4 : RENCANA

2015 Kata
“La, satu menit lagi yak!” seru salah satu kru kamera kepada Lola. Lola mengangguk mantap. Perempuan itu sudah berdiri di belakang meja presenter dengan pandangan yang lurus menatap kamera. “Perebutan lahan di wilayah …” Lola membaca tulisan yang terdapat pada layar monitor dengan suara kecil. Sebuah kebiasaan yang selalu ia mulai sebelum membawakan acara. Hari ini ia memiliki jadwal siaran untuk program Breaking News. Program tersebut hanya berlangsung sekitar lima menit. Namun, waktu lima menit sangatlah berharga bagi orang-orang yang bekerja di balik layar seperti Lola. Satu kesalahan saja, maka kacaulah semuanya. “Tunggu! Tunggu!” kata Lola tiba-tiba saja sambil mengangkat satu tangan ke udara. Hidung Lola yang sensitif sejak hamil itu mencium aroma menyengat. Aroma jasmine yang sedikit powdery … aroma khas parfum feminine. Mata Lola memicing menangkap satu kehadiran mahasiswi magang yang baru masuk. Perempuan itu berdandan cukup menor dengan blouse kekecilan yang mencetak lekuk tubuhnya. Lola tebak mahasiswi magang itulah biang keroknya. “Kenapa, La?” Kru kamera bertanya manakala melihat perubahan air muka Lola. Lola tidak sempat menjawab. Secara mendadak perutnya mual. Rasanya sesuatu di dalam lambungnya seperti meminta untuk keluar secara paksa. Baru saja selangkah Lola berjalan keluar dari zona tangkap kamera, perempuan itu sudah muntah. Orang-orang yang berada di ruang siaran segera menghindar agar tidak terkena cipratan isi perut Lola. “Astaga!” pekik sebagian kaum hawa yang menyaksikan adegan tersebut. Sementara itu, Lola tidak dapat berbuat banyak. Tubuhnya terduduk lemas di atas lantai marmer yang dingin dengan kepala yang bersandar pada meja presenter. Wita yang kebetulan baru masuk segera berlari menghampiri sahabatnya. Disentuhnya kening Lola yang berkeringat dingin. “La, lo kenapa?” tanya Wita sambil menepuk-nepuk pipi Lola. “Bantuin gue bangun, Wit,” pinta Lola dengan lirih. Wita tentu saja menurut. Dibantunya Lola berdiri. “Lo mau istirahat, La?” Seorang kru kamera bertanya kepadanya. Lola mengangguk lemah. Dia tak sanggup melanjutkan acara ini sampai akhir. Kepala Lola sudah berdenyut sejak ia muntah. Tak ada jaminan Lola sanggup bertahan berada di dalam ruangan beraroma jasmine itu. “Tapi, kalau bukan Lola yang bawain berita, terus siapa?” Yang lain mendebat. Pasalnya Lola adalah satu-satunya presenter andalan acara Breaking News. Sepak terjang perempuan itu menjadikannya sebagai penyaji acara tunggal untuk program dengan rating tinggi tersebut. Lola mengibas-ngibaskan tangannya ke udara, membentuk gestur tak peduli. “Mau lo juga boleh. Gue enggak sanggup. Daripada gue muntah di depan kamera, kan? Atau, enggak tuh mahasiswi magang aja.” Setelah mengatakan itu, Lola dan Wita berlalu menuju ruang karyawan. Kebetulan ruang karyawan sedang sepi. Hanya ada bunyi detak jarum jam dan mesin AC yang terdengar. Lola menumpukan kepalanya pada meja, sedangkan Wita baru kembali dari pantry sambil membawa segelas air hangat. “Minum dulu,” kata Wita sambil mendorong gelas. Lola menurut. Ia minum dengan rakus dengan maksud menghilangkan sisa rasa pahit dan masam yang memenuhi rongga mulutnya. “Gila, deh. Hamil benar-benar enggak enak!” tukas Lola setelah menenggak habis air minumnya. “Tapi, bikinnya enak, kan?” Lola menatap Wita dengan tajam mendengar candaan temannya itu. “Enggak lucu.” “Ya, gue emang lagi enggak melucu, tuh? Lagian, gimana hubungan lo sama Alpha? Dia udah setuju mau nikah sama lo?” Kepala Lola kembali terkulai di atas meja begitu mendengar nama Alpha disebut. “Belum,” sahut Lola pendek. Wita berdecak gemas. “Usaha lagi aja, La. Pokoknya lo udah harus punya status yang jelas. Kehamilan itu bukan kayak kentut yang bisa disembunyikan, yang kalau lo diem-diem kentut, lo bisa menyalahkan orang lain. Tinggal menghitung minggu sampai perut lo mulai buncit.” “Gue juga pengennya gitu. Tapi, ah … enggak tau, deh!” “Gini aja ….” Wita mencolek bahu Lola membuat sahabatnya itu meluruskan punggungnya. “Lo sekarang minta Alpha nemenin ke RS. Datanglah ke obgyn, minta USG sekalian biar si Alpha terketuk pintu hatinya begitu melihat anak kalian. Siapa tau habis itu dia mau menikahi lo, kan?” Lola tercenung mendengar ide cemerlang dari Wta. Haruskah ia melakukannya? *** Kabar mengenai sakitnya Lola menyebar. Bagaimana tidak menyebar? Lola yang dikenal berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya itu mendadak saja izin untuk tidak bekerja. Nama Lola tidak hanya disebut oleh teman sejawat di lantai kantor yang sama, namun juga terdengar sampai ke jajaran petinggi Actual News, tak terkecuali Alpha. “Katanya, Lola sakit. Muntah dia di ruang penyiaran,” ucap Iriawan begitu dirinya dan Alpha baru keluar dari ruang rapat. Alpha mengangkat wajahnya dari menatap layar android tablet. Hasil rapat mengenai target pemasaran untuk program baru mendadak saja buyar. “Lola kenapa?” Iriawan mengulangi kalimatnya dengan gemas. “Muntah semenit sebelum on-air. Lo bayangin betapa kalang kabutnya divisi mereka nyari pengganti Lola. Mana email kantor kita juga di-spam sama penggemarnya Lola.” “Spam kenapa?” “Ya, karena Lola enggak siaran, dong!” Alpha termenung. Laki-laki itu masih tidak menyangka kalau Lola memegang peranan penting di mata masyarakat. Bayangkan jika skandalnya dengan Lola terendus oleh massa, bisa-bisa Alpha akan dijadikan sebagai sasaran empuk untuk disalahkan. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Alpha meremang. “Memangnya dia sakit apa?” tanya Alpha, memastikan. Di dalam hatinya, Alpha berharap sakitnya Lola tidak berkaitan dengan kondisinya yang sedang hamil muda. Meskipun, jika menilik kepada ciri-cirinya bisa saja Lola muntah karena efek mengandung. Iriawan mengangkat bahunya sekali. “Kurang tau. Ada yang bilang burnout alias kelelahan bekerja. Ada juga yang bilang … sini deh, gue bisikin.” Walaupun malas, namun Alpha tetap mendekatkan telinganya ke bibir Iriawan. “Katanya Lola hamil.” Bisik Iriawan. Setelahnya laki-laki itu menjauhkan wajah dari Alpha. “Gila, kan? Mana mungkin dia hamil. Orang suami aja enggak punya. Jangankan suami, pacar aja dia enggak punya. Kalau menurut gue sih, dia kebanyakan minum kopi aja.” Ekspresi wajah Alpha berganti kaku. Sekarang orang kantor mulai membuat gosip tentang Lola. Sebetulnya bukan gosip seandainya mereka tahu kebenarannya. Sebelum sempat Alpha menimpali ponsel di kantong celananya sudah bergetar tipis. + 62 8 xxxxxxxx: Aku tunggu di basement lima menit. “Sial,” gumam Alpha membaca sederet pesan yang dikirim oleh nomor Lola. Sengaja ia tak menyimpan nomor perempuan itu. + 62 8 xxxxxxxx: Kalau terlambat akan aku susul kamu ke ruangan biar semua orang tau tentang kita. Ancaman dari Lola berhasil membuat Alpha melangkah terburu-buru. Iriawan yang melihat gelagat aneh dari rekan kerjanya itu jelas heran. Susah payah Iriawan menyamakan langkah dengan Alpha. “Mau ke mana? Kok arahnya bukan ke kafetaria?” tanya Iriawan penasaran. Alpha hanya melirik Iriawan sekali. “Lo duluan saja. Gue ada urusan bertemu klien.” “Klien penting?” “Penting. Hidup dan mati gue bergantung pada dia sekarang,” jawab Alpha sambil berlari menuju elevator yang hampir menutup. “Tolong tunggu!” Iriawan tidak mengikuti lagi. Pria itu hanya menatap Alpha dari jauh dengan ekspresi yang tak terbaca. *** Alpha tiba di basement tepat waktu. Tempat itu sepi karena seluruh pemilik kendaraan sedang sibuk bekerja di kantor. Netranya sibuk mencari keberadaan Lola di antara jejeran mobil. “Pak Alpha!” Suara yang tidak asing terdengar. Alpha menoleh ke sisi selatan basement. Di sana, Lola terlihat duduk di atas kap mobil miliknya. Perempuan itu menyilangkan kakinya dengan santai, sedangkan satu tangannya melambai ke udara. “Sejak kapan kamu memanggilku dengan embel-embel bapak?” tanya Alpha ketika jarak keduanya hanya terpisah satu langkah. “Sejak hari ini,” jawab Lola acuh tak acuh. “Kalau di kantor harus panggil bapak, ketika sedang berdua baru panggil nama saja.” “Lalu, dari mana kamu tau ini mobilku?” Sebelum sempat Lola menjawab, perempuan itu sudah keburu disergap rasa mual. Dengan dahi yang berkerut dan hidung yang dijepit oleh jari, Lola mengibas-ngibaskan tangannya ke depan wajah, membentuk gestur supaya Alpha melangkah mundur. “Kamu pakai parfum apa, sih? Menyengat banget?” Secara spontan Alpha mengendus lipatan ketiaknya sendiri. “Black musk. Kenapa, sih?” Wajah Lola memerah. Ia sedang menahan diri agar tidak muntah sekarang. Dengan cepat perempuan itu merogoh tas bahu dan mengeluarkan sebotol parfum. Disemprotkannya cairan parfum itu ke seluruh tubuh Alpha. “Wow, wow … apa-apaan ini?” Alpha mundur, berusaha menjauhi jangkauan Lola. Namun, usahanya terlambat sebab sekarang tubuh Alpha jadi wangi stroberi. “Mulai sekarang kamu harus ganti parfum,” perintah Lola sambil melepaskan jepitan jarinya pada hidung. “Aku akan langsung mual dan muntah kalau mencium parfum yang wanginya berbeda dengan milikku.” “Seriously?” Alpha bertanya dengan raut wajah kesal. “Sekarang aku tercium seperti anak-anak.” “Enggak apa-apalah. Sebentar lagi kamu juga akan punya anak,” sahut Lola setelah turun dari kap mobil Alpha. “Ayo, kita harus ke rumah sakit.” “Ke rumah sakit? Untuk apa?” Lola berdecak gemas. “Untuk memeriksa kehamilanku, dong! Memangnya kamu enggak penasaran berapa usia kandunganku?” Alpha mematung, bingung harus menimpali atau bersikap seperti apa. Dia masih belum menerima fakta kalau dirinya sebentar lagi akan menjadi ayah. Terlebih lagi ibu dari anaknya adalah seorang Yolanda Lola yang baru dikenalnya kurang dari seminggu! “Lola, aku belum siap menjadi ayah,” ucap Alpha pada akhirnya buka suara. Ia menolak untuk melangkah. “Ya, aku juga belum siap untuk jadi Ibu, Pak Alpha. Tapi, mau bagaimana lagi? Nasi sudah kepalang jadi bubur. Kita sama-sama belum siap, tapi anak di dalam kandunganku butuh figur orang tua. Membunuh atau menelantarkannya setelah lahir sama sekali bukan tindakan yang bijak.” Alpha tertohok mendengar kalimat Lola. Sedikitnya Alpha merasa malu karena pikirannya kalah dewasa dari Lola. Sejak awal, perempuan itu memang terlihat lebih mampu mengendalikan diri daripada Alpha sendiri. Alpha mengembuskan napas panjang lewat hidungnya. Baiklah, ia harus bersikap bijaksana di situasi seperti sekarang. “Naiklah,” kata Alpha sejurus kemudian. Di dalam hatinya, Lola bersorak senang. Tampaknya rencana Wita akan berhasil. Dengan cepat Lola masuk ke dalam mobil mercy milik Alpha. Beruntungnya, laki-laki itu memilih pengharum mobil beraroma apel yang tidak membuat Lola mual. “Kita akan ke rumah sakit mana?” tanya Alpha begitu mobilnya melintas di jalan raya. “Jangan terlalu jauh, ya. Kita hanya punya satu jam sampai waktu makan siang habis.” “Rumah Sakit Harapan Bersama. Jaraknya hanya lima belas menit perjalanan.” Alpha tidak bicara lagi. Laki-laki itu sibuk menyetir, sedangkan Lola sibuk melihat-lihat interior mobil Alpha. Seperti kebanyakan laki-laki maskulin pada umumnya, Alpha membiarkan mobilnya berinterior serba hitam tanpa adanya tambahan apapun. Alpha juga tidak menambahkan pernak-pernik apapun, kecuali sebuah lanyard card bertuliskan RSJ Bogor yang menggantung di kaca spion tengah. Menyadari arah tatapan Lola membuat Alpha dengan tergesa-gesa menarik lanyard card tersebut dan segera memasukkannya ke dalam dashboard. Fokus Alpha yang sempat terbagi membuatnya tidak menyadari kehadiran motor yang berhenti hendak memutar arah. Dengan panik Alpha menekan pedal rem demi menghindari tabrakan. “Awas!” pekik Alpha sambil satu tangannya diluruskan demi menahan d**a Lola supaya tubuh perempuan itu tidak membentur dashboard. “Kamu tidak apa-apa?” Alpha bertanya dengan netra yang sibuk memindai tubuh Lola, memastikan tidak ada luka yang tertinggal di kulit perempuan itu. “Apakah perutnya sakit karena tertekan oleh safety belt?” Tubuh Lola menegang ketika tanpa sadar Alpha mengusap perut Lola. Entah apa yang ada di dalam pikiran Alpha sampai melakukan hal tersebut. Lola hanya mampu menggeleng sebagai jawaban. Ketika kondisi telah aman, Alpha menurunkan kaca mobilnya lalu dengan kesal berteriak. “Woi, g****k! Kalau bawa motor jangan hanya pakai kaki, tapi otaknya juga dipakai.” Lola yang menyaksikan hal tersebut hanya diam membatu. Barulah ketika mobil mereka kembali melaju Lola dapat bernapas dengan lega. “Kamu seram kalau lagi marah,” celetuk Lola. Alpha hanya meliriknya sekilas. “Memang orang seperti tadi layak untuk dimarahi sebab tindakannya sangat ceroboh. Dia bisa membahayakan kita bertiga. Seandainya dia tinggal di Singapura sudah pasti akan kena denda. Sayang sekali, di negara ini hukum terhadap pelanggar di jalan raya masih kendor.” Kita bertiga, batin Lola mengulang kalimat tersebut. Rasanya aneh ketika Alpha ikut menghitung jabang bayi di dalam perut Lola. Tanpa sadar Lola mengusap perutnya yang masih datar. Kalau boleh jujur, sampai sekarang pun Lola masih tidak menyangka jika di balik lapisan kulit perutnya ini hidup seorang janin manusia. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN