Kalau bukan Aira yang memintaku untuk mengantarnya ke kamar Willan mungkin sampai detik ini aku belum berani memasuki wilayah privasi itu. Sejak tinggal di rumah ini aku hanya tidur di kamar Aira dan Miko, tidak pernah berani memasuki kamar milik Willan. "Bukain pintunya Mbak, Aira ingin masuk," rengek gadis itu. "Memangnya Aira mau apa masuk ke kamar Papa?" "Aira pengen lihat foto Bunda," ucapnya. Foto Bunda? Aku mengernyitkan dahi menatap ke arah gadis itu. Sejenak kemudian aku menyapu pandangan ke sekeliling ruangan, tidak ada foto-foto keluarga yang terpajang di meja atau menempel di dinding. Kenapa aku baru menyadari hal itu? Bahwa di rumah ini tidak ada foto yang dipajang. "Ayo Mbak Lara bukain pintunya," pinta gadis itu lagi. Tanpa berpikir panjang aku segera memutar anak k

