Sebuah Alamat

1065 Kata

Aku sedang melipat pakaian saat tiba-tiba terdengar jeritan Miko di depan rumah. Dengan rasa was-was segera kaki ini melangkah ke luar. Miko tengah memegangi lututnya sedangkan Aira terisak kecil di samping kakaknya. "Aira, Miko, kalian kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi," tanyaku sambil ikut berjongkok di dekat keduanya. Aku segera melihat lutut yang ditutupi kedua tangan Miko, bocah lelaki itu meringis menahan sakit. "Kak Miko jatuh dari sana," ucap Aira sambil menunjuk pohon rambutan. "Astaga," gumamku kaget dan langsung melihat lutut Miko yang berdarah. "Ayo Nak kita duduk di kursi, biar nanti Mbak Lara bersihkan lukanya dan dikasih betadin biar tidak terjadi infeksi." "Sakiit," pekik Miko saat aku berusaha memapahnya untuk berjalan. Karena bocah lelaki ini terus mengaduh

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN