5 : PENGANTIN 365 HARI

1679 Kata
“Pakailah.” Alpha berkata sambil menyodorkan masker berwarna hitam kepada Lola. Masker itu ia ambil dari jok penumpang belakang bersama dengan sebuah topi berwarna senada. Keduanya sudah tiba di parkiran rumah sakit. Tempat itu terlihat padat oleh kendaraan. “Untuk apa?” tanya Lola bingung, namun tetap menerimanya. Alpha menjelaskan seraya melepaskan jas hitamnya. “Jangan sampai orang kantor melihat kita ada di sini. Mereka bisa curiga.” Lelaki itu kemudian menggulung lengan kemejanya sampai siku dan melepas dua kancing teratas kemeja. Tak lupa Alpha juga memakai topi hitam yang menutupi seluruh rambutnya. Secara instan, penampilan Alpha jadi terlihat lebih santai. Jika diingat-ingat lagi, Lola pertama kali bertemu dengan Alpha ketika laki-laki itu berpenampilan seperti ini. Lalu, sekarang keduanya bertemu lagi. Jika dulu pertemuan pertama membawa Lola ke dalam pengalaman b******a yang luar biasa, maka sekarang berbeda. Alpha membawa Lola pada pengalaman menuju menjadi ibu. Lola mengangguk lantas mulai mengenakan maskernya. “Pak, kami mau daftar ke obgyn. Bagaimana caranya?” Alpha bertanya ketika keduanya memasuki lobi dan bertemu dengan satpam. “Oh, nanti Mas ambil nomor antrean dengan kode B. Setelah itu nunggu bagian pendaftaran memanggil. Habis itu baru ke bagian medical check up. Nah, berkas yang sudah diterima dari MCU langsung diserahkan ke suster jaga. Tunggulah sampai Masnya dipanggil lagi.” Meskipun sedikit bingung, akan tetapi dengan teliti Alpha melakukan semua tahapan tersebut. “Ribet sekali ya mau jadi orang tua,” tutur Alpha setelah keduanya melewati meja pendaftaran. Di balik maskernya, Lola tersenyum tipis. “Iya. Padahal sewaktu bikinnya gampang, tinggal sat-set … eh, jadi.” Alpha tidak menimpali lagi. Laki-laki itu sibuk memperhatikan Lola yang sedang menimbang berat badannya di pusat medical check up. “Lima puluh kilogram ya, Bu. Mari, kita cek tensinya dulu.” Lima menit kemudian, Lola kembali dengan berkas yang harus diserahkan ke suster jaga. Keduanya lantas menunggu bersama para pasangan lainnya. Alpha melihat sekeliling. Kebanyakan dari orang yang mengantre merupakan pasangan muda. Mereka semua terlihat serasi dan manis. Mau dilihat berapa kali pun Alpha langsung tahu kalau mereka saling mencintai. Pandangannya lalu berpindah pada Lola yang sedang sibuk dengan ponselnya. Jangankan mencintai Lola, mengenal Lola saja Alpha belum sejauh itu. Alpha berdeham berusaha menarik atensi Lola. Sedetik kemudian Lola melirik Alpha. “Aku belum banyak mengenal kamu. Well, aku hanya tau nama lengkap kamu Yolanda Lola dan kamu adalah presenter di Actual News,” ujar Alpha. Matanya memandangi iris milik Lola. Perlu Alpha akui jika Lola memiliki mata yang indah. Entah itu karena efek softlens atau bukan. “Aku juga belum banyak tau soal kamu ….” Lola berpikir sejenak sebelum melanjutkan. “Aku hanya tau kamu dapet beasiswa pascasarjana ke luar negeri dan … kamu naksir Kirana Larasati yang sudah bersuami itu.” Alpha melotot. Tidak menyangka jika Lola sudah terlebih dahulu mencuri start. “Apa saja yang sudah kamu tau?” Lola mengedikan bahunya acuh tak acuh. “Hanya itu saja. Memangnya ada lagi?” “Kamu pasti berpikir kalau aku adalah orang yang buruk karena mencintai istri orang lain.” “Entahlah. Lagian, aku juga enggak tau seperti apa rasanya cinta itu.” “Masa sih?” Kening Alpha berkerut. “Kamu belum pernah jatuh cinta? Walau hanya sekali?” Di balik maskernya Lola mengembuskan napas panjang. “Kalau cinta belum pernah. Kalau suka mungkin pernah. Tapi, itu pun sudah lama. Orang yang aku sukai juga sudah lama pergi.” Alpha menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi tunggu. “Ya, intinya ada banyak hal kamu tidak tau tentangku. Tapi, kamu tidak perlu tau semuanya. Biar aku kasih tau sedikit saja. Aku lulusan Nanyang Institute of Management dengan program Master of Business Management. Jika kamu berpikir aku adalah orang kaya, maka tolong telanlah khayalan itu sebab aku ini hanya orang biasa.” Lola mendengarkan dengan saksama setiap patah kata yang keluar dari mulut Alpha. “Aku juga baru meniti karir dan aku tidak punya orang tua atau saudara yang bisa aku kenalkan kepada kamu,” imbuh Alpha kemudian. “Kamu mungkin akan menyesal jika memutuskan untuk menikah denganku.” Alpha harap ucapannya dapat mengubah pendirian Lola. Akan tetapi, harapannya meleset. “Enggak masalah,” timpal Lola enteng. “Aku juga enggak punya orang tua dan saudara yang bisa aku kenalkan kepada kamu. Aku ini sejak lahir sudah tinggal di panti asuhan. Orang terdekat yang kumiliki hanya Wita dan Bagus. Aku juga bukan orang kaya. Dan, aku memang enggak butuh orang kaya. Aku lebih butuh orang cerdas dan bermental kuat.” “Mengapa begitu?” Lola memiringkan duduknya menjadi menghadap Alpha. Sepasang matanya terlihat serius ketika sedang menjelaskan. “Kekayaan manusia itu bisa habis kapan saja. Tapi, otak yang cerdas dan mental yang kuat enggak akan hilang sampai kapan pun. Aku ini sejak kecil sudah hidup susah. Tapi, nasib bisa diubah. Enggak masalah bagiku kalau anak kita harus lahir dari ayah yang biasa-biasa saja yang penting dia bisa mendidiknya dengan baik supaya bisa bertahan hidup di tengah dunia yang kejam ini.” Bibir Alpha terkatup rapat. Dia tak henti-hentinya dibuat kagum oleh cara berpikir Lola yang luas. Sedikitnya, Alpha merasa beruntung karena perempuan yang mengandung anaknya adalah Lola. Tak terbayang jika Alpha harus berurusan dengan perempuan ribet dan manja. “Ucapanmu ada benarnya,” timpal Alpha sesaat kemudian. “Kamu lulusan dari mana, sih?” Alpha sudah tahu Lola lulusan mana. Ia sudah mendengarnya dari Iriawan, hanya saja Alpha ingin mendengarnya langsung dari mulut perempuan itu. “Aku lulusan Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia. Tapi, aku aslinya tinggal di Bandung. Aku, Wita, dan Bagus mulai merantau ke Depok sejak kuliah sampai sekarang.” “Kuliah karena beasiswa dari kampus juga?” Lola menggeleng pelan. “Bukan. Tapi, beasiswa dari donatur panti asuhan. Nama donaturnya Pak Marzuki, beliau yang sempat menjabat sebagai wakil pemimpin redaksi pelaksana di Actual News. Bukan hanya aku saja, tapi semua anak panti yang terlihat potensial akan disekolahkan setinggi mungkin olehnya. Pak Marzuki adalah donatur paling loyal. Aku bahkan sudah mengenal semua keluarganya, termasuk istri, anak, dan cucunya.” Anehnya, Alpha seperti melihat setitik sendu yang muncul di iris Lola ketika mengenang keluarga Marzuki. “Berarti dia orang baik,” timpal Alpha. “Entahlah bagaimana definisi baik itu. Tapi, bagi orang kaya seperti Pak Marzuki kebaikan itu enggak gratis. Setiap anak yang disekolahkan olehnya harus mengabdi selama beberapa tahun di perusahaan yang beliau tunjuk, termasuk itu aku.” “Benarkah? Itu sebabnya kamu betah di Actual News?” Lola memasukan ponselnya ke dalam tas bahu. Sebentar lagi ia akan dipanggil. “Iya, itu salah satu alasannya. Aku sih, berniat untuk melanjutkan kuliah pascasarjana ke Belanda. Tapi, enggak jadi karena harus kerja di Actual News.” Alpha mengangguk paham. “Aku juga bukan asli Jakarta. Aku lahir dan besar di Bogor lalu merantau ke Jakarta untuk kuliah S1.” Di tengah percakapan itu, nama Lola dipanggil. Dengan segera Lola dan Alpha masuk ke ruang pemeriksaan. Di dalam sana dr. Fernando Josoprawiro, SpOG sudah menunggu. “Selamat siang,” sapa dokter tersebut ramah. “Visit pertama kali ya, Bu?” “Iya, dokter. Saya baru tau hamil beberapa hari yang lalu.” “Kapan Ibu terlambat menstruasi?” Lola berusaha mengingat. “Sekitar sebulan yang lalu.” Sambil mengisi riwayat pasien, dokter Fernando bertanya, “Apakah ada keluhan?” “Ada. Saya jadi sensitif terhadap parfum. Pokoknya kalau ada yang pakai parfum yang aromanya beda dengan saya, pasti saya langsung mual bahkan sampai muntah.” “Apa itu berbahaya ya, dok?” Kali ini Alpha ikut buka suara. Kasihan juga ia mendengar cerita Lola. “Tidak, Pak. Sensitif terhadap bebaun ketika hamil merupakan hal yang wajar. Terjadinya perubahan hormon ketika hamil memang bisa membuat indera penciuman menjadi lebih sensitif. Umumnya, hal ini hanya akan berlangsung sampai trimester kedua. Setelah itu, ibu hamil akan kembali beradaptasi dengan bebaun sekitar. Kalau begitu, kita USG dulu ya.” Lola merebahkan tubuhnya di atas brankar. Sementara itu, dokter Fernando mengoleskan perut Lola menggunakan clear ultrasound gel. Alpha hanya memperhatikan. Matanya sibuk bergantian menatap perut Lola dan layar yang menampilkan gambar hitam putih. “Ini kantung janinnya terlihat ya,” kata dokter Fernando sambil menunjuk gambar hitam putih berbentuk oval di layar. “Nah, ini yolk sac dan ini embrio.” “Kecil sekali,” gumam Alpha heran melihat figur anaknya di dalam layar. Dokter Fernando tersenyum sopan. “Memang, Pak. Ukuran janin saat ini hanya 0,2 senti meter. Bayangkan saja biji ketimun, nah seukuran itulah kira-kira anak Bapak.” Lola mengikuti arah tunjuk dokter kandungannya. Seulas senyum tipis mengembang di bibirnya. Walaupun tertutup masker, namun melihat dari gurat di sekitar matanya, membuat Alpha tahu kalau Lola merasa bahagia. “Kapan saya bisa mendengar suara detak jantung janin, dok?” tanya Lola kemudian. “Detak jantung janin baru bisa didengar sejak usia sembilan minggu ya, Bu. Melihat dari ukuran janin dan hari pertama haid terakhir, besar kemungkinan janin berusia 6 minggu. Nanti akan saya buatkan reservasi untuk visit 3 minggu lagi dari sekarang ya.” *** Sepanjang perjalanan dari rumah sakit, Alpha hanya diam. Laki-laki itu sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Setelah melihat sendiri bayinya, perasaan Alpha jadi tidak enak. Rasanya ia sedih jika harus membayangkan bayi sekecil itu lahir tanpa sosok. Alpha bahkan membenci dirinya karena sempat berharap Lola akan menggugurkan bayi mereka. “Kenapa, Alpha?” Lola buka suara karena merasa heran dengan sikap laki-laki itu. “Biaya rumah sakitnya kemahalan ya? Makannya kamu jadi sebal dan enggak mau ngomong sama aku?” Alpha tidak langsung menjawab. Laki-laki itu menepikan mobilnya dan dengan tangannya yang panjang, Alpha meraih android tablet yang ia letakan di jok pengemudi belakang. “Kita buat kontrak nikah sekarang saja,” ucap Alpha sedangkan tangannya sibuk menulis menggunakan stylus pen. “Apa? Gimana maksud kamu?” Alpha mengangkat wajahnya demi memandang Lola. “Aku akan menikahi kamu dan menjadi ayah bagi anak kita. Tapi, kita hanya akan menikah secara kontrak, Lola. Pernikahan yang harus dijalankan secara rahasia demi nama baikmu dan karirku.” Lola menelan ludahnya. “Berapa lama masa kontrak yang kamu tawarkan?” “365 hari. Kita akan menjadi pengantin 365 hari.” Oh, apakah Lola mau? []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN