3 : UPAYA KONFRONTASI

1046 Kata
Lola mengangguk sebagai tanda mengerti. “Kalau begitu, aku akan memberitahu semua orang yang ada di kantor ini kalau seorang Alpha Dawala adalah general manager yang enggak bertanggung jawab. Kamu mungkin lama di luar negeri sampai enggak tau gimana reputasiku di sini. Aku itu salah satu presenter terbaik. Acara yang aku bawakan selalu mendapatkan rating tertinggi. Sekalipun kamu GM, tapi kamu hanyalah orang baru di perusahaan ini.” Alpha mengepalkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri tubuh. Ancaman dari Lola terdengar bukan gertak sambal belaka. Sepenuhnya yang dikatakan oleh perempuan itu adalah benar. Sekalipun jabatan yang Alpha duduki jauh lebih tinggi daripada Lola, akan tetapi massa sudah terlebih dahulu mengenal Lola. Terbongkarnya masalah ini hanya akan menurunkan reputasi yang sudah susah payah Alpha bangun. “Okay … kita bisa saja menikah. Entah itu besok atau lusa. Tetapi, tidak akan ada cinta di dalam pernikahan itu. Apakah kamu siap menanggungnya?” Lola berpikir sebentar. Baginya yang belum pernah menjalin hubungan asmara dengan lawan jenis, cinta adalah kata yang asing. Memangnya bagaimana rasa cinta itu? Apakah memabukkan? Lola tidak tahu rasanya. Sejak kecil dirinya tumbuh tanpa melihat kedua orang tuanya. Figur yang seharusnya mengajari Lola tentang wujud dari rasa cinta tidak pernah hadir. “Memangnya cinta itu penting, ya?” Kening Alpha berkerut mendengar pertanyaan Lola. “Cinta itu pondasi dari hubungan suami istri. Tanpa cinta, rumah tangga akan goyah dan hancur.” “Jadi, cinta memang sepenting itu.” Lola menganggukan kepalanya seakan paham. “Kamu tidak bisa ‘kan menikah tanpa cinta?” “Eh, kata siapa?” tanya Lola sambil menatap Alpha tajam. “Dengan atau tanpa cinta, aku akan tetap menikahi kamu. Lagi pula, cinta bagiku hanya omong kosong.” Lola lantas berjalan mendekat. Tanpa perlu, permisi perempuan itu merogoh saku celana Alpha dan mengeluarkan ponsel pria itu. “Mau apa kamu?” Alpha hendak menarik kembali ponsel miliknya, tetapi dengan cepat Lola menepis. “Ini nomorku,” kata Lola usai menelepon nomornya sendiri. Dengan begitu, Lola memiliki nomor Alpha. “Aku kasih waktu seminggu untuk berpikir. Karena kamu enggak bisa membayar denda, aku enggak mau mendengar apapun, kecuali pernikahan.” Lola lantas kembali menyerahkan ponsel Alpha. “Kamu sudah tidak waras.” Desis Alpha. Sekarang laki-laki itu menyesali keputusannya berbagi ranjang yang sama dengan Lola. “Kalau kamu ada di posisiku, aku pastikan kamu juga akan melakukan hal yang sama, “ timpal Lola. “Being a woman is not easy, Pak Alpha. Kami selalu dituntut untuk memiliki status di usia tertentu. Terlebih sekarang aku hamil.” Setelah mengatakannya, Lola berjalan terlebih dahulu meninggalkan sosok Alpha Dawala yang termangu sendirian. Alpha meratapi ponselnya yang menampilkan sederet nomor ponsel milik Lola. Seharusnya sejak awal Alpha tidak bertemu dengan perempuan itu. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Menikah dengan Lola sama saja artinya dengan merelakan Kirana. Bertahun-tahun Alpha menunggu Kirana berpisah dengan suaminya. Lalu, sekarang ketika kesempatan itu telah tiba, Alpha justru di hadapakan pada situasi yang tidak terduga. Bersamaan dengan itu ponsel Alpha bergetar tipis. + 628 xxxxxxx: Sediakan gaunnya juga. Aku enggak mau keluar uang banyak untuk pernikahan tanpa cinta. Alpha hampir saja melempar ponselnya jika tidak ingat harga benda elektronik itu. *** Alpha melangkah ke ruang kerjanya dengan gontai. Rupanya hal tersebut terlihat jelas oleh Iriawan yang bertugas sebagai manager. Tanpa permisi, Iriawan ikut masuk ke dalam ruangan Alpha dan duduk di seberang pria itu. “Muka lo kecut banget. Harusnya seneng dong karena sudah dapat jabatan setelah balik dari luar negeri?” Alpha memijat keningnya yang pusing. Berbicara dengan Lola tak hanya membuat energinya terkuras, tetapi juga berhasil membuat kepalanya migrain. “Lo kenal Lola?” tanya Alpha tanpa basa-basi. Iriawan adalah teman kuliahnya ketika S1 dulu. Mereka mengambil jurusan yang sama dan lulus bersama. Bedanya, Iriawan langsung bekerja di Actual News sejak lulus sampai sekarang. Sedangkan, Alpha yang memiliki kapasitas otak cemerlang memilih untuk melanjutkan pendidikan paskasarjana ke Singapura. “Lola?” Iriawan membeo. “Maksud lo Yolanda Lola?” “Memang ada berapa Lola di Actual News?” Iriawan terlihat berpikir sebelum menimpali, “Satu, sih. Presenter kebanggaan Actual News hanya ada Yolanda Lola.” “Dia orangnya bagaimana?” “Kenapa, deh lo nanya-nanya dia? Naksir?” Iriawan tersenyum jahil. Alpha berdecak malas mendengar pertanyaan temannya. “Bukan. Hanya penasaran bagaimana aslinya sosok presenter kebanggaan Actual News. Sebagai seorang GM gue harus mengenali setiap karyawan, bukan?” “Lola itu udah kerja di sini lima tahun. Begitu lulus kuliah umur dua-dua dia langsung kerja di sini. Anaknya lulusan Universitas Indonesia dan dapat gelar cumlaude. Otaknya sih, enggak perlu diragukan ya.” Wajah Alpha semakin masam. Dia tidak ingin mendengar prestasi Lola. Justru Alpha ingin mendengar kabar buruk atau gosip miring tentang perempuan itu. Dengan begitu, Alpha bisa mencari alasan untuk membatalkan pernikahannya dengan Lola. “Apakah dia pernah membuat skandal?” Iriawan mengusap rahangnya sebentar. “Seinget gue belum ya. Dulu, dia anak kesayangannya Pak Marzuki … itu, lho wakil pemimpin redaksi pelaksana. Sempat ada desas-desus Lola jadi simpanan Pak Marzuki. Tapi, kabarnya langsung hilang begitu Pak Marzuki bilang kalau Lola itu tumbuh besar di panti asuhan yang dia danai.” “Panti asuhan?” “Iya. Lola, Yuwita Purnama dari divisi assignment editor sama Bagus Chandra divisi reporter asalnya dari panti asuhan yang sama. Wajar lo belum tau karena lo baru di sini.” Alpha berdecak. Dia gagal mencari kekurangan Lola. Justru perempuan itu terkesan keren sekarang ini. Hidup di panti asuhan tanpa orang tua pastilah sulit, tetapi perempuan itu bisa bertahan sampai di puncak karirnya. Pastilah perjalanan hidup Lola tidak mudah. Alpha mengusap kasar wajahnya. Kenapa sekarang dia jadi kasihan pada Lola? “Untuk masalah asmara bagaimana? Lo pernah dengar dia pacaran sama siapa saja?” “Lo lagi sensus penduduk apa gimana, sih? Segala tentang Lola lo tanyain. Curiga gue, lo ada rasa sama dia.” “Jawab saja, Wan,” tegas Alpha. Iriawan menegakkan punggungnya. “Seinget gue, sih Lola belum pernah deket sama siapa pun. Meskipun pinter dan karirnya oke, tapi penampilannya cupu banget enggak sih? Kayaknya karena itu juga enggak ada laki-laki yang mau deket sama dia.” Alpha jadi ingat tempo hari Lola pernah mengatakan padanya kalau selama perempuan itu hidup belum pernah ada seorang pun yang memujinya. Sial, bagaimana jadinya kalau Alpha menikah dengan perempuan semacam Lola? []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN