tanpa figur orang tua juga membuat mereka bertiga sering menjadi bahan olok-olokan. Anak haram, anak buangan, anak hasil hubungan terlarang. Baik itu Lola, Wita, maupun Bagus sudah kenyang mendengar caci maki tersebut. Membayangkan anak yang dikandung oleh Lola akan mendapatkan perlakukan yang sama membuat hati ketiganya teriris pedih. “Dia pasti akan malu kalau lahir tanpa ayah,” ucap Lola kemudian. “Di akta kelahirannya kelak hanya akan ada nama gue sebagai orang tua.” Wita memeluk Lola sambil tangannya mengusap punggung sang sahabat. “Pilihan ada di tangan lo, La. Apakah lo mau melahirkan anak itu sendirian dengan risiko dia akan menjadi korban perundungan seperti kita. Atau, menggugurkannya supaya dia enggak merasakan penderitaan yang kita rasakan dulu,” jelas Bagus. Sejak dulu, di antara mereka bertiga memang hanya Bagus yang paling bisa diandalkan. Terlepas dari tingkahnya yang konyol, tetapi Bagus menyimpan kepedulian yang besar kepada Lola dan Wita. “Kalau digugurkan, gimana caranya?” Lola bertanya usai pelukannya dengan Wita terurai. “Lo bisa minum obat—” “Ada puyer penggugur kandungan?” potong Lola cepat mengingat dirinya tidak bisa menelan obat berbentuk tablet dan kapsul. Bagus mengusap kasar wajahnya. “Lo kira obat bayi ada puyernya. Ya enggak ada, dong!” “Kalau gitu gue enggak mau.” “Diurut aja gimana? Dulu gue pernah meliput tukang pijit, denger-denger dia juga nerima jasa pijit buat gugurin kandungan.” “Kenalan lo ngeri-ngeri bener, sih!” Komentar Wita dengan ekspresi ngeri. Lola melirik arloji di tangan kirinya. Waktu mereka sudah habis. “Kita bahas nanti lagi aja. Sebentar lagi ada pertemuan pengangkatan staf,” ujar Lola mengingatkan kedua sahabatnya. Bagus yang bertugas sebagai reporter terlihat terkejut. Buru-buru pria itu pamit untuk menghadiri rapat duluan. “Pasti dia harus meliput pertemuan itu,” ucap Wita ketika dirinya dan Lola memasuki lift menuju lantai tempat di mana pertemuan akan dilaksanakan. Lola tidak menimpali. Kepalanya mendadak pusing begitu mencium aroma parfum yang menyengat. Pandangannya kemudian jatuh pada seorang perempuan yang berdiri tepat di depan pintu elevator. Perempuan dengan dandanan menor itu sedang menyemprotkan parfum ke perpotongan leher dan lengannya. Aroma bergamot dan cedar menusuk hidung Lola dan menimbulkan efek mual. “Parfumnya nyengat banget enggak, sih?” bisik Lola kepada Wita. Wita menyerngitkan dahinya. “Enggak, ah. Malah enak banget kali.” “Masa, sih?” “Jangan-jangan efek hamil, La. Gue denger ibu hamil jadi sensitif sama bebauan.” Wita mengakhiri ucapannya berbarengan dengan pintu elevator yang terbuka. Dengan cepat Lola melangkah keluar disusul oleh Wita yang menatapnya heran. “Lo duluan aja, Wit. Gue mau ke toilet dulu. Mual banget.” Tanpa menunggu persetujuan dari Wita, Lola langsung berlari menuju toilet perempuan. Beruntungnya tempat itu sepi. Dengan cepat, Lola menyalakan keran dan menunduk menghadap wastafel. Ia muntah dan rasanya sangat menyiksa. Perut Lola seperti sedang diaduk-aduk oleh tangan tak kasat mata. Lola baru berhenti ketika derap langkah kaki yang banyak terdengar. Dengan cepat ia membersihkan wajah dan bibirnya. Bertepatan dengan itu, segerombolan perempuan masuk dan berdiri menghadap jajaran kaca watfel. Mereka mematut diri di depan cermin sambil merapikan riasan. “Gue dengar bakal ada general manager baru yang masuk,” celetuk salah satu di antara mereka. Jika dilihat dari penampilannya, Lola bisa menduga jika mereka adalah orang-orang dari divisi sales. “Siapa, sih namanya? Gue denger dia baru balik ke Indonesia sebulan yang lalu.” “Itu lho Alpha Dawala.” Jantung Lola seperti berhenti berdetak selama beberapa detik begitu satu nama itu keluar. Tidak mungkin Alpha yang mereka maksud sama dengan Alpha yang Lola temui di pub, kan? Lola menelan ludahnya. Ia masih ingin mencuri dengar, jadi Lola merogoh saku roknya dan mengeluarkan lipstik. Sebagai seorang presenter yang dituntut untuk berpenampilan menarik, Lola selalu menyimpan lipstik di dalam saku rok yang ia kenakan. Dengan sealami mungkin, Lola memoles lipstik berwarna smoked rose itu ke bibirnya. “Namanya aja ganteng. Orangnya ganteng juga enggak?” “Ganteng banget! Mirip model pakaian dalam. Seksi ganteng gitu, deh.” Perempuan lain berdecak. “Yang ganteng gitu biasanya udah ada yang punya.” Lola menajamkan telinganya demi mengorek informasi sebanyak mungkin. “Eh, jangan salah! Denger-denger dia enggak jadi kawin, Say.” “Kenapa enggak jadi?” Semakin didengar rasanya jantung Lola semakin berdegup tak karuan. “Ceweknya keburu kawin sama yang lain.” “Hah? Masa, sih? Siapa emang ceweknya?” “Kirana Larasati. Itu lho, aktris kenamaan yang sering wara-wiri di perusahaan tv sebelah.” Seruan heboh terdengar dari gerombolan perempuan itu. Lola bahkan harus memijat keningnya karena suara mereka membuat kepalanya semakin pusing. “Kirana Larasati yang kawin sama Richard Satriawangsa, bukan?” “Iya itu! Ada yang bilang si Kirana udah mau cerai sama Richard. Terus, Alpha sebagai mantan yang ditinggal nikah lagi nungguin jandanya si Kirana.” Lola tak kuat mendengar obrolan itu. Dengan cepat ia melangkah keluar menuju ruang pertemuan berlangsung. Di dalam hatinya, Lola sedang meyakinkan kalau Alpha yang dimaksud adalah Alpha yang berbeda. Di dunia ini nama Alpha ada banyak, batin Lola berusaha tegar. Mana mungkin Alpha yang ia kenal adalah calon general manager di perusahannya. Itu mustahil. Mata Lola memicing berusaha mencari kursi kosong di tengah acara yang sedang berlangsung. Tidak jauh dari tempat berdiri, terlihat Wita yang melambaikan tangan. Dengan segera Lola duduk di samping Wita. “Udah sampai mana?” bisik Lola penasaran. “Baru pengangkatan direksi. Bentar lagi bawahannya, deh.” Lola menjatuhkan pandangannya pada panggung di depan sana. Jarak panggung dengan kursinya sekitar lima belas meter, namun Lola dapat dengan jelas melihat satu wajah yang sangat ia kenali. “Alpha Dawala menjabat sebagai general manager.” Suara presiden komisaris Actual News terdengar menggema di telinga Lola. Bersamaan dengan itu, sosok Alpha bediri di tengah panggung. Laki-laki itu tersenyum. Bukan senyum jahil, melainkan senyum profesional yang menawan. “Wit … kayaknya gue udah ketemu bapak dari anak ini,” lirih Lola dengan pandangan masih tertuju pada Alpha. Sekarang ia tahu nama pria misterius itu. Alpha Dawala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN