“Hah? Siapa, anjir?”
Lola tak langsung menjawab pertanyaan Wita. Perempuan itu sedang sibuk memikirkan berbagai skenario ke depannya.
Bagaimana ia harus menjelaskan keadaan kepada Alpha? Apakah Alpha mau menerima kehadiran anak di antara mereka?
Atau jangan-jangan, sosok Alpha persis seperti yang digambarkan oleh Bagus sebagai laki-laki playboy yang hanya b******a tanpa sudi terikat di dalam sebuah hubungan serius?
Gemas pertanyaannya tak kunjung dijawab, Wita lantas mencubit lengan Lola. “Ck, siapa? Jangan main rahasia-rahasian gitu, ah. Gue enggak suka.”
Lola melotot merasakan cubitan pedas dari Wita. Dirinya sedikit ragu apakah harus membeberkan identitas ayah biologis dari anaknya kepada Wita atau tidak. Mengingat jabatan yang Alpha emban saat ini, pasti tidak mudah bagi pria itu untuk menerima kehadiran Lola dan anak mereka.
Terlebih lagi apabila gosip itu benar, maka saat ini di dalam hati Alpha sudah terisi satu nama.
Bisakah Lola mengisi sedikit ruang di dalam hati Alpha?
Ragu-ragu Lola berbisik. “Alpha Dawala.”
Wita menjerit. Teriakannya kontan membuat semua orang di dalam ruang pertemuan menjadikan mereka sebagai pusat perhatian, tak terkecuali itu Alpha.
Laki-laki itu memicingkan matanya guna memastikan bahwa penglihatannya tidak menipu. Dahi Alpha berkerut dalam begitu melihat wajah yang mirip dengan Lola di barisan kursi penonton.
Perempuan yang mirip dengan Lola itu tak mengenakan kacamata. Melihat penampilan yang berbeda membuat Alpha yakin bahwa itu bukanlah Lola, perempuan yang ia temui di parkiran pub.
Bisa gawat kalau mereka bekerja di bawah perusahaan yang sama.
“Sttt … jangan berisik atau bibir lo gue kepang,” ancam Lola sambil menempelkan jari telunjuknya pada bibir Wita.
Wita menunduk malu lantaran sempat menjadi pusat perhatian. Dengan cepat perempuan itu menyingkirkan jari Lola dari wajahnya.
“Lo yang bener aja,” bisik Wita hati-hati. Dirinya tak mau percakapan hari ini didengar oleh orang lain. “Gue emang nyuruh lo nyari bapak biologis dari anak ini, tapi ya … enggak Alpha Dawala juga kali.”
Lola melotot mendengar protesan Wita. “Emang kenapa kalau Alpha Dawala yang jadi bapak dari anak gue?”
“Ya dia GM lo, gila!” geram Wita tertahan. “Bisa gempar satu kantor kalau mereka tau lo hamil anak seorang Alpha Dawala.”
“Gempar gimana, sih? Gue ‘kan perempuan dan dia laki-laki.”
Wita memutar bola matanya malas. Lola ini terkadang bisa tidak peka membaca situasi.
“Bukannya gimana, yang ada orang kantor berpikir lo malah mengguna-guna dia. Secara nih, si Alpha udah jadi incaran banyak cewek-cewek kantor. Lo bayangin aja, lulusan luar negeri, ganteng, karir cemerlang? Siapa yang enggak mau sama dia? Sedangkan, lo … duh, lo ini jauh banget deh dari kriteria seorang Alpha Dawala.”
Entah harus bagaimana lagi Wita menyadarkan Lola bahwa hubungan satu malamnya dengan Alpha adalah malapetaka.
Namun, Lola sudah tak mau ambil pusing. Pokoknya dia harus menuntut pertanggung jawaban dari Alpha.
“Biarin aja. Kita bikinnya berdua kok, masa gue yang harus menanggung semuanya sendirian,” balas Lola ketus.
Wita tak mengatakan apa-apa lagi. Wita jelas tahu jika Lola adalah sosok yang keras kepala. Semakin dilarang perempuan itu justru hanya akan semakin memberontak. Percuma menasihati. Yang ada ucapan Wita hanya masuk kuping kanan lalu keluar kuping kiri.
Jadi, Wita membiarkan Lola. Toh, temannya itu sudah dewasa. Sudah tahu harus melakukan apa.
“Lo jangan bilang sama Bagus dulu ya,” pinta Lola begitu pertemuan bubar.
“Kenapa emang?”
Lola melirik sekitar, memastikan ruang pertemuan mulai sepi. “Kalau Bagus sampai tau, urusannya bakal ribet. Pokoknya rahasiakan ini dari Bagus. Janji ya?”
Wita terlihat ragu, namun tak ayal akhirnya Wita mengangguk juga. “Sekarang lo mau ke mana?”
“Ketemu calon suami guelah!”
“Lo gila! Mana mau dia nikah sama lo,” tukas Wita sambil melotot.
Lola mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Kita coba aja dulu, kan? Gue enggak mau minum obat penggugur kandungan. Gue juga enggak mau mati ketika perut gue dipijet. Solusinya saat ini hanya satu, menikah dengan Alpha.”
Wita tak mampu berkata-kata. Dibiarkannya Lola pergi menyusul sosok Alpha.
***
“Alpha!”
Panggilan itu membuat Alpha yang sedang berjalan sendirian di lorong kantor menoleh. Wajahnya tampak terkejut ketika melihat Lola yang sudah berdiri di depannya. Perempuan itu tak mengenakan kacamata, melainkan softlens berwarna cokelat gelap.
Selebihnya penampilan Lola masih sama. Perempuan itu masih mengenakan blouse yang membentuk lekuk tubuh dan rok pensil.
“Lola? Kamu bekerja di sini?”
“Seperti yang kamu lihat,” balas Lola sekenanya.
Perasaan Alpha mulai tak enak. Tidak mungkin Lola mendatanginya hanya untuk menyapa, bukan?
“Ada apa?” tanya Alpha penasaran.
“Bisa bicara empat mata?”
Walaupun Alpha sudah dapat menebak kelanjutan ceritanya, akan tetapi pria itu tetap menurut. Alpha mengikuti langkah Lola menuju tangga darurat. Di jam kerja seperti ini, tangga darurat selalu sepi karena kebanyakan karyawan lebih banyak menggunakan elevator.
Lola merogoh saku roknya. Dikeluarkannya test pack digital yang sejak tadi ia simpan.
“Aku hamil,” kata Lola kemudian sambil tangannya menyodorkan benda itu kepada Alpha.
Alpha menatap benda di tangannya dengan horor. Alpha tak perlu bertanya dua kali untuk memastikan maksud dari tanda dua garis merah di benda pemberian Lola.
“Laki-laki pertama dan terakhir yang tidur denganku hanya kamu,” imbuh Lola karena Alpha masih diam saja.
“Sejak kapan?” tanya Alpha pada akhirnya.
“Aku sudah terlambat haid sebulan.”
Alpha menelan ludahnya sendiri. Jadi, benar Lola mengandung anaknya. Padahal itu hanya hubungan satu malam. Sialnya, Alpha lupa bertanya kapan masa subur Lola.
“Kamu akan merawatnya?”
Lola mengedikan bahunya acuh tak acuh. “Sepertinya begitu, sih. Aku enggak berani kalau sampai harus aborsi.”
“Kenapa tidak berani?”
Alis Lola menukik mendengar pertanyaan dari Alpha. “Kenapa? Kenapa kamu tanya? Ya, karena aku takut mati! Aku juga takut dihukum oleh Tuhan karena membunuh nyawa yang enggak bersalah.”
Alpha menyerahkan kembali test pack tersebut ke tangan Lola. Dengan cepat pria itu menimpali, “Kalau begitu silakan kamu rawat anak itu. Good luck!”
Usai mengatakannya, Alpha bergegas pergi.
Tindakan Alpha yang lepas dari tanggung jawab membuat Lola naik pitam.
“Hei, Alpha Dawala!” Teriakan itu membuat Alpha menoleh dengan ekspresi terganggu.
“Apalagi?”
“Enak aja! Giliran bikinnya barengan, masa sekarang pas udah jadi cuma aku yang disuruh merawat.”
“Jadi, kamu inginnya bagaimana?” tanya Alpha tak sabaran. Ia takut seseorang mencuri dengar percakapan mereka.
“Nikahilah aku!”
Permintaan Lola sukses membuat mata Alpha membola. Bagaimana mungkin dia menikahi perempuan yang baru dua kali ditemui?
Terlebih saat ini karirnya sedang melejit. Citra Alpha sebagai ace Actual News akan tercoreng karena skandal ini.
Alpha menggeleng. “Maafkan aku. Tetapi, aku tidak bisa menikahi kamu. Sebagai gantinya, aku akan membayar segala kerugian yang kamu alami.”
Lola mendengkus kasar. Rupanya ucapan Bagus tentang Alpha ada benarnya. Laki-laki seperti Alpha hanya b******a untuk bermain-main saja. Begitu, hubungan terlarang itu menciptakan ruh di dalam perut Lola, pria itu akan dengan cepat cuci tangan.
“Kamu bisa membayarku dua puluh miliar?” tanya Lola sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
“Apa? Dua puluh miliar?”Alpha membeo, sedangkan wajahnya menampilkan ekspresi terkejut. “Kamu sedang berusaha untuk memerasku?”
“Tadi kamu yang menawariku biaya ganti rugi, kan? Sekarang ketika aku menyebutkan nominalnya, kamu malah menuduhku sedang memeras.” Lola geleng-geleng kepala. “GM kita ini sangat enggak konsisten, ya?”
“Kenapa harus sebanyak itu?”
Lola melangkah mendekati Alpha. Suara ketukan kitten heels-nya menggema di telinga Alpha.
“Aku hamil sembilan bulan, Alpha. Selama sembilan bulan itu, aku harus membawa anak kita ke mana-mana di dalam perutku. Dengan kondisi perut yang membuncit, aku akan kesulitan untuk tidur, menyetir, dan bekerja. Bukan hanya itu saja, tubuhku juga akan pegal-pegal karena menopang beban di perut,” jelas Lola berdiri dua langkah dari Alpha.
“Setelah itu, aku masih harus melahirkan anak kita. Baik itu melahirkan normal maupun cesar sama-sama menyakitkan dan sama-sama mempertaruhkan nyawa. Paska melahirkan, aku masih harus melewati fase baby blues lalu merawat anak kita sampai dia bisa hidup mandiri. Uang dua puluh miliar itu bukan apa-apa, sih seharusnya untuk semua pengorbananku,” imbuh Lola dengan ekspresi tenang.
Alpha menyugar rambutnya ke belakang. Tampaknya membuat kesepakatan dengan Lola tidak akan mudah. Alpha sempat menduga kalau perempuan seperti Lola adalah tipikal perempuan polos yang mudah didominasi sebagaimana penampilan luarnya.
Rupanya dugaan Alpha meleset.
“Dua puluh miliar itu sangat banyak. Aku tidak punya uang sebanyak tu,” bantah Alpha masih berusaha mengubah pendirian Lola.
“Kalau gitu pilihannya hanya ada dua. Kamu menikah denganku atau membayar uang ganti rugi sebanyak dua puluh miliar.”
“Aku tidak bisa memberikan keduanya.”
Alpha telah memutuskan.
[]