“Kamu sudah enggak waras!” seloroh Lola.
Wajah Lola menyiratkan jika perempuan itu menolak mentah ide Alpha. Meskipun belum pernah menjalin kasih dengan siapapun, namun Lola yakin bahwa pernikahan itu seharusnya berdiri atas dasar komitmen. Persetan dengan cinta sebab Lola juga tidak tahu bagaimana bentuknya rasa itu.
“Di kondisi terdesak seperti ini mana ada yang bisa waras, La,” balas Alpha sengit. “Itu adalah solusi terbaik untuk kita bertiga. Aku tidak mungkin menelantarkan anak kita, tetapi aku juga tidak bisa menikah dengan kamu seumur hidup. Ada yang harus aku kejar, La.”
Lola bungkam. Lola paham apa maksud dari ucapan Alpha. Lelaki itu tidak mungkin melepaskan Kirana begitu saja hanya demi Lola dan anak mereka.
Mau bagaimana pun Kirana sudah terlebih dulu mengisi ruang di dalam hati Alpha.
Tak apa. Setidaknya Alpha sudah berniat untuk tanggung jawab, tidak seperti kedua orang tua Lola yang membuangnya di depan gerbang panti asuhan seolah-olah dirinya adalah sampah yang kelak akan dipungut.
Lola mengembuskan napas panjang dari hidung sebelum bicara. “Oke. Jadi, apa saja isi kontraknya?”
Alpha memiringkan posisi duduk menjadi menghadap Lola. Laki-laki itu kemudian menunjukan deretan huruf yang telah ia susun di dalam layar android tablet.
“Lihatlah, aku sudah menyusunnya,” kata Alpha sambil menunjuk poin pertama.
Lola mengikuti arah tunjuk Alpha.
Yang bertanda tangan di bawah ini Alpha Dawala dan Yolanda Lola sepakat untuk terikat di dalam kontrak pernikahan selama 365 hari ke depan. Berikut hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh satu sama lain.
1. Menikah diam-diam.
2. Tidak mempublikasikan identitas satu sama lain.
3. Alpha Dawala sebagai suami wajib untuk menafkahi Yolanda Lola sebagai istri sampai kontrak berakhir.
4. Alpha Dawala sebagai ayah wajib untuk membiayai keperluan anak sejak di dalam kandungan sampai mengenyam pendidikan tinggi.
5. Tidak mencampuri urusan pribadi.
Lola membaca setiap poin kontrak dengan saksama. Dirinya tak ingin melewatkan sepatah kata pun yang ditulis oleh Alpha.
“Ini saja?” tanya Lola setelah membaca poin terakhir. “Kamu serius?”
Alpha mengangguk. “Ini saja. Terlalu banyak aturan hanya akan membuat kita kesulitan.”
“Lalu, kapan kita akan menikahnya? Usia kandunganku sudah 6 minggu. Kehamilan ini enggak bisa ditutupi lama-lama.”
Alpha berpikir sebentar. Meskipun belum pernah menikah, namun Alpha beberapa kali melihat proses pernikahan teman-temannya.
“Dua bulan lagi. Apakah kamu bisa menunggu selama itu?”
“Kenapa harus menunggu 2 bulan?” Kening Lola berkerut.
“Pendaftaran pernikahan di kantor majelis jemaat paling lambat adalah 2 bulan sebelum pemberkatan pernikahan. Selain itu, kita juga harus mengumpulkan dokumen lain seperti surat keterangan belum menikah dari keluarga dan pemerintah. Lalu, masih ada proses bimbingan pranikah.”
Lola menyugar rambut pendeknya. Perempuan itu heran kenapa proses menikah bisa sangat rumit.
“Panjang sekali prosesnya,” komentar Lola. “Berarti kita baru akan menikah setelah usia kandunganku 13 minggu?”
Alpha mengangguk. “Sampai saat itu, aku harap kamu bisa bekerja sama menyembunyikan hubungan kita.”
“Oke,” balas Lola sekenanya. “Kita hanya pura-pura saling enggak kenal di kantor, kan?”
“Iya. Semacam backstreet relationship?”
Salah satu sudut bibir Lola naik membentuk senyum geli. “Aneh banget. Kalau dulu, hubungan rahasia seperti ini hanya dilakukan anak SMP yang takut dimarahi karena ketahuan pacaran oleh orang tuanya but here we are.”
Alpha ikut tersenyum geli. Rasa frustasinya perlahan menguap begitu mendengar lelucon yang dilontarkan oleh Lola.
“Jadi, tanda tangan?”
Lola mengangguk. Ia meraih stylus pen dari Alpha lalu membubuhi kontrak mereka dengan tanda tangan digital. Alpha melakukan hal yang sama dan dengan begitu hubungan rahasia keduanya resmi dimulai.
***
“Gue bakal nikah.”
Ucapan itu sontak saja membuat Wita menyemburkan sodanya. Cairan berkarbonasi itu sedikitnya menyiprat pada Lola dan Bagus yang berdiri di depannya.
Hari ini mereka bertiga kembali berkumpul di rooftop. Lola mengatakan ada hal penting yang harus dibahas.
“Ih! Jorok banget si lo, Wit!” keluh Bagus sambil menepuk-nepuk seragamnya yang basah.
Wita mengabaikan celotehan Bagus dan sibuk menatap Lola tajam. “Lo serius? Beneran? Jadi nikah sama cowok itu? Siapa yang melamar duluan?”
Lola mendengkus kasar. “Tanya satu-satu kali!”
“Oke ….” Wita mengatur degup jantungnya. “Jadi, dia setuju mau nikahin lo?”
“Iya. Kami sudah bahas ini kemarin sepulang dari RS.”
Wita menepuk lengan Lola gemas. “Ya, baguslah. Terus, kenapa muka lo ditekuk gitu?”
Bagus yang sedari tadi mendengarkan kini mulai menjatuhkan fokusnya pada wajah Lola. Ekspresi Lola menunjukan kegamangan.
“Dia minta supaya kami merahasiakan hubungan ini.”
“Kok gitu?” celetuk Bagus. “Memang ada masalah apa sampai Alpha ingin merahasiakan hubungan kalian?”
Bahu Lola turun. “Dia GM, sedangkan gue presenter biasa. Kami baru bertemu tiga kali dan gue sudah hamil. Kalau sampai hubungan kami diketahui publik bisa-bisa ini jadi skandal.”
Wita dan Bagus menganggukan kepala. Keduanya sedikit memahami keputusan Alpha.
“Tunggu ….” Wita menggantung ucapannya. Ia menatap Bagus dengan horor. “Lo tau dari mana kalau ayah biologisnya anak Lola itu Alpha Dawala?”
Menyadari keanehan tersebut sontak saja membuat Lola melotot. “Eh, iya. Lo tau dari mana?”
“Gue sempet denger di tangga darurat. Kalian membicarakan tentang hamil dan tanggung jawab,” jawab Bagus sambil mengedikan bahunya acuh tak acuh. “Untung yang denger hanya gue. Kalau orang lain, bisa kena surat peringatan kali lo.”
“Surat peringatan gimana?”
“Ya karena sudah bikin skandal,” jelas Bagus. “Lola ini presenter kebanggaan Actual News, Wit. Kalau masyarakat sampai tau dia hamil di luar nikah bisa tercoreng citranya. Sadar atau enggak, tapi banyak perempuan di luar sana yang menjadikan Lola sebagai public figure.”
Lola melipat tangannya di atas pagar pembatas rooftop. Pemandangan Kota Jakarta dari atas sini terlihat indah. Sejak dulu, Lola selalu menjadikan Jakarta sebagai kota impiannya setelah Belanda.
Bagi Lola, hanya Jakarta yang mampu memberinya angin segar dari masa lalu pahit yang ia rasakan di Bandung. Kini, Jakarta ikut memberikan sekelumit masalah di dalam hidupnya.
“Pantas Alpha enggak mau hubungan kami diketahui publik,” sahut Lola sesaat kemudian.
Wita merangkul bahu Lola. Sahabatnya sejak kecil itu tersenyum tulus kepada Lola. “Tenang aja. Anak-anak panti kayak kita yang sudah banyak makan asam garam kehidupan pasti bisa melewati masalah kayak gini.”
Senyum Wita menular pada Lola. Dirasakan tangan Bagus ikut mengusap punggungnya pelan.
“Bilang aja kalau butuh sesuatu, La. Jangan dipendam masalah lo sendirian,” tutur Bagus sambil tersenyum teduh.
Lola terharu. Tidak terbayang jika di dalam hidupnya ia tidak mengenal Wita dan Bagus. Pasti Lola akan lebih banyak menderita.
Di tengah euforia haru biru itu ponsel Lola bergetar tipis. Ada pesan masuk dari Alpha.
AD: Bisa kita bertemu sebentar? Di tangga darurat kemarin.
“AD?” tanya Wita yang ikut mengintip pesan tersebut.
Cepat-cepat Lola memasukan ponselnya. “Alpha Dawala. Harus gue singkat biar kalau ada manusia kepo kayak lo mereka enggak curiga begitu liat nama GM ada di hp gue. Kalau gitu, gue duluan ya. Bye!”
Lola pergi begitu saja meninggalkan Wita dan Bagus yang memandangi punggungnya dengan tatapan penuh makna.
[]